[Book Review] We Were Liars

29566134

Judul: We Were Liars
Penulis: E. Lockhart
Penerbit: Gramedia (terjemahan)
Terbit: 14 April 2016
Tebal: 296 hlm.
ISBN: 9786020306711
Genre: Romantic Suspense/ YA

Keluarga yang menawan dan disegani.
Pulau pribadi.
Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat.
Empat sahabat—Para Pembohong—dengan pertemanan yang kemudian menjadi destruktif.
Kecelakaan. Rahasia.
Kebohongan demi kebohongan.
Cinta sejati.
Kebenaran.

REVIEW:

Sebuah keluarga besar yang kaya raya tinggal di pulau pribadi, Pulau Beechwood. Ada empat rumah mewah di sana, dan yang paling mewah adalah Clairmont, tempat Keluarga Sinclair, kakek-nenek Cadence tinggal. Kemudian ada Windemere, tempat tinggal Cadence dan ibunya, Penny serta para anjing peliharaannya. Lalu, di Cuddledown ada Keluarga Sheffied yang berisi Mirren, adik kembarnya- Liberty &Bonnie, ibu Mirren, Bess, dan Taft. Kemudian ada Red Gate, rumah terakhir milik keluaga Dennis yang berada dekat dermaga keluarga. di Red Gate terdapat Carrie beserta dua anaknya, Will dan Ed serta Gat, anak dari pacar Carrie.

Source: Here

Pada bab pertama, Cadence, si tokoh utama mulai memperkenalkan tentang mereka. Bagaimana keseharian dan kehidupan mereka. Dan kata yang cocok untuk keluarga Sinclair adalah: Sempurna.

Cadence, Johnny, Mirren dan Gat . Keluarga memanggil mereka Para pembohong. Cadence, Johnny, dan Mirren merupakan sepupu, dan Gat, Gat mulai datang ke Beechwood pada saat mereka berumur delapan.

Cerita ini ditulis dari sudut pandang Cadence. Dan untuk itu, aku sangat mengagumi kemampuan penulis dalam menggambarkan Keluarga Sinclair yang sempurna, juga kehidupan Para Pembohong yang terlihat sangat mengasikkan.

Kemudian, setelah penulis selesai dengan ‘perkenalan’ kehidupan keluarga Sinclair, konflik pun berangsur-angsur terlihat.

Suatu malam, di akhir Juli pada musim panas kelima belas, Cadence mengalami kecelakan. Hanya saja, ia tidak dapat mengingat, kenapa ia bisa tenggelam di pantai. Penny, ibunya, menemukan Cadence yang sedang meringkuk di pasir dekat pantai. Karena kejadian itu pula, Cadence yang kuat menjadi lemah. Ia selalu sakit kepala dan migrain. Sejak saat itu juga, Penny memutuskan untuk tidak berkunjung ke Beechwood dan tinggal di Colorado bersama Cadence.

Keanehan-keanehan mulai muncul. Cadence seperti dilarang ‘berhubungan’ dengan Pulau Beechwood dan orang-orang di dalamnya. Cadence selalu mengirim surat kepada Para Pembohong lainnya tapi, ia tidak pernah mendapat balasan.

Lalu, pada musim panas ketujuh belas, Cadence dan Penny memutuskan untuk kembali berkunjung di Beechwood. Dan saat tiba disana, rumah Clairmont berubah. Para bibi bersikap aneh. Kemudian, Cadence berusaha untuk mengingat, kenapa ia bisa mengalami kecelakaan itu? Kenapa semua orang, kecuali Para Pembohong besifat aneh?


 

Unbelievable!

Aku jatuh cinta dengan gaya penulisan penulisan penulis, ah, tidak, mungkin aku lebih jatuh cinta pada cara penulis ‘menggambarkan’ dan ‘memberitahu’ pembaca tentang segala sesuatu.

Buku ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama dan kedua adalah bagian dimana penulis memberitahu pembaca tentang bagaimana kesempurnaan dan kehidupan keluarga Sinclair dan mengungkit tentang konflik yang akan dihadapi nanti. Pada bagian ketiga, penulis mulai menggambarkan tentang ‘usaha’ Cadence untuk mencari tahu penyebab ia kecelakaan dan ‘sikap aneh’ Para Bibi. Kemudian pada bagian keempat, alur mundur diperlihatkan. Penulis mulai memberitahu tentang apa yang terjadi di Pulau Beechwood dan kenapa Cadence bisa kecelakaan.

Dan yah, selain gaya penulisan yang luar biasa, penokohannya juga sangat bagus. Banyak sekali tokoh disini, tetapi, tokoh sampingan pun memiliki porsi yang cukup dan sangat berdampak terhadap cerita.

Plot/ Jalan ceritanya juga sangat bagus dengan Alur maju-mundur yang selalu berhasil membuat aku penasaran.
Dan, untuk kover buku ini, aku lebih menyukai kover versi Indonesianya dari pada versi aslinya. Kover dari versi Indonesia sangat menjanjikan. Maksudku, bukan hanya menjanjikan, tapi mencerminkan cerita yang ditawarkan (jika kalian membaca buku ini, kalian pasti akan mengerti maksudku!:D)

Jangan pernah terima jawaban tidak,” begitu dia selalu berkata pada kami. Dan, “Jangan pernah memilih duduk di barisan belakang. Para pemenang selalu duduk di barisan depan.

Ini adalah kali pertama aku membaca buku karya penulis ini, Emily Lockhart. Dengan cover yang indah serta judul yang terasa sangat ‘menjanjikan’, aku memutuskan untuk membeli buku ini yang berakhir pada: I’m soooo satisfied! Ide cerita yang bikin aku amazed!

Overall, aku sangat-sangat-sangat menyukai buku ini. Ending yang tidak terduga, tokoh yang mengasikkan dan polos, hubungan persahabatan, keluarga, dan percintaan yang sempurna dan.. cerita yang memikat. 🙂

[Book Review] I Was Here

28819877

Judul: I Was Here
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (terjemahan)
Terbit: Februari, 2016
Tebal: 328 hlm.
ISBN: 9786020322421

Ketika Meg, teman baik Cody, mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan pembersih, Cody sangat sedih dan tidak bisa memahami perbuatan sahabatnya itu. Ia dan Meg selalu berbagi cerita—jadi bagaimana ia bisa tidak tahu masalah sahabatnya tersebut?

Namun ketika pergi ke kota tempat Meg kuliah untuk mengemasi barang-barang sang sahabat, Cody mendapati bahwa banyak yang tidak diceritakan Meg: tentang teman-teman sekamarnya—tipe yang takkan pernah dijumpai Cody di Washington, kota kecil tempat ia tinggal. Tentang Ben McAllister, cowok sinis jago main gitar, yang membuat Meg patah hati. Tentang file komputer yang tidak dapat dibuka Cody—sampai ia berhasil membukanya, lalu jadi ragu tentang semua yang dikiranya ia ketahui tentang kematian sang sahabat.

REVIEW:

Ini adalah kali pertama aku membaca bukunya penulis ini, Gayle Forman. Sadly, i can’t get the english ver. of this book and yes, aku nggak bakal bisa ‘ngomentarin’ gaya penulisan yang lebih spesifik. Hanya saja, buat sang editor (too bad buku ini nggak ada proofreadernya), dua kata: banyak TYPO. Kali ini, typos yang saya temukan di buku ini lumayan banyak, sampai ada dobel huruf dan kurang (which is, udah jarang ditemukan pada buku-buku lain sekarang ini).

Untuk cover, this version is better. Kesan mellow-nya dapet.
Jujur saja, membaca buku ini mengingatkanku pada cerita-cerita karya penulis lokal, Winna Efendi. Yap. Buku ini menawarkan kisah persahabatan sekaligus percintaan.
Memang benar, tema tentang persahabatan sudah mainstream sekali. Hanya saja, Gayle Forman menawarkan kisah persahabatan yang pelik, penuh teka-teki, dan tentu saja: perjuangan dan pengorbanan.

Seperti yang dikatakan di sinopsis di atas, I Was Here menempatkan Cody sebagai tokoh utama (bisa dibilang begitu sih, soalnya ‘porsi’ kehadiran Cody yang paling banyak). Menyampaikan kisah perjalanan Cody setelah ditinggal ‘bunuh diri’ oleh sahabat dekatnya, Meg.
Selama ini, Cody pikir ia mengetahui segalanya tentang Meg, bahkan hal yang sekecil apapun. Cody tahu bahwa Meg unik, Meg selalu tergila-gila pada lagu yang bahkan tidak diketahui ‘keadaannya’ oleh orang lain, Meg selalu mendambakan band-band yang tidak terkenal, dan yah… tidak heran, Meg bunuh diri dengan cairan pembersih yang juga sukar ditemukan.

“I failed her
in life. But I won’t fail her in death.”

Suatu hari, Sue and Joe, orangtua Meg, meminta Cody untuk membereskan dan mengemasi barang-barang Meg di kota tempat Meg kuliah dan menetap. Disana, Cody bertemu dengan Ben McCallister, yang ternyata merupakan cowok yang pernah membuat Meg patah hati. Usut punya Ben dan Meg sering bertukar email, tapi kemudian, Ben menyuruh Meg untuk berhenti menganggunya. Dan.. rasa kewaspadaan dan penasaran Cody naik kembali di permukaan.


By the way, at first, aku pkir Cody itu cowok. Setelah usut punya usut, ternyata Cody itu cewek! (Ya iyalah! Masa homo-an sama si Ben?)
Ah iya, mungkin aku ketinggalan satu hal: buku ini juga menawarkan kisah ‘keluarga’. Yep! keluarga Cody dan Meg memang berlawanan. Meg hidup dikeluarga yang berkecukupan dengan orangtua dan seorang adik yang lengkap. Sedangkan Cody hanya hidup dengan ibunya yang merupakan pekerja di Bar dan ‘sedikit’ melarat. That’s why Cody sangat dekat dengan keluarga Meg.

Bicara soal karakter favorit, aku paling suka Ben McCallister, tipikal laki-laki hot+bad boy dan sebenarnya baik (?!)
Tidak lupa juga ada Harry Kang, si cowok blasteran Korea-Amerika yang ‘peran’nya sangat penting dalam meretas email berkode sandi di komputernya Meg.
Untuk Cody, aku kurang menyukai karakter dia, awalnya dia terlalu ‘jual mahal’, eh akhirnya malahan dia yang nyerah. Untuk itu, aku sedikit menyalahkan penulis yang nggak berpengang teguh dengan karakter ‘dingin+sombong+cewek baik-baiknya’ si Cody itu.

“How can you believe someone to be so beautiful and amazing and just about the most magical person you’ve ever known, when it turns out she was in such pain that she had to drink poison to rob her cells of oxygen until her heart had no choice but to stop beating?”

After all, buku ini tidak mengecewakan sama sekali. Meskipun karya-karya terkenal dari penulis ini adalah If I Stay, aku tetap mengukuhkan hati untuk membaca buku ini terlebih dahulu (mungkin ini yang disebut feeling yakk!! hehe) Sebenarnya tidak tahu kenapa juga, mungkin karena covernya yang bagus? Atau, mungkin karena judulnya, “I WAS HERE” yang bikin baper tingkat dewa?

[Book Review+Tebak SS2015] The Girl on The Train

26085996

Judul: The Girl on The Train
Penulis: Paula Hawkins
Penerbit: Noura Books (edisi terjemahan)
Terbit: Agustus, 2015
Tebal: 431 hlm.
ISBN: 978-602-0989-97-6

REVIEW:

Dia terkubur di bawah pohon birkin perak, di dekat rel kereta tua, kuburannya ditandai dengan tumpukan batu. Sesungguhnya hanya setumpuk kecil batu. Aku tidak ingin tempat peristirahatannya tampak mencolok, tapi aku tidak bisa meninggalkannya tanpa kenangan.
Dia akan tidur dengan damai di sana, tak seorangpun mengusiknya, tidak ada suara kecuali kicau burung dan gemuruh kereta yang melintas.

 

Buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama. Bergantian dari sudut pandang Rachel, Megan, dan Anna. Dengan porsi terbanyak yaitu Rachel, mengingat dialah si pemeran utama.

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Ia tetap menaiki kereta tersebut meskipun sudah dipecat dari pekerjaannya. Bukannya tanpa sebab, Rachel merupakan pecandu alkohol parah.

Setiap hari, di pinggiran London, kereta itu akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas.
Rachel selalu menikmati pemandangan suami istri yang tampak menjalankan kehidupan yang tampak bahagia. Meskipun tidak mengenal secara langsung suami istri tersebut, Rachel telah menghafal aktivitas kedua orang itu. Rachel bahkan memiliki nama–nama untuk suami-istri itu, Jason dan Jess.

Pemandangan suami istri tersebut selalu membuat Rachel mengingat kembali kehidupannya yang sempurna di masa lalu. Disaat ia masih memiliki Tom, mantan suaminya yang kini meninggalkannya demi Anna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan!

Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah!


Sejak awal, buku ini selalu membuat aku penasaran. Mungkin karena buku ini selalu berada di rak-rak buku bestseller. Belum lagi iming-iming ‘Segera difilmkan’.
Hanya saja, aku sedikit ragu untuk membeli buku ini. Mungkin karena aku takut kalau tidak sesuai ekspetasi. Mungkin juga takut kalau ‘gaya terjemahan’ yang super-kaku (untuk itu, masih pikir-pikir lagi beli edisi englishnya.)

Untungnya, Santaku yang baik hati memberiku buku ini.

Super-Nggak Nyesal sama SEKALI!! (um, sebenarnya buku ini sedikit membosankan di bab-bab awal, belum lagi ‘latar waktu’ yang berbeda-beda setiap babnya.)

Mungkin waktu itu aku sedang lelah. Karena menghadapi bab-bab awal yang(menurutku) super-bosen, aku memutuskan untuk mencari ‘sedikit’ spoiler. Dan… ya… bukannya mendapatkan ‘secuil’ spoiler, aku malah dapetin S-E-M-U-A. Termasuk si X.
(Melalui pengalaman buruk ini, aku menyarankan kalian semua, Jangan coba-coba nyari review/ spoiler di wikipedia!!)

Jadi, dari awal aku nggak sempet buat hipotesis/ menebak-nebak si pelaku (berhubung udah ketahuan! 😦 xD) Hanya saja, jalan ceritanya selalu membuat penasaran. Endingnya bener-bener nggak ketebak, nggak nyangka banget!
Maaf ya, Mrs. Flynn, aku lebih suka ini daripada Gone Girl!
Menurutku, Ide ceritanya lebih keren, lagian edisi terjemahannya Gone Girl terlalu tebal 😦 Nggak bisa nyelesein sampe sekarang 😦

Overall, aku sangat-sangat menyukai buku ini! Direkomendasiin buat kalian semua! Bener! Buat pecinta romance, YA, Sci-fci… pokoknya harus baca buku ini! (Kok kesannya maksa ya 😀 LoL)

Pertama kalinya ikutan Secret Santa, seperti yang aku katakan tadi, aku selalu clueless dan nggak punya bakat dalam tebak-tebakan. Santaku memberi clue yang gimana ya. Sebait quote dan gambar burung twitter (?) [Klik Disini] By the way, karena post Riddle itu telat, nggak ada komen yang membantu :(:(

Untung aja, dua hari yang lalu mbak Dewi whatsapp-in dan ngasih clue (bisa disebut clue bukan sih?)  Cluenya berupa sederet nama-nama.

Lalu, jika dilihat dari tulisan tangannya yang rapi banget. Santanya pasti cewek! (bukan rasis ya, wkwkkwk)

Akhirnya, aku menebak satu nama (yang alasannya tidak dapat dikemukakan, namanya tebakan yah! xD)

Wulida @ Tukang Arsip Buku

 

[Book Review] The Notebook

23215247

Judul: The Notebook
Penulis: Nicholas Sparks
Penerbit: Gramedia (Indo vers.)
Terbit: Cetakan keempat, 2014
Tebal: 256 hlm.
ISBN: 9786020306490

REVIEW:

Ayahku pernah bilang bahwa begitu kau jatuh cinta untuk pertama kali, kehidupanmu akan berubah selamanya, dan betapapun kau berusaha, perasaan itu tidak akan bisa dihapuskan. Gadis yang kau ceritakan padaku adalah cinta pertamamu. Dan apa pun yang kau lakukan, dia akan tetap di hatimu selamanya.

Sangat disayangkan, aku menemukan banyak sekali typo. Padahal, terjemahannya sudah cukup baik.

Aku membaca The Notebook tahun lalu. Dan, yah, film The Notebook bikin aku ‘selalu’ pengin membaca bukunya. The Notebook sendiri juga merupakan buku Nicholas Sparks pertama yang aku baca. By the way, Nicholas Sparks akan menerbitkan buku baru lainnya yang berjudul See Me (sedang pre-order) dan film adaptasi barunya, The Choice. Trailer dari The Choice bisa dilihat disini.

The Notebook bercerita tentang seorang pria biasa, Noah Calhoun yang jatuh cinta kepada seorang wanita kaya, Allison Nelson. Mereka bertemu saat musim panas. Kala itu, Allie dan keluarganya mengunjungi New Bern untuk liburan musim panas. Kala itu, Noah masih berusia 17 tahun dan Allie 15 tahun, mereka saling jatuh cinta kala itu. Hanya saja, orang tua Allie menggangap Noah tidak pantas untuknya. Maka dari itu, selesai musim panas, selesai juga cinta mereka, atau, begitulah yang orang tua Allie anggap. Tetapi, tidak dengan Noah dan Allie.

Dalam satu tahun setelah kepergian Allie dari kota itu, Noah kerap mengirimi Allie surat, setiap hari dalam satu tahun. Hanya saja, surat tersebut tidak pernah mendapat balasan. Allie ternyata tidak pernah menerima surat tersebut. Bertahun-tahun setelahnya, Noah memutuskan untuk mencari Allie. Tapi ia kehilangan jejak, Allie dan keluarganya sudah pindah.

Bertahun-tahun kemudian, Allie tidak sengaja melihat sebuah berita dikoran yang dipegangnya. Berita tersebut memuat foto sebuah rumah berlatar warna putih dan terpampang foto Noah di dalamnya. Foto tersebut memuat Allie kembali mengingat masa lalu. Ia jadi meragukan pertunangannya dengan Lon Hammod, pria yang dikenalnya saat Allie menjadi relawan untuk mengobati prajurit perang dunia. Lalu, Allie memutuskan untuk kembali ke New Bern, kembali ke kota yang menyimpan masa lalunya.

Allie dan Noah kembali bertemu, setelah empat belas tahun, mereka kembali bertemu. Hanya saja, keadaan sudah berubah sekarang.

Kau adalah jawaban untuk semua doa yang pernah kupanjatkan. Kau adalah sebait lagu, sejumput mimpi, sepenggal bisikan, dan aku tak mengerti bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu selama ini. Aku mencintaimu, Allie, melebihi yang bisa kaubayangkan. Aku memang mencintaimu selama ini, dan selamanya aku akan selalu mencintaimu.

Cerita dibuka dengan seorang pria tua yang membacakan buku catatan untuk seorang wanita tua dirumah sakit. Maka, alur yang digunakan dalam buku ini adalah alur mundur. Tidak usah dipertanyakan lagi, ya, tentang siapa si wanita tua dan pria tua tersebut. Aku yakin, kalian semua pasti tahu tentang hal tersebut.

Ada banyak hal yang berbeda antara buku dengan film. Hal yang paling dapat dirasakan adalah adanya karakter tambahan. Sebenarnya aku tidak begitu mempermasalahkan ini. Toh, karakternya juga tidak terlalu penting.

Perbedaan lainnya adalah, titik pertemuan antara Noah dan Allie. Dibuku, pertemuan mereka tidak digambarkan dengan jelas. Sedangkan di film diceritakan bahwa mereka bertemu disuatu malam di sebuah pasar malam.

Tokoh Lon Hammond Jr., tunangan Allie juga diceritakan sedemikian mendetail, padahal difilm karakter Lon tidak begitu mencolok. Lain dengan karakter ayah Noah. Di film, karakter ayah Noah cukup mendominasi, hadir di tengah-tengah Allie dan Noah. Membantu keromantisan yang mereka bangun meskipun tidak langsung.

Jujur saja, aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa buku ini hanya memiliki 200-an halaman. Bagaimana bisa cerita yang sedemikian rupa bisa sedemikian tipis?
Dan, aku juga sangat kecewa terhadap covernya. Sepertinya penerbit indonesia benar-benar sangat ‘stuck‘ pada cover ini. Jika dilihat dari riwayat penerbitannya, buku ini sudah dicetak ulang empat kali. Kali keempat adalah tahun 2014. Masa, nggak mengalami perubahan cover, sih? Jujur, covernya sangat tidak bagus. Terlalu simpel.

Overall, meskipun aku banyak merasa tidak puas pada beberapa bagian di buku ini, aku tetap memberi rating yang bagus di Goodreads. Sebenarnya, aku pikir cerita ini jadi tidak bagus karena aku membaca versi indonesianya (bukan menjelek-jelekkan ya, tapi memang kenyataan, bukan?), aku benar-benar pengin membaca versi internationalnya. Mungkin akan lebih baik jika aku mencari e-book dari buku ini. Penasaran, ada nggak sih bagian-bagian yang ‘beda’ antara versi asli dan terjemahannya? Ah, mungkin yang ‘beda’ cover ya? Aku melihat ada beberapa cover yang bagus-bagus, tapi tidak tahu, terbitan negara mana, secara tuh, The Notebook  sudah diterbitkan dibanyak negara.

By the way, mungkin kali ini, aku lebih suka versi filmnya daripada novelnya. No offense. Cuma, menurutku versi filmnya lebih bagus. Apalagi pemilihan aktor dan artis yang cocok banget!

Salah satu adegan favorit di film. Sangat disayangkan, ternyata adegan ini tidak digambarkan dibuku aslinya…

[Book Review] Critical Eleven

25737077

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2015
Tebal: 334 hlm.
ISBN: 9786020318929

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

REVIEW:

Jika dipungut dari Goodreads, aku sudah menyelesaikan buku ini pada tanggal 22 agustus. Dan, yah, baru selesai ujian blok pada 30 agustus. Jadi ya, karena aku udah memutuskan untuk ‘nekat’ baca buku pas hari-hari ujian, untungnya aku nggak merasa ‘dirugikan’. Bukunya bagus!

Critical Eleven mengambil Aldebaran Risjad, dipanggil Ale sebagai tokoh utama pria,
Critical Eleven mengambil Tanya Baskoro, dipanggil Anya sebagai tokoh utama wanita.

Jujur saja, (dan sempat merasa malu) ini adalah kali pertama aku membaca karya sang penulis, Ika Natassa. Barangkali, nama ini sudah tidak asing lagi bagi penggemar Metropop. Yes, si penulis buku bestseller! (Jadi pengin baca A Very Yuppy Wedding 😦 Pokoknya masuk Wishlist!)
Aku menyukai gaya penulisan mbak Ika! Penulis menuliskan cerita dari sudut pandang orang pertama. Selain itu, penulis juga menempatkan proposi untuk masing-masing tokoh utama. POV-nya bergantian dari Ale atau Anya.

Tidak ada prolog atau epilog pada buku ini. Maka dari itu, bab pertama dibuka oleh Anya. Tentang ‘kesukaannya’ akan Bandara.

Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination.

Aku menyukai gaya penulisannya mungkin karena diselipi kalimat-kalimat dalam bahasa inggris yang aku rasa sangat ‘membantu’ situasi untuk menjadi makin romantis #? Aku nggak bisa menuliskan dengan begitu spesifik akan bagian ini. Mungkin karena bakal jadi ‘spoiler’ penuh. Disisi lain, gaya penulisannya juga tidak kaku (dimana sangat membantu untuk menghilangkan adanya ‘kesempatan’ bosan melanda para pembaca)
Untuk alur, penulis menuliskan cerita dengan alur maju-mundur. Meskipun tanpa pemisah, (maksudku disini: pemisah waktu ‘sekarang’ dan ‘dahulu’ yang biasa dipisahkan dengan bab atau sebagainya) aku tetap memahami apa yang dilontarkan penulis (tidak pusing, sama sekali!) Mungkin alur ini jugalah yang membuat aku selalu ingin cepat-cepat tiba di halaman terakhir dan nekat baca pada hari-hari ujian!

Dari segi cover, aku sangat menyukainya! Sebuah gambar pesawat yang baru take off dan sangat ‘mencerminkan’ apa isi bukunya. By the way, aku denger-denger, sih, ya, covernya mbak Ika Natassa sendiri loh yang design! Wow!

Tokoh favorit aku dalam buku ini sudah pasti Ale! Pada awalnya, aku pikir Ale itu rada-rada brengsek, eh, ternyata enggak (untunglah!)! Malahan, aku jadi merasa kalau Anya itu super-duper sensitif. Anya juga.. gimana ya bilangnya.. mau tapi sensi?

Sebagai penutup cerita, penulis menambahkan quotes tentang travel (Hlm. 334-335) Favoritku adalah:

Travel is where broken English is welcomed with a wide smile instead of greeted by a grammar nazi.

Overall, aku sangat menyukai buku ini. Aku menyukai segala tentang buku ini. Tapi, bagian terfavoritku adalah ide cerita dan konfliknya. Aku rasa, konfliknya tidak begitu sensitif sampai bisa menciptakan ‘kehancuran’, pada awalnya aku pikir begitu. Ternyata, ada lagi ‘suatu’ hal yang menambahkan ‘kesensitifan’ dari konflik yang diangkat. Dan dari sana, aku mempelajari sesuatu: Berpikir sebelum berbicara. 

[Book Review] Januari: Flashback

24461222

Judul: Januari, Flashback

Penulis: Cherry Zhang, Petronela Putri, Pia Devina

Tebal: 208 hlm.

Penerbit: Grasindo

Terbit: Januari, 2015

ISBN: 978-602-251-867-9

REVIEW:

Seorang pengusaha, Armand Rahardja ditemukan tewas disaat pesta perayaan tahun baru. Banyak dugaan bahwa Armand Rahardja bunuh diri. Tapi, bagi anaknya, Arumi, ‘bunuh diri’ sangat tidak cocok. Ayahnya itu sedang berada di puncak kesuksesan. Bagaimana bisa seseorang yang sedang berada di puncak kesuksesan memutuskan untuk bunuh diri?

Kematian kadang bisa terasa begitu dekat,
… sejauh apa pun kita berlari.
Iya kan, Arumi?

Tidak cukup hanya di situ. Setelah kematian Armand Rahardja, serentetan terror menghampiri putrinya, Arumi. Anehnya, terror tidak hanya sampai ke Arumi, tapi juga ke Aluna, dan Era. Aluna dan Era merupakan anak dari sahabat-sahabat ayahnya.

Disisi lain, dalam membantu Arumi dkk. untuk ‘mencari’ tahu tentang kematian ayahnya serta ‘siapa’ yang meneror mereka, ada seorang polisi muda bernama Gara. Dengan Gara, Arumi dan Era, juga Aluna mulai mencurigai Om Handoko,  salah satu sahabat dekat ayah Arumi. Bukannya dengan prasangka buruk ya, sebelumnya Arumi ‘pernah’ memergoki Om Handoko ‘memeras’ dan ‘menekan’ ayahnya di ruang kerja ayahnya Arumi. Belum lagi, paraf mirip paraf Om Handoko selalu disampirkan di kaki surat yang diselipkan di setiap paket terror yang Arumi dkk. terima.

Sebenarnya… apa yang terjadi?

Siapa dalangnya?

Dari semua Monthly Series yang sudah di terbitkan sampai saat ini, hanya Januari dan Maret yang telah aku baca. Pertama kali, aku membaca Maret: Flowers. Berhubung karena Maret: Flowers merupakan kumpulan cerpen (atau novela?) dari masing-masing penulis (biasanya 3 penulis Grasindo berkolaborasi), awalnya aku pikir Januari: Flashback ini juga kumcer dari masing-masing penulis yang berkolaborasi… dan… ternyata bukan!

Hanya saja, penulisannya ditulis dari sudut pandang orang pertama. Dengan bagian-bagian untuk tiap tokohnya (tuker-tuker). Ada Arumi, Aluna, dan Era. Mungkin ketiga penulis membagi-bagi siapa yang ‘menuliskan’. Hanya saja, pada bagian ucapan terima kasih (atau yang begitulah), tidak disebutkan penulis mana yang menuliskan tokoh ini-itu. So, aku nggak bisa mengomentari tentang gaya penulisan penulis ini-itu dan… berhubung ketiga penulis ini masih merupakan penulis baru untukku (belum pernah baca karya mereka satupun). Eh, atau memang ada dituliskan? (maksudnya, misalnya penulis Cherry menuliskan berdasarkan sudut pandang Aluna), tapi memang aku-nya yang nggak ke-baca? #lupakan

Jujur saja, cover-cover dari Monthly Series ini aku-banget. Simpel, dan banyak misteri (coba perhatikan kalimat yang tersimpan di covernya). Dan… ya, aku menyukai cover dari buku ini, Januari: Flashback.

Januari: Flashback memiliki ending yang… tidak terduga! Dan.. berhubung karena buku ini seperti genre-genre thiller atau memang thiller? (Beneran, aku agak buta soal genre :(), aku menebak-nebak tentang siapa si ‘pembunuh’? Dan… tebakanku salah! Meskipun sudah berada di 1/4 menuju akhir, (biasanya di bagian ini sudah di kupas tentang pembunuhnya dan sudah membuat kita lebih gampang menebak), um.. dan tebakanku masih salah!
Unbelievable! Endingnya… aku suka banget!

Hanya saja, aku tidak begitu menyukai para tokoh pada cerita ini. Arumi digambarkan terlalu sempurna, meskipun sudah ditutupi dengan kejadian ayah Arumi yang meninggal, aku hanya merasa bahwa hidup Arumi terlalu gampang. Banyak orang yang menyukai dan mengasihinya (ups.. dan berakhir pada ke-iri-an), dan… pada beberapa titik, aku merasa buku ini unsur romance-nya kerasa banget (Eh, buku ini genre utamanya bukan romance-kan?). Aneh sih, buku yang menceritakan tentang pembunuhan, detektif-detektif gitu, unsur romancenya menonjol banget. Seperti Era yang menyukai Arumi, juga Gara, sang polisi muda yang membantu mereka dalam ‘menyelesaikan’ kasus ini. Juga Aluna yang ternyata malah menyukai Gara!

Overall, meskipun aku ‘kurang’ merasa puas pada beberapa bagian, aku menyukai buku ini :)!

Ratings: 3 of 5 stars

[Book Review] Carsh into You

10767531

Penulis: AliaZalea
Penerbit: Gramedia
Terbit: Desember, 2012
Tebal: 280 hlm.
ISBN: 9789792267648

REVIEW:

Nadia sangat membenci Kafka. Bagaimana tidak, saat di sekolah dasar, Kafka, si anak jahil itu selalu mengusili Nadia. Apapun yang diperbuat Nadia selalu menjadi bahan usilan Kafka. Maka dari itu, Nadia sangat membencinya. Sampai sekarang.
Setelah bertahun-tahun berlalu, saat Nadia pelan-pelan sudah mulai melupakan Kafka. Laki-laki itu kembali muncul. Laki-laki dewasa yang sangat berbeda dengan yang dikenal Nadia dulu.
Pertemuan kembali mereka tidak bisa dibilang pertemuan baik-baik, karena pertemuan mereka sangat… memalukan. Atau setidaknya bagi Nadia, itu sangat memalukan.
Dua puluh tahun berlalu, di suatu pagi, Nadia terbangun dengan hanya menggunakan pakaian dalam di hotel Kafka. Sebenarnya, apa yang terjadi?
~
Crash Into You termasuk salah satu novel Metropop yang paling banyak diminati. Bagaimana tidak? Penulisnya, AliaZalea juga sudah menjadi salah-satu penulis terkenal (bagi penyuka metropop, siapa sih yang tidak kenal? Novelnya saja sudah berkali-kali dicetak ulang.)
Kalau dibandingkan, aku lebih menyukai Dirty Little Secret, tapi, tentu saja aku lebih menyukai Crash Into You daripada Devil in Black Jeans 😀 ah.. tidak lupa Celebrity Wedding!
Yang aku favoritkan dari AliaZalea adalah… mungkin ide ceritanya? (berhubung aku tidak begitu ‘into’ sama gaya penulisannya. Meskipun ditulis dari sudut pandang orang pertama sih. Mungkin alasan paling gila: font/ jenis tulisannya nggak bangett…) Ide cerita penulis ini selalu bervariasi. Layaknya Ilana Tan, AliaZalea juga memiliki ‘seri’ dalam setiap novelnya. Seri Adri dkk. Terdiri dari beberapa novel sih. Tapi yang sudah aku baca cuma DLS, buku ini dan Devil in BlackJeans 🙂
Pada akhirnya, hal yang selalu aku lakukan: mengomentari covernya! Ugh! Covernya… ibaratkan ‘kesimpelan’ yang terlalu ‘simpel’ dan cita warna yang ‘minus’. Bayangkan saja, si objek ‘sepatu’ dan warna latarnya sama? What? Lagian si objek (baca: stilleto) sangat tidak mencerminkan isi cerita. Mungkin cuma mencerminkan tokoh wanita yang shopaholic? Which is, tidak begitu digambarkan penulis.
Overall, meskipun covernya aku beri minus, aku tetap menyukai ide cerita dan plot yang dipaparkan penulis. Meski sedikit sinetron, nggak papa, yang penting tidak ‘sesinetron’ sinetron Indonesia #fail.

Ratings: 3 of 5 Stars