[Book Review] to all the boys I’ve loved before

18051352

Title: To All The Boys I’ve Loved Before
Writer: Jenny Han
Publisher: Simon & Schuster
No. of Pages: 355
ISBN: 978-1-4424-2670-2 (Hardcover)
My Edition: Internasional/Export/Softcover
Language: English

Lara Jean keeps her love letters in a hatbox her mother gave her.

They aren’t love letters that anyone else wrote for her, these are ones she’s written. One for every boy she’s ever loved—five in all. When she writes, she can pour out her heart and soul and say all the things she would never say in real life, because her letters are for her eyes only. Until the day her secret letters are mailed, and suddenly Lara Jean’s love life goes from imaginary to out of control.

REVIEW:

“You only like guys you don’t have a chance with, because you’re scared.”

This book is written from Lara Jean Song-Covey Point of View, Korean-America girl. Sixteen y.o girl with two sisters, Margot and Katherine (a.k.a Kitty)

Lara Jean is an ordinary girl with normal Life, had crush on her sister’s boyfriend which is her neighbour, named Josh. Lara’s not very popular at school, and have single father who’s a doctor (btw, her mother passed away when she was nine).

But, one day, her ‘normal’ life became out of control because of just some LETTERS!

“If love is like a possession, maybe my letter are like my exorcisms”

The love letters that she wrote for all the boys she’s loved before, which kept in the hatbox her mother’s given are all mailed!!! Josh Sanderson, her sister’s boyfriend, also recieved the letter (of course!)  In the other side, Peter Kavinsky, the most popular boy in school (picking up Lara’s sentence: Peter is the handsomest among the handsome boys) also recieved the love letter.

So, to keep their friendship (Josh and Lara) , Lara made a deal with Peter to do a fake relationship so that Josh won’t think much about the love letter he’d recieved.  And, Lara asked Josh to forget the love letter and don’t tell anything to her sister, Margot, who’s still study in Scotland.

Lara and Peter’s fake relationship is not going so well. Peter always run to Genevieve, his Ex, whenever she ask him and it makes Lara Jean ‘jealous’. Gen is also populer as ‘cruel woman’. She’d ever bullied ‘the another’ Peter’s Ex because she always thinks that Peter belongs only to her (What… $%#) And it makes Lara Jean a little bit afraid.

and what she afraid about was happening…


First time read Jenny Han’s book and fell in love with her writing style! The family and romance elements merged into one and give us a heartwarming feeling.

Actually, at first, i wasn’t really interested with this book. I judged the cover. IDK why, but, I do always hate book with ‘Real Human’ cover (I think this is OCD, LOL!!)

By the way, The Writer gave each characters the exact propotions, so, the readers can feel the existance of side-character. In the other side, side character also have an important role in this book,  they’re not only passing through like in the mostly books.

I love the story line so much! Although there’s some chapters which only contains sooo little paragraph which i don’t really mind but i just found out that romance books chapters are always like that tho…
Well, there’s some reason why i love the storyline:
1. Clear, not wordy
2. Chronological plot with a little flashbacks
3. Clearly written flashback although it’s not seperated by sub-section

[Posbar BBI2016] #FirstBookShopping

 
rd_image_resized_2_resized.jpgHola!

Di bulan Januari kemarin, aku membeli dua buku. Alasannya simpel: kovernya bagus!
Kedua buku tersebut belum sempat aku baca, dan (mungkin) akan dibaca di beberapa bulan ke depan (eh!)

  1. A Beautiful Mistake by Seviana Jose
  2. Cinta Akhir Pekan by Dadan Erlangga

Sedikit curhat: Buku-buku sekarang harganya naik terus! Apalagi di tokobuku offline! 😦
Mungkin harus banyakin beli e-books daripada versi cetaknya 😀

[Book Review+Tebak SS2015] The Girl on The Train

26085996

Judul: The Girl on The Train
Penulis: Paula Hawkins
Penerbit: Noura Books (edisi terjemahan)
Terbit: Agustus, 2015
Tebal: 431 hlm.
ISBN: 978-602-0989-97-6

REVIEW:

Dia terkubur di bawah pohon birkin perak, di dekat rel kereta tua, kuburannya ditandai dengan tumpukan batu. Sesungguhnya hanya setumpuk kecil batu. Aku tidak ingin tempat peristirahatannya tampak mencolok, tapi aku tidak bisa meninggalkannya tanpa kenangan.
Dia akan tidur dengan damai di sana, tak seorangpun mengusiknya, tidak ada suara kecuali kicau burung dan gemuruh kereta yang melintas.

 

Buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama. Bergantian dari sudut pandang Rachel, Megan, dan Anna. Dengan porsi terbanyak yaitu Rachel, mengingat dialah si pemeran utama.

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Ia tetap menaiki kereta tersebut meskipun sudah dipecat dari pekerjaannya. Bukannya tanpa sebab, Rachel merupakan pecandu alkohol parah.

Setiap hari, di pinggiran London, kereta itu akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas.
Rachel selalu menikmati pemandangan suami istri yang tampak menjalankan kehidupan yang tampak bahagia. Meskipun tidak mengenal secara langsung suami istri tersebut, Rachel telah menghafal aktivitas kedua orang itu. Rachel bahkan memiliki nama–nama untuk suami-istri itu, Jason dan Jess.

Pemandangan suami istri tersebut selalu membuat Rachel mengingat kembali kehidupannya yang sempurna di masa lalu. Disaat ia masih memiliki Tom, mantan suaminya yang kini meninggalkannya demi Anna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan!

Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah!


Sejak awal, buku ini selalu membuat aku penasaran. Mungkin karena buku ini selalu berada di rak-rak buku bestseller. Belum lagi iming-iming ‘Segera difilmkan’.
Hanya saja, aku sedikit ragu untuk membeli buku ini. Mungkin karena aku takut kalau tidak sesuai ekspetasi. Mungkin juga takut kalau ‘gaya terjemahan’ yang super-kaku (untuk itu, masih pikir-pikir lagi beli edisi englishnya.)

Untungnya, Santaku yang baik hati memberiku buku ini.

Super-Nggak Nyesal sama SEKALI!! (um, sebenarnya buku ini sedikit membosankan di bab-bab awal, belum lagi ‘latar waktu’ yang berbeda-beda setiap babnya.)

Mungkin waktu itu aku sedang lelah. Karena menghadapi bab-bab awal yang(menurutku) super-bosen, aku memutuskan untuk mencari ‘sedikit’ spoiler. Dan… ya… bukannya mendapatkan ‘secuil’ spoiler, aku malah dapetin S-E-M-U-A. Termasuk si X.
(Melalui pengalaman buruk ini, aku menyarankan kalian semua, Jangan coba-coba nyari review/ spoiler di wikipedia!!)

Jadi, dari awal aku nggak sempet buat hipotesis/ menebak-nebak si pelaku (berhubung udah ketahuan! 😦 xD) Hanya saja, jalan ceritanya selalu membuat penasaran. Endingnya bener-bener nggak ketebak, nggak nyangka banget!
Maaf ya, Mrs. Flynn, aku lebih suka ini daripada Gone Girl!
Menurutku, Ide ceritanya lebih keren, lagian edisi terjemahannya Gone Girl terlalu tebal 😦 Nggak bisa nyelesein sampe sekarang 😦

Overall, aku sangat-sangat menyukai buku ini! Direkomendasiin buat kalian semua! Bener! Buat pecinta romance, YA, Sci-fci… pokoknya harus baca buku ini! (Kok kesannya maksa ya 😀 LoL)

Pertama kalinya ikutan Secret Santa, seperti yang aku katakan tadi, aku selalu clueless dan nggak punya bakat dalam tebak-tebakan. Santaku memberi clue yang gimana ya. Sebait quote dan gambar burung twitter (?) [Klik Disini] By the way, karena post Riddle itu telat, nggak ada komen yang membantu :(:(

Untung aja, dua hari yang lalu mbak Dewi whatsapp-in dan ngasih clue (bisa disebut clue bukan sih?)  Cluenya berupa sederet nama-nama.

Lalu, jika dilihat dari tulisan tangannya yang rapi banget. Santanya pasti cewek! (bukan rasis ya, wkwkkwk)

Akhirnya, aku menebak satu nama (yang alasannya tidak dapat dikemukakan, namanya tebakan yah! xD)

Wulida @ Tukang Arsip Buku

 

[Wrap Up] IIRC 2015

Halo! Sebenarnya, di tahun 2015 kemarin, minat bacaku menurun drastis dari tahun sebelumnya. Bahkan, RC di Goodreads pun tidak terpenuhi. Banyak RC yang terlantar. Hanya saja, pada akhirnya aku memutuskan untuk membuat Wrap-up RC ini. Hitung- hitung sekalian nulis Book Kaleidoscope 2015 yang masih berada di Draf.

Langsung saja, listnya:

  1. Swiss: Little Snow in Zurich
  2. Muse
  3. London: Angel
  4. Rintik Tawa
  5. Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri
  6. Gloomy Gift
  7. Happily Ever After
  8. In a Blue Moon
  9. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
  10. Remedy
  11. Marry Now Sorry Later
  12. Crash into You
  13. Orang Ketiga
  14. Almost is Never Enough
  15. Audy 4/4
  16. Croissant
  17. Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990
  18. Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1991
  19. Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
  20. Orang Ketiga
  21. Sabtu Bersama Bapak
  22. Critical Eleven
  23. The Notebook
  24. I Remember You
  25. Rentak Kuda Manggani
  26. Perfect Pain
  27. Last Forever
  28. Tiger on My Bed

[Book Review/ Baca Bareng 2015] Perfect Pain

Perfect Pain

Judul: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 316 hlm.
ISBN: 979-780-840-8
Format: Paperback

Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

REVIEW:

…..Manusia memang punya daya adaptasi dan toleransi yang baik, bukan? Buatku, ada dua macam luka. Satu, luka yang bisa sembuh. Bekasnya hilang seakan tak pernah terjadi apa-apa. Seperti memar-memar ditubuhku. Begitu warna ungu kebiruannya berubah menjadi kuning menyerupai warna kulit, memar itu siap lenyap.
Namun, ada pula jenis luka kedua, yang semahir apapun pengobatannya, takkan pernah hilang. Seperti memar-memar di hatiku. Di jiwaku.

Penulis mengangkat tema yang cukup sensitif: KDRT, sesuai sekali dengan judul yang diangkat: Perfect Pain.

Dikisahkan seorang wanita bernama Bidari, yang menikahi Bram diumur yang masih sangat mudah, 18 tahun. Parahnya, pernikahan mereka sebenarnya tidak disetujui oleh ayah Bidari yang merupakan seorang tentara. Kemudian, Bidari dan Bram memutuskan untuk kawin lari, kawin tanpa persetujuan orang tua.

“Ingat, Bi. Kamu yang bersikeras menikah dengan Bram. Kalau ada apa-apa, jangan nangis-nangis pulang ke rumah.

Memang benar sekali kata orang, kita nggak bakal bisa mengenal seseorang dengan baik sebelum tinggal bersama.

Sebelumnya, Bidari pikir Bram dapat menolongnya untuk keluar dari lingkaran ayahnya. Ayahnya yang selalu mencaci maki Bidari, tidak pernah puas, dan selalu menganggap Bidari anak yang lemah, juga bodoh.
Bram yang sangat protektif dan menyayangi Bidari membuat Bi memimpikan rumah tangga yang indah bersama Bram. Nyatanya, mimpi dan kenyataan memang beda jauh.

“Bi, setiap orang layak dicintai. Kalau di kepalamu selalu tertanam ide bahwa kamu nggak pantas dicintai, maka itulah cara orang akan memperlakukanmu.”


Ini kali pertama aku membaca karya penulis ini. Jujur, penulis sukses membuatku berkaca-kaca sepanjang cerita.
Cerita dibuka oleh Bi yang dipanggil sekolah karena anaknya, Karel menonjok temannya. Kemudian, cerita terus mengalir sampai ke alasan kenapa Karel selalu muran dan hanya menggambar sosok ibunya. Disisi lain, Miss Elena selaku wali kelas Karel sangat mengkhawatirkan anak itu.
Karena Karel sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan bejat ayahnya itu, Karel memutuskan untuk mengunjungi pacar Miss Elena yang merupakan seorang pengacara.

Nah, dari situlah cerita terus mengalir. Dimana Sindhu, si pengacara terus bertekat untuk menolong Bidari dan Karel.

Hanya saja, ada konflik selipan dalam buku ini. Tentang Sindhu.

Sama seperti Karel, Sindhu juga merupakan korban KDRT. Versi yang lebih parah. Kenapa?

Mungkin memang benar yang dikatakan Bi, bahwa suaminya memiliki kepribadian ganda. Disuatu waktu, Bram dapat naik pitam dan dengan gampangnya melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Bidari. Tapi, di waktu yang lain, Bram akan minta maaf dengan wajah polosnya bahkan memelas dan hampir menangis! Barangkali, itulah alasan mengapa Bi bertahan sampai belasan tahun.

Pada akhirnya, apa keputusan Bi? Apakah ia tetap tinggal, atau pergi?


Pada awalnya, tokoh utamanya akan digambarkan sebagai sosok yang lemah. Benar-benar lemah.
Memang benar, sebagai tokoh utama, Bidari tergolong lemah. Tetapi tidak benar-benar lemah.
Ayah Bidari selalu mencacinya dengan mengatakan ia tidak berguna, lemah, bodoh. Karena itu, hal-hal yang tertanamkan di otak Bidari sama percis dengan yang dikatakan ayahnya: Lemah dan tidak berguna.

Pada titik tersebut, kesalahan benar-benar ada pada ayah Bidari. Mendidik anak dengan benar bukan berarti boleh men-judge anak seenaknya. Secara tidak langsung, itulah yang akan ‘ditangkap’ dan ‘diterima’ si anak. Bahwa mereka adalah apa yang dikatakan orang tuanya.

Disisi lain, Bidari telah menangkap mentah-mentah apa yang dikatakan ayahnya. Ia menerima Bram karena takut tidak ada yang mau mencintainya sebesar Bram mencintainya. Bi pikir ia tidak pantas dicintai, seperti yang dikatakan ayahnya.

Sindhu, si pengacara, yang awalnya aku pikir cuma ‘numpang lewat’ ternyata mendapatkan peran yang penting dalam cerita.

Overall, tokoh favorit aku dalam cerita ini tentu saja Sindhu. Ia benar-benar dapat diandalkan.
Disisi lain, aku cukup menyukai Miss Elena. Hanya saja, mungkin karena Elena yang hidup dilingkungan ‘Orangtua bahagia’, ia tidak begitu bisa merasakan apa yang dialami oleh Bidari sehingga perannya tidak begitu banyak.
Kemudian ada Bram, suami Bi yang aku pikir memiliki sedikit gangguan jiwa. Kadang aku merasa kasihan, tapi lebih banyak merasa marah! Haha.

Lalu untuk Bi, aku malah kurang menyukai karakter ini. Bi terlalu ‘pasrah’ dengan keadaan. Mungkin perkataan ayah Bi ‘sedikit’ benar (jadi ngerasa jahat.. xD)

Untuk covernya, aku suka banget! Pilihan warna latarnya bikin adem, bener nggak? Pilihan judulnya juga top. Langusng bikin galau. Setuju?

Tidak lupa, aku bener-bener suka gaya penulisan mbak Anggun! Mengingat banyaknya quotes yang bertebaran disepanjang cerita.

‘Jangan jadikan orang lain lasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian.” – Sindhu

[Secret Santa 2015] Riddle

Sebenarnya, aku nggak bermaksud telat untuk nge-post postingan ini. Hanya saja, kemarin laptopku bener-bener blank dan nggak  bisa dihidupkan 😦 [Sepertinya harus diganti..xD]

Dan… makasih banget ya, Santa! Udah ngasih The Girl On The Train! 
Jujur aja, aku bener-bener penasaran sama buku ini! Behubung karena kalimat ‘Telah terjual lebih dari 4 juta eksemplar di Amerika dan Inggris’ dan juga ‘#1 New York Times Bestseller’ yang membuat aku bener-bener tergiur dan penasaran!

Dannn untuk Santa, [Fyi, di belakang kertas Riddlenya, Santa meminta maaf karena cuma bisa kasih satu buku..] Haduhh Santa!! Ngak pa-pa kali! Malahan akunya seneng banget!! (Santa bener-bener pinter milih bukunya! Haha)

IMG_20151210_141258_resized

everyone should have me
so that the world will stay in
peace

Beneran! Dibikin pusing. Udah test ‘mengetik’ kalimat diatas di google. Tapi nggak muncul apa-apa. Ada sih, muncul penggalan-penggalan pasal dan ayat alkitab gitu. Jangan-jangan Santanya agama kristen ya?

Dan… jika dilihat lebih detail, ada gambar burung twitter dibawah kertas. Nah, disebelah gambar burung tersebut terdapat deretan angka: 180415
Pertanyaannya: 18-04-15 (prediksi sementara) adalah tanggal apa ya? Jangan-jangan tanggal dimana Sang Santa buat akun twitter? wkwkwk..

Oh ya, sekedar curhat gak penting ya.. aku udah mulai ngebaca bukunya loh! Dan ya, lagi-lagi aku membuat kesalahan fatal. Soalnya pas beberapa bab pertama aku agak bosan. Jadi mutusin untuk cari ‘review’ (bahasa indonesia) di google. Eh, nggak dapet-dapet. Ketutupan sama online shop dan blog-blog luar. Jadi, aku memutuskan untuk klik Wikipedia aja. Dab…. whatttt x81718%$%$%!$%$%14… Si Wiki ngasih spoiler dari awal sampai akhir… dan… aku baca semua… %$%$#@@!$^

By the way, pelakunya bener-bener nggak ketebak! Aku nggak sampe kepikiran kalau…

[Book Review] Tiger on My Bed

27219184

Judul: Tiger on My Bed
Penulis: Christian Simamora
Tebal: 396 hlm.
Penerbit: Twigora
Terbit: Desember, 2015
ISBN: 978-602-70362-3-9

“UNTUK MENARIK PERHATIAN LAWAN JENISNYA,
HARIMAU BETINA BISA MERAUNG SAMPAI 69 KALI SELAMA 15 MENIT.”

Jai harus mengakui, Talita Koum Vimana membuatnya sangat penasaran. Dia duduk di pangkuan Jai, membuai dengan suara tawanya, dan bahkan tanpa ragu mengkritik kemampuannya merayu lawan jenis. Hebatnya lagi, semuanya terjadi bahkan sebelum Jai resmi berkenalan dengan Tal.

“SELAYAKNYA TARIAN,
HARIMAU JANTAN DAN BETINA MELAKUKAN KONTAK FISIK SATU SAMA LAIN, DISERTAI SUARA RAUNGAN DAN GERAMAN.”

Jujur saja, alasan utama Tal mendekati Jai justru karena dia sama sekali bukan tipe idealnya. Dia dipilih karena alasan shallow: indah dilihat mata, asyik buat diajak make out.
Jenis yang bisa dengan gampang ditinggalkan tanpa harus merasa bersalah.

“TAHUKAH KAMU, SETELAH PROSES KAWIN SELESAI,
HARIMAU JANTAN SELALU MENINGGALKAN BETINANYA?”

Tiger arrangement, begitu keduanya menyebut hubungan mereka.
Dan ketika salah satu pihak terpikir untuk berhenti, pihak lain tak boleh merasa keberatan.
Jai dan Tal menikmati sekali hubungan kasual ini. Tak ada tanggung jawab, tak ada penyesalan… sampai salah satu dari mereka jatuh cinta.

Selamat jatuh cinta,

CHRISTIAN SIMAMORA

REVIEW:

Kehidupan percintaan Talita Koum Vimana benar-benar sebuah tragedi. Talita, biasa dipanggil Tal, sedang terpuruk gara-gara ditinggal oleh (mantan) tunangannya. Parahnya, orang yang berselingkuh dengan (mantan) tunangan Tal tidak lain tidak bukan adalah wedding plannernya sendiri!

Tal tahu tidak akan mudah untuk move on dari Rizal, si (mantan) tunangan. Maka dari itu, sebagai sahabat, Fika dan Yana menyarankan Tal untuk mencari rebound.

“Lo bilang apa tadi? Gue butuh… rebound?
“Iya. Masa lo nggak tahu sih arti rebound?” Alih-alih bertanya, Fika malah terdengar seperti meremehkan. Nggak percaya saja, hari gini masih ada yang kurang familier dengan istilah itu.
Tapi sejurus kemudian, Fika menjelaskan dengan sabar. “Semacam cowok yang nggak akan lo pacarin dalam situasi normal. Tipe cowok yang lo pilih karena alasan shallow: indah dilihat mata, asyik diajak make out — macam cowok-cowok seksi yang rajin gue pin di akun Pinterest gue laaah.”

Yap. Pilihan Fika dan Yana, untuk cowok ‘rebound’ buat Fika adalah Jai Birksted.

Awalnya, mereka melakukan ‘Tiger Arrangement’. Situasi dimana mereka bakal berpisah tanpa rasa bersalah setelah make-out selesai. Fyi, berdasarkan ‘pengetahuan’ Tal, setelah Harimau jantan dan betina kawin, Harimau Jantan akan langsung pergi meninggalkan Betina.

Um, sebenarnya aku rada ill-feel gimana gitu sama Tal. Soalnya ‘selalu’ Tal yang duluan menghubungi Jai duluan. Gimana ya, aku rada merasa kurang cocok sih. Mestinya Jai duluan yang menghubungi Tal. Dan yah… belakangan aku bisa memaklumi, berhubung Jai mempunyai masa lalu yang kurang mengenakan.

Jujur saja, semangat bacaku di tahun ini tuh rendah banget. Bayangkan, bulan desember aku udah baca tiga buku (termasuk buku ini) tapi dua buku lainnya terbengkalai (Fangirl by Rainbow Rowell dan Earth by Agnes Jessica). Sedikit curhat, nggak tahu kenapa rasanya ‘susah bingit’ menyelesaikan sebuah buku akhir-akhir ini.

Kembali ke topik.
Seperti biasa, endingnya agak ketebak sih. But, that’s not a big problem. Berhubung karena aku suka ide ceritanya. Meski nggak ‘se-addicted‘ sama alur cerita Marry Now Sorry Later. 

Dan….

Beribu maaf untuk Jai, aku lebih menyukai Jao. Ada beberapa hal yang mendukung. Mungkin karena ‘sex-scene’ di Tiger on My Bed itu ‘nggak ketulungan’, terlalu banyak menurutku. Jadinya, konflik dan cerita-cerita yang ditawarkan agak ‘ketutupan’, beda sama MNSL yang konfliknya itu ‘ngena’ banget.

Oh ya, mungkin ini agak aneh ya. Tapi aku suka banget sama pembatas bukunya xD :P. Warnanya hitam-kelam gitu. Kesannya misterius! 😀 Dan, aku juga menyukai cover dari buku ini. Udah merupakan ciri khas tersendiri, nama penulis dipajang dengan font yang giant, melebihi judul bukunya 😀

Overall, aku cukup menikmati buku ini (buktinya reading progressku yang ‘tergolong’ super-cepet, bacanya kemarin malem, nyelesainnya siang tadi, ugh! udah rekor tersendiri… meningat Fangirl dan Earth yang…..)
Hanya saja, aku jadi agak ‘ngeh’ perihal ‘sex-scene’ yang bertebaran (untungnya covernya nggak vulgar yah, aduh nggak bisa dibayangin deh!)
Yep, aku menyukai gaya penulisan penulis! Ceplas-ceplos! Bikin ngakak, diselipi humor-humor ringan bin ‘sedikit’ vulgar. By the way, mengungkit soal humor yang ditawarkan penulis, aku bahkan dibuat ‘ngakak’ sebelum menikmati isi cerita. Bagaimana tidak?
Waktu sedang membaca ‘Ucapan Terima Kasih’ penulis di awal buku, aku menemukan sepenggal kalimat ini:

PEMBACA SETIA (YES, YOU!)

I love you with all my butt.
I want to say heart, but my butt is bigger.

4 Stars for you!

[Book Review] I Remember You

26180763

Judul: I Remember You
Penulis: Stephanie Zen
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 330 hlm.
ISBN: 9797808289
Harga: IDR56

Kau datang meminta sisa rasa yang ada. Meraih tanganku, menatapku dengan isyarat cinta tulus; berjanji bahwa ini akan selamanya. Tak ada alasanku untuk menolaknya. Namun, apakah kata-kata masih bisa kujadikan pegangan?

Dea tak pernah menyangka sebuah pekerjaan paruh waktu dapat menjungkirbalikkan hidupnya. Membuatnya tak mampu lagi menerka apa warna masa depan—bahkan ketika seseorang meyakinkan ia masih bisa memiliki segala warna yang ia suka.

Aurelie selalu mampu menemukan keping puzzle yang hilang dalam pekerjaannya. Sayangnya, ia takut untuk tahu apa keping yang hilang dalam hidupnya. Suatu hari, seorang pria dengan senyum meneduhkan membawakannya cinta. Namun, sebuah alasan membuat Aurelie tak pernah lagi percaya bahwa cinta itu nyata—bahkan ada.

Dea dan Aurelie mencoba pelan-pelan membangun rasa percaya yang pernah porak-poranda. Selalu waspada karena tahu bahwa bangunan itu masih rapuh. Namun, selalu saja ada waktu kita tak waspada sepenuhnya, salah satunya ketika jatuh cinta.

REVIEW:

Pretending to be friends with the one you love is like breathing underwater. You can’t hold it too long because if you do, you won’t make it alive.

Ini adalah kali pertama aku membaca karya Stephanie Zen. Dan, ya! Aku menyukai buku ini!
Ugh, sebenarnya aku kurang ‘sreg‘ ya sama covernya. Aku merasa kalau covernya ‘kelewat’ simpel. Cuma tulisan I Remember You + rose dan ribbon. Pemilihan warna cover latarnya juga agak gak cocok kalau digandengkan dengan font nama penulis dan quote pada halaman judul. Aku rasa, jikalau warnanya orange pastel bakal lebih cocok kali ya? Hehe xD
Kembali ke topik utama!

Penulis memberikan surprise yang luar biasa! Aku tidak akan menyebutkan secara detail surprise apa yang penulis berikan. Hal tersebut dikarenakan spoiler yang akan tumpah-ruah 😀

Penulis menuliskan buku ini dari sudut pandang orang pertama bergantian. Bab pertama diceritakan dari sudut pandang Dea, bab kedua diceritakan dari sudut pandang Aurelie. Bergantian setiap babnya.
Cerita yang dituturkan berlatarkan singapura. Dan, aku menyukai cara penulis menggambarkan setiap detail-detailnya. Bukan hanya akan latar tempatnya, Singapura, tetapi juga ‘cara kerja’ sang tokoh.
Fyi, pekerjaan pemeran utamanya adalah seorang dresser untuk TVC dan paruh waktu fashion show. TVC itu merupakan iklan. Jadi setiap model yang akan tampil di iklan bakal di ‘rias’ dulu oleh penata rias dan ‘busana’nya diatur oleh dresser.

Pada awalnya, aku berinisiatif untuk ‘memberikan’ sedikit cuplikan cerita. Tapi, aku merasa ‘cerita’ yang dimuat dalam buku ini ‘bergandengan’ semua. Gimana ya, ‘surprise’nya bakal langsung ‘ketahuan’ kalau aku ‘memberitakan’ sedikit isi cerita. So, aku juga rasa kalau ‘sinopsis’ diatas sudah cukup bikin pembaca penasaran, bener nggak?

Unfortunately, buku ini cuma buku pinjaman. Ugh, merasa ‘sedikit’ bersalah karena baru membaca buku karya penulis ini sekarang.
Jujur ya, aku gak ‘menerka’ apa-apa akan alur dari cerita ini. Sampai-sampai, pada bab lewat pertengahan–mau ke akhir, aku mulai menerka-nerka. Mungkin gak ya?
Ugh! Tebakanku bener meskipun super telat! xD

Overall, i love this book! Especially the storyline. Yes, Stephanie Zen has succesfully amazed me by her writing’s style! Looking forward to read her another books!

[Book Review] Kode Untuk Republik

26789908

Judul: Kode Untuk Republik
Penulis: Pratama D. Persadha
Penerbit: PT Marawa Tiga Warna
Terbit: Juli 2015
Tebal: 237 hlm. 
ISBN: 978-602-72773-0-4

Belanda menyerang Magoewo dan Yogyakarta jatuh.  Kantor  Dinas Kode yang berada di Jalan Batanawarsa 32 ikut sibuk. Sebagai bagian dari pelaksanaan Perintah Siasat No. 1/1948 mengenai langkah-langkah bumi hangus, maka Kepala Dinas Kode dr. Roebiono Kertopati memerintahkan agar semua dokumen rahasia dibakar. Saat pasukan Belanda sampai di jembatan Gondolajoe, aksi cepat juga dilakukan oleh Kapten Santoso, Kepala Bagian Pendidikan Dinas Kode. Ia memberi pentunjuk yang dapat digunakan oleh para CDO (code officer) atau perwira sandi (sandiman) saat akan meninggalkan Yogya. Sejak saat itu, 19 Desember 1948, semua informasi rahasia akan dijalankan oleh para perwira sandi dari sebuah rumah di desa Dekso, tepi barat Kali Progo di kaki bukit Menoreh.

Di Bukittinggi, sebelum Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) terbentuk, lapangan Udara Gadut sudah terlebih dahulu diserang Belanda. Satu hari sebelumnya radio transmiter untuk menerima dan mengirimkan kode telah dipindahkan ke lapangan udara Piobang. Seiring pembentukan PDRI, maka petugas radio dan CDO Dinas Kode ikut berpindah-pindah di rimba raya Sumatera Barat. Setelah hubungan radio dengan Jawa terbangun, maka nasib Republik akan ditentukan oleh kode-kode yang dikirimkan dari kantong gerilya di Jawa, diteruskan oleh PDRI di Sumatera hingga menjadi alat diplomasi bagi para perwakilan Republik Indonesia di luar negeri

REVIEW:

Kriptografi sebagai upaya untuk menyembunyikan pesan telah diterapkan oleh berbagai peradaban, mulai dari peradaban Mesir, Tiongkok, India, Mesopotamia hingga Romawi.

Seperti yang dikatakan judulnya, Kode Untuk Republik, buku ini membahas segala seluk beluk tentang kode. Ilmu yang mempelajari tentang kode dan peranan kode/ sandi di masa Perang Kemerdekaan dan peranannya bagi hidup. 

Membaca buku ini membuatku menjadi sangat paham akan seluk beluk dunia Kriptografi. Bagi yang belum mengetahui, Kriptografi adalah ilmu yang mempelajari tentang sandi ata

u kode. Lalu, ilmu untuk memecahkan kode dan sandi tersebut dinamakan Kriptanalisis.

Penulis benar-benar sangat matang dalam penulisan buku ini, setidaknya begitu menurutku. Sebelum pembaca diajak untuk mengetahui tentang ‘Peranan Sandi Negara di Perang Kemerdekaan’, penulis terlebih dahulu mengajak pembaca untuk mengerti akan Sandi, Sejarah terbentuknya, dan peranannya. Karena itu, penulis membagikannya pada beberapa bagian. Sebagai bagian awal, tentunya penulis menuliskan tentang Memahami Kriptografi dan Sejarah Peradaban Dunia dengan Kriptografi, lalu pada dua bagian akhir, penulis menuliskan tentang intinya, Peran Penting Dinas Kode Di Masa Genting Republik.

Sebenarnya, mereview buku nonfiksi tergolong sulit. Aku pikir, itu semua karena ‘fakta’ yang dituangkan dalam buku.
Jujur saja, aku tahu bahwa ‘selera’ orang selalu berbeda. Hanya saja, aku sangat menyarakan ‘bagi’ kalian semua yang menyukai sejarah. Bukan tipe sejarah yang diajarkan di sekolah. Tapi, sejarah dunia, sejarah yang nggak ‘hadir’ di dalam buku pelajaran. Sebagai contoh, penulis menggambarkan cukup detail tentang ‘bom atom’ yang diledakkan di Kota Hirosima dan Nagasaki. Sejauh ini, buku pelajaran (mungkin ada beberapa yang menyebutkan.) tidak menyebutkan ‘waktu’ pasti dari bom yang diledakkan. Tapi, pada buku ini, kita akan mengetahui bahwa bom di Kota Hirosima dijatuhkan pada pukul 08.00 disusul oleh Kota Nagasaki 2 hari kemudian pada pukul 11.00.

Overall, aku sangat menyukai buku ini. Sebenarnya agak ‘melenceng’ dari ekspetasi semula. Aku pikir, buku ini akan membosankan (berhubung ‘minat’ terhadap buku non-fiksi itu kecil). Lalu, aku menemukan bahwa diriku sangat tertarik dengan buku ini. Aku kira hal tersebut karena aku menyukai sejarah. Sejarah Dunia.
Melalui buku ini, aku mengetahui hal-hal yang tidak diajarkan disekolah. Hal-hal yang mungkin masih banyak tidak diketahui orang-orang.
Aku sangat merekomendasikan buku ini kepada seluruh rakyat Indonesia! Karena, aku rasa setiap orang berhak mengenal dan mengetahui lebih jauh tentang Kriptografi!
Jujur saja, buku ini tidak begitu terkenal (jadi sedih!) Tapi, aku harap, kedepannya rakyat akan lebih ‘semangat’ dalam membaca buku dan menambah wawasan, bukan cuma bisa main gadget 😀 Hehe..

[Book Review] Last Forever

27132321

Judul: Last Forever
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 378 hlm.
ISBN: 9797808432

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?

REVIEW:

Kesekian kalinya membaca buku karya Windry Ramadhina, salah satu penulis favoritku.
Penulis memang beberapa kali memunculkan tokoh utama dari novel sebelumnya ke novel berikutnya. Sebagai contoh tokoh wanita dari London: Angel yang muncul pada Walking After You.

Berbeda dengan tokoh yang muncul di Walking After You yang hanya ‘numpang lewat’ atau ‘sekedar muncul di beberapa scene’, tokoh yang muncul di novel ini, atau bisa kita sebut ‘guest’ memiliki porsi ‘kehadiran’ yang lebih banyak. Tokoh yang menjadi guest di novel ini adalah Rayyi, si pemeran utama pria pada novel Montase.

Seperti yang diceritakan di Montase, Rayyi sangat menyukai film dokumenter dan kemudian bekerja di Hardi. Nah, tokoh utama dalam novel Last Forever ini adalah si pemilik Hardi, Samuel Hardi.

Samuel Hardi digambarkan sebagai seorang Don Juan berusia 32 tahun yang sangat anti-komitmen. Disisi lain, penulis mengangkat karakter Lana sebagai tokoh utama wanita yang juga anti-komtimen.
Mereka berdua menjalani sebuah hubungan– tidak, bukan hubungan, karena mereka tidak terikat.

Sama seperti Samuel, Lana juga bekerja dibagian film dokumenter. Bedanya, Lana bekerja di National Geographic dengan kantor pusat di Washington.

Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri. – Samuel Hardi.

Lana terlalu mencintai pekerjaannya.
Disisi lain, Lana mulai menyadari bahwa perasaannya kepada Samuel mulai terbentuk. Hanya saja, Lana terus menghambatnya. Lana selalu berpikir ia dan Samuel akan baik-baik saja. Maksudnya, Lana percaya bahwa ia dan Samuel tidak akan memiliki hubungan yang serius atau semacamnya.

Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar? – Lana Hart.

Mereka berhubungan tanpa ikatan selama kurang lebih 6 tahun. Hubungan tersebut tidak lebih hanya untuk memuaskan ‘kebutuhan’ seks masing-masing. Karena Lana yang sering ‘keliling dunia’ dan bekerja di tempat yang jauh, Lana hanya mengunjungi Samuel kurang lebih setengah atau satu tahun sekali di Jakarta, kadangkala, Samuel yang mengunjungi Lana di Washington. Lana akan mengunjungi Samuel selama seminggu atau bahkan hanya dua hari setiap tahun/ setengah tahunnya. Mereka berhubungan selama enam tahun, tetapi jarang bertemu. Bahkan hanya sekedar menanyakan kabar masing-masing pun tidak.

Lana Hart memang seperti itu. Suka muncul dan menghilang tiba-tiba.

Dan…

Samuel Hardi bukanlah pria yang ambil pusing tentang hal tersebut.
Hanya saja, Samuel Hardi tidak dapat menoleransi kegemaran Lana yang suka ‘meninggalkannya’ tiba-tiba.
Karena, karena Samuel tidak ditinggalkan wanita. Samuel meninggalkan wanita.

Sampai suatu ketika, Lana dan Samuel dihadapkan dengan kenyataan yang membuat mereka harus kembali memikirkan hubungan mereka.

Aku sangat menyukai sampul dari buku ini. Sangat simpel. Fontnya juga pas banget.

Bicara soal tokoh, aku kurang menyukai tokoh Lana. Tokoh ini selalu menolak kenyataan. Tokoh yang terlalu egois bahkan kepada dirinya sendiri. Tokoh yang selalu membangun ‘tembok pertahanan’ dikarenakan sesuatu yang pernah ia hadapi di masa lalu.

Seperti yang dikatakan sampulnya, penulis menuliskan cerita ini berlatarkan tempat di Indonesia seperti Jakarta, dan Flores. Belum lagi tempat-tempat yang hanya ‘sekedar’ lewat, contohnya: LA dan Washington.

Seperti biasa, aku selalu menyukai gaya penulisan penulis. Cerita ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga serba tahu.
Cerita yang ditulis dari sudut pandang orang ketiga cenderung kaku, tetapi tidak karya Windry Ramadhina. Penulis ini selalu berhasil ‘membuai’ pembaca ke dalam ceritanya. Gaya penulisannya rapi, alur yang mengalir, dan yang paling penting: tidak bertele-tele dan mudah dimengerti.

Ada tersebar beberapa sketsa wajah kedua tokoh utamanya, Lana dan Samuel. Sketsa wajah tersebut membantuku dalam ‘berimajinasi’ tentang tokoh dikala aku menikmati cerita ini.

Meski begitu, ada beberapa ‘hal’ yang menurutku kurang. Mungkin ide cerita?
Aku tidak tahu.
Hanya saja, tidak seperti karya-karyanya yang lain, jalan cerita dalam buku ini sedikit membuatku bosan. Mungkin karena konflik yang ‘Klise’?

Overall, aku tetap menikmati cerita ini, sampai akhir. Aku berkata bahwa cerita yang disuguhkan sedikit membosankan. Benar? Yah, tetapi, hanya ‘sedikit’. Porsinya sedikit. Tidak sampai membuat aku ‘stuck‘ di pertengahan buku.