[Opini Bareng] Oktober: Peran Wanita

rd_image_resized

Aku selalu menyukai cerita-cerita yang memiliki karakter wanita yang kuat (Mungkin disini aku akan ‘sedikit’ membahas tentang karakter tokoh, no offense ya. Berhubung opini bareng tentang karakter utama aku lewati kemarin-kemarin), Bagaimanapun perannya dicerita tersebut. Aku pikir, bukan cuma aku yang menyukai karakter wanita kuat. Banyak pembaca juga menyukai itu. Aku rasa, alasan kita menyukai karakter wanita yang kuat adalah: (mungkin) karakter yang kuat dapat ‘menyelamatkan’ cerita dari ‘kemenye-menye-an’. Tahu kan? Maksudku, ceritanya bakal ‘terasa’ lebay, atau lebih tepatnya: ‘overdosis karakter’.

Mungkin banyak yang tidak setuju akan hal ‘kenapa aku menyukai karakter wanita kuat’. Jelas ya, pastikan setiap orang memiliki pendapat masing-masing, bener?
Meski begitu, aku juga tidak sepenuhnya membenci karakter wanita yang lemah. Mungkin perannya dalam cerita tersebut yang ‘memaksa’, dipaksa keadaan istilahnya.

Biasanya, peran wanita selalu mendominasi dalam setiap cerita. Ada peran wanita kuat, ada juga peran wanita yang lemah. Disini, aku akan membahas tentang peran wanita kuat yang aku baca dibeberapa cerita maupun yang aku temui di film adaptasi.

Sebagai contoh, Katniss Everdeen di The Hunger Games. Jujur saja, aku memiliki buku The Hunger Games, tapi masih di rak, belum dibaca, kebiasaan pembaca, bener?
Kembali ke topik, aku menyimpulkan Katniss adalah peran wanita yang kuat karena aku telah menonton filmnya dari awal, dan yah, akan sampai akhir.
Dan.. kembali lagi ke topik, di The Hunger Games, Katniss ditempatkan sebagai peran utama wanita. Pada awalnya, karakter Katniss digambarkan sangat lemah (atau, pura-pura lemah?), lalu berangsur-angsur ke kuat meskipun masih banyak tekanan-tekanan yang ia alami. Disini, peran Katniss sangat membantu menyelesaikan ‘konflik’ cerita (ya iyalah, namanya dia pemeran utama!)…

Disisi lain, ada juga peran utama wanita yang sangat menyusahkan. Menyusahkan karena sikapnya. Sebagai contoh: plin-plan. Tipe ini sangat aku hindari (didunia nyata), karena tipe ini bener-bener nggak punya pendirian (udah pernah ngalami, banyak temen aku yang begini. Hari ini bilang ‘bisa’, besoknya ‘malas pigi’.)

Sebagai contoh, Teresa di The Scroch Trials cukup membuatku kesal. Aku bener-bener nggak menyangka ia akan mengkhianati Thomas. Aku tidak tahu ia bodoh atau pintar (karena belum baca buku ketiga dan baru nonton sampe film kedua. Sebenarnya aku yakin sih, kalo WCKED itu jahat, tapi ya, aku kurang ngerti soal ceritanya. Tapi aku suka #ehgimanasih) Dari awal, aku merasa peran Teresa itu kurang penting, bahkan kadangkala aku merasa kalau peran Teresa itu ‘menyusahkan’ dan… ternyata.. iya.. emang…
Tapi kalau nggak ada Teresa nggak bakal seru, sih…. -_-

Sebenarnya, aku bisa memberikan contoh peran wanita yang patut dikagumi dan bikin kesal lainnya. Hanya saja, aku tidak bisa mengingat apapun untuk sekarang ini -_-. Kalau sudah ingat, bakal aku edit kembali ūüôā

By the way, maafkan jika opini yang kutorehkan bulan ini ‘sedikit’ out of line ya. Atau bahkan, kalian sama sekali tidak mengerti apa yang aku bicarakan #sedih. Mungkin aku sedang lelah….~

[Edited]

Baru ingat soal Misteri Patung Garam, jadi, entah kenapa, aku tidak menuliskan review untuk cerita ini. Mungkin karena tema beginian lebih sulit ditulis reviewnya, atau bisa juga karena ‘semangat’ reviewku tiba-tiba punah saat itu #lupakan.
Misteri Patung Garam bercerita tentang seorang polisi muda bernama Kiri Lamari yang sedang mencari titik terang dari pembunuhan berantai. Pembunuh ini selalu mengoleskan garam ke para korbannya sehingga tubuh mereka menjadi ‘Patung Garam’
Nah, dalam mengusut kasus ini, Kiri Lamari dibantu oleh pacarnya. Wanita yang cerdas. Perannya sangat membantu dalam hal ini. Padahal, awalnya aku kira dia bakal memiliki peran yang kecil dan hanya menyusahkan. Ternyata, ia sangat membantu dalam mencari kebenarannya. Salut! By the way, aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca! Bagus banget!

Advertisements

[Opini Bareng] Karakter Tokoh Utama

1424592494831

Jika pada bulan Januari tema Opini Bareng adalah tentang Ekspetasi [Baca disini]. Maka, di bulan Januari ini, tema opini bareng kali ini adalah tentang Karakter Tokoh Utama.
Apakah kamu lebih menyukai karakter utama yang serbasempurna, mirip dengan kepribadianmu, atau yang hidupnya penuh dengan masalah dan ketidaksempurnaan? Apakah kamu menyukai tokoh utama yang cerewet atau pendiam?
Jujur aja, aku cenderung menyukai tokoh dengan karakter yang sama denganku.
Aku selalu menyukai tidak semua ‘apapun’ yang memiliki kesamaan denganku. Dengan begitu, aku akan lebih mudah terbawa suasana serta merasakan ’emosi’ dari sang tokoh (meskipun seringkali aku lebih ‘mudah’ merasakan emosi sang tokoh dari cara penulisan penulis sendiri.)
Sebenarnya, aku itu nggak tahu gimana cara menilai karakterku sendiri. Hanya saja, yang aku tahu tentang karakterku adalah: Aku orang egois. Tipe kepribadianku (saat diuji di pelajaran sosiologi) adalah koleris kuat. Tipe kepribadian (dapat kalian sebut karakter, mungkin ?) orang koleris adalah: Keras kepala, mau menang sendiri, pejuang, sombong,  susah berteman (percayalah, aku tidak seburuk itu). Nah, biasanya, orang-orang koleris ini yang dapat memicu terjadinya konflik yang lebih dalam. Klimaks yang menegangkan.

Banner_OpiniBareng2015

Kenapa menyukai tokoh utama dengan karakter mirip dengan karakterku? 
Karena aku tidak menyukai tokoh dengan karakter yang lemah. Singkatnya, aku suka tokoh utama yang kuat. 

...

Tokoh utama (perempuan) yang lemah biasanya menjadi ‘korban’ konflik dari sebuah cerita. Baik itu cerita bergenre adult, sci-fi, dystopian(yang sedikit, berhubung biasanya genre ini seringkali mengangkat tokoh utama wanita yang kuat.) dannn…. romance! Memang sih, kebanyakan pada novel-novel erotis atau romance yang tentunya… picisan. Pernah mendengar cerita yang seperti ini: “Sang wanita sangat mencintai suaminya, jadi, dia rela disiksa lahir-batin, berusaha mempertahankan rumah tangganya sepihak.” Mungkin pernah, hanya saja, pada akhirnya mereka berdua akan disatukan lagi oleh penulis cerita. Ada juga yang tidak.
Kenapa tidak menyukai tokoh dengan karakter serba-sempurna?
Karakter yang serba-sempurna itu membuat aku ‘selalu’ mengingat tentang ke-fiksi-an tokoh. Kita semua tahu jika tokoh dengan karakter: Baik (benar-benar BAIK bukan alibi a.k.a Alim Alim Biadab), sopan (benar-benar sopan, sopan bicaranya, sopan pakaiannya, sopan semuanya), tanpa pamrih (kau akan menemukan karakter tanpa pamrih di buku seri DIVERGENT) singkatnya, karakter yang begituan itu: TOO GOOD TO BE TRUE.
 Barangkali, postingan baca bareng ini merupakan yang tertelat dari semua yang telat. Sebenarnya, aku sudah menulis tentang opini bareng ini sejak awal bulan Febuari. Entah kenapa, post ini selalu tidak berhasil dipublikasikan, selalu disimpan di konsep. Mengalami beberapa kali perubahan (mengingat aku adalah orang yang plin-plan)
Awalnya, aku sempat beberapa kali mengalami writer’s block. Menyusun sebuah kata-kata, tapi kata-kata itu tidak berhasil aku jadikan bagian dari kalimat. Maka, dengan segala ‘ke-gaje-an’ aku. Jika ada yang ‘aneh’ dari post ini. Mohon dikomentari^^
Ah, ya. Berhubungan tentang ‘kesempurnaan’. Aku jadi ingat dengan quote ini:
Shiraishi Itsumi terlalu sempurna. Secara umum, baik itu dalam menghias roti, atau kudapan tradisional, untuk meningkatkan cita rasa, seorang artis sengaja menghancurkan kesimetrisannya. Bentuk itulah yang justru menarik. Tetapi, sosok Itsumi terlalu mendetail seolah sudah dihitung dengan cermat dan diatur terlalu teratur dan tidak ada yang tidak sempurna. Benda yang sempurna itu tidak cantik. Vulgar.

[Opini Bareng] January: Expectation

ABM_1422532044

Tema Opini Bareng bulan ini adalah: Ekspetasi. Berhubung karena ini adalah kali pertama aku menuliskan post tentang Opini, aku cukup ‘kebingungan’ dan ‘kewalahan’ untuk memikirkan apa yang harus kutuliskan dalam post ini.¬†
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk: Memilih buku yang menurut aku melebihi dan dibawah ekspetasiku dan menyadari bahwa postku ‘sedikit’ berbeda dari yang lainnya –__–

Banner_OpiniBareng2015

BEYOND MY EXPECTATION:
Mei Hwa: Sang Pelintas Zaman

Buku ini sangat membuat aku terkesan! Pada awalnya, membeli buku ini adalah keterpaksaan. Keterpaksaan karena aku mengunjungi toko buku dan tidak menemukan buku yang menarik untukku. Sebenarnya, cover dari buku ini tidak cukup menarik untukku. Memang, aku menyukai buku dengan cover simpel, cover simpel dimiliki oleh buku ini. Tetapi, kesimpelan cover dari buku ini tidak menari, warnanya pun sangat tidak mengkilau. Hanya saja, blurb dan judul dari buku ini sangat membuatku tertarik. Mei Hwa, etnis Tionghua (mengingat bahwa aku juga berasal dari etnis tionghua). Buku ini bahkan mendiami rak bukuku selama hampir 2 bulan, kemudian aku memutuskan untuk membacanya. Kau tahu apa yang terjadi?
Aku mengalami kejadian ini lagi. Menghakimi buku dari covernya yang ‘nggak banget’, padahal isinya ‘bagus banget’. [Review]
Ide cerita sangat unik dan juga… cerdas. Diceritakan secara bertahap dan berurut dari rentang waktu yang cukup lama, tahun 1932 sampai 2002. Tokoh yang hidup dalam waktu¬†berbeda ternyata saling berkaitan. Masa lalu yang berkaitan dengan masa kini. Konfik yang ditawarkan sangat beragam. Klimaks yang sangat menegangkan. Aku merekomendasikan kalian semua yang menyukai sejarah untuk membaca buku ini. Menikmati sejarah Indonesia yang penuh emosi dalam rangkaian cerita dengan latar non-fiksi dan dengan tokoh fiksi.

 

BELOW MY EXPECTATION:
The Fault in Our Stars

11870085

Siapa pecinta buku romantis yang tidak mengenal buku ini? Mungkin ada, beberapa, minoritas. Buku ini selalu menjadi ‘buku rekomendasi’ dimana-mana. Keromantisan hubungan August dan Hazel. Kemanisan hubungan keduanya. Atau, kesedihan ending pada buku ini.
Aku tidak pernah membaca dan tidak pernah tahu versi aslinya. Memang benar bahwa aku menonton filmnya, tapi aku membaca buku versi Indonesianya. Kau tahu apa? gaya bahasa sangat kaku. Aku benci ini. Gaya bahasa yang kaku membuat aku nggak bisa ‘merasakan’ apa-apa. Singkatnya, katakanlah aku membaca buku ini sampai habis (kenyatannya aku tersendat di pertengahan buku ini, tidak pernah tiba di halaman terakhir), aku akan langsung melupakan hal-hal yang pernah terjadi di buku ini. Mungkin, aku hanya akan mengingat bagaimana pertemuan mereka. Atau quote yang aku dapatkan dalam buku tersebut.
Bukan menjelek-jelekkan, sesuai dengan tema dari post ini, ini semua hanya pendapatku. Ekspetasi awal berbeda dengan akhirnya. Pada awalnya, aku pikir buku ini akan membuat aku nangis bawang, seperti buku THE NOTEBOOK atau filmnya karya Nicholas Sparks, dan ternyata, aku bahkan tidak pernah tiba pada halaman terakhir buku ini.

Tumblr