[Blogtour Kali Kedua] Giveaway Winner

giveawaywinnergraphic.jpg

Hi! Pertama-tama dan terutama, thanks buat kalian semua yang udah mengikuti giveaway ini. Thanks buat semangatnya! And, by the way, jawaban kalian semua bagus-bagus. Sulit sekali memilih jawaban bagus diantara yang bagus-bagus.

Congratz!

Afiyatul Futhona

Apakah seseorang berhak mendapatkan Kali Kedua?

Jika yang dimaksud adalah kesempatan ke dua untuk hal yang sama, menurut saya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Kesempatan ke dua adalah sesuatu hal yang tidak terduga kedatangannya. Kita bisa saja berencana untuk memberi kesempatan ke dua, tapi semuanya tetap mengalir mengikuti takdir, dan rencana kita tak selamanya menjadi kenyataan.

Belajar dari kesalahan di masa lalu kemudian berusaha memperbaiki diri itu penting. Tapi mendapatkan kesempatan ke dua untuk hal yang sama adalah perihal keberuntungan. Kalau pun tidak mendapatkan kesempatan ke dua, pasti ada hal lain yang memang lebih baik dari itu. Selama mau belajar dari kesalahan, maka tidak ada yang percuma.

Silahkan kirimkan data diri (lengkap beserta alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi) ke: vionasese138@gmail.com

Jika pemenang tidak mengirimkan data diri selambat-lambatnya 3×24 jam, maka akan dipilih pemenang lain.


Dan, sebagai clue untuk giveaway mendatang, pada bulan Desember, StarKing’s Library akan berulang tahun yang ke-3. Dan ada giveaway besar-besaran untuk itu. Stay tune at my twitter account @viionna_

[Blog Tour] Kali Kedua

32057690

Judul: Kali Kedua
Penulis: Ainun Nufus
Penerbit: Romancious
Terbit: 2016
Tebal: 280 hlm.
Goodreads [Link]

“Not everyone gets a second chance. If you do get one, take advantage of it because it’s a gift, and it may be something better than you had before!

Well, it’s been a long time since i read this kind of book. Teenlit.


Cerita dibuka dengan pertemuan ‘kembali’ Vegya dan Arach. Tidak, cerita di buka dengan serangkai puisi yang bikin baper duluan sebelum baca cerita T_T

Singkat cerita, Vegya dan Arach sudah pernah bersama, dulu, tapi Vegya memutuskan untuk meninggalkan Arach demi laki-laki lain. Bertahun-tahun kemudian, dengan perasaan rindu sekaligus bersalah, Vegya kembali dipertemukan dengan Arach. Dalam perjodohan.

Kemudian berlanjut ke kebersamaan, dan kemudian perpisahan.

20161015063154.jpg
Lalu, munculah Erhol, saudara kembar Arach yang sifatnya beda jauh dengan Arach — atau begitulah yang Vegya sangka pada awalnya.

Vegya hanya tidak tahu, bahwa Erhol memiliki sisi lain dalam dirinya, seorang yang penyayang dan peduli terhadap Vegya…

Lalu, bagaimana jadinya hubungan rumit mereka?

 (Well, yang penasaran silahkan ikut Giveawaynya :D) 

20161015063534

Jujur saja, aku tidak menyangka akan menyukai buku ini, meskipun sangat jelas, this is not my cup of tea. Meskipun cerita yang dibawakan tergolong ‘klise’, entah kenapa, penulis berhasil membuatku selalu baperan. Terutama pada moment-moment Erhol dan Vegya. Sweet.

Untuk tokoh favorit, tentunya aku menyukai Arach, suami yang sempurna. Hanya saja, saya merasa karakter Arach ‘kurang hidup’, nggak tahu di bagian mananya, (mungkin dibagian dia terlalu ‘sempurna’ sehingga terlihat sangat super fiksi atau mungkin karena porsi ‘kemunculan’nya dalam buku ini super sangat sedikit).
dan untuk kembaran Arach, Erhol. Aku juga sangat menyukai Erhol. Kepribadian Erhol gampang membuat orang-orang jatuh cinta, mirip lah sama tipikal bad boy yang sebenarnya super baik xD

Kemudian, untuk tokoh Vegya, jujur saja, aku tidak begitu menyukai ‘kepribadian’ Vegya, terlalu kekanak-kanakan. Untungnya sih ada Erhol ya 😀

Well, I like the cover. Very much. Nggak hanya cover, desain halamannya juga bagus. Dan terlebih, untuk desain BOOKMARK-nya. Cute banget!

20161015_182555.jpg

Bookmark Kerah Baju ❤

Overall, buku ini setidaknya tidak membuat aku kecewa, tidak membuat aku berhenti membaca ditengah jalan. Untuk ukuran buku debut, buku ini sempurna. Desain bukunya dipikirkan dengan sangat matang. Pengeditan yang tergolong sempurna. Dan terlebih lagi, cerita yang meskipun tergolong mainstream, penulis sangat ahli membuat pembaca baper–dan kemudian senang, pada saat bersamaan. Begitu pula dengan keahlian penulis dalam membuat saya terus menerus ingin membaca sampai habis, meski endingnya sudah ketebak.

Well, Teenlit nggak seburuk itu kalau ditangani oleh penulis yang tepat. 🙂


GIVEAWAY TIME

Hai! Aku akan membagikan 1 (satu) buku Kali Kedua ini untuk kalian yang beruntung!

Rules:

  • Copy-paste dan share ke twitter:

Yuk ikutan Giveaway KALI KEDUA by @nufus_  di https://goo.gl/NlSRZn cc: @viionna_ @Romancious_  #GAKaliKedua

  •  Jawab pertanyaan ini di kolom komentar (Jangan lupa cantumkan id twitter/ email)

Menurutmu, apakah seseorang berhak mendapatkan Kali Kedua? 

 


*Deadline: 17 Oktober pukul 00.00 WIB

Pemenang akan diumumkan pada tanggal 20 Oktober pukul 19.00 WIB

 

[Book Review] Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas

28115778

Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia
Terbit: Cetakan keempat, Mei 2016
Tebal: 250 hlm.
ISBN: 9786020324708

Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

“Whatever he chooses to write will be well worth reading.”
—Jon Fasman, The New York Times

“Wrapped in a Chinese kung fu-styled novel and almost as brutal and dark as Chuck Palahniuk’s Fight Club, Eka has maintained his place on the frontlines of Indonesian writers.”
— Adisti Sukma Sawitri, The Jakarta Post

“Dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka menulis dengan semangat bermain-main yang cerdik dan lihai.”
— Anton Kurnia, Jawa Pos

“Eka piawai menyisipkan makna yang tertebar di sana-sini.”
— Heri CS, Suara merdeka

“Seperti dua novel Eka sebelumnya, novel ini dipenuhi tokoh-tokoh dengan karakter yang ‘tidak waras’. Ketidakwarasan tokoh-tokohya, di luar motif hasrat seks yang menggerakkan mereka, juga menjadi cermin dari ketidakwarasan zamannya.”
— Aris Kurniawan, Koran Tempo

“Dialog dengan ‘kemaluan’ jadi ruang permenungan, melahirkan keyakinan-keyakinan tak biasa.”
— Widyanuari Eko Putra, Kompas

REVIEW:

Ajo Kawir dan Si Tokek menyaksikan hal yang nggak mereka sangka: Rona Merah, ‘perempuan gila yang memiliki tubuh bagus’ (kata si Tokek) diperkosa oleh dua orang polisi. Dan karena ‘kelalaian’ Ajo Kawir dalam menjaga keseimbangan tubuhnya, Ajo Kawir berakhir pada: kepergok nonton!

Maka, sejak saat itu, ‘burung’ Ajo Kawir tidak pernah bangun lagi, tidur sepanjang waktu. Hal tersebut membuat Ajo Kawir sangat depresi, ia telah mengusahakan cara apapun untuk membuat burungnya terbangun, tapi berakhir pada hal yang sama: gagal.

Maka, sebagai sahabat, si Tokek memberi pencerahan pada Ajo Kawir: biarin, lagian belum perlu dipakek (iya, saat itu si Tokek dan Ajo Kawir masih bocah)

Kemudian, saat Ajo Kawir beranjak remaja, ia jatuh cinta pada seorang gadis: Iteung.
Dari sana, Ajo Kawir kembali dihadapi oleh hal-hal yang ditakutinya. Ajo Kawir juga dihadapi dengan pilihan pelik dalam hidupnya. Keluar masuk penjara, masalah rumah tangganya, … kehidupan yang brutal dan keras..

“Jika aku mati,” kata Ajo Kawir, “Urusanku dengan gadis itu selesai. Aku akan melupakan Iteung, untuk selamanya. Dan aku pun tak harus menderita karena kemaluanku yang tak bisa berdiri.”

“Aku tak suka kamu mati.”

“Aku juga tidak. Maka aku tak akan mati.”

Ini adalah kali kedua aku membaca buku karya penulis ini, kali pertamanya adalah kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta melalui Mimpi. Dan sampai saat ini, aku masih terkejut akan ‘gaya bahasa’ yang digunakan penulis. Terlalu ceplas-ceplos, terlalu vulgar. Tema yang diangkatpun tergolong aneh, nama tokoh yang aneh.

Jujur saja, penulis sangat ahli dalam membagi alur. Alur yang diangkat adalah Alur Campuran, maju-mundur. Yang membuat aku kagum adalah keahlian penulis dalam ‘memisahkan’ setiap kejadian dengan alur maju-mundur tanpa membuat pembaca bingung (satu-satunya hal yang membuat aku bingung adalah nama tokohnya! haha)

Disisi lain, Bab pembuka Kata pembuka dalam buku ini sangat menjanjikan bagi aku.
Bagaimana tidak? (kalau katanya begini:

“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,”

Sebenarnya, aku merasa ‘sedikit’ bersalah karena membaca buku ini, berhubung karena aku masih remaja dan soon-to-be-adult. Dan yah, sebagai ‘pembelaan diri’, aku membeli buku ini melalui online shop dan di bagian sinopsisnya nggak tertera kalau buku ini 21+ dan berhubung saat aku membaca Kumcer terdahulu, katanya nggak gini-gini amat.

Tapi, dibalik segala scene dan kata-kata yang vulgar, entah kenapa membaca buku ini membuat aku seperti: menemukan permata yang hilang. Tema yang nggak biasa, tokoh yang nggak biasa, alur yang ah-mazing (menurutku), dan tentu saja: judul buku yang ‘untungnya’ pada bab-bab akhir ada disebutkan keterkaitan secara langsungnya.

Tokoh dalam cerita ini juga tergolong banyak. Ada si Macan, Mono Ompong (yang muncul di bab-bab akhir, si Tokek, Paman Gembul, Jelita (orangnya nggak secantik namanya, kata Ajo Kawir), Wa Sami (yang jarang muncul), juga Iwan Angsa (yang aku sebut: Tega! ) juga tokoh-tokoh antagonis lainnya.

By the way, selain si Tokek, Iwan Angsa juga merupakan orang yang mengetahui perihal tentang ‘burung’ Ajo Kawir. Maka, seperti si Tokek, Iwan Angsa juga turut membantu Ajo Kawir untuk ‘membangunkan burungnya’. Hanya saja, Iwan Angsa membantu dengan cara yang agak ekstrim: membawa Ajo Kawir ke pelacuran! #spoilerdikit

“Aku tak mungkin mati karena perkelahian,” katanya lagi kepada si Tokek, dengan nada menyedihkan. “Tapi barangkali aku akan mati karena perasaan rindu yang menyesakkan ini.”

Overall, aku sangat menyukai ‘ide cerita’ dari buku ini, sangat menarik tapi aneh. Aku juga suka cara penyampain cerita oleh penulis (jika kata-kata erotis/vulgar dihilangkan/ tapi mungkin bakal aneh, bener?) Aku juga menyukai judul dari buku ini, beneran! bikin baper! Cover yang simpel tapi ‘memuat’ makna yang dalam….
Tokoh-tokoh sampingan yang kadang hanya ‘numpang nama’ tapi turut berperan dalam kelangsungan cerita. Si Macan, Jelita…
FIX! Cantik Itu Luka masuk ke TBR yang HARUS PUNYA!

 

[Book Review] Apapun Selain Hujan

Apa Pun selain Hujan

Judul: Apapun Selain Hujan
Penulis: Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Terbit: April, 2016
Tebal: 196 hlm. 

[Ikuti Blog Tour + Giveaway]

Wira membenci hujan. Hujan mengingatkannya akan sebuah memori buruk, menyakitinya….

Agar bisa terus melangkah, Wira meninggalkan semuanya. Ia meninggalkan kota tempat tinggalnya. Meninggalkan mimpi terbesarnya. Bahkan, meninggalkan perempuan yang disayanginya.

Namun, seberapa pun jauh langkah Wira meninggalkan mimpi, mimpi itu justru semakin mendekat. Saat ia sedang berusaha keras melupakan masa lalu, saat itulah ia bertemu Kayla.

Pertemuan itu mengubah segalanya.

Sebuah novel tentang melepaskan mimpi di bawah hujan. Tentang cinta yang diam-diam tumbuh bersama luka. Juga tentang memaafkan diri sendiri.

REVIEW:

Wira, Faiz, dan Nadine merupakan sahabat dari kecil, dan mungkin.. akan jadi sahabat selamanya jika Faiz tidak meninggalkan mereka.

Maka dari itu, demi mengobati kesalahannya, Wira memutuskan untuk pindah ke Malang dan tinggal di rumah neneknya. Dan disanalah, ia bertemu perempuan bernama Kayla.

      “Kamu masih hidup, Wira,” tekan Kayla lagi. “Kamu masih hidup, tapi kamu nggak berusaha untuk hidup. Apa itu bukan penghinaan buat Faiz namanya?”

Kayla selalu mengingatkan Wira pada Nadine meskipun Nadine dan Kayla memiliki segala hal yang berbeda. Kayla pendek tapi berisi, Nadine tinggi dan kurus.

Wira yang berkepribadian pendiam menyukai Nadine, begitupula dengan Faiz. Maka, disaat Faiz pergi meninggalkan mereka. Persahabatan mereka hancur. Wira dan Nadine sama-sama memutuskan untuk menjalani hidup mereka sendiri. Sampai Kayla, memutuskan untuk kembali mempertemukan mereka di pertandingan taekwondo. Dan pada titik tersebut, Wira mendapatkan kilas balik yang sudah mati-matian di pendam.

Awal tahun 2013, Wira bertanding dengan Faiz dengan hasil: Wira meraih kemenangan dengan memukul lawannya sampai mati K.O.

Di sisi lain, sepertinya Kayla sudah mulai mencintai Wira. Dan disisi lainnya, Wira seperti tidak dapat lepas dari bayang-bayang Nadine, tapi ia mulai terbiasa dan membuka diri pada Kayla.

Lalu, pada akhirnya, dapatkan Wira memaafkan dirinya?

images (2)

Ditawarkan untuk menjadi host blog tour ini adalah tawaran yang sangat menarik, berhubung karena Orizuka merupakan salah satu penulis favoritku, dan yah.. aku memang udah penasaran banget dan berekspetasi tinggi terhadap buku ini.

Dan.. yah.. buku ini sukses membuat aku terharu. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan tapi menusuk (ini maksudnya apa ? haha) Gaya penulisannya tidak kaku meskipun ditulis dari sudut pandang orang ketiga.

Aku sedikit sulit menentukan tema yang pas buat buku ini. Mungkin kekeluargaan? Atau persahabatan? Eh, mungkin pengorbanan dan ketulusan?
Jujur aja, unsur persahabatan dan ketulusannya terasa banget. Terutama saat Faiz mengatakan sesuatu pada Wira dihari mereka bertanding. Padahal ya, (spoiler) kemarin malam Nadine dan Wira kepergok pulang bersama. It’s very heartbreaking.. Terharu banget, truly love antar sahabat nih. Dan.. bahkan Wira juga nggak nyangka kalau Faiz bisa ngomong begitu. Aduh….

Tokoh favoritku dalam buku ini adalah Kayla. Karakternya terlalu baik. Nggak egois dan peduli sesama. Dan untuk Wira, aku kurang menyukai karakteri ini. Terkadang aku sampai merasa bahwa Wira terlalu emosional sehingga terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Ada juga Uti, nenek Wira yang ‘super-duper’ pengertian. Di sisi lain, penulis banyak menelurkan tokoh sampingan yang ‘cukup’ berperan. Sebagai contoh, si kucing yang bernama Sarang. Secara keseluruhan, Sarang ini seperti titik yang mendekatkan Wira dan Kayla.
Dan untuk teman-teman Wira di Jurusan Teknik yang perhatian sama Wira. Meskipun Wira selalu menolak ajakan mereka, mereka tidak serta-merta mengucilkan Wira. Nggak kayak temen SMA Wira..

Overall, aku sangat menyukai buku ini. Prolog dari buku ini SANGAT menjanjikan! Membaca buku ini membuatku teringat kembali akan buku Orizuka yang terdahulu, The Truth About Forever. Sama-sama bikin nyesek. Bener nggak?

[Book Review+Tebak SS2015] The Girl on The Train

26085996

Judul: The Girl on The Train
Penulis: Paula Hawkins
Penerbit: Noura Books (edisi terjemahan)
Terbit: Agustus, 2015
Tebal: 431 hlm.
ISBN: 978-602-0989-97-6

REVIEW:

Dia terkubur di bawah pohon birkin perak, di dekat rel kereta tua, kuburannya ditandai dengan tumpukan batu. Sesungguhnya hanya setumpuk kecil batu. Aku tidak ingin tempat peristirahatannya tampak mencolok, tapi aku tidak bisa meninggalkannya tanpa kenangan.
Dia akan tidur dengan damai di sana, tak seorangpun mengusiknya, tidak ada suara kecuali kicau burung dan gemuruh kereta yang melintas.

 

Buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama. Bergantian dari sudut pandang Rachel, Megan, dan Anna. Dengan porsi terbanyak yaitu Rachel, mengingat dialah si pemeran utama.

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Ia tetap menaiki kereta tersebut meskipun sudah dipecat dari pekerjaannya. Bukannya tanpa sebab, Rachel merupakan pecandu alkohol parah.

Setiap hari, di pinggiran London, kereta itu akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas.
Rachel selalu menikmati pemandangan suami istri yang tampak menjalankan kehidupan yang tampak bahagia. Meskipun tidak mengenal secara langsung suami istri tersebut, Rachel telah menghafal aktivitas kedua orang itu. Rachel bahkan memiliki nama–nama untuk suami-istri itu, Jason dan Jess.

Pemandangan suami istri tersebut selalu membuat Rachel mengingat kembali kehidupannya yang sempurna di masa lalu. Disaat ia masih memiliki Tom, mantan suaminya yang kini meninggalkannya demi Anna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan!

Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah!


Sejak awal, buku ini selalu membuat aku penasaran. Mungkin karena buku ini selalu berada di rak-rak buku bestseller. Belum lagi iming-iming ‘Segera difilmkan’.
Hanya saja, aku sedikit ragu untuk membeli buku ini. Mungkin karena aku takut kalau tidak sesuai ekspetasi. Mungkin juga takut kalau ‘gaya terjemahan’ yang super-kaku (untuk itu, masih pikir-pikir lagi beli edisi englishnya.)

Untungnya, Santaku yang baik hati memberiku buku ini.

Super-Nggak Nyesal sama SEKALI!! (um, sebenarnya buku ini sedikit membosankan di bab-bab awal, belum lagi ‘latar waktu’ yang berbeda-beda setiap babnya.)

Mungkin waktu itu aku sedang lelah. Karena menghadapi bab-bab awal yang(menurutku) super-bosen, aku memutuskan untuk mencari ‘sedikit’ spoiler. Dan… ya… bukannya mendapatkan ‘secuil’ spoiler, aku malah dapetin S-E-M-U-A. Termasuk si X.
(Melalui pengalaman buruk ini, aku menyarankan kalian semua, Jangan coba-coba nyari review/ spoiler di wikipedia!!)

Jadi, dari awal aku nggak sempet buat hipotesis/ menebak-nebak si pelaku (berhubung udah ketahuan! 😦 xD) Hanya saja, jalan ceritanya selalu membuat penasaran. Endingnya bener-bener nggak ketebak, nggak nyangka banget!
Maaf ya, Mrs. Flynn, aku lebih suka ini daripada Gone Girl!
Menurutku, Ide ceritanya lebih keren, lagian edisi terjemahannya Gone Girl terlalu tebal 😦 Nggak bisa nyelesein sampe sekarang 😦

Overall, aku sangat-sangat menyukai buku ini! Direkomendasiin buat kalian semua! Bener! Buat pecinta romance, YA, Sci-fci… pokoknya harus baca buku ini! (Kok kesannya maksa ya 😀 LoL)

Pertama kalinya ikutan Secret Santa, seperti yang aku katakan tadi, aku selalu clueless dan nggak punya bakat dalam tebak-tebakan. Santaku memberi clue yang gimana ya. Sebait quote dan gambar burung twitter (?) [Klik Disini] By the way, karena post Riddle itu telat, nggak ada komen yang membantu :(:(

Untung aja, dua hari yang lalu mbak Dewi whatsapp-in dan ngasih clue (bisa disebut clue bukan sih?)  Cluenya berupa sederet nama-nama.

Lalu, jika dilihat dari tulisan tangannya yang rapi banget. Santanya pasti cewek! (bukan rasis ya, wkwkkwk)

Akhirnya, aku menebak satu nama (yang alasannya tidak dapat dikemukakan, namanya tebakan yah! xD)

Wulida @ Tukang Arsip Buku

 

[Book Review] Croissant

23454393

Judul: Croissant
Penulis: Josephine Winda
Penerbit: Elex Media Komptuindo
Terbit: 2014
Tebal: 208 hlm.
ISBN:9786020251394
Ditemani santainya kepulan asap teh saat senja
Sepotong croissant renyah mencecap rasa
Berlapis seperti kisah kehidupan yang tak kunjung habis
Diwakili sepuluh cerita dunia
Semoga tak lekas ucapkan bon voyage—selamat tinggal
Hanya maklumi
c’est la vie—itulah hidup.

REVIEW:

Buku ini merupakan Antologi yang berisi 10 cerita pendek. Antologi kisah kehidupan.
Setiap cerita selalu memuat pesan. Dari 10 cerita pendek yang dipilih penulis untuk dibukukan, aku akan mereview beberapa cerita favoritku.
  • Deja Vu
Bercerita tentang Ericka yang dilanda kegalauan karena pacarnya memutuskannya dan terang-terangan ‘beromantis-ria’ dengan perempuan lain di hadapannya.
— Sebenarnya aku juga tidak terlampau menyukai cerita ini. Hanya saja, aku tertarik dengan sang tokoh utama, Ericka. Dan anehnya, aku bukan tertarik dengan kelebihannya, melainkan kecerobohan dan kebodohannya. Euh~ Tipe Heroine yang sering ditemukan di novel-novel teenlit.
  • Touche

      “If someday burung-burung yang ada di muka bumi ini punah dan tidak ada lagi yang berkicau, pagiku akan tetap cerah ceria selama aku masih bisa mendengar suara celotehanmu!”

Touche bercerita tentang Grace yang ingin menemukan belahan jiwanya tetapi selalu merasa tidak ‘pas’. Hingga, Grace kemudian menemukan lelaki yang tepat, bernama Noah. Hanya saja, Noah memiliki kekurangan dalam fisiknya.

Penulis menggunakan bahasa prancis, atau bisa juga disebut dengan ‘ungkapan’ dalam bahasa prancis yang mencerminkan setiap ceritanya. Sebagai contoh: C’est la vie. Tidak lupa, penulis menambahkan ‘arti’ dari judul pada akhir cerita, artinya: That’s Life! 
Secara keseluruhan, aku tidak begitu tertarik dengan covernya, hanya saja, jika sudah tiba di halaman-halaman awal, kalian akan memahami, mengapa ada menara Eiffel di sampulnya.
Dari segi cerita, ada beberapa cerita yang aku rasa tidak sesuai dengan judulnya, atau barangkali judulnya dipaksakan?
Ada juga yang aku rasa ‘terlalu drama’.
Ini adalah kali pertama aku membaca karya penulis ini, Josephine Winda. Ah, by the way, makasih mbak Luckty dan penulis karena sudah membiarkan aku menang giveaway dan mengirimiku buku ini 😀
Penulis menuliskan cerita ini dari sudut pandang orang kedua, meski begitu, aku tidak merasakan adanya kata-kata yang kaku, meskipun aku ‘kurang’ bisa terbawa suasana (mungkin karena cerita-pendek,ya.)
After all, buku ini cocok di baca untuk mereka yang ‘kebanyakan’ waktu luang dan ingin melewatinya dengan bahan bacaan ringan!

Review: 3 of 5 stars.

[Playing Around With Romance] Ekranisasi

Sebenarnya, post ini dijadwalkan untuk di-post semalam. Tapi, karena kemarin aku ‘agak’ sibuk, ada acara Reuni Akbar di sekolah. Jadi ya, Ekranisasi kali ini, grup Romance memutuskan me-review lebih fokus ke film.
Dan.. ya.. pilihanku jatuh ke The Best of Me. Semua orang penggemar buku pasti tahu bahwa The Best of Me merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama oleh Nicholas Sparks. Secara keseluruhan, jalan cerita sama. Tetapi, ada beberapa poin yang berbeda. Contohnya, dalam buku, si pemeran utama, Dawson Cole tidak memiliki sahabat. Tapi, dalam film, Dawson memiliki seorang sahabat yang akhirnya tidak sengaja dibunuh oleh Dawson. Lalu, Dawson pun masuk penjara.
Ah ya.. perihal ‘Dawson masuk penjara’. Alasan ‘kenapa dia masuk penjara’ antara di buku dan di film juga jauh beda. Tapi, alasan di film lebih dramatis ya. Pada buku, Dawson masuk penjara karena ia ‘tidak sengaja’ menabrak dokter dengan truknya pada hari hujan dan jalanan licin. Pada buku, Dawson masuk penjara karena ia ‘tidak sengaja’ menembak temannya, tepat menghunus kepala temannya, lalu mati di tempat.
Jujur saja, Luke Bracey yang memerankan Dawson muda sangat tidak cocok. Entah kenapa, aku merasa Luke Bracey terlalu ‘tua’ (mukanya). Dan, sejauh ini, aku setuju-setuju saja Liana Liberato memerankan Amanda muda. Bicara tentang Dawson muda dan Dawson tua, aku malah ‘berpikir’ kalo Dawson tua lebih ganteng dan… hawtt?

The Best Of Me

Romantis ya? Gimana bisa Dawson nyuruh Amanda mencintai dia lagi padahal Amanda selalu mencintai Dawson dan ngga pernah berhenti? aaaa……
Nah, ‘perihal’ perbandingan Dawson muda dan Dawson tua, coba lihat ini. Setuju kan kalo Dawson tua lebih ganteng? Btw, tadi aku sempet buka wikipedia untuk ‘mencari’ info tentang profil pemeran The Best of Me. Guess what? yang meranin Dawson tua umurnya 41, yang meranin Dawson muda umurnya 25 tahun. Amanda Tua, umurnya 39. Amanda muda, umurnya 19 tahun. Ehhh… penting ngga sih?
Overall, aku sangat menyukai film ini (lupakan The Notebook sebentar). Tapi, aku tetep lebih suka The Notebook :D. Aku juga lebih suka filmnya ketimbang bukunya. Nggak tahu kenapa sih, mungkin karena terjemahannya terlalu kaku (aku baca buku versi terjemahannya, diterbitkan oleh Gramedia). Hanya saja, aku kurang menyukai ‘pemeran’ Dawson muda karena alasan yang sangat logis: mukanya keliatan tua banget -_-. Berhubung aku ngga begitu tahu tentang aktor-aktor western, jadinya yahh.. aku nggak bisa ‘mengusulkan’ siapa yang cocok jadi Dawson muda :D. Terima apa adanya sih..

The Best Of Me

Penasaran dengan review adaptasi film lainnya? Yuk, blogwalking ke: