[Book Review] Aku Tahu Kamu Hantu

18168966

Judul: Aku Tahu Kamu Hantu
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Terbit: July, 2013
Tebal: 268
ISBN: 9797806529
Aku di sini.
Kamu bisa melihatku,
tetapi kamu tidak bisa mendengarku.
Aku tahu kamu bingung,tetapi yakinlah…
aku tidak pernah bermaksud jahat.
Aku hanya ingin meminta tolong,
karena kamulah satu-satunya orang yang bisa memecahkan teka-teki ini.
Jika kamu melihatku lagi,
tolong jangan berpaling.
Semoga kamu mengerti isyaratku.

REVIEW:

Dalam silsilah keluarga Olivia, anak perempuan sulung akan memiliki kemampuan untuk melihat ‘makhluk tak kasat mata’ jika sudah tujuh belas tahun. Seperti yang terjadi pada ibu dan neneknya, Oliviapun mewarisi kemampuan ini.
Di hari ia ulang tahun ke tujuh belas, Liv melihat banyak makhluk halus.
Frans, teman satu sekolah Liv sudah tidak pulang 1 minggu. Orangtua Frans ingin melapor ke polisi tentang anaknya yang hilang. Dan, kau tahu apa yang terjadi? Liv melihat Frans. Ya, hanya Liv yang ‘melihat’ Frans. Frans dengan tubuh transparan jangkungnya disertai lebam di beberapa tempat. Frans sudah mati.
Liv menceritakan ‘pengelihatan’nya ini pada sahabatnya, Daniel. Liv juga menceritakan tentang keinginannya untung menolong arwah Frans dengan menemukan keberadaan mayat Frans. Bukannya mendukung dan membantu Liv, Daniel malah menjauhi Liv dengan alasan ‘menjernihkan pikiran’.
Di samping itu, Liv mencurigai tiga cowok populer di sekolahnya: Bayu, Arwin, dan Stefan. Bukan dengan alasan dan bukti tidak jelas. Liv memergokki Sarah, temannya menangis di balik toilet dengan tas yang koyak bekas silet. Belum Sarah yang takut hanya pada suara-suara ketiga cowok populer itu. Liv yakin kematian Frans ada hubungannya dengan ketiga cowok populer tersebut.
Tidak seperti novel-novel thiller Lixie Xu atau Agatha Christie yang membuat pembaca mencurigai banyak tokoh. Disini, aku tidak mencurigai banyak tokoh. Pada awalnya, aku mencurigai Daniel, kemudian tiga cowok populer itu. Hanya itu saja, tidak ada yang lain.
Aku membaca buku ini hanya dalam waktu beberapa jam. Sekitar jam 11 sampai jam 2. Sudah lama aku tidak membaca buku sedemikian cepat. Mungkin karena ‘semangat’ku karena baru habis ujian (btw, aku nggak baca satu bukupun selama satu minggu ini). Beli buku ini pun kemarin. Aku bukan tipe pembaca yang menyukai novel horror. Aku lebih prefer nonton film horror daripada membaca. Ada beberapa novel horror yang aku baca, beberapa merupakan novel fantasteen, dan berakhir dengan kekecewaanku akan tokoh hantu yang menurutku tidak cukup ‘horror’ untuk menguji adrenalian. Maka dari itu, aku juga lebih menyukai genre thiller yang selalu membuatku mencurigai tokoh ini-itu.
Cover pada novel ini ‘cukup’ misterius. Gambar bunga di cover sebenarnya cukup manis. Hanya saja, jika diteliti lebih mendalam, kalian akan menemukan gambar tengkorak di tengah-tengahnya. Benar-benar mencerminkan kehorroran dari novel horror (minus bunga mawarnya yang aku kira lebih cocok buat cover novel romance)
Jadi ya, inti cerita disini (Liv dapat melihat makhluk gaib) aku rasa sudah terlalu mainstream untuk novel horror. (Ya kali, kalo nggak bisa lihat bukan novel horor dong!(?)!). #lupakanbagianini
Tidak ada satupun tokoh yang aku favoritkan dalam buku ini karena aku rasa dibalik kelebihan Liv yang dapat melihat hantu, aku tidak melihat kelebihan-kelebihan lain yang dipaparkan penulis. Ah, jangan lupa tentang hati mulia Liv yang ingin menolong hantu. Hanya saja, sifat Liv yang beginian aku rasa terlalu naif.
Tokoh Daniel, sahabat Liv yang malah menjauh saat sahabatnya dilanda ‘kegalauan’. Bagaimana tipe yang beginian dijadikan sahabat?! Ah, ya, aku bersyukur banget penulis nggak buat persahabatan Daniel-Liv jadi sahabat tapi cinta. Kan nggak bangett untuk novel horror.
Overall, meskipun novel ini tidak cukup ‘horror’ untuk menguji adrenalinku, novel ini telah menolong aku untuk melewati waktu senggangku yang membosankan. Meskipun aku rasa novel ini tarafnya ‘biasa-biasa’ saja untuk genre horror, untungnya novel ini tidak membosankan. Novel yang tidak membuat pembaca merasa bosan sudah bisa mendapat nilai plus, meskipun banyak unsur yang membuat pembaca tidak puas.

 

Ratings: 2.5 of 5 Stars.

[Book Review] London: Angel

18163180
Judul: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2013
Tebal: 330 hlm.
ISBN: 979-780-653-7
Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

REVIEW:

Di bawah langit London, di depan London Eye, temui Gilang yang sedang merenungkan ‘cara menyatakan’ perasaannya pada sahabatnya, Ning.
Ning, sahabat Gilang, wanita berparas indonesia dengan potongan rambut sebahu sangat mencintai seni, terutama patung, maka dari itu, Ning pergi ke London, meninggalkan Gilang dan keluarganya untuk melanjutkan kuliah di London dan… tentu saja… seperti cita-citanya, Ning bekerja di Tate Modren.
      “A-aku terkesan.” Mister Lowesley, meskipun dengan suara gugup dan takut-takut, ikut berbicara. “Tidak semua lelaki berani pergi ribuan kilometer demi seorang perempuan. Itulah ci-cinta.”
Ning memang selalu seperti itu, tahu akan perasaan Gilang padanya, tapi pura-pura tidak tahu untuk menjaga persahabatannya. Barangkali, hati Ning memang tidak untuk Gilang. Hati Ning selalu tercurah pada seni, Gilang bukanlah penggemar seni.
Saat hujan mengguyur kota London, temui si ‘gadis misterius’ dengan payung merahnya. Dimana saja, kau akan menemukan si ‘gadis misterius’ di setiap sudut kota London, asalkan, hari itu hujan. Sesuai dengan ‘kemisteriusan’ gadis tersebut, Gilang menamakan gadis itu Goldilocks.
Picture of Tate Modren’s Interior

 

Windry Ramadhina selalu menjadi penulis favorit aku. Aku selalu menyukai apapun yang ia tulis. Mulai dari Metropolis, Walking After You, Interlude, Montase, dan… tentu saja, London. Aku dengar, proyek STPC(Setiap Tempat Punya Cerita) ini memiliki waktu deadline yang cukup cepat. Ajaibnya, buku ini menjabarkan cerita yang tidak terkesan seperti penulis yang mengejar waktu deadline a.k.a karya abal-abal.
Hanya saja, penulis tidak ‘memberi tahu’ nama lengkap (atau mungkin memang tidak ada?) para tokohnya. Seperti Gilang (masih bisa diterima) tapi Ning? Apakah seseorang memiliki nama yang begitu singkat? Hanya 4 huruf? Juga gadis misterius yang muncul bersamaan dengan turunnya hujan tidak memiliki nama, mungkin Ayu?
Aku menyukai saat-saat penulis menjabarkan tentang Tate Modren, London Eye, toko payung James Smith & Sons. Semuanya terlihat benar-benar nyata, pembaca dapat berimajinasi lebih tinggi. Serasa benar-benar di London. Penggambaran tempat dan suasana adalah salah satu keahlian penulis. Penggambaran dengan selengkap-lengkapnya tapi tidak terasa seperti membuat. Sesuai dengan aslinya. Keberadaan Tate Modren (studio seni) benar-benar terletak di London. Seperti penggambungan antara Fiksi dengan Non-Fiksi.
Biasanya, peran pembantu dalam sebuah cerita tidak begitu penting. Tapi, penulis ‘menyisihkan’ tempat yang lumayan banyak bagi para pemeran pembantu. Seperti: Brutus, Dum, Dee, dan Hyde. Mereka adah teman baik Gilang. Mereka jugalah yang menyakinkan Gilang untuk mengejar cinta ke langit London.
Buku ini bertemakan sahabat jadi cinta.
Buku-buku dengan tema seperti ini kebanyakan berakhir dengan akhir yang bahagia. Lalu, apakah ‘akhir bahagia’ itu berlaku dalam cerita ini?
Overall, aku merekomendasikan buku ini bagi kamu semua yang ingin/ pernah bermimpi untuk pergi ke kota London. Kamu yang pernah merasakan ‘cinta’ yang berlabuh ke tempat yang salah. Ditemani oleh secangkir cappucino, buku ini akan membuat ‘waktu luang’-mu lebih berarti.

Ratings: 4 of 5 stars

[Book Review] Walking After You

23686088

Judul: Walking After You
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2014
Tebal: 320 hlm.
ISBN: 979-780-772
Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.
Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.
An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.
Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.
Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

REVIEW:

“Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja.”
Buku ini menceritakan tentang Anise, atau yang sering dipanggil An. Wanita yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu, selalu diganggu oleh rasa bersalah hingga mengorbankan cita-citanya. Anise menyukai makanan prancis, lalu kenapa ia bekerja di Afternoon Tea sebagai koki kue?
Dibalik keceriaan Anise, ternyata Anise menyimpan luka yang mendalam. Ia tidak dapat berdamai dengan masa lalunya.
Disisi lain, ada Julian, koki kue yang dingin dan apatis, tetapi tampan. Karena pipi Julian yang gampang memerah, An selalu menggoda Julian. Lambat laun, An merasa bahwa ia menyukai Julian.
Lalu, seorang dari masa lalu muncul kembali. Jinendra. Jinendra mengajak An untuk kembali bekerja direstorannya (restoran masakan prancis). Pada akhirnya, apakah An akan tetap mengikuti mimpinya, yaitu menjadi koki masakan prancis, atau mengorbankannya demi menjadi koki kue yang sama sekali bukan keahliannya?
Windry selalu menjadi penulis favorit aku. Ada banyak alasan untuk itu. Terutama pada gaya penulisannya. Sebuah cerita yang sederhana, dengan konflik yang cenderung ringan dan klimaks yang biasa saja dapat dijadikan lebih dari biasa dari sisi keahlian dalam penulisan. Konflik yang ringan akan membuat kita terbawa suasana hingga mata berkaca-kaca adalah hasil dari gaya penulisan yang lembut dan memikat. Pada awalnya, aku paling menyukai gaya penulisan Winna Efendi, dari Refrain, Ai, Unbelievable, Remember When, Happily Ever After, Tomodachi. Pada akhirnya, aku harus menggeser jabatan Winna Efendi dan menempatkan Windry Ramadhina sebagai penulis favorit dari segi gaya penulisan dan ide cerita.
Ya, selain gaya penulisan, hal lain yang aku sukai dari penulis adalah ide cerita. Metropolis yang membuat penasaran, montase, Interlude dan Walking After You yang membuat mata berkaca-kaca.

 

Ratings: 4 of 5 Stars.

[Book Review] Tangled

23663009

Judul: Tangled
Penulis: Emma Chase
Penerbit: GagasMedia (Indo. version)
Terbit: Desember, 2014
Tebal: 332 hlm.
“Women fall in love quicker than men. Easier and more often. But when guys fall? We go down harder. And when things go bad? When it’s not us who ends it? We don’t get to walk away.
We crawl.”
-Drew Evans
[Trying to write review with English language]
So, i read this book in Indonesian version. Published by GagasMedia. The Indonesian version’s cover is kinda hot too. But, the international version is MORE Hot. Let me guess, the man on the cover is: Of course Drew! Btw, I prefer the indonesian version’s cover. Because the background color is softer.
This is Emma’s first book i’ve ever read. Of course i planned to her next book like: Twisted, Tamed, etc. This book is writen from Drew’s Point of View. All i can say was: too much. Drew is handsome and perfect, what he says, but he’s too much.
Kate Brooks is the sexiest woman in Drew’s office. It’s because Kate has a very sexy butt (which is Drew’s opinion). I love Kate’s character there. She’s not only pretty, but smart. It’s rare, you know. And it’s make Drew, who was never ever being in love before, loves her. I think Drew and Kate are very suitable. Due they have the same ambition and same job: Banker. Drew is handsome, and so do Kate. She is pretty. What doesn’t make them look perfect each other?
There are so many side character who catches my interested, especially Mackenzie. She is Alexandra’s (Drew call Alex bitch) daughter. Mackenzie is cute to the hell! Drew is really loves her!
“Mackenzie raises her hand proudly. “I have a bagina.”
I smirk. “Yes, you do sweetheart. And someday, it’s gonna help you rule the world.”
Drew’s friends like Matthew, Jack, Steven also fullfil the story with their negative thoughts. Although it feels more crowded, their attendance add the perfection of this story.
Overall, i love this story so much! Can’t wait to read Twisted ( Tangled#2). Drew and Kate are killing me inside! Insane!! Btw, i recommending this book to adult people only. Because this book contain so many adult content! Due the ‘so-many-typo’ i can’t give 5 stars. 😦

 

Ratings: 4 of 5 Stars

 

[BOOK REVIEW] LET ME KISS YOU

22915620

Judul: Let Me Kiss You
Penulis: Christina Juzwar
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2014
Tebal: 336 hlm.
Sebuah percintaan yang rumit.
Sebuah ciuman yang tak akan terlupa.
Secercah harapan yang tak kunjung nyata.
Seorang perempuan yang datang dengan hati luka, tetapi tak mau melepaskannya.
Seorang lelaki yang kembali dengan rasa yang sama, tetapi terlalu angkuh untuk mengakuinya.
Rahasia yang penuh intrik.
Kebohongan yang tak akan ragu mengusik.
Cinta masa lalu.
Penyembuh lukamu.
Mungkinkah?

REVIEW:

Aku beli buku ini bersamaan dengan Tangled by Emma Chase (review co-soon) juga. Alasannya karena: mereka memiliki cover yang mirip. Banget. Ditambah nama penulis yang cukup terkenal di kalangan pembaca Indonesia Romance novel ya. Tapi, Christina Juszwar sendiri merupakan penulis baru untukku.
Dann… temanya pun hampir sama dengan Tangled! (Ini membuat aku sedikit lupa akan cerita ini, mungkin aku akan re-read, berhubung aku menyelesaikan buku ini dalam fast-read, cuma satu hari dan langsung lanjut membaca Tangled)
Temanya yang identik: Office Romance. Sebenarnya dalam buku ini ada beberapa topik utama juga, seperti CLBK.
Daniel dan Drina kembali bertemu setelah 5 tahun. Keadaan tentu berubah, Daniel menjadi bosnya Drina. Juga sifat Daniel yang sudah tidak ada hangat-hangatnya, malahan cenderung apatis dan… dingin. Perpisahan mereka 5 tahun yang lalu tidak bisa dikatakan perpisahan baik-baik, karena kepentingan pekerjaan keduanya, mereka memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing dengan cara putus tunangan. Daniel ke Amerika dan Drina tetap di Indonesia. Mereka telah kehilangan kontak yang cukup lama, hingga… Drina mendengar kabar bahwa Daniel sudah… menikah.
Lalu, apakah kehadiran Daniel bisa memperbaiki apa yang telah terjadi di masa lalu? Apalagi Drina sudah memiliki pacar bernama James. Sebenarnya apa maksud kedatangan Daniel? Bagaimana dengan kehidupannya dan istrinya di Amerika?
Ya, buku ini sangat FTV. Ditambah tokoh sampingan yang menambah ke-FTV-an buku ini. Seperti James, si buaya cabul tidak tahu diri. Juga Renata, artis penggoda tapi sedikit ‘tahu diri’ (?)
Konflik di buku ini cukup ‘sensitif’ ya. Apalagi soal Drina yang ternyata menjadi simpanan lelaki beristri. Penulis seakan-akan menggambarkan kehidupan percintaan Drina yang nggak pernah selesai dengan baik-baik. Putus tunangan sampai memacari pria beristri.
Jujur aja, setting tempatnya yaitu pada perkantoran dan perkerjaan memiliki point penting bagi aku. Penulis membuktikan bahwa Drina dan Daniel serta beberapa tokoh pada buku ini tidak hanya mengandalkan ‘tampang’.
Bicara tentan tokohnya, aku malah kesel banget sama si Drina. Drina plin-plan banget. Nggak pandai memecahkan masalah, malah menambah masalah. Sudah tahu si James udah punya istri, mau juga balikan sama si James. Drina digambarkan ‘sangat’ cinta sama si James, tapi pas udah putus ke dua kalinya, kok Drina nggak depresi berat lagi ya? Malahan sempet-sempetnya bobo bareng sama Daniel? Padahal pas putus pertamanya itu, dia depresi.
Daniel, aku merasa Daniel adalah pria yang sangat gampang melupakan masa lalunya. Daniel juga seperti sudah melupakan istrinya. Cepet banget. Menurut aku, plotnya disusun terlalu cepat. Tapi baguslah, dari pada lama.. bikin ngantuk.
Covernya, selain mirip dengan Cover Tangles, cover ini juga mirip dengan cover bukunya Christian Simamora yang J-Boyfriend. Hawtt.

 

 Ratings: 3 of 5 stars

[Book Review] LET GO

7363495

Judul: Let Go
Penulis: Windhy Puspitadewi
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2009
Tebal: 244 hlm.
ISBN: 9797803821
“Setiap cerita memliki ruang tersendiri didalam hati.”
Cerita ini menempatkan Caraka, Nathan, Nadya, dan Sarah sebagai tokoh utama. Empat orang yang masing-masing memiliki kepribadiaan dan sifat yang berbeda. Empat orang yang awalnya tidak cocok lalu menemukan kecocokan satu sama lain. Empat orang yang kemudian berteman lalu… bersahabat.
Caraka, biasa dipanggil Raka adalah tipe cowok yang keras kepala. Ia akan melakukan apapun jika ia rasa apa yang ia lakukan itu benar. Raka bisa mengubah pendirian orang lain, meskipun ia sendiri tidak menyadarinya.
“Batas antara keras kepala dan bodoh itu sangat tipis.”
Nathan, tipe cowok yang banyak di temukan di roman-roman picisan. Pintar, tampan, kaya, tapi… dingin dan selalu bersikap sinis seolah-olah ingin menjauhkan semua orang yang mencoba berteman dengannya. Seperti biasa, ternyata Nathan memiliki rahasia yang… menyakitkan.
Nadya, si ketua kelas yang tidak pernah meminta bantuan orang lain. Selalu merasa bahwa ia dapat melakukan apapun dengan sendirinya. Sifatnya sangat tegas dan berwibawa, meskipun cantik, tapi tidak ada yang berani menyatakan perasaannya pada Nadya.
Sarah, si cewek pemalu dan kutu buku, tidak sanggup jika harus menolak permintaan orang lain.
Endingnya… menggantung.
Windhy Puspitadewi tergolong penulis baru untuk aku. Buku ini adalah buku pertamanya yang aku baca. Buku ini sendiri sudah terbit 5 tahun yang lalu, 2009. Dan aku baru siap baca pagi ini.
Awalnya, buku ini tidak pernah masuk ke wishlist aku. Kisah teenlit berbau remaja dan sekolah sudah aku hindari akhir-akhir ini. Kecuali penulisnya adalah penulis favorit aku. Winna Efendi contohnya. Karena novel teenlit kebanyakan chessy.
Konflik pada buku ini tergolong ringan. Hanya saja, aku nggak begitu yakin di mana letak klimaks dari konflik pada buku ini. Membingungkan. Dan yah.. menyebalkan.. mengingat endingnya yang ‘nggak banget
Aku rasa, penulis kurang ahli dalam membuat tokoh. Penulis seperti hanya memfokuskan segala sesuatu hanya pada lingkaran keempat tokoh utama tersebut. Sampai-sampai tokoh pajangan pun sedikit. Hanya mama Raka, papa Nathan, dan beberapa murid yang tidak di sebutkan namanya. Mengingat tipisnya buku ini.
Penulis menempatkan sudut pandang masing-masing tokoh secara bergantian. Hal ini memudahkan pembaca untuk merasakan apa yang dirasakan oleh masing-masing tokoh.
Truth to be told, aku membaca buku ini dalam format e-book. E-book bajakan (mungkin) yang aku download dan baca melalui Adobe Reader (.pdf) Maka, jika ada hal-hal yang bertentangan dengan cerita aslinya, tolong dipahami. Mengingat jumlah halaman di E-book dan jumlah halaman buku sebenarnya pun tidak sama.
Overall, atmosfer zaman sekolah sangat terasa pada buku ini. Konflik ringan yang disuguhkan pada buku ini menambah keseruan dan keminatan aku dalam menyelesaikan buku ini. Seperti biasa, ending dalam buku ini sudah ketebak dari awal. Karena bulan ini sedang libur panjang, bagi semua orang yang merindukan kehidupan sekolah, aku rekomendasikan buku ini sebagai pelepas rindu 🙂

 

Ratings: 3 of 5 stars

[Book Review] Al Dente: waktu yang tepat untuk cinta

22552823

Judul: Al Dente
Penulis: Helvira Hasan
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2014
Tebal: 256
ISBN: 9797807312
Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.

Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.

Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan. Kau bukanlah orang yang kuharapkan.

Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan? Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.

Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku. Usah sisipkan kata cinta di dalamnya. Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?

REVIEW:

Al Dente sendiri artinya adalah: tidak lengket di gigi. Rasanya pas, tidak lembek, tapi di masak dengan kematangan yang pas.
Al Dente biasanya akan diungkapkan seseorang disaat ia telah melahap habis pastanya, spagethi maupun fettucini. Jika menurut mereka rasanya pas dan tidak lengket di gigi, maka rasanya AL DENTE.
Lalu, apa hubungan dari Al Dente dengan isi cerita pada buku ini?
Mirip seperti ALL YOU CAN EAT nya Chrismo yang menggambarkan bahwa tokoh utamanyasuka memasak, di buku ini, tokoh utama wanitanya, Cynara suka makan pasta. Tentu saja, pastanya harus Al Dente. Nggak semua orang bisa membuat pasta yang Al Dente. Bahkan, suami Cynara pun nggak bisa. Dan nggak bisa bukan berarti nggak mau belajar terus.
Benjamin, suami Cynara berjanji untuk memasak pasta untuk istrinya setiap hari jumat.

Ternyata, menjalani sebuah rumah tangga itu sesulit membuat pasta yang rasanya Al Dente. Baru menikah dan memasuki minggu ke-2, hubungan keduanya meregang. Masing-masing orang dari masa lalu mereka muncul ke permukaan. Belum lagi kehadiran Elbert, senior yang pernah ditaksir Cynara datang dan menemuinya lalu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Nara.

Di sisi lain, Milly, sahabat Ben sewaktu SMA yang selalu menelepon Ben membuat Nara cemburu dan memikirkan ulang tentang pernikahannya dengan Ben.
Pertengkaran suami-istri itu menyakitkan. Tapi, perceraian lebih menyakitkan.
So, pada akhirnya, bagaimana keadaan pernikahan mereka?
Dibandingkan dengan topik ‘perselingkuhan’ dan ‘perjodohan bisa menimbulkan cinta’ yang cukup mengambil peran penting dalam ‘kepelikan’ cerita, topik tentang ‘Pasta yang Al Dente’ nggak berdampak apa-apa. Artinya, topik tentang rasa Al Dente itu nggak mengambil peran penting untuk membantu ‘keseruan’ pada cerita ini.
Cover yang terlewat simple. Bahkan gambarnya juga nggak ada. Ada sih, hanya gambar berbagai pasta, itu pun hanya sedikit. Yang sangat mencolok ya cuma judulnya yang super besar itu.
Memang sih, tema tentang perjodohan nggak begitu berjamur di novel-novel indonesia. Tapi, coba lihat wattpad Indonesia. Pernikahan akibat perjodohan yang berakhir dengan cinta itu udah menjamur sampai berkarat banget! Mungkin, yang jadi patokan untuk mencegah ‘kemainstream-an’ cerita hanyalah: perasaan tokoh utama wanita yang plin-plan.
Yang benar saja! Aku paling benci dengan tokoh utama plin-plan! Tau nggak sih, ke-plin-plan-an bisa ngebuat kualitas cerita jadi menye-menye aLa sinetron Indonesia? Belum lagi, sikap tokoh utamanya yang sangat-sangat nggak percaya dengan suami sendiri. Selalu ngerasa kalau suaminya selingkuh dengan sahabat suaminya sendiri. Padahal, ‘kencan’ makan siang antara Nara dan El juga udah bisa tergolong sebagai selingkuh. Kata kasarnya adalah: nggak tahu diri. Isn’t it?
Overall, penulis membuat buku yang ‘cukup baik’, tidak buruk untuk mengawali debut novelnya yang pertama. Hanya saja, mungkin penulis mesti ‘mendalami’ kemampuannya dalam membuat flashback di dalam cerita. Kenapa? yang aku harapkan adalah flashback yang tidak dipisahkan menggunakan keterangan waktu. Tapi, flashback yang diungkapkan dari sebuah paragraf. Masa lalu dan masa sekarang dapat juga dipisahkan dengan bab.
Btw, nama Benjamin di sini meningatkanku pada Benjamin Miller di People Like Us^^

 

Ratings: 3 of 5 stars.

Book Review: Menunggu

Judul: Menunggu
Penulis: Dahlian & Robin Wijaya
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2012
Tebal: 312 hlm.
ISBN: 9797805905
Aku sedang merindukanmu, apakah kau tahu itu? Saat bulan penuh di atas kepala, aku menggantungkan doa untukmu di antara bintang-bintang. Semoga suatu saat hatimu akan menoleh kepadaku, menyadari bahwa akulah akhir dari penantianmu.
Aku ingin memelukmu, meraihmu, dan menyembunyikanmu dalam dekapanku. Aku tak akan melepasmu pergi, aku janjikan itu padamu. Dan kesabaranku kian menipis seperti batu yang terus-terusan digerus air. Aku sudah menunggu terlalu lama, nyerinya semakin lama kian terasa nyata.
Aku mencintaimu… karenanya aku selalu merindukanmu. Namun, seperti pertanyaan yang kubisikkan pada rembulan malam itu: apakah kau juga sedang merindukanku?

REVIEW:

Buku ini sudah diterbitkan 2 tahun yang lalu, dan baru siap baca kemarin.
Buku ini juga merupakan GAGASDUET pertama yang aku baca sebelumnya.
GagasDuet di pikiranku adalah: satu cerita, sudut pandang masing-masing tokoh utama ditulis oleh penulis yang berbeda. Dan ternyata hasilnya: 2 novella (oleh 2 penulis berbeda tentunya!) yang digabung menjadi sebuah buku dengan judul yang berbeda tapi topik yang sama: MENUNGGU
Cerita pertama ditulis oleh Dahlian, judulnya LAST CHANCE. Dan tentunya cerita ini ‘menceritakan’ tentang menunggu.
Aby merupakan sahabat dari Dhani yang terus menghindar dari adik sahabatnya, Risa. Aby terus-terusan menyangkal perasaannya karena sebuah hal bodoh yang memang disebabkan oleh Dhani. Aby yang orangnya cenderung serius mendengarkan perkataan Dhani dan menyimpannya dalam hati. Ya, Dhani melarang Aby untuk berpacaran dengan adiknya, Risa. Tapi Dhani tidak menganggap serius perkataannya sendiri. Karena, jikalau Aby dengan Risa berpacaran, Dhani toh akan sah-sah saja.
Disisi lain, Risa yang baru pulang dari Sydney berusaha lagi untuk mendapat perhatian dari Aby, Risa yang selama ini sabar menunggu Aby kemudian memutuskan untuk menyerah. Lalu, disaat Risa telah menyerah, apakah Aby yang akan memperjuangkan rasa ini?
>>
Gimana ya, entah kenapa aku kurang ‘srek‘ dengan cerita ini. Alasan Aby menjauhi Risa dan bersikap dingin padanya itu nggak masuk akal. Harusnya, kalo seorang cowok punya hati sama cewek, mereka pasti akan berusaha bertahan dan nggak cepat menyerah. Sesulit apapun tantangannya.
Aku juga sempet ‘ngeh‘ dengan Risa yang dengan beraninya memakai baju yang menampakkan punggungnya. Kalau dia make baju begituan di mall-mall kayak Grand Indonesia, itu sah-sah aja. Masalahnya, Risa make baju begituan saat jalan-jalan di Tanah Abang.
Seperti biasanya, aku selalu suka dengan ide ceritanya Dahlian. Tapi, aku kurang suka dengan penulis yang selalu me-drama-kan cerita. Dan, yah, cerita ini sangat men-dorama.
Disertai dengan Ending yang SWEET tetapi SANGAT MAINSTREAM.
Jika semua kekurangan itu ditutup, mungkin buku ini bakal melekat dihatiku. Berhubung karena Dahlian merupakan salah satu author favorit aku. Bicara soal buku Dahlian yang aku suka. Promises-Promises berada di tingkat pertama disusul dengan Andai Kau Tahu 🙂

Cerita kedua ditulis oleh Robin Wijaya dengan judul: REASON
Jika dilihat dari sisi ‘kemainstreman’ cerita, cerita ini juga bisa dibilang mainstream ya. Kenapa? Karena topik utama cerita ini adalah: CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Tapi tidak se-akut adegan penutup di cerita pertama, Last Chance.
Lenka yang pindah ke Jakarta membuat hubungannya dengan Gantar makin meregang. Dan lama-kelamaan, mereka hilang kontak begitu saja. Tidak jelas apakah hubungan mereka sudah berakhir atau belum.
“Kalau kamu percaya takdir, aminkan dalam hati, kita bertemu lagi suatu hari nanti”
Disinilah takdir memainkan mereka. Setelah sekian lama, mereka bertemu kembali di Jakarta. Gantar menjadi kameramen dan Lenka menjadi anchor berita sebuah stasiun televisi.
Tapi, kali ini keadaannya sedikit berubah. Lenka ternyata sudah memiliki pacar. Barata. Seorang CEO stasiun televisi tempat Lenka bekerja.
Sebenarnya, Lenka-pun masih memiliki perasaan pada Gantar. Tapi, disisi lain Lenka merasa nyaman dengan semua sifat Barata, kecuali satu: sifat Barata yang selalu mengatur dan menganggap apa yang dikatakannya bisa diterima Lenka.
Suatu hari, Barata melamar Lenka. Lenka tidak menjawabnya. Tapi Barata menyematkan cincin di jari manis Lenka.
Perasaan kebimbangan Lenka akan hubungannya dengan Barata mulai timbul.
>>
Aku benci dengan tokoh utama wanita di cerita ini. Ya, aku benci Lenka!
Lenka orangnya terlalu naif. Nggak bisa membuat pilihan. Plin-plan. Mempermainkan dua hati.
Lalu aku suka dengan ‘kesetiaan’ Gantar. Lalu adapula ‘kebaikan’ Barata.
Di cerita kedua ini, banyak terdapat kata-kata mutiara. Mungkin karena penulis merupakan orang yang romantis atau puitis?
Jujur aja, ini merupakan buku Robin Wijaya pertama yang aku baca. Sejauh ini, komentarku tentang tulisan Robin Wijaya adalah: Bagus. Penulis menggabungkan beberapa flashback dari masa lalu ke masa sekarang. Flashback-flashback itu untungnya nggak membinggungkan aku. Poin plus untuk gaya penulisan Robin Wijaya.
Dari segi cerita yang dipaparkan, tentu saja cerita kedua ini lebih menarik… dan … lebih bosan…
Alurnya sedikit lambat.
Overall, ‘cukup’ dengan ‘sedikit’ kekecewaanku dengan GagasDuet pertama ini, aku harap next time (saat aku membaca gagasduet lainnya) nggak bakal sekecewa ini :). Umm… Aku berencana untuk membaca karya Orizuka dan Christian Simamora: With You. Desain covernya sangat kreatif^^

 

Ratings: 2.5 of 5 stars.

Book Review: Montase

16300774

Judul: Montase
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2012
Tebal: 360 hlm.
ISBN: 979-780-605-7
Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi…,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai…
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.

 

REVIEW&PLOT:

Cerita dalam buku ini diawali dengan scene Rayyi yang mendapat surat dari Haru dan menyusul Haru ke Jepang (dipercepat sebelum bab 1). Lalu pada bab 1 diceritakan dari awal pertemuan Rayyi dengan Haru.
Bagi Rayyi, Haru Enomoto adalah seorang wanita jepang yang berperawakan pendek serta memiliki sikap yang aneh dan ceroboh. Tidak menarik sama sekali. Rayyi semakin kesal dengan Haru saat mengetahui Haru-lah yang menang dalam kompetisi membuat Film Dokumenter.
      “Apakah kau menyukai film saya barusan?” tanya Haru Enomoto lagi. Kepalanya dimiringkan ke kanan dan wajahnya dihiasi senyum lebar, mirip boneka kokeshi yang lehernya patah.
      Ck. Yang benar saja. Masa aku kalah bersaing dengan gadis liliput yang gerak-geriknya menggelikan ini?
Haru dan Rayyi sama-sama memiliki kesamaan. Mereka sama-sama dipaksa untuk masuk ke jurusan (kuliah) yang di tentukan oleh orangtua mereka. Rayyi yang menyukai Film Dokumenter dipaksa untuk masuk ke jurusan produser. Sedangkan Haru (mahasiswa studi banding dari Jepang) dipaksa untuk masuk ke jurusan Film Dokumenter padahal ia lebih menyukai untuk melukis.
Rayyi dipaksakan ayahnya yang –memang ayahnya merupakan seorang produser ternama yang selalu menelurkan film-film romantis yang laris dipasaran meskipun cerita yang dibuat cenderung klise.
“Kalau begitu, kau tidak boleh menyerah. Jangan berhenti mengejar impianmu atau kau akan menyesal, Rayyi….. Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan.”
Karena dukungan Haru, Rayyi memutuskan untuk memberontak pada ayahnya, dengan cara keluar dari kampus dan magang di kantor Samuel Hardi, pembuat film dokumenter muda yang jenius.
Tidak lama kemudian, Haru memutuskan untuk kembali ke Jepang,
Dari sinilah masalah pelan-pelan terkuak. Haru ternyata menginap kelainan darah.
Leukimia.

Poin plus untuk karya Windry Ramadhina kali ini adalah untuk penulisan sudut pandangnya. Penulis menuliskan dari sudut pandang tokoh utama pria, Rayyi. Kenapa menjadi poin plus?
Karena aku nyadar, kalo nulis sebuah cerita dari sudut pandang tokoh utama itu sulit. Harus butuh perhatian serta penghayatan ekstra akan tokoh tersebut.
Kesempurnaan penulis akan penggambaran suasana dan tempat juga menjadi poin plus dari cerita ini.
      Kamar Haru adalah apartemen tipe studio. Apartemen gadis itu dilengkapi tempat tidur berukuran sedang yang menempel pada salah satu dinding serta meja belajar, rak buku, dan lemari di sisi berseberangan. Di dekat pintu masuk, terdapat dapur kecil dan sebuah pintu lain yang menuju ke kamar mandi. ….
Bicara tentang tokoh favorit, maka Rayyi-lah yang menajdi tokoh favoritku.
Kenapa?
Karena Rayyi adalah tipe yang setia pada pasangannya dan juga nggak hobi tebar pesona sana sini. Sisi lainnya adalah: Meskipun ia kaya dan anak seorang produser ternama, Rayyi nggak sok apalagi sombong. Buktinya, ia memiliki banyak teman baik.
Buku ini masih belum bisa menggeser ke-favorit-anku akan buku yang juga di tulis oleh penulis yang sama yaitu: METROPOLIS dan INTERLUDE
Covernya aku beri poin minus, soalnya cenderung “Kalem&polos”. Aku membeli buku ini pun karena embel-embel ‘DITULIS OLEH” Windry Ramadhina, salah satu author favoritku:)

Overall, tidak ada ‘rasa’ menyesal untuk membeli buku ini^^. Tapi, aku nggak bisa ngasih poin full, ada beberapa bagian yang nggak cukup merebut hatiku. Actually, saat membaca buku ini, aku kurang menyerap dan terbawa suasana (mungkin lagi nggak mood baca). 

Ratings: 3.5/5 stars.

Book Review: Kedai 1001 Mimpi

kedai 1001 mimpi

Judul: Kedai 1001 Mimpi
Penulis: Valiant Budi
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2011
Tebal: 444 hlm.
ISBN: 9797804976
"Kita ini konon pahlawan devisa. Tapi kalau mati, ya sudah, dianggap binatang saja."
"Saya datang buat mempertebal iman, bukan jadi mainan."
"Datang ke sini itu harus siap 'dijajah'. Baik jiwa maupun raga!"
"KAMU tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAHU?!"

REVIEW&PLOT:

Kedai 1001 Mimpi ini ditulis penulis berdasarkan kisah nyata. Kisah yang dialami penulis tersebut sendiri. Kesempatan kerja di Arab Saudi yang di dapat penulis ternyata dapat membuat hidupnya penuh dengan drama.
Maka, penulis pun menuliskan perjalanan hidupnya saat bekerja manjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Arab Saudi.
Ekspetasi penulis berbeda jauh dengan realiti yang terjadi di lingkungan sekitar tempatnya bekerja. Arab terkenal dengan tanah kelahiran Nabi Muhammad, semua islam menunaikan ibadah haji di sana. Arab adalah tempat yang suci. Tapi, dengan buku ini aku menyadari suatu hal: Tempat yang suci tidak dapat menjamin orangnya juga suci.
Seperti di Indonesia, di Arab juga memiliki kebijakan ini:
Peraturan di buat untuk dilanggar
Bedanya, kalau di Arab, yang boleh melanggar aturan hanya warga negara Arab, kalau sebatas TKW, DILARANG!
      “Maaf, kami belum buka dan Anda merokok di wilayah antirokok!” Aku menyodorkan asbak darurat sambil menunjuk tanda larangan merokok yang jelas-jelas nongkrong di meja.
      Bapak beruban itu menatapku dengan senyuman santai dikebun petai. “Tak perlu khawatir. Ini negara saya,”
Di kota tempat vibi bekerja (aku lupa namanya), yang pasti, sebuah kota di Arab menanamkan kebijakan bahwa pria dan wanita yang bukan muhrim dilarang berjalan bersama apalagi bergandeng tangan. Maka, banyak sepasang kekasih yang bersembunyi pacaran dan melakukan hal mesum di Kafe tempat penulis bekerja. Berkedok sebagai saudara (kebanyakan). Mereka juga selalu mencari kenalan melalui bluetooth (Tahun itu masih belum se canggih tahun ini). Juga, nama-nama di kontak ponsel orang Saudi tidak bisa dipercaya, karena mereka selalu mengubah nama wanita dengan nama pria.
Ada banyak hal yang masih belum bisa aku percaya. Seperti banyaknya TKW yang dipaksa untuk melayani majikannya, seorang pria yang dengan tidak malunya memamerkan ‘anu’nya.
Sebelum di buat menjadi buku, penulis juga selalu menuliskan cerita nya di blognya. Sialnya, seperti aku, banyak orang yang nggak percaya dengan apa yang dipaparkan penulis, bedanya, mereka mencaci maki penulis dan aku tidak.
Overall, buku ini sangat membantu aku dalam memberantas rasa bosanku di waktu renggang. Meskipun ada beberapa hal yang tergolong ‘impossible’, aku selalu mencoba untuk memercayai apa yang dipaparkan penulis pada buku ini. Karena penulis menyertakan beberapa gambar makanan dan view yang ia temui di Saudi. Itu semua menambah point ‘kepercayaan’ku.
Tidak lupa untuk mengkritik tentang Typo. Sangat banyak Typo yang saya temui di dalam buku ini. Catat: Banyak.

Ratings: 4 of 5 Stars