Book Review: Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Judul: Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman
Penulis: Afifah Afira
Penerbit: Indiva
Terbit: Desember, 2013
Tebal:368 hlm. 
ISBN: 9786021614112
“Dia korban perkosaan,” bisikan lelaki berjas putih itu menyakitiku.
Korban perkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam itu menghempaskan aku kepada jurang kenistaan.
“Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala.
“Kenapa?” tanya seorang wanita, juga berpakaian serbaputih.
“Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stress, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”
……………
Huru-hara 1998 tak sekadar telah menimbulkan perubahan besar di negeri ini. Sebongkah luka yang dalam pun menyeruak di hati para pelakunya. Mei Hwa, gadis keturunan Tiong Hoa adalah salah satunya. Dalam ketertatihan, Mei Hwa berusaha menemukan kembali kehidupannya. Beruntung, pada keterpurukannya, dia bertemu dengan Sekar Ayu, perempuan pelintas zaman yang juga telah terbanting-banting sekian lamanya akibat silih bergantinya penguasa, mulai dari Hindia Belanda, Jepang, hingga peristiwa G30S PKI. Sekar Ayu yang telah makan asam garam kehidupan, mencoba menyemaikan semangat pada hati Mei Hwa nan rapuh.
Dalam rencah badai kehidupan, berbagai kisah indah terlantun: persahabatan, ketulusan, pengorbanan dan juga cinta. Lewat novelnya ini, Afifah Afra kembali mengobrak-abrik emosi pembaca lewat novel bergenre fiksi sejarah yang sarat konflik, diksi menawan dan pesan yang sangat kuat.

REVIEW&PLOT:

Cerita di awali oleh sepasang suami-istri yang hidup serba kekurangan, suami bekerja sebagai petugas kebersihan (nama yang lebih layak daripada tukang sampah), dan istrinya sebagai pemulung yang menemukan mayat di tempat sampah dan menguburnya. Lalu, entah keajaiban darimana, seorang wanita keturunan Tionghua memberikan uang yang banyak pada pasangan tersebut dengan syarat: Menggali kuburan mayat itu!
Seandainya ikan, kita ini belut. Belut harganya murah, tapi dia bisa tinggal di dalam lumpur, berbeda dengan ikan gurami yang mahal tapi sekarat kalau dilempar ke air yang tak jernih. Jangankan lumpur, di air yang hanya sedikit keruh saja sudah sekarat
Bercerita tentang dua orang perempuan yang memiliki perjalanan hidup yang kelam, lalu takdir mempertemukan mereka. Meskipun mereka berdua hidup dalam rentang waktu yang berbeda.
Sekar Ayu Kusumastuti, perempuan yang dilahirkan pada akhir masa penjajahan belanda, wajahnya sangat cantik. Memiliki orang tua yang berlatar belakang berbeda. Ibunya, keturunan bangsawan Jawa. Ayahnya, Arab-keturunan pedagang. Tentu saja, hubungan kedua orangtua Ayu ditentang habis-habisan oleh neneknya yang gila ‘darah biru’ itu.
Meskipun Ayu hidup berkecukupan, jalan hidupnya nggak sesederhana itu. Ia melewati banyak masa-masa sulit. Semua itu berawal saat zaman penjajahan Jepang. Mulai dari dicabuli saat umur 7 tahun, menjadi pelacur, lalu menikah muda dan tinggal di tokyo dengan seorang pria yang ternyata sudah memiliki istri. Masa-masa sulitnya nggak berhenti hanya di situ.
Ayu pun lontang-lantung di Tokyo. Lalu, sepasang suami-istri Harada keturunan Jepang menyelamatkannya. Kehidupan Ayu berangsur-angsur baik saat ada keluarga dari Jepang yang mengadopsi Ayu dan menganggap Ayu sebagai anak sendiri. Ayu-pun di sekolahkan sampai tamat SMA. Setelah tamat, Ayu memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia untuk menemui kakeknya, Kyai Abdurahman.
Ayu-pun melanjutkan perguruan tingginya di Indonesia. Karena Ayu yang sangat terlena oleh kebebasan. Ayu dihamili oleh Purnomo yang tidak bertanggung jawab. Tanggung jawab itu berimbas pada Ahmad, seorang ustadz muda di pesantren kakek Ayu.
Suryani Cempaka Ongkusuma a.k.a Ong Mei Hwa, perempuan etnis tionghwa yang menjadi korban pemerkosaan kejadian Mei 1998 yang mengalami sedikit gangguan mental lari dari RSJ dan bertemu ‘Kayu’ (Sekar Ayu). Awalnya, Mei Hwa menyukai seorang pria dari pribumi, Firdhaus. Tapi, setelah kejadian memilukan Mei 1998 itu, Mei Hwa menjadi membenci Firdhaus.
“Ingat, Mei,” ujar Papa. “Kita ini China, minoritas. Kalau kita tidak pintar, tidak kaya, maka kita tidak punya arti apa-apa. Kita akan tertindas. Kebijakan pemerintah membuat kita tak punya pilihan lain kecuali menjadi yang terbaik. Ingat itu.”
Jujur saja, aku sangat sangat terpesona dengan jalan cerita yang dipaparkan penulis. Penulis menuliskan cerita mulai dari rentang waktu yang cukup lama. Yakni, dari tahun 1936 sampai 2002. Dari akhir masa penjajahan belanda berlanjut ke masa penjajahan Jepang hingga merdekanya Indonesia. Tidak lupa menyelipkan kasus-kasus yang pernah memecahkan Indonesia: Gerakan 30S/PKI hingga kejadian Mei 1998.
Hebatnya, penulis bisa menyertakan tokoh fiksi ke dalam peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Dengan pengetahuan akan sejarah yang sangat baik, penulis menuliskan sejarah beruntun menurut kebenarannya.
Aku juga terkagum-kagum dengan tokoh yang lumayan banyak. Pada tahap ini, aku cukup kebingungan mengenali tokohnya, berhubung karena nama tokoh-tokoh yang cenderung sulit di ingat dengan segala ke-jawa-an namanya.
Meskipun judulnya mengarah pada nama “MEI HWA”, penulis tidak begitu menceritakan tentang peristiwa Mei 1998. Diceritakan sih, tapi hanya singkat. Lebih banyak menceritakan tentang kehidupan Sekar Ayu yang kelam.
Aku cukup kagum tentang ‘pengetahuan’ penulis akan etnis China, padahal, penulis sendiri merupakan orang pribumi.
Tokoh favorit aku di buku ini adalah ustad Ahmad. Siapa itu?
Ustad Ahmad bukanlah pemeran utama di buku ini. Karakter Ustad Ahmed juga jarang dikeluarkan sepanjang cerita di buku ini. Hanya beberapa kali, saat-saat tertentu. Kenapa menjadi karakter favoritku? He’s too good to be true, dude!
Karena Ustad Ahmed dengan rela menerima Sekar Ayu yang saat itu mengandung anak Purnomo sebagai istrinya. Seorang Ustad tidak seharusnya mendapatkan istri yang sudah tidak perawan lagi, ditambah sedang mengandung anak dari orang lain! Tapi, karena ke-cinta-annya pada Ayu, Ustad Ahmed menerima Ayu apa adanya. Dann… sialnya, Ayu nggak tahu di untung! Dengan kecantikan wajahnya, meskipun ia sudah mempunyai anak, Ayu pergi menemui lelaki yang dulu sempat ia cintai, Prakoso. Dengan Prakoso, Ayu masuk sebagai anggota Gerawani dan PKI. Bersama anggota PKI, Ayu menghancurkan pesantren tempat suami, kakek, dan anaknya berada. How cruel she is!
Bicara tentang cover. Gawd! Covernya sangat -nggakbanget- Simple. Oke, simple bukan alasan yang kuat. Berhubung karena aku cenderung menyukai sesuatu yang pembawaannya simple. Tapi, simple yang aku suka itu: simple but elegant. Dan, aku nggak menemukan ‘simple but elegant‘ itu di cover buku ini. Warnanya yang keungu-biruan juga bikin ‘ngeh’. Kalau orang bilang tuh: Warnanya janda. What??
Tapi, tentu saja, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Meski covernya yang nggakbanget , poin-ku pada buku ini nggak akan berkurang sedikitpun!
Actually, buku ini sudah lama berada di rak bukuku. Aku bahkan lupa tentang alasan kenapa membeli buku ini. Yang pastinya, buku ini nggak pernah sekalipun menempati WISHLIST-ku. Dann… unbelievable! Nggak nyangka aku bisa sangat menikmati buku ini! Menyelesaikan membaca buku ini hanya dalam satu hari! Membuat Review panjang untuk buku ini! Padahal, buku ini merupakan buku pertama dari Afifah Afra yang aku baca. Bersemangat untuk membaca buku karya penulis lainnya! I’ll wait for her next book!
Overall, membaca buku ini seperti membaca kembali sejarah ditambah dengan kesedihan yang menguras hati. Menghadirkan seseorang yang berasal dari sejarah, membuat kita seolah-olah mengenal dan ikut merasakan apa yang orang yang lahir di zaman dahulu rasakan. Tentang susahnya perjalanan hidup mereka. Buku ini direkomendasikan untuk orang yang suka sejarah, tapi benci membaca buku tentang sejarah yang membosankan! Aku yakin, dengan membaca buku ini, rasa bosan nggak akan muncul! Pesan-pesan moral juga bertebaran, meskipun tidak dikatakan secara langsung. 

 Ratings: 5 of 5 stars

 

Advertisements