Book Review: Till It’s Gone

17701819

Judul: Till It’s Gone
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Media Pressindo
Terbit: 2013
Tebal: 172 hlm.
ISBN: 978-979-911-298-9
Saat mengenakan gaun pengantin berwarna putih dan menangkap bayangannya di cermin besar di kamarnya, hatinya pedih. Ia juga malu. Ia tidak sesuci seperti warna gaunnya. Ia telah hamil sebelum mengucapkan janji pernikahan. Alisa menekankan tangan kanannya ke perut. Telapak tangannya saat itu terasa lembap. Ia berharap saat ini ia sedang bermimpi. Tetapi aroma buket bunga gardenia dan mawar di tangan kirinya membuatnya sadar. Bau wangi bunga itu nyata, senyata apa yang terjadi sekarang pada dirinya.
***
Rumah tangga ternyata tidak sesederhana yang Alisa pikirkan. Ia sering mendapat perlakuan tak mengenakkan dari Adam, teman hidupnya. Sampai suatu ketika ada secercah empati yang terulur ke arahnya. Dari seorang lelaki yang pernah menorehkan sejarah dalam hidupnya. Bersediakah Alisa menerimanya?

PLOT&REVIEW:

Mengangkat tema yang cukup sensitif, KDRT [Kekerasan Dalam Rumah Tangga]. Menempatkan Alisa, Frans, dan Adam sebagai tokoh utama, juga Hesti, tokoh sampingan yang merupakan sahabat Alisa.
Cerita diawali dengan prolog yang singkat, berisikan ketakutan Kevin, anak Alisa, terhadap ayahnya, Adam.
Adam, suami Alisa suka melakukan kekerasan terhadap Alisa dan Kevin, sampai-sampai suatu saat Kevin tinggal keras, itu semua karena Kevin depresi terhadap kelakuan ayahnya. Kevin juga menutup diri dari teman-temannya, cenderung takut jika bertemu lelaki dewasa, karena ia akan selalu teringat ayahnya.
Ketakutan Kevin terhadap laki-laki dewasa itu juga berlaku pada Frans, mantan suami Alisa. Tapi semua ketakutan itu memudar seiring waktu, Kevin mulai terbiasa dengan keberadaan Frans.
Seperti penulis lainnya, kak Kezia juga ada membubuhkan Flashback. Cerita masa lalu dari tiga tokoh utama.
Alisa dulunya sangat populer di sekolah. Selain anak orang kaya, ia juga sangat cantik. Ia kerap melanggar peraturan sekolah. Jika peraturan sekolah menentukan batas rok pelajar wanita selutut, Alisa akan memotongnya–satu atau dua lipatan diatas itu. Jika panjang lengan seragam dua atau tiga sentimeter di atas siku, Alisa tidak puas. Ia akan memotongnya enam sentimeter di atas siku. Alisa juga gemar memakai bra dengan warna mencolok [baju seragam kan tipis]. Bicara tentang tindikan di telinga, Alisa memakai tiga tindikan sekaligus! Bukannya pihak sekolah tidak menasehati Alisa, bahkan saya yakin mulut sang guru BP sudah berbuih hanya untuk mengomeli Alisa. Belakangan, Alisa sadar, pihak sekolah melonggarkan peraturan padanya karena ayah Alisa merupaka ketua yayasan!
Bicara tentang Adam. Cowok tampan dengan tinggi 175cm. Rambutnya selalu dipotong cepak. Badannya tegap dan kulitnya gelap karena terbakar sinar matahari. Matanya setajam elang. Rahangnya keras dan tegas. Benar-benar mewakili kaum Adam yang maskulin dan berbahaya. Terlihat sempurna? Tidak. Nggak ada orang yang sempurna di dunia ini. Sikap Adam benar-benar mencerminkan berandal sekolah. Beberapa kali tertangkap basah minum minuman keras dan merokok di kamar mandi sekolah. Sering berkelahi. Meski begitu, Adam tidak dikeluarkan dari sekolah. Pihak sekolah mempertimbangkannya karena mengingat latar belakang Adam. Lingkungan tempat tinggal Adam sangat tidak mendukung. Sejak kecil, Adam tumbuh dan hidup bersama neneknya. Tidak jelas dimana orang tuanya. Karena faktor ekonomi, neneknya ngontrak rumah di daerah kumuh. Lingkungan yang keras. Adam bisa bersekolah karena selalu mendapat beasiswa. Kelebihan Adam yang lain, ia memiliki otak yang encer. Adam juga seringkali mengharumkan nama sekolah dengan memenangkan pertandingan basket nasional. Dengan semua kelebihan yang dimiliki Adam, otomatis Adam menjadi pria ‘most wanted’ di sekolah. Semua gadis menginginkan Adam.
Termasuk Alisa.
Yeah, dan Alisa memenangkan hati Adam. Mereka berpacaran. Alisa dan Adam adalah pasangan yang paling hit dan selalu menjadi pembicaraan seru di kalangan pelajar SMA. Saat usia pacaran mereka menginjak 7 bulan, Alisa memutuskan Adam. Dengan berbagai alasan yang sangat masuk akal. Adam mencium seorang adik kelas tepat di depan muka Alisa. Alasannya Adam waktu itu adalah ‘karena tebawa suasana’ [Baru menang pertandingan basket]. Alasan yang benar-benar tidak logis. Adam juga beberapa kali tertangkap basah sedang bermain mata dengan gadis lain.
Alisa terjangkit penyakit galau pasca putus dengan Adam. Berbeda dengan Adam, pria itu tidak terlihat sedih atau sakit hati. Bagaimanapun, ini semua membuat Alisa naik pitam, apalagi mengingat rivalnya, para cewek-cewek mengantri untuk menjadi pacar Adam.
Alisa yang gerah bermaksud balas dendam pada Adam dengan memanfaatkan Frans, karena Frans tidak beda jauh dengan Adam. Frans tampan dan juga pintar, ia juga sangat baik. Alisa dan Frans pun berpacaran, pura-pura tentunya…
Berbeda dengan hubungannya dan Adam yang ditolak mentah-mentah oleh ayah Alisa. Hubungannya dengan Frans diterima dengan lapang dada oleh ayah Alisa. Bagaimanapun, kan’ Alisa mencintai Adam, bukan Frans.
Kembalinya Frans dalam hidup Alisa membuat Alisa kembali galau. Bagaimanapun kasarnya Adam, tapi Alisa sangat mencintai Adam. Begitulah Alisa. Seorang wanita yang dibutakan oleh cinta. Meskipun cinta buta, tapi apa cinta bisa buat seseorang menjadi bodoh? Idiot?
Menurutku, Alisa di’bodoh’kan oleh cinta.
Euw!
Suatu hari, Alisa kembali melihat sesuatu yang sama seperti apa yang terjadi 8 tahun yang lalu.
Ia memergoki Adam, suaminya berciuman mesra dengan perempuan lain!
Pada akhirnya, bagaimana kehidupan rumah tangga mereka?
Akankah mereka bercerai?
Bagaimana dengan Kevin? Siapakah ayah Kevin?
Lalu bagaimana dengan Frans?
Temukan selengkapnya di novel ini!
Overall, saya ‘lumayan suka’ dengan jalan ceritanya. Prolog yang menjanjikan, membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikan buku ini. Bukunya terlalu tipis tapi, endingnya juga nggak ketebak, beda dengan tebakanku. Covernya yang cute, ditambah halaman kertas HVS putih. Typo banyak ditemukan pada beberapa bab akhir. Tokohnya yang cenderung sedikit mengingat betapa tipisnya novel ini.
One Star for the cute cover.
Three Stars for the Plot.
-1/5 stars cause the ending is soo… ugh!

 

Ratings: 3.5 of 5 Stars