[Book Review] Happily Ever After

23634830

Judul: Happily Ever After
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2014
Tebal: 358 hlm.
ISBN: 9797807702
Tak ada yang kekal di dunia ini.
Namun, perempuan itu percaya, kenangannya,
akan tetap hidup dan ia akan terus melangkah
ke depan dengan berani.
INI adalah kisah tentang orang favoritku di dunia.
Dia yang penuh tawa. Dia yang tangannya sekasar
serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat
sinar matahari. Dia yang merupakan perpaduan
aroma sengatan matahari dan embun pagi.
Dia yang mengenalkanku pada dongeng-dongeng sebelum tidur
setiap malam. Dia yang akhirnya membuatku
tersadar, tidak semua dongeng berakhir bahagia.
Ini juga kisah aku dengan anak lelaki yang bermain
tetris di bawah ranjang. Dia yang ke mana-mana
membawa kamera polaroid, menangkap tawa di antara
kesedihan yang muram. Dia yang terpaksa melepaskan
mimpinya, tetapi masih berani untuk memiliki harapan…
Keduanya menyadarkanku bahwa hidup adalah sebuah
hak yang istimewa. Bahwa kita perlu menjalaninya sebaik
mungkin meski harapan hampir padam.
Tidak semua dongeng berakhir bahagia.
Namun, barangkali kita memang harus cukup berani
memilih; bagaimana akhir yang kita inginkan. Dan, percaya
bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak
seperti yang kita duga.

REVIEW:

 Lulu bukanlah murid populer. Baik di sekolah lama maupun sekolah barunya. Semua orang menganggapnya aneh. Disaat semua orang menyukai musik pop, ia menyukai musik klasik.
Dulunya, ia memiliki seorang sahabat, Karin namanya. Karin dan Lulu sama-sama bukan murid populer, cenderung kena bully.  Lulu juga memiliki seorang pacar, Ezra. Ezra bukanlah tipe cowok  yang disukai orang tua, dari penampilan, sudah jelas ia itu seorang Bad Boy. Hanya saja, Lulu menganggap Ezra menarik.
Meskipun kena bully, tidak mempunyai banyak teman. Tapi Lulu mempunyai seorang sahabat dan pacar yang baik. Dan.. itu semua tidak bertahan lama.
Menjelang kenaikan kelas, saat liburan. Karin berubah drastis. Ia mengalami masa pubertas yang mengubahnya. Karin yang dulunya jelek, mempunyai banyak jerawat… sekarang.. hal itu seperti tidak pernah dialami Karin. Karin yang dulunya itik buruk rupa sudah berubah. Dan.. Lulu tidak berubah. Ia tetap… aneh.
Another Winna Efendi’s books…
As always, buku ini juga ‘menyertakan’ bumbu tentang persahabatan. Jika dalam buku-buku sebelumnya persahabatan selalu digambarkan indah dan berakhir bahagia, tidak pada buku ini. Singkatnya, meskipun menyertakan bumbu tentang persahabatan, jalan ceritanya sulit.
Karin dan Lulu yang dulunya bersahabat dekat. Kini seperti dua orang yang tidak saling kenal. Begitupula Ezra. Dulu mereka pacaran. Sekarang, Karin yang berpacaran dengan Ezra.
Ya, jika pada novel Winna sebelumnya tidak memiliki tokoh antagonis. Pada novel ini, yang menjadi tokoh antagonis adalah Karin. Sebenarnya, Karin tidak sejahat itu sih, keadaan yang memaksanya. Beneran. Pada awalnya, aku sangat membenci Karin, bagaimana bisa ia meninggalkan sahabatnya dan merebut pacar sahabatnya? Belum lagi ia memutarbalikkan fakta (teman baru Karin juga sih) tentang Lulu yang ‘merayu’ Ezra.
……”Berhenti menganggap gue adalah Karin yang dulu, dan lo Lulu yang dulu. Kita berdua bukanlah orang-orang yang sama lagi. Karena itulah kita berhenti bersahabat.”
Mungkin kasus ‘dikhianati’ oleh sahabatnya bukan konflik utama dalam cerita ini. Mungkin konflik utamanya adalah tentang ‘penyakit’ ayah Lulu. Meskipun ayah Lulu cuma tukang bangunan, tapi ia adalah arsitek yang hebat. Beneran! Oh ya, aku suka banget dengan cara penggambaran tempat oleh penulis. Apalagi tentang hasil design-nya ayah Lulu! Ayah Lulu merupakan orang terfavoritnya di dunia. Lulu menempatkan ibunya ke posisi kedua. Memang karena ia tidak begitu dekat dengan ibunya. Lebih dekat dengan ayahnya.
Ah ya, penggambaran suasananya juga bagus banget! Match sama suasana sebenernya. Sangkin terbawa suasana, aku sampe nangis loh! Jarang-jarang banget aku nangis gara-gara baca. Lebih sering ketawa sih.
Di sisi lain, saat menunggu pengobatan ayahnya di rumah sakit, Lulu bertemu dengan seorang pria yang juga menderita sebuah penyakit. Eliott. Eli nama panggilannya. Mereka bertemu dengan keadaan yang tidak baik. Bertemu disaat Eli menderita penyakit mematikan.
Karenanya, Lulu memutuskan untuk menjauhi Eli. Ia tidak sanggup kalau kehilangan, lagi.
Beneran, meskipun aku ‘ingat’ dengan inti cerita ini, jalan ceritanya (awal sampai akhir) hampir kulupakan. Entah kenapa. Padahal pas baca buku ini aku terbawa suasana banget. Mungkin karena faktor ujian selama seminggu ini (akhirnya siap juga ujiannya!)
Jujur saja, judul dari buku ini, Happily Ever After, sangat cocok dengan cerita yang ditawarkan. Menggambarkan isi cerita secara tidak langsung. Hanya saja, aku kurang suka dengan cover dari buku ini. Terlalu polos.
Seperti biasa, aku ingin mengatakan: aku puas dengan gaya penulisan Winna! Selalu. Alasan utama kenapa aku penggemar buku-buku penulis ini adalah karena i’m into the writing style!
Overall, although i gave only 4 stars for this book, i wanna say: I Like it! (Forget about the cover!) Sorry for short review!

Ratings: 4 of 5 Stars.

Book Review: Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

23638420

Judul: Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Penulis: Bernard Batubara
Tebal: 300 hlm.
Terbit: 2015
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 9797807711
“Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri.
Untuk hal itu, aku setuju.”
Kebanyakan orang lebih senang menceritakan sisi manis dari cinta.
Sedikit sekali yang mampu berterus terang mengakui
dan mengisahkan sisi gelap cintanya.
Padahal, meski tak diinginkan, selalu ada keresahan
yang tersembunyi dalam cinta.
Bukankah kisah cinta selalu begitu?
Di balik hangat pelukan dan panasnya rindu antara dua orang,
selalu tersimpan bagian muram dan tak nyaman.
Sementara, setiap orang menginginkan cinta yang tenang-tenang saja.
Cinta adalah manis. Cinta adalah terang. Cinta adalah putih.
Cinta adalah senyum. Cinta adalah tawa.
Sayangnya, cinta tak sekadar manis. Cinta tak sekadar terang.
Cinta tak melulu tentang senyum dan tawa. Ini kisah cinta yang sedikit berbeda.
Masih beranikah kau untuk jatuh cinta?

REVIEW:

Seperti yang kita ketahui, buku ini berisi kumpulan cerpen karya Bernard Batubara. Buku ini berisi 15 cerpen. Cerpen pertama berjudul ‘Hamidah Jangan Keluar Rumah’ disusul cerpen penutup ‘Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri.’
Hanya saja, yang akan aku bahas ‘hanya’ cerpen favoritku: [No particular Order]
1. Seorang Perempuan di Loftus Road.
“Kadang, aku masih memikirkanmu.” Katanya.
Sayangnya, kadang tidak cukup bagiku. Jika ia adalah sesuatu atau seseorang yang layak aku tunggu, ia tidak akan memberiku hanya sebuah kadang, Kata itu merendahkan usaha dan meremehkan seluruh kerja keras penantianku. Aku tidak ingin mencintai seseorang yang memberiku kadang.
Menceritakan tentang seorang perempuan yang telah menjelma menjadi pohon. Pohon di Loftus Road. Perempuan itu menjelma menjadi pohon karena telah menanti kian lama.
2. Bayang-bayang Masa Lalu
Kau akan dikutuk menjadi tua dan tak bisa mati sebab kau mencintai manusia yang berseteru dengan kaummu sendiri. Kau akan terus hidup untuk menyaksikan semua yang kau cintai mati dan meninggalkanmu sehingga kau akan menyesal telah menentang kaummu, keluargamu.
Ainun, dulunya adalah seorang kembang desa. Banyak lelaki yang menyukainya. Hanya saja, Ainun malah jatuh hati kepada Subairi, seorang pengumpul ilalang. Suatu ketika, Subairi dituduh dan diancam warga desa untuk di bunuh. Bukan ancaman tak beralasan, Subairi telah kepergok ‘mau’ memperkosa seorang gadis. Tentu saja, Ainun tidak percaya, karena Ainun pikir, Subairi bukanlah orang yang tega berbuat hal se-laknat itu. Belum lagi, Subairi mengatakan pada Ainun bahwa bukan ia yang berbuat, tapi temannya. Tentu saja, Ainun sangat percaya kepada Subairi.
Hanya saja, kepercayaan Ainun pada Subairi disalahgunakan oleh Subairi.
Maka, karena dianggap telah menentang kaum sendiri dan lebih memilih untuk mencintai manusia yang berseteru dengan kaumnya, Ainun dikutuk menjadi tua dan tidak bisa mati selamanya oleh mbak Yati, wanita tua dan dukun di kampungnya waktu itu.
Kini, saat usianya 709 tahun, Ainun mulai mengetahui hal-hal yang seharusnya ia tahu waktu itu. Dan kini… Ainun sangat menyesali keputusannya itu.
3. Orang yang Paling Mencintaimu
Hanya orang yang paling mencintaimu, yang mampu membunuhmu.
Kala itu, ia hanya berusia sembilan tahun. Dan kala itu, saat di usia sembilan tahun, ia menjadi saksi tunggal pembunuhan ibunya. Ibunya bukan di bunuh orang lain. Ibunya di bunuh oleh orang terdekat mereka. Ibunya di bunuh oleh ayahnya sendiri.
Lalu, ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Ia lalu bertemu seseorang. Seseorang yang sangat mirip dengan ibunya, umurnya pun hampir setara dengan ibunya. Nama wanita itu adalah… Miranda.
Miranda orang yang bersih, rajin membakar sampah, mirip dengan ibunya. Entah kenapa, ‘kemiripan’ itu membuatnya mencintai Miranda.
Miranda mempunyai obsesi yang aneh, selalu membunuh semua pria yang habis tidur dengannya.
Mengapa aku menembak mati Miranda yang aku cintai? Mengapa Miranda menghabisi nyawa laki-laki yang ia setubuhi? Jika Miranda menyetubuhi laki-laki itu, bukankah artinya ia mencintainya? Mengapa ia membunuh laki-laki yang ia cintai?

………………

Jika ia mencintaiku, apakah suatu hari nanti ia juga akan membunuhku? Apa sebenarnya ia tidak mencintaiku? Mungkin karena itu aku ingin membunuhnya. Mungkin aku tak ingin mengakui Miranda tidak membunuhku karena ia tidak mencintaiku.
4. Nyctophilia
Nyctophilia artinya orang yang akan menemukan rasa nyaman dalam kegelapan. Bahkan, mencintai kegelapan.
Sama seperti judulnya, tokoh dalam cerita ini, Jamelia, adalah orang yang menyukai kegelapan. Tidak, bukan! Ia bukan seorang pengidap Nyctophilia. Hanya saja, ada suatu rahasia yang ia sembunyikan. Kegelapan akan membantunya merahasiakan rahasianya. Karena di dalam kegelapan, kau tidak akan melihat apa-apa.
5. Menjelang Kematian Mustafa
Adalah MustAfa bin Meksum, dengan masa kecil sebagai orang melarat. Hanya menanti untuk dibagi sembako dan orang-orang dari partai yang membagikan amlop dan kaos.
Kemudian, suatu ketika, seorang pria bercerutu menawarkan Mustafa hal yang paling ia inginkan: uang.
Sejak kehadiran pria bercerutu itu, kehidupan Mustafa berubah. Mustafa memiliki hal yang paling ia inginkan. Kemudian, hidup Mustofa hanya dipenuhi dua hal: perintah dan uang. Melakukan perintah dan mendapatkan uang.
Perintah untuk Mustafa adalah membunuh.
Sejak saat itu, Mustafa diajari untuk membunuh.
Kenapa Menjelang Kematian Mustafa?
Karena, inti dari cerita ini adalah menjelang kematian Mustafa. Di saat umurnya sudah 69 tahun, sudah tua renta dan lemah, seorang anak muda menodongkan pistol ke kepala Mustafa. Pemuda itu menanyakan kata-kata terakhir yang ingin diucapkan Mustafa. Lalu, mengalirlah cerita demi cerita dari mulut Mustafa. Tentang korban pertamanya, teman pembunuhnya, dan kehidupan masa kecilnya hingga di tolong oleh pria bercerutu.
“Tidak, Anak muda, aku tidak membunuh karena itu. Aku membunuh karena membutuhkan uang.”
“Bohong. Setelah kau banyak uang, toh, kau tetap membunuh.”
“Itu karena aku sudah tak bisa lagi melepaskannya dariku, atau melepaskan diriku darinya.”
“Membunuh?”
“Yah. Saat kau sudah terbiasa dengan sesuatu, melepaskan kebiasaan itu akan menjadi lebih sulit ketimbang menghabisi nyawa seratus orang.”
6. Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Cerpen ini dijadikan judul dari buku ini. Cerpen ini juga merupakan cerita penutup dari buku ini.
Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri.
Untuk hal itu, aku setuju.”
Menceritakan seorang pria berumur 17 tahun. Sebenarnya, pemuda itu merupakan seorang malaikat yang tinggal di bumi. Sudah sejak lama malaikat itu ingin kembali ke langit, ke tempat asalnya. Dan… saat ia bertemu dengan perempuan bernama Rahayu, ia ingin tinggal di bumi satu hari lagi

Karya pertama Bernard Batubara yang aku baca berjudul Cinta. (Baca pakai titik) dan jujur, aku 10 kali lipat lebih menyukai buku ini daripada Cinta. Dengan alasan yang logis  tentunya. Hal yang ingin diungkapkan penulis tidak bertele-tele (mengingat bahwa buku ini merupakan kumcer). Tidak seperti pada Cinta., mau mengungkapkan rasa ‘cinta’ pun harus ditulis dengan paragraf yang panjang. Dan, bukannya kita mendapatkan feel ‘rasa cinta’ tersebut, yang aku dapatkan: ‘kebosanan’ dan ‘Kapan paragraf sedemikian rupa ini berakhir? Sangat membosankan’
Jujur saja, kisah-kisah cinta yang penulis ungkapkan di sini sangat heart-warming. Bukan hanya cerita cinta yang dilihat dari satu sisi. Tapi dilihat dari banyak sisi. Kisah manis, perih, sisi gelap dan kelam. Kau akan menemukan semua cerita dengan kisah begitu di buku ini. 15 cerita dengan topik, tema, konflik yang berbeda satu sama lain. Kesamaannya hanya pada seberapa kelam cerita tersebut.
Aku tidak begitu menyukai cerpen, biasanya begitu. Karena itu, aku jarang sekali membaca cerpen. Kenapa begitu? Aku pernah beranggapan seperti ini ‘Kau akan melupakan keseluruhan cerita secepat kau membacanya.’ Kita tahu bahwa cerpen adalah cerita pendek yang akan kita baca hanya dalam waktu tidak lebih dari tiga puluh menit (tergantung tingkat kecepatan membaca para pembaca). Dan… itu adalah waktu yang sangat singkat. Seringkali, aku selalu melupakan cerita-cerita yang aku baca dengan cepat. Tapi, di sini kasusnya berbeda. Aku menemukan ‘permata yang baru ditemukan’ dalam buku ini. Lalu, aku menyadari satu hal: Kau akan mengingat sebuah cerita bukan karena dalam proses membaca, kau cukup lama menyelesaikannya. Tapi, kau akan mengingat sebuah cerita karena kau menemukan sesuatu yang membuatmu ‘terperangah’.
Sejujurnya, aku membaca buku ini satu minggu atau dua minggu yang lalu. Karena aku ‘super’ sibuk minggu lalu (dan minggu ini), aku tidak sempat ‘menuliskan’ review dari buku ini. Biasanya, meskipun masih ingat dengan ‘inti cerita’, aku tetap akan mulai melupakan plot sepanjang cerita. Hanya saja, Entah kenapa aku mengingat plot cerita dari cerpen-cerpenf favoritku (mungkin karena cerpen kali ya, jadi plotnya tidak begitu luas)
Jadi, mari kita bahas tentang covernya. Covernya ‘super-duper’ simpel. Dengan latar ungu yang memberikan kesan kelam, disertai judul yang ukuran font raksasa; JATUH CINTA ADALAH CARA TERBAIK UNTUK BUNUH DIRI. Sejauh ini, aku ‘cukup’ menyukai cover ini. Singkat kata, cover ini tidak buruk rupa.
Overall, aku merekomendasikan buku ini untuk kalian semua yang ingin merasakan tentang cerita cinta yang lain daripada yang lain.

Ratings: 4 of 5 Stars.

[Book Review] Manusia Setengah Salmon

13290213

Judul: Manusia Setengah Salmon
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: GagasMedia
Genre: Non-fiksi
Tebal: 264 hlm.
Terbit: 2011

REVIEW:

Jadi, ya. Aku nggak pernah membaca buku karya Raditya Dika sekalipun sebelumnya. Mungkin ini terdengar aneh, meingat bahwa Dika merupakan penulis Non-Fiksi yang paling terkenal di Indonesia, novelnya pun sudah dijadikan Film berkali-kali.
Dan yah… disaat semua orang sibuk pre-order dan berlomba-lomba mereview Koala Kumal-nya Raditya Dika, aku malah nge-stuck pada Manusia Setengah Salmon ini.
Pada awalnya, aku nggak pernah niat untuk ngebaca buku-buku komedi ya (bukan tidak suka yang bergenre komedi, hanya saja, aku orangnya suka ngebaca buku di kafe, sambil jaga toko, kalau tiba-tiba ketawa gak jelas kan berabe).
Aku membeli buku ini seharga 20rb saja, sebenarnya nggak gitu tertarik juga sih sama bukunya… sedetik kemudian… *baruingetkaloakulagiikutanNon-FictionRC*.
Lalu, buku itu aku beli dan langsung aku baca begitu sampai di rumah. Aku membaca buku ini hanya dalam waktu kurang lebih 3 jam. Kau tahu apa yang terjadi? Aku menyukai humor-humor dalam buku ini. Mungkin kita dapat menyebutnya ‘humor khas Dika’. Aku menyukai buku ini, dan ‘akan’ membeli dan membaca KOALA KUMAL!
*Raditya Dika saat di Belanda*
      Gue tanya balik ke dia, ‘And what’s your name?
  ‘Perek.’
      ‘I’m sorry?‘ tanya gue, lagi.
‘My name is Perek.’
      ‘Why is your name Perek?!’ tanya gue, kaget.
      Si perek agak kaget dikit, terus dia bilang, ‘Well, because my parents give my name Perek. I was born as a Perek.’
Kekurangan dari buku ini:
1. Gaya bahasa yang cenderung ‘apa adanya’. Tidak ada formalitas. Mungkin memang ini salah-satu karakteristik dari buku bergenre humor. Jika gaya bahasanya ditulis dengan ‘aku-kamu‘ mungkin buku ini akan menjadi buku bergenre romance atau sejenisnya.
2. Kualitas kertas yang dipakai memang bagus. HVS putih. Hanya saja… jika aku mengelus (kau tahu kan, jenis mengelus saat membalikkan halaman), telapak jari tangan saja jadi hitam. Intinya, tinta cetak dari buku ini mudah lengket. Nggak banget!
3. Alasan yang paling logis kenapa dari awal aku tidak pernah menaruh minat pada buku karya Raditya Dika adalah… Cover. Bukannya menghina tentang covernya ya (mengingat bahwa semua cover buku-nya Raditya Dika selalu menyertakan ‘muka’ dari penulisnya. Seperti ilustrasi-ilustrasi atau wajah penulis hasil rekayasa Photoshop, contoh: cover pada buku ini, muka penulis di’rekayasa’ menjadi ‘bersirip mirip ikan. Menurutku, cover ini sangat ‘Not My Cup of Tea’ atau ‘Nggak Aku Bangett’.
Pada awalnya, aku sempet terheran-heran dengan judulnya. Manusia Setengah Salmon?
Apaa???
Emang ada yang begituan? Nggak cukup Ganteng-ganteng Serigala atau Cantik-cantik magic?
Dan ternyataa…
Judul “Manusia Setengah Salmon” itu hanya sebagai ungkapan. ‘Salmon’ yang mengartikan pindah.
..setiap tahunnya ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur….
..Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan. Banyak juga yang menjadi santapan beruang yang nunggu di daerah-daerah danngkal. Namun salmon-salmon ini tetap pergi, tetap pindah, apapun yang terjadi.
..Salmon mengingatkan gue kembali, bahwa esensis kita menjadi makhluk hidup adalah pindah. Dimulai dari kecil, kita pindah dari rahim ibu kita ke dunia nyata. Lalu kita pindah sekolah, lalu pindah pekerjaan. Dan, pada akhirnya, kita pindah hidup. Mati, pindah ke alam lain.
Untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan.Mau tidak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berni berjuang untuk mewujukan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Kenapa ‘Salmon’? Kenapa tidak lele? 
Karena, pada buku ini, penulis ‘lebih’ banyak menceritakan ‘hobi’ lain dari hidupnya. Yaitu: pindah. Pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati.
Dibalik segala kekurangan pada buku ini, tentu saja buku ini juga memiliki kelebihan. Buku ini menawarkan senyum dan tawa bagi pembacanya dengan observasi ngawur & humor khas Dika. Meskipun pada beberapa bagian aku merasa humornya ‘garing’, aku tetap menikmati kelucuan pada buku ini.
Overall, aku menawarkan buku ini untuk dibaca (meskipun sebagian besar dari kalian sudah membaca ini) kalian semua yang memiliki banyak waktu luang sehingga dilanda kebosanan, dan parahnya… kalian tidak bisa atau tidak tahu cara ‘mengusir’ rasa bosan itu. Buku ini ‘mungkin’ bisa menawarkan obat pengusir rasa bosan itu 🙂

Ratings: 3 of 5 Stars

[Book Review] Aku Tahu Kamu Hantu

18168966

Judul: Aku Tahu Kamu Hantu
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Terbit: July, 2013
Tebal: 268
ISBN: 9797806529
Aku di sini.
Kamu bisa melihatku,
tetapi kamu tidak bisa mendengarku.
Aku tahu kamu bingung,tetapi yakinlah…
aku tidak pernah bermaksud jahat.
Aku hanya ingin meminta tolong,
karena kamulah satu-satunya orang yang bisa memecahkan teka-teki ini.
Jika kamu melihatku lagi,
tolong jangan berpaling.
Semoga kamu mengerti isyaratku.

REVIEW:

Dalam silsilah keluarga Olivia, anak perempuan sulung akan memiliki kemampuan untuk melihat ‘makhluk tak kasat mata’ jika sudah tujuh belas tahun. Seperti yang terjadi pada ibu dan neneknya, Oliviapun mewarisi kemampuan ini.
Di hari ia ulang tahun ke tujuh belas, Liv melihat banyak makhluk halus.
Frans, teman satu sekolah Liv sudah tidak pulang 1 minggu. Orangtua Frans ingin melapor ke polisi tentang anaknya yang hilang. Dan, kau tahu apa yang terjadi? Liv melihat Frans. Ya, hanya Liv yang ‘melihat’ Frans. Frans dengan tubuh transparan jangkungnya disertai lebam di beberapa tempat. Frans sudah mati.
Liv menceritakan ‘pengelihatan’nya ini pada sahabatnya, Daniel. Liv juga menceritakan tentang keinginannya untung menolong arwah Frans dengan menemukan keberadaan mayat Frans. Bukannya mendukung dan membantu Liv, Daniel malah menjauhi Liv dengan alasan ‘menjernihkan pikiran’.
Di samping itu, Liv mencurigai tiga cowok populer di sekolahnya: Bayu, Arwin, dan Stefan. Bukan dengan alasan dan bukti tidak jelas. Liv memergokki Sarah, temannya menangis di balik toilet dengan tas yang koyak bekas silet. Belum Sarah yang takut hanya pada suara-suara ketiga cowok populer itu. Liv yakin kematian Frans ada hubungannya dengan ketiga cowok populer tersebut.
Tidak seperti novel-novel thiller Lixie Xu atau Agatha Christie yang membuat pembaca mencurigai banyak tokoh. Disini, aku tidak mencurigai banyak tokoh. Pada awalnya, aku mencurigai Daniel, kemudian tiga cowok populer itu. Hanya itu saja, tidak ada yang lain.
Aku membaca buku ini hanya dalam waktu beberapa jam. Sekitar jam 11 sampai jam 2. Sudah lama aku tidak membaca buku sedemikian cepat. Mungkin karena ‘semangat’ku karena baru habis ujian (btw, aku nggak baca satu bukupun selama satu minggu ini). Beli buku ini pun kemarin. Aku bukan tipe pembaca yang menyukai novel horror. Aku lebih prefer nonton film horror daripada membaca. Ada beberapa novel horror yang aku baca, beberapa merupakan novel fantasteen, dan berakhir dengan kekecewaanku akan tokoh hantu yang menurutku tidak cukup ‘horror’ untuk menguji adrenalian. Maka dari itu, aku juga lebih menyukai genre thiller yang selalu membuatku mencurigai tokoh ini-itu.
Cover pada novel ini ‘cukup’ misterius. Gambar bunga di cover sebenarnya cukup manis. Hanya saja, jika diteliti lebih mendalam, kalian akan menemukan gambar tengkorak di tengah-tengahnya. Benar-benar mencerminkan kehorroran dari novel horror (minus bunga mawarnya yang aku kira lebih cocok buat cover novel romance)
Jadi ya, inti cerita disini (Liv dapat melihat makhluk gaib) aku rasa sudah terlalu mainstream untuk novel horror. (Ya kali, kalo nggak bisa lihat bukan novel horor dong!(?)!). #lupakanbagianini
Tidak ada satupun tokoh yang aku favoritkan dalam buku ini karena aku rasa dibalik kelebihan Liv yang dapat melihat hantu, aku tidak melihat kelebihan-kelebihan lain yang dipaparkan penulis. Ah, jangan lupa tentang hati mulia Liv yang ingin menolong hantu. Hanya saja, sifat Liv yang beginian aku rasa terlalu naif.
Tokoh Daniel, sahabat Liv yang malah menjauh saat sahabatnya dilanda ‘kegalauan’. Bagaimana tipe yang beginian dijadikan sahabat?! Ah, ya, aku bersyukur banget penulis nggak buat persahabatan Daniel-Liv jadi sahabat tapi cinta. Kan nggak bangett untuk novel horror.
Overall, meskipun novel ini tidak cukup ‘horror’ untuk menguji adrenalinku, novel ini telah menolong aku untuk melewati waktu senggangku yang membosankan. Meskipun aku rasa novel ini tarafnya ‘biasa-biasa’ saja untuk genre horror, untungnya novel ini tidak membosankan. Novel yang tidak membuat pembaca merasa bosan sudah bisa mendapat nilai plus, meskipun banyak unsur yang membuat pembaca tidak puas.

 

Ratings: 2.5 of 5 Stars.

[Book Review] London: Angel

18163180
Judul: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2013
Tebal: 330 hlm.
ISBN: 979-780-653-7
Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

REVIEW:

Di bawah langit London, di depan London Eye, temui Gilang yang sedang merenungkan ‘cara menyatakan’ perasaannya pada sahabatnya, Ning.
Ning, sahabat Gilang, wanita berparas indonesia dengan potongan rambut sebahu sangat mencintai seni, terutama patung, maka dari itu, Ning pergi ke London, meninggalkan Gilang dan keluarganya untuk melanjutkan kuliah di London dan… tentu saja… seperti cita-citanya, Ning bekerja di Tate Modren.
      “A-aku terkesan.” Mister Lowesley, meskipun dengan suara gugup dan takut-takut, ikut berbicara. “Tidak semua lelaki berani pergi ribuan kilometer demi seorang perempuan. Itulah ci-cinta.”
Ning memang selalu seperti itu, tahu akan perasaan Gilang padanya, tapi pura-pura tidak tahu untuk menjaga persahabatannya. Barangkali, hati Ning memang tidak untuk Gilang. Hati Ning selalu tercurah pada seni, Gilang bukanlah penggemar seni.
Saat hujan mengguyur kota London, temui si ‘gadis misterius’ dengan payung merahnya. Dimana saja, kau akan menemukan si ‘gadis misterius’ di setiap sudut kota London, asalkan, hari itu hujan. Sesuai dengan ‘kemisteriusan’ gadis tersebut, Gilang menamakan gadis itu Goldilocks.
Picture of Tate Modren’s Interior

 

Windry Ramadhina selalu menjadi penulis favorit aku. Aku selalu menyukai apapun yang ia tulis. Mulai dari Metropolis, Walking After You, Interlude, Montase, dan… tentu saja, London. Aku dengar, proyek STPC(Setiap Tempat Punya Cerita) ini memiliki waktu deadline yang cukup cepat. Ajaibnya, buku ini menjabarkan cerita yang tidak terkesan seperti penulis yang mengejar waktu deadline a.k.a karya abal-abal.
Hanya saja, penulis tidak ‘memberi tahu’ nama lengkap (atau mungkin memang tidak ada?) para tokohnya. Seperti Gilang (masih bisa diterima) tapi Ning? Apakah seseorang memiliki nama yang begitu singkat? Hanya 4 huruf? Juga gadis misterius yang muncul bersamaan dengan turunnya hujan tidak memiliki nama, mungkin Ayu?
Aku menyukai saat-saat penulis menjabarkan tentang Tate Modren, London Eye, toko payung James Smith & Sons. Semuanya terlihat benar-benar nyata, pembaca dapat berimajinasi lebih tinggi. Serasa benar-benar di London. Penggambaran tempat dan suasana adalah salah satu keahlian penulis. Penggambaran dengan selengkap-lengkapnya tapi tidak terasa seperti membuat. Sesuai dengan aslinya. Keberadaan Tate Modren (studio seni) benar-benar terletak di London. Seperti penggambungan antara Fiksi dengan Non-Fiksi.
Biasanya, peran pembantu dalam sebuah cerita tidak begitu penting. Tapi, penulis ‘menyisihkan’ tempat yang lumayan banyak bagi para pemeran pembantu. Seperti: Brutus, Dum, Dee, dan Hyde. Mereka adah teman baik Gilang. Mereka jugalah yang menyakinkan Gilang untuk mengejar cinta ke langit London.
Buku ini bertemakan sahabat jadi cinta.
Buku-buku dengan tema seperti ini kebanyakan berakhir dengan akhir yang bahagia. Lalu, apakah ‘akhir bahagia’ itu berlaku dalam cerita ini?
Overall, aku merekomendasikan buku ini bagi kamu semua yang ingin/ pernah bermimpi untuk pergi ke kota London. Kamu yang pernah merasakan ‘cinta’ yang berlabuh ke tempat yang salah. Ditemani oleh secangkir cappucino, buku ini akan membuat ‘waktu luang’-mu lebih berarti.

Ratings: 4 of 5 stars

[Book Review] Walking After You

23686088

Judul: Walking After You
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2014
Tebal: 320 hlm.
ISBN: 979-780-772
Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.
Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.
An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.
Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.
Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

REVIEW:

“Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja.”
Buku ini menceritakan tentang Anise, atau yang sering dipanggil An. Wanita yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu, selalu diganggu oleh rasa bersalah hingga mengorbankan cita-citanya. Anise menyukai makanan prancis, lalu kenapa ia bekerja di Afternoon Tea sebagai koki kue?
Dibalik keceriaan Anise, ternyata Anise menyimpan luka yang mendalam. Ia tidak dapat berdamai dengan masa lalunya.
Disisi lain, ada Julian, koki kue yang dingin dan apatis, tetapi tampan. Karena pipi Julian yang gampang memerah, An selalu menggoda Julian. Lambat laun, An merasa bahwa ia menyukai Julian.
Lalu, seorang dari masa lalu muncul kembali. Jinendra. Jinendra mengajak An untuk kembali bekerja direstorannya (restoran masakan prancis). Pada akhirnya, apakah An akan tetap mengikuti mimpinya, yaitu menjadi koki masakan prancis, atau mengorbankannya demi menjadi koki kue yang sama sekali bukan keahliannya?
Windry selalu menjadi penulis favorit aku. Ada banyak alasan untuk itu. Terutama pada gaya penulisannya. Sebuah cerita yang sederhana, dengan konflik yang cenderung ringan dan klimaks yang biasa saja dapat dijadikan lebih dari biasa dari sisi keahlian dalam penulisan. Konflik yang ringan akan membuat kita terbawa suasana hingga mata berkaca-kaca adalah hasil dari gaya penulisan yang lembut dan memikat. Pada awalnya, aku paling menyukai gaya penulisan Winna Efendi, dari Refrain, Ai, Unbelievable, Remember When, Happily Ever After, Tomodachi. Pada akhirnya, aku harus menggeser jabatan Winna Efendi dan menempatkan Windry Ramadhina sebagai penulis favorit dari segi gaya penulisan dan ide cerita.
Ya, selain gaya penulisan, hal lain yang aku sukai dari penulis adalah ide cerita. Metropolis yang membuat penasaran, montase, Interlude dan Walking After You yang membuat mata berkaca-kaca.

 

Ratings: 4 of 5 Stars.

[Book Review] Tangled

23663009

Judul: Tangled
Penulis: Emma Chase
Penerbit: GagasMedia (Indo. version)
Terbit: Desember, 2014
Tebal: 332 hlm.
“Women fall in love quicker than men. Easier and more often. But when guys fall? We go down harder. And when things go bad? When it’s not us who ends it? We don’t get to walk away.
We crawl.”
-Drew Evans
[Trying to write review with English language]
So, i read this book in Indonesian version. Published by GagasMedia. The Indonesian version’s cover is kinda hot too. But, the international version is MORE Hot. Let me guess, the man on the cover is: Of course Drew! Btw, I prefer the indonesian version’s cover. Because the background color is softer.
This is Emma’s first book i’ve ever read. Of course i planned to her next book like: Twisted, Tamed, etc. This book is writen from Drew’s Point of View. All i can say was: too much. Drew is handsome and perfect, what he says, but he’s too much.
Kate Brooks is the sexiest woman in Drew’s office. It’s because Kate has a very sexy butt (which is Drew’s opinion). I love Kate’s character there. She’s not only pretty, but smart. It’s rare, you know. And it’s make Drew, who was never ever being in love before, loves her. I think Drew and Kate are very suitable. Due they have the same ambition and same job: Banker. Drew is handsome, and so do Kate. She is pretty. What doesn’t make them look perfect each other?
There are so many side character who catches my interested, especially Mackenzie. She is Alexandra’s (Drew call Alex bitch) daughter. Mackenzie is cute to the hell! Drew is really loves her!
“Mackenzie raises her hand proudly. “I have a bagina.”
I smirk. “Yes, you do sweetheart. And someday, it’s gonna help you rule the world.”
Drew’s friends like Matthew, Jack, Steven also fullfil the story with their negative thoughts. Although it feels more crowded, their attendance add the perfection of this story.
Overall, i love this story so much! Can’t wait to read Twisted ( Tangled#2). Drew and Kate are killing me inside! Insane!! Btw, i recommending this book to adult people only. Because this book contain so many adult content! Due the ‘so-many-typo’ i can’t give 5 stars. 😦

 

Ratings: 4 of 5 Stars