[Book Review] The Dead Returns

25924054

Judul: The Dead Returns
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Terbit: 1 Agustus 2015
Tebal: 252 hlm.
ISBN: 9786027742574

Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing.
Untungnya aku selamat.

Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin,
aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja.
Tubuhku berganti dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.

Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.

Tersangkanya, teman sekelas.
Total 35 orang.
Salah satunya adalah pembunuhku.

REVIEW:

Suatu malam, Koyama Nobuo jatuh dari tebing. Karena suasana yang begitu gelap saat itu, ia tidak dapat melihat siapa pelaku tersebut, siapa yang mendorongnya, siapa yang membuat jiwanya berlabuh ditubuh orang lain.

Benar, jiwa Koyama Nobuo hidup ditubuh pria lain, Takahashi Shinji. Nobuo bahkan tidak tahu, apakah ia harus bersyukur atau tidak. Disisi lain, ia menyukai ‘kehidupan’ Takahashi Shinji, wajah yang tampan, orangtua yang baik dan kaya, sampai pacar yang cantik.

Karena merasa diberi kesempatan, Nobuo yang hidup di tubuh Shinji memutuskan untuk memanfaatkan tubuh Shinji untuk mencari pembunuhnya. Hanya saja, mencari orang diantara 35 orang itu sangat susah. Belum lagi, Nobuo merasa orang-orang yang ada disekelilingnya mencurigakan. Termasuk ibu, sahabat, dan bahkan gurunya.

Aku baru bisa merasakan, bahwa hidup sebagai orang lain itu sangatlah melelahkan.

Menurutku, alur cerita terlalu pendek untuk buku yang bertemakan seperti ini. Singkatnya, kurang panjang. Meski begitu, seperti biasa, penulis sukses membuat aku ‘salah-sangka’. Endingnya benar-benar unbelievable! Pembunuhnya bener-bener unpredictable!

Disisi lain, aku juga sangat menyukai cover dari buku ini. Sangat misterius. Tatapan sang pria di cover depan bikin merinding, bener nggak? Tapi, jika dilihat-lihat lagi, kok mukanya mirip cewek di cover Girls in The Dark ? #lupakan.

Karena aku yang tidak terlalu sering membaca buku dari penulis jepang, aku selalu mengalami kendala dalam ‘mengingat’ nama tokoh. Beneran, dari awal sampai akhir, aku pikir Nobuo itu cewek. Pada akhirnya, temenku bilang kalo Nobuo itu cowok (?)

Entah kenapa, semangat menulis reviewku akhir-akhir ini menurun drastis. Semangat membacaku juga turun banget tahun ini. Jujur aja, aku membaca buku ini kira-kira seminggu/ dua minggu yang lalu. Dan baru kesampaian review hari ini. Mungkin, karena hari ini libur, ya. Jadwal sekolahku padat banget sekarang. Les dan ditambah eskul dari sekolah.

Overall, aku menyukai buku ini seperti bagaimana aku menyukai Girls in The Dark. Hanya saja, di beberapa titik aku merasa GiTD lebih bagus dari pada The Dead Returns (meski dari konflik lebih seru yang ini.)

[Book Review] The Chronicles of Audy: 4/4

25661516

Judul: The Chronicles of Audy 4/4
Penulis: Orizuka
Penerbit: Haru
Terbit: 2015
Tebal: 314 hlm.
ISBN: 978-602-7742-53-6

Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R dan jatuh hati pada salah seorang di antaranya.

Kuakui aku bertingkah (super) norak soal ini,
tapi kenapa dia malah kelihatan santai-santai saja?
Setengah mati aku berusaha jadi layak untuknya, tapi dia bahkan tidak peduli!

Di saat aku sedang dipusingkan oleh masalah percintaan ini, seperti biasa, muncul masalah lainnya.

Tahu-tahu saja, keluarga ini berada di ambang perpisahan.
Aku tidak ingin mereka tercerai-berai, tapi aku bisa apa?

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang masih saja ribet.
Kronik dari seorang Audy.

REVIEW:

Buku ini merupakan buku ke-tiga dari The Chronicles of Audy. [ Setelah 4R & 21 ]

Seperti buku-buku sebelumnya. Buku ini mengisahkan kelanjutan dari ‘kronik’ hidup seorang Audy. Untuk teman-teman yang belum membaca buku pertama dan kedua, diharapkan membaca terlebih dahulu ya, karena buku ketiga ini sangat berhubungan dengan buku pertama dan kedua (meskipun ada note singkat penulis di bagian-bagian yang berhubungan dengan buku awal)

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, buku ini mengambil 4R dan Audy sebagai pemeran utamanya. 4R sendiri merupakan singkatan dari nama-nama 4 makhluk ganteng, imut, dan kece: (berurut dari yang tertua) Regan, Romeo, Rex, dan Rafael (balita berumur 5 tahun yang super-jenius).

Sepertinya akan sangat sulit untuk mereview buku ini tanpa membeberkan sedikit spoiler dari buku pertama dan kedua. Singkatnya, di buku pertama, Orangtua Audy lagi kesulitan ekonomi karena baru ditipu oleh perusahaan asuransi. Maka dari itu, sebagai mahasiswi yang sebentar lagi akan lulus (baca: lagi nyusun skripsi yang nggak pernah selesai), Audy pun mencari alternatif lain untuk membiayai uang kuliahnya sendiri: mencari kerja. Iya, bener. Kerja di rumah 4R! Awalnya cuma dijanjikan jadi pengasuh si unyu Rafael, eh malah merangkap jadi pembantu.

Sebenernya jadi pembantu di rumah 4R nggak parah-parah amat kok, berhubung karena makhluk yang menghuni rumah tersebut kece-kece semua! Hehe #lupakan

Jujur saja, aku merasa kalau konflik dalam buku ini terlalu dipaksakan. Aku tidak dapat menjelaskannya dengan jelas (karena aku pikir, itu sama saja dengan membeberkan  ‘mutiara terpendam’, bener nggak?) Aku juga agak bimbang pada ‘dimana’ letak klimaksnya?

Jika dilihat dari segi cover, aku lebih menyukai cover buku ke-tiga ini daripada buku-buku sebelumnya. Lebih imut.

Kalau bicara soal karakter, aku kira, dalam buku ini aku lebih menyukai Romeo (mungkin karena porsi ‘kehadiran’ Romeo lebih banyak di buku ini) Untuk si pemeran wanita sendiri, Audy. Aku malah makin tidak menyukai Audy, ambisinya untuk ‘menaikkan’ IQ itu bikin greget-gimana. Makin gimana ya, labil?  Tidak lupa untuk mengomentari sikap Rex. Rex itu bener-bener kayak robot. Nggak ada ekspresi. Bahkan saat bicara dengan orang yang ia sukai. Dan terlebih lagi, Rex tega-teganya bilang gini: (kurang lebih ya, nggak sama percis) Kamu nggak ada bagian di masa depan aku, Audy.

Terkadang, aku juga merasa kalau buku ini ‘sedikit’ membosankan di bagian tengahnya.

Overall, ‘cukup’ baik. Bacaan ringan khusus untuk remaja-remaja! 🙂

Ratings: 2.5 of 5 stars.

[Book Review] Moon in the Spring

23291785

Judul: Moon in The Spring 
Penulis: Hyun Go Wun
Penerbit: Haru
Terbit: September, 2014
Tebal: 405 hlm.
ISBN: 9786027742390
Di malam bulan purnama, seorang dewi terjebak bersama seorang pria berhati dingin dan licik di permukaan bumi.

Dewi Langit, Pria Bumi, lalu Malaikat Kematian….

Apakah wanita itu benar-benar tunanganku?

Pria itu bernama Kang Min-Hyuk, pria berhati dingin dan licik. Ia tidak tampak terkejut ketika tunangannya bangkit dari kematian. Ia tidak memiliki perasaan apa pun kepada wanita itu. Akan tetapi sesudah kejadian itu, wanita itu terlihat seperti wanita lain. Dan wanita itu tidak pernah bisa hilang dari pikirannya.

Apakah pria itu akan berhasil mengetahui identitasku yang sebenarnya?

Ji-Wan melanggar peraturan langit dan turun ke bumi untuk menggantikan posisi seorang wanita yang meninggal. Di sana, ia bertemu dengan Min-Hyuk, tunangan wanita yang ia gantikan. Sejak bertemu dengannya, Ji-Wan tahu bahwa pria itu adalah orang yang tidak mudah untuk dihadapi. Walaupun begitu, Ji-Wan berniat untuk bisa terus bertahan di dunia manusia… meski ia merasa lelah.

REVIEW:

Kang Min-Hyuk adalah seorang pria yang dingin dan licik. Di saat tunangannya sekarat, diambang kematian, Min-Hyuk malah menunjukkan sikap tak acuh, sangat terkesan bahwa Min-Hyuk tidak memiliki hati.
Melihat hal itu, sang calon Dewi, Dal-Hee harus menempuh tujuh kali reikarnasi untuk dapat menjadi dewi seutuhnya. Maka, disaat Yoon Ji-Wan, tunangan Min-Hyuk dinyatakan meningggal pada pukul 19.20 karena gagal jantung akibat bunuh diri, sang calon Dewi, Dal-Hee, memutuskan untuk melanggar etika reikarnasi dan bereikarnasi menjadi Ji-Wan demi membuat Min-Hyuk yang berhati dan beraura gelap menjadi Min-Hyuk yang baru dan lebih baik. Singkatnya, ‘memanusiakan’ Min-Hyuk.
Ji-Wan yang telah dinyatakan meninggal beberapa saat yang lalu tiba-tiba hidup kembali! [Tentu saja, yang hidup dalam tubuh Ji-Wan adalah sang calon Dewi, Dal-Hee)
Min-Hyuk, sang tunangan merasa ada beberapa hal yang aneh tentang Ji-Wan, meskipun Min-Hyuk tidak terlalu dekat dengan Ji-Wan, Min-Hyuk tetap saja merasa ada yang aneh. Mulai dari kemampuan bermain piano Ji-Wan yang menurun, juga ‘selera’ baju Ji-Wan yang tiba-tiba berbeda (Ji-Wan biasanya menyukai baju yang berwarna suram, sekarang, Ji-Wan malah lebih menyukai baju berwarna cerah dan lebih pandai memilih model baju).
Puncaknya, karena Min-Hyuk ‘super-curiga’ dengan Ji-Wan yang kepribadiannya, Min-Hyuk mengajak Ji-Wan ke restoran dan sengaja memesan ‘sea-food’ untuk Ji-Wan (Ji-Wan alergi sea-food) dan… Ji-Wan memakannya!
Di sisi lain, Min-Hyuk merasa ia mulai menyukai Ji-Wan. Ah, maksudnya Dal-Hee.
Lalu, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Sang calon Dewi, Dal-Hee tentunya harus kembali ke langit saat ‘pekerjaan’nya selesai. Lalu, bagaimana dengan Min-Hyuk?

Tema cerita sangat unik! Dan tentu saja: tidak klise.
rating
4 of 5 stars
bookshelves
read
status
Read from October 24 to 25, 2014
format
Paperback
review
4.5 stars
Kalau-kalau dilihat dari reading updates yang aku copy goodreads, tentunya sudah lama-ya, aku membaca buku ini. Dan… baru kesempetan review hari ini. Dan… hampir-hampir ‘melupakan’ ceritanya. 25 Oktober 2014? Udah hampir 1 tahun! #Blah
Karena aku tiba-tiba sadar kalau telah mendaftar sebagai partisipan di Reading Challenge Penerbit Haru, maka aku memutuskan untuk ‘mereview’ buku ini dan tidak menunda-nunda lagi! 😀
Untuk terjemahannya, aku sangat puas. Tidak terkesan kaku sama sekali (fyi, beberapa buku terjemahan yang aku baca, gaya terjemahannya super-kaku. Bahkan, untuk buku-buku yang super-laris di negara asal, bahkan telah di film-kan, aku malahan ‘ngeh’. Entah kenapa. Tapi yang pasti, aku pikir itu semua karena ‘gaya terjemahannya’ yang ‘kaku.)
Jadi ya, seperti biasa, karena aku sudah membaca beberapa karyanya Hyun Go-Wun, aku rasa, tentang ‘kepuasan’ terhadap cerita sudah tidak perlu dipertanyakan. Di korea sendiri, penulis ini juga sangat terkenal (menurut pandanganku, mungkin benar), bisa dilihat dari buku-bukunya yang telah difilmkan (search sendiri di google :D)
Tokoh-tokoh sampingan juga ‘sangat’ membantu dalam kebagusan cerita. Kisah asmara bukan hanya pada tokoh utama, melainkan juga pada tokoh sampingan. Seperti Mi-Ra, adik Ji-Wan yang jatuh cinta pada ‘pengawal’nya Dal-Hee.
Overall, meski ada beberapa hal yang menurutku kurang ‘pas’, lupa sih di bagian mana yang kurang. Hanya saja, jika dilihat dari reviewku di goodreads, aku memberi 4.5 bintang ! Jadi ya..

4.5 Stars !

[Book Review] A Dandelion Wish

A Dandelion Wish
Judul: A Dandelion Wish
Penulis: Xi Zhi
Genre: Drama, Romance
Penerbit: Haru
Terbit: 2014
Tebal: 346 hlm.
ISBN: 978-602-7742-34-5

Pria itu pasti sudah gila. 

Orang normal tidak akan duduk di atas kap mobil orang yang tak ia kenal dan menyanyikan lagu blues di tengah badai topan.

Dokter Bai Qian Xun yang sedang lelah karena baru mengoperasi sekumpulan remaja gila yang kecelakaan di hari hujan disertai badai topan kaget melihat seorang pria asing duduk dengan santai di atas kap mobil toyota abu-abunya sambil menyanyikan lagu blues. Yang lebih menjengkelkan lagi, pria itu meminta Dokter Bai untuk menampungnya malam itu.
      “Aku… tidak punya tempat untuk dituju…”
      Sangat lama. Bai Qian Xun menungu jawaban dari pria itu dengan sangat lama. Hampir dia mengira bahwa pria itu mungkin tidak bisa bersuara. Namun, setelah sekian lama, pria itu akhirnya bicara juga.
      “Apa dimukaku terpampang tulisan Chun Feng Tour And Travel?”
Pada awalnya Dokter Bai menolak mentah-mentah untuk menampung pria itu. Dokter yang terkenal sebagai manusia robot yang selalu memasang wajah dingin itu akhirnya tergerak hatinya dan mengeluarkan welas asihnya untuk menampung pria gila itu. Pada awalnya, Bai Qian Xun hanya berniat untuk menampung pria itu satu malam saja. Lalu satu malam berlanjut hingga malam-malam berikutnya. Pria itu setuju untuk menjadi pembantu dan pemasak untuk Bai Qian Xun.
Pria misterius itu kemudian memperkenalkan namanya sebagai Cheng Feng. Pria yang kemudian membuat hati dingin Qian Xun meleleh juga. Yang tentunya hal ini ditentang habis-habisan oleh ibu dari Dokter Bai. Mana ada wanita yang memelihara pria?
Lalu, pada akhirnya kebahagiaan Bai Qian Xun tidak bertahan lama. Pria itu ternyata hilang ingatan, dan parahnya, pria itu ternyata sudah memiliki tunangan yang merupakan teman sepermainan pria itu sejak kecil dan akan menikah!
Bai Qian Xun tidak mendengarkan Xin He Qin. Dia hanya mendengar bahwa Cheng Feng yang dikenalnya sudah berganti nama. Berganti nama menjadi Ou Yang Xing.
Cheng Feng sudah mau menikah, pria itu bukan seorang pengangguran, bukan seorang juru masak, tetapi adalah bos di belakang restoran ternama yang sudah memiliki tujuh ratusan cabang yang tersebar di seluruh dunia.
Lalu, siapa yang akan Cheng Feng (Yang Xing) pilih? Ruo Ke yang merupakan teman masa kecil yang sudah ia kenal selama 20 tahun atau dokter Bai Qian Xin yang tidak bisa mengurus diri sendiri tapi memiliki tangan seharga 5 miliar yang baru dikenalnya selama 2 bulan?

A Dandelion Wish bercerita tentang seorang wanita jenius ber-IQ 183 yang telah menjadi dokter spesialis bedah jantung di umur 27 tahun. Dokter ini dikenal dengan nama Bai Qian Xun, atau dokter robot.
Komentar aku yang pertama adalah: Masalah IQ yang dimiliki oleh dokter Bai
IQ 183 itu sangatlah tinggi! Bahkan Einsten pun hanya 160-an. Masalahnya, penulis mulai menggambarkan bahwa Qian Xun tidak pandai merawat diri, hanya pandai mengoperasi pasien dengan tangan berharga 5 miliyarnya itu. Bai Qian Xun juga tidak pandai memasak, memasak mie saja sangat lembek. Bagaimana bisa orang ber-IQ setinggi itu tidak pandai merawat diri dan tidak BELAJAR cara memasak?
Warna kuning pada covernya bener-bener NOT MY CUP OF TEA. Meskipun kuning muda, seperti warna kuning pastel. Tapi, yang jelas kuning itu nggak banget buat aku. Fyi, buku ini ku pinjam dari kawan 🙂
Konfik pada buku ini tidak begitu berat, dan yah… KLISE. Selalu ada orang ketiga. Masalahnya, Bai Qian Xun itu si pihak ketiga atau Ruo Ke?
Ide cerita ini sangat unik, dan yang paling penting: nggak mainstream! Um…. sedikit sih, perihal Yang Xing dengan Ruo Ke yang merupakan teman sejak lama, tapi ini nggak bisa di bilang ‘sahabat-jadi-cinta’ karena cuma Ruo Ke yang cinta sama A Xing sejak dulu dan selalu ‘memenjarakan’ A Xing agar selalu di sampingnya. Selfish!
Karena di ceritakan dari POV orang ke-3, alurnya maju. Nggak ada Flashback. Alasan kenapa A Xing bisa hilang ingatan pun diceritakan oleh orang lain. Bukan melalui Flashback yang dialami A Xing.
Karakter yang digambarkan tidak terlalu kuat, banyak pihak yang hanya dianggap angin lalu. Seperti ayah dokter Bai yang nggak diceritakan secara detail, namanya pun tidak diketahui! Yang aku tahu hanya: Marganya pasti Bai.
Tentu saja buku ini merupakan buku karya penulis mandarin pertama yang aku baca, Xi Zhi.
Overall, meskipun ditulis dari POV ke-3, aku dapat merasakan ketegangan dan suasana di dalam cerita ini. Penulis benar-benar pandai dalam menyertai konflik dalam cerita. Konflik yang tidak terlalu keras, tetapi menambah ‘keseruan’ dalam cerita. Ide ceritanya juga sangat fresh. Nggak klise. Meskipun novel terjemahan, terjemahannya benar-benar memberi rasa puas pada pembaca. Nggak kaku sama sekali. Proposional. Klimaks dalam cerita juga dapat diselesaikan dengan baik. Buku ini direkomendasikan untuk para pelajar yang baru selesai US, melepaskan penat dengan cerita yang easy.

Ratings: 4.5 of 5 stars

[Book Review] Bonus Track

23453992

Judul: Bonus Track
Penulis: Koshigaya Osamu
Penerbit: Haru
Terbit: Oktober 2014
Tebal: 380 hlm
ISBN: 978-602-7742-36-9
Aku sendiri pun terkejut. Aku tidak pernah berpikir akan menjadi hantu dan bergentayangan.

Kusano Tetsuya bekerja di sebuah restoran hamburger besar di kotanya. Suatu malam, saat ia pulang kerja sambil mengendarai mobilnya, ia menjadi saksi tabrak lari. Sebuah mobil sport hitam melaju dengan kencang, meninggalkan seorang pemuda bertubuh kecil tergeletak di jalanan di tengah hujan.

Kusano mencoba untuk menolong pemuda itu, bahkan sampai memberikan napas buatan. Namun semua sudah terlambat. Semalam suntuk ia harus memberikan pernyataan di kantor polisi.

Gara-gara itu, Kusano demam tinggi dan bahkan berhalusinasi. Pemuda korban tabrak lari itu muncul di kamarnya, tidur-tiduran di atas sofanya, dan bahkan berbuat usil!

Tapi, apa itu benar-benar hanya halusinasi? Halusinasi itu sendiri sih mengaku kalau ia adalah hantu….

Kadang bonus track itu sendiri malah lebih baik dibandingkan dengan keseluruhan album.

REVIEW:

It was OK.
Agak membosankan. Jalan ceritanya (proses menemukan si pembunuh) lambat banget. Dipenuhi dengan ‘material’ yang nggak penting. Bukti bahwa pelaku pernah menabrak Ryota dan tertangkap sama-sama dituliskan pada bab 12, (bab ke-2 menuju TAMAT)
Lalu, pada bab terakhir, alias BAB 13, diceritakan tentang hidup kusano setelah arwah Ryota sudah pergi ke langit.
Bisa bayangkan nggak, bagaimana perjalanan dari BAB 2 sampai BAB 11 yang nggak mengandung apa-apa?
Nggak ada bukti tentang kasus tabrakan (kecuali mobil sport berwarna gelap, itupun ungkapan Kusano karena ia lah saksi tabrak lari itu). Berhubung karena kejadian terjadi pada tengah malam, di jalan yang sepi, dan sialnya… Hujan pula! Bekas ban pun nggak ada!
Lalu, ada bagian yang nggak di ceritakan jelas. Kenapa arwah-arwah yang lain begitu meninggal (keluar dari tubuh) langsung pergi ke langit, dan ada juga arwah yang nggak begitu, contohnya pada kasus korban tabrak lari: Ryota. Memang sih, pada akhirnya Ryota juga pergi ke langit (setelah ditemukannya si botak, also known as: PELAKU).
Serta tentang kenapa Kusano hanya bisa melihat hantu Ryota seorang?
Kadang, hal yang kecil seperti itu malahan dituntut adanya kejelasan oleh pembaca.
Kekecewaanku pada Her Sunny Side nggak begitu mendalam. Masih bisa ditoleransi. Tapi… buku ini…
Gawd…
Belum lagi masalah soal ‘JUDUL’. Judulnya (my opinion) agak melenceng dari ceritanya. Cerita yang dimuat adalah tentang seorang pegawai restoran hamburger, Kusano yang menjadi satu-satunya saksi mata sebuah kejadian tabrak lari! Belum lagi korban tabrak lari tersebut, Ryota yang selalu menempel pada Kusano. Anehnya, Kusano hanya bisa melihat hantu Ryota!
Dua bintang karena covernya dan kualitas terjemahannya. Terjemahan HARU memang sangat mendetail. Untuk hal sekecil apapun. Ini patut diberi apresiasi.

Truth to be told, aku bahkan sempat hiatus di pertengahan buku ini dan membaca MAHOGANY HILLS (sudah selesai baca juga^^)

Overall, Bonus Track membuatku kecewa. Benar-benar nggak aku nyangka! (Karena, semua buku terjemahan HARU selalu seru-seru!)

Ratings: 2 of 5 Stars

Book Review: People Like Us

22392062

Judul: People Like Us
Penulis: Yosephine Monica
Penerbit: Penerbit Haru
Terbit: June 2014
Tebal: 330 hlm.

 

Akan kuceritakan sebuah kisah untukmu.
Tentang Amy, gadis yang tak punya banyak pilihan dalam hidupnya.
Serta Ben, pemuda yang selalu dihantui masa lalu.
Sepanjang cerita ini, kau akan dibawa mengunjungi potongan-potongan kehidupan mereka.
Tentang impian mereka,
tentang cinta pertama,
tentang persahabatan,
tentang keluarga,
juga tentang… kehilangan.
Mereka akan melalui petualangan-petualangan kecil, sebelum salah satu dari mereka harus mengucapkan selamat tinggal.
Mungkin, kau sudah tahu bagaimana cerita ini akan tamat.
Aku tidak peduli.
Aku hanya berharap kau membacanya sampai halaman terakhir.
Kalau begitu, kita mulai dari mana?

 

REVIEW & PLOT:

Buku ini memang pantas banget buat jadi juaranya 100 Days Romance (Lomba nulis novel bertemakan Romance yang diadakan Penerbit Haru).
Alasannya:
1. Plotnya tersusun rapi.
2. Prolog dan Epilognya secara keseluruhan sangat ‘menyambung’ ke Bab-bab berikutnya. Prolog dan Epilog dibuku ini seolah-olah menjadikan cerita ini memang benar-benar terjadi dan  diungkapkan oleh seseorang. Kenapa? Karena pada Prolog, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, begitu juga dengan Epilog. Tapi, saat kita memasuki bab berikutnya, sudut pandang yang digunakan mengacu pada orang ketiga serba tahu.
3. Meskipun pokok dari cerita ini sangat mainstream: Pemeran utama wanita jatuh cinta pada pemeran utama pria. Pemeran utama pria benci pada pemeran utama wanita. Pemeran utama wanita sakit.  Pemeran utama pria kasihan dan khawatir. Lalu mencoba menerima apa adanya. Menemukan kecocokan. dan blahhh…. Yang menolong sisi negatif kemainstream-an cerita ini adalah: Cara penulis mempaparkan setiap kejadian serta keahlian penulis (yang belakangan aku ketahui ternyata penulis masih SMA , menurut perhitungan ku ya) dalam menuliskan alur/plot yang mengalir slow. Bukan berarti alurnya lambat, slow disini dapat diartikan sebagai slow yang soft. Alur yang menghanyutkan!
4.  Ending yang… Umm.. Mungkin penulis sengaja membuat Ending yang… sebagai penolong kemainstrem-an isi dari cerita ini. Well, i liked the ending of this book!
5. Yosephine Monica telah masuk ke daftar Author Indonesia yang aku suka^^. Planning to read her next book, OF COURSE!
6. Tidak lupa latar tempat yang bersetting di United States yang menambah keromantisan cerita ini^^
Amelia Collins, biasa di panggil Amy bukanlah seorang yang populer di sekolahnya, orang-orang mengenali Amy karena dua hal:
1. Amy adalah seorang penulis yang tidak pernah membuat ending. (Alasan Amy untuk hal ini adalah: Biarlah pembaca dapat berimajinasi sendiri.) How cruel is she!
2. Amy menyukai Ben!
Awalnya, Amy hanya jujur pada seorang teman sebagaimana rasa sukanya pada Ben. Tapi entah kenapa, seorang yang mengetahui hal itu berubah menjadi satu sekolah mengetahui hal itu.
Di sisi lain, Benjamin Miller membenci Amy. Dengan alasan yang cukup jelas tentunya: Gadis itu mengerikan! Ia adalah seorang penguntit. Dan Ben membenci itu! Ia mengangap bahwa Amy telah merusak ‘momen kesendiriannya’.
Suatu hari, Amy menyadari ada hal yang salah pada lehernya. Sesuatu yang menonjol dari lehernya bertambah besar setiap harinya. Tapi Amy tidak begitu peduli dengan hal itu. Sampai hari itu terjadi. Amy merasakan cairan berwarna merah jatuh dari hidungnya, dan beberapa saat kemudian… Amy pingsan.
Kanker menyerang Amy. Dan Amy berusaha untuk mengalahkan kanker itu.
“Kanker dan cinta punya kesamaan, tidakkah kau sadar?” Amy berkata antusias, ketika Ben menghentikan tarian jari-jarinya di atas keyboardlaptop. Kadang gadis itu bisa berbicara yang aneh-aneh tanpa mengenal situasi.
Ben mengernyit. “Apa itu?”
“Jika mereka terlalu kuat, kau tak bisa menghancur

 

Book Review: Simple Thinking About Blood Type

19374775

Judul: Simple Thinking About Blood Type
Penulis: Park Dong Sun
Penerbit: Penerbit Haru
Terbit: 2013
Tebal: 262 hlm.
ISBN: 6027742259
 Tahu nggak sih kalau orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?
Apa jadinya kalau mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!
Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, agama, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.
Meski sifat seseorang tidak bisa hanya dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Bloodtype ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu untuk memahami orang lain, ya!

REVIEW:

Buku ini merupakan buku non-fiksi yang berisi ramalan sifat-sifat orang berdasarkan golongan darahnya. Ditambah dengan anekdot-anekdot di beberapa halaman menjelang akhir dari buku ini. Anekdot lucu tentunya.
Actually, sempet ‘ngeh’ waktu lihat harga buku ini. Terlalu mahal dengan ukuran yang ‘nggak‘ seberapa tebal. Tapi, kurasa harganya standart, why? BUKU INI FULL-COLOR!
Singkat kata, Editornya kreatif banget!
By the way, buku ini ada sekuelnya, dan mungkin ada buku ke-3 juga! Simple Thinking About Blood Type 2 gagal masuk wishlist-ku :(.
Kenapa?
Sebenarnya aku nggak tertarik amet sama buku non-fiksi beginian, beli buku yang pertama cuma sekedar untuk mengisi waktu luang :). Meskipun begitu, buku ini sangat menghibur!^^

20140902_012805 20140902_012828 20140902_012838 20140902_012857

 

Ratings: 4 of 5 Stars