[Book Review/ Baca Bareng 2015] Perfect Pain

Perfect Pain

Judul: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 316 hlm.
ISBN: 979-780-840-8
Format: Paperback

Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

REVIEW:

…..Manusia memang punya daya adaptasi dan toleransi yang baik, bukan? Buatku, ada dua macam luka. Satu, luka yang bisa sembuh. Bekasnya hilang seakan tak pernah terjadi apa-apa. Seperti memar-memar ditubuhku. Begitu warna ungu kebiruannya berubah menjadi kuning menyerupai warna kulit, memar itu siap lenyap.
Namun, ada pula jenis luka kedua, yang semahir apapun pengobatannya, takkan pernah hilang. Seperti memar-memar di hatiku. Di jiwaku.

Penulis mengangkat tema yang cukup sensitif: KDRT, sesuai sekali dengan judul yang diangkat: Perfect Pain.

Dikisahkan seorang wanita bernama Bidari, yang menikahi Bram diumur yang masih sangat mudah, 18 tahun. Parahnya, pernikahan mereka sebenarnya tidak disetujui oleh ayah Bidari yang merupakan seorang tentara. Kemudian, Bidari dan Bram memutuskan untuk kawin lari, kawin tanpa persetujuan orang tua.

“Ingat, Bi. Kamu yang bersikeras menikah dengan Bram. Kalau ada apa-apa, jangan nangis-nangis pulang ke rumah.

Memang benar sekali kata orang, kita nggak bakal bisa mengenal seseorang dengan baik sebelum tinggal bersama.

Sebelumnya, Bidari pikir Bram dapat menolongnya untuk keluar dari lingkaran ayahnya. Ayahnya yang selalu mencaci maki Bidari, tidak pernah puas, dan selalu menganggap Bidari anak yang lemah, juga bodoh.
Bram yang sangat protektif dan menyayangi Bidari membuat Bi memimpikan rumah tangga yang indah bersama Bram. Nyatanya, mimpi dan kenyataan memang beda jauh.

“Bi, setiap orang layak dicintai. Kalau di kepalamu selalu tertanam ide bahwa kamu nggak pantas dicintai, maka itulah cara orang akan memperlakukanmu.”


Ini kali pertama aku membaca karya penulis ini. Jujur, penulis sukses membuatku berkaca-kaca sepanjang cerita.
Cerita dibuka oleh Bi yang dipanggil sekolah karena anaknya, Karel menonjok temannya. Kemudian, cerita terus mengalir sampai ke alasan kenapa Karel selalu muran dan hanya menggambar sosok ibunya. Disisi lain, Miss Elena selaku wali kelas Karel sangat mengkhawatirkan anak itu.
Karena Karel sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan bejat ayahnya itu, Karel memutuskan untuk mengunjungi pacar Miss Elena yang merupakan seorang pengacara.

Nah, dari situlah cerita terus mengalir. Dimana Sindhu, si pengacara terus bertekat untuk menolong Bidari dan Karel.

Hanya saja, ada konflik selipan dalam buku ini. Tentang Sindhu.

Sama seperti Karel, Sindhu juga merupakan korban KDRT. Versi yang lebih parah. Kenapa?

Mungkin memang benar yang dikatakan Bi, bahwa suaminya memiliki kepribadian ganda. Disuatu waktu, Bram dapat naik pitam dan dengan gampangnya melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Bidari. Tapi, di waktu yang lain, Bram akan minta maaf dengan wajah polosnya bahkan memelas dan hampir menangis! Barangkali, itulah alasan mengapa Bi bertahan sampai belasan tahun.

Pada akhirnya, apa keputusan Bi? Apakah ia tetap tinggal, atau pergi?


Pada awalnya, tokoh utamanya akan digambarkan sebagai sosok yang lemah. Benar-benar lemah.
Memang benar, sebagai tokoh utama, Bidari tergolong lemah. Tetapi tidak benar-benar lemah.
Ayah Bidari selalu mencacinya dengan mengatakan ia tidak berguna, lemah, bodoh. Karena itu, hal-hal yang tertanamkan di otak Bidari sama percis dengan yang dikatakan ayahnya: Lemah dan tidak berguna.

Pada titik tersebut, kesalahan benar-benar ada pada ayah Bidari. Mendidik anak dengan benar bukan berarti boleh men-judge anak seenaknya. Secara tidak langsung, itulah yang akan ‘ditangkap’ dan ‘diterima’ si anak. Bahwa mereka adalah apa yang dikatakan orang tuanya.

Disisi lain, Bidari telah menangkap mentah-mentah apa yang dikatakan ayahnya. Ia menerima Bram karena takut tidak ada yang mau mencintainya sebesar Bram mencintainya. Bi pikir ia tidak pantas dicintai, seperti yang dikatakan ayahnya.

Sindhu, si pengacara, yang awalnya aku pikir cuma ‘numpang lewat’ ternyata mendapatkan peran yang penting dalam cerita.

Overall, tokoh favorit aku dalam cerita ini tentu saja Sindhu. Ia benar-benar dapat diandalkan.
Disisi lain, aku cukup menyukai Miss Elena. Hanya saja, mungkin karena Elena yang hidup dilingkungan ‘Orangtua bahagia’, ia tidak begitu bisa merasakan apa yang dialami oleh Bidari sehingga perannya tidak begitu banyak.
Kemudian ada Bram, suami Bi yang aku pikir memiliki sedikit gangguan jiwa. Kadang aku merasa kasihan, tapi lebih banyak merasa marah! Haha.

Lalu untuk Bi, aku malah kurang menyukai karakter ini. Bi terlalu ‘pasrah’ dengan keadaan. Mungkin perkataan ayah Bi ‘sedikit’ benar (jadi ngerasa jahat.. xD)

Untuk covernya, aku suka banget! Pilihan warna latarnya bikin adem, bener nggak? Pilihan judulnya juga top. Langusng bikin galau. Setuju?

Tidak lupa, aku bener-bener suka gaya penulisan mbak Anggun! Mengingat banyaknya quotes yang bertebaran disepanjang cerita.

‘Jangan jadikan orang lain lasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian.” – Sindhu

Advertisements

[Book Review] I Remember You

26180763

Judul: I Remember You
Penulis: Stephanie Zen
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 330 hlm.
ISBN: 9797808289
Harga: IDR56

Kau datang meminta sisa rasa yang ada. Meraih tanganku, menatapku dengan isyarat cinta tulus; berjanji bahwa ini akan selamanya. Tak ada alasanku untuk menolaknya. Namun, apakah kata-kata masih bisa kujadikan pegangan?

Dea tak pernah menyangka sebuah pekerjaan paruh waktu dapat menjungkirbalikkan hidupnya. Membuatnya tak mampu lagi menerka apa warna masa depan—bahkan ketika seseorang meyakinkan ia masih bisa memiliki segala warna yang ia suka.

Aurelie selalu mampu menemukan keping puzzle yang hilang dalam pekerjaannya. Sayangnya, ia takut untuk tahu apa keping yang hilang dalam hidupnya. Suatu hari, seorang pria dengan senyum meneduhkan membawakannya cinta. Namun, sebuah alasan membuat Aurelie tak pernah lagi percaya bahwa cinta itu nyata—bahkan ada.

Dea dan Aurelie mencoba pelan-pelan membangun rasa percaya yang pernah porak-poranda. Selalu waspada karena tahu bahwa bangunan itu masih rapuh. Namun, selalu saja ada waktu kita tak waspada sepenuhnya, salah satunya ketika jatuh cinta.

REVIEW:

Pretending to be friends with the one you love is like breathing underwater. You can’t hold it too long because if you do, you won’t make it alive.

Ini adalah kali pertama aku membaca karya Stephanie Zen. Dan, ya! Aku menyukai buku ini!
Ugh, sebenarnya aku kurang ‘sreg‘ ya sama covernya. Aku merasa kalau covernya ‘kelewat’ simpel. Cuma tulisan I Remember You + rose dan ribbon. Pemilihan warna cover latarnya juga agak gak cocok kalau digandengkan dengan font nama penulis dan quote pada halaman judul. Aku rasa, jikalau warnanya orange pastel bakal lebih cocok kali ya? Hehe xD
Kembali ke topik utama!

Penulis memberikan surprise yang luar biasa! Aku tidak akan menyebutkan secara detail surprise apa yang penulis berikan. Hal tersebut dikarenakan spoiler yang akan tumpah-ruah 😀

Penulis menuliskan buku ini dari sudut pandang orang pertama bergantian. Bab pertama diceritakan dari sudut pandang Dea, bab kedua diceritakan dari sudut pandang Aurelie. Bergantian setiap babnya.
Cerita yang dituturkan berlatarkan singapura. Dan, aku menyukai cara penulis menggambarkan setiap detail-detailnya. Bukan hanya akan latar tempatnya, Singapura, tetapi juga ‘cara kerja’ sang tokoh.
Fyi, pekerjaan pemeran utamanya adalah seorang dresser untuk TVC dan paruh waktu fashion show. TVC itu merupakan iklan. Jadi setiap model yang akan tampil di iklan bakal di ‘rias’ dulu oleh penata rias dan ‘busana’nya diatur oleh dresser.

Pada awalnya, aku berinisiatif untuk ‘memberikan’ sedikit cuplikan cerita. Tapi, aku merasa ‘cerita’ yang dimuat dalam buku ini ‘bergandengan’ semua. Gimana ya, ‘surprise’nya bakal langsung ‘ketahuan’ kalau aku ‘memberitakan’ sedikit isi cerita. So, aku juga rasa kalau ‘sinopsis’ diatas sudah cukup bikin pembaca penasaran, bener nggak?

Unfortunately, buku ini cuma buku pinjaman. Ugh, merasa ‘sedikit’ bersalah karena baru membaca buku karya penulis ini sekarang.
Jujur ya, aku gak ‘menerka’ apa-apa akan alur dari cerita ini. Sampai-sampai, pada bab lewat pertengahan–mau ke akhir, aku mulai menerka-nerka. Mungkin gak ya?
Ugh! Tebakanku bener meskipun super telat! xD

Overall, i love this book! Especially the storyline. Yes, Stephanie Zen has succesfully amazed me by her writing’s style! Looking forward to read her another books!

[Book Review] Last Forever

27132321

Judul: Last Forever
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 378 hlm.
ISBN: 9797808432

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?

REVIEW:

Kesekian kalinya membaca buku karya Windry Ramadhina, salah satu penulis favoritku.
Penulis memang beberapa kali memunculkan tokoh utama dari novel sebelumnya ke novel berikutnya. Sebagai contoh tokoh wanita dari London: Angel yang muncul pada Walking After You.

Berbeda dengan tokoh yang muncul di Walking After You yang hanya ‘numpang lewat’ atau ‘sekedar muncul di beberapa scene’, tokoh yang muncul di novel ini, atau bisa kita sebut ‘guest’ memiliki porsi ‘kehadiran’ yang lebih banyak. Tokoh yang menjadi guest di novel ini adalah Rayyi, si pemeran utama pria pada novel Montase.

Seperti yang diceritakan di Montase, Rayyi sangat menyukai film dokumenter dan kemudian bekerja di Hardi. Nah, tokoh utama dalam novel Last Forever ini adalah si pemilik Hardi, Samuel Hardi.

Samuel Hardi digambarkan sebagai seorang Don Juan berusia 32 tahun yang sangat anti-komitmen. Disisi lain, penulis mengangkat karakter Lana sebagai tokoh utama wanita yang juga anti-komtimen.
Mereka berdua menjalani sebuah hubungan– tidak, bukan hubungan, karena mereka tidak terikat.

Sama seperti Samuel, Lana juga bekerja dibagian film dokumenter. Bedanya, Lana bekerja di National Geographic dengan kantor pusat di Washington.

Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri. – Samuel Hardi.

Lana terlalu mencintai pekerjaannya.
Disisi lain, Lana mulai menyadari bahwa perasaannya kepada Samuel mulai terbentuk. Hanya saja, Lana terus menghambatnya. Lana selalu berpikir ia dan Samuel akan baik-baik saja. Maksudnya, Lana percaya bahwa ia dan Samuel tidak akan memiliki hubungan yang serius atau semacamnya.

Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar? – Lana Hart.

Mereka berhubungan tanpa ikatan selama kurang lebih 6 tahun. Hubungan tersebut tidak lebih hanya untuk memuaskan ‘kebutuhan’ seks masing-masing. Karena Lana yang sering ‘keliling dunia’ dan bekerja di tempat yang jauh, Lana hanya mengunjungi Samuel kurang lebih setengah atau satu tahun sekali di Jakarta, kadangkala, Samuel yang mengunjungi Lana di Washington. Lana akan mengunjungi Samuel selama seminggu atau bahkan hanya dua hari setiap tahun/ setengah tahunnya. Mereka berhubungan selama enam tahun, tetapi jarang bertemu. Bahkan hanya sekedar menanyakan kabar masing-masing pun tidak.

Lana Hart memang seperti itu. Suka muncul dan menghilang tiba-tiba.

Dan…

Samuel Hardi bukanlah pria yang ambil pusing tentang hal tersebut.
Hanya saja, Samuel Hardi tidak dapat menoleransi kegemaran Lana yang suka ‘meninggalkannya’ tiba-tiba.
Karena, karena Samuel tidak ditinggalkan wanita. Samuel meninggalkan wanita.

Sampai suatu ketika, Lana dan Samuel dihadapkan dengan kenyataan yang membuat mereka harus kembali memikirkan hubungan mereka.

Aku sangat menyukai sampul dari buku ini. Sangat simpel. Fontnya juga pas banget.

Bicara soal tokoh, aku kurang menyukai tokoh Lana. Tokoh ini selalu menolak kenyataan. Tokoh yang terlalu egois bahkan kepada dirinya sendiri. Tokoh yang selalu membangun ‘tembok pertahanan’ dikarenakan sesuatu yang pernah ia hadapi di masa lalu.

Seperti yang dikatakan sampulnya, penulis menuliskan cerita ini berlatarkan tempat di Indonesia seperti Jakarta, dan Flores. Belum lagi tempat-tempat yang hanya ‘sekedar’ lewat, contohnya: LA dan Washington.

Seperti biasa, aku selalu menyukai gaya penulisan penulis. Cerita ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga serba tahu.
Cerita yang ditulis dari sudut pandang orang ketiga cenderung kaku, tetapi tidak karya Windry Ramadhina. Penulis ini selalu berhasil ‘membuai’ pembaca ke dalam ceritanya. Gaya penulisannya rapi, alur yang mengalir, dan yang paling penting: tidak bertele-tele dan mudah dimengerti.

Ada tersebar beberapa sketsa wajah kedua tokoh utamanya, Lana dan Samuel. Sketsa wajah tersebut membantuku dalam ‘berimajinasi’ tentang tokoh dikala aku menikmati cerita ini.

Meski begitu, ada beberapa ‘hal’ yang menurutku kurang. Mungkin ide cerita?
Aku tidak tahu.
Hanya saja, tidak seperti karya-karyanya yang lain, jalan cerita dalam buku ini sedikit membuatku bosan. Mungkin karena konflik yang ‘Klise’?

Overall, aku tetap menikmati cerita ini, sampai akhir. Aku berkata bahwa cerita yang disuguhkan sedikit membosankan. Benar? Yah, tetapi, hanya ‘sedikit’. Porsinya sedikit. Tidak sampai membuat aku ‘stuck‘ di pertengahan buku.

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak

22544789

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Aditya Mulyo
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2014
Tebal: 278 hlm.
ISBN: 9797807215
Format: Paperback

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

REVIEW:

Pada awalnya, aku benar-benar tidak tertarik dengan buku ini. Meskipun buku ini cukup populer di para blogger buku, begitupula di goodreads. Banyak user yang memberi bintang tinggi untuk buku ini. Hanya saja, aku tidak tertarik, setidaknya, begitu pada awalnya. Alasan kenapa aku tidak tertarik mungkin karena judul yang diambil, Sabtu Bersama Bapak. Selain judul, sinopsis sampul belakang juga kurang menonton. Terlalu flat, atau begitulah menurutku pada awalnya.

Membeli dan membaca buku ini benar-benar tidak ada dalam rencanaku awalnya. Bulan lalu, aku pergi ke pameran buku yang diadakan Gramedia di kotaku (mengingat tidak adanya toko buku Gramedia di kotaku). Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku datang ke pameran terserbut. Hanya saja, novel fiksi dalam pameran tersebut sangat sedikit, banyak sekali novel fiksi yang sudah kubeli maupun kubaca. Maka dari itu, sebagai opsi terakhir, aku membeli Sabtu Bersama Bapak. Buku yang ‘ceritanya’ sangat diluar ekspetasiku. Seperti kata Ika Natassa, Sabtu Bersama Bapak deserves a shoutout!

Jujur saja, aku belum pernah membaca buku karya penulis ini sebelumnya. Singkat kata, penulis ini benar-benar penulis baru untukku.

Sabtu Bersama Bapak mengangkat tema kekeluargaan diselipi berbagai konflik yang menyerang tokoh-tokohnya.
Sabtu Bersama Bapak mengangat Satya, Cakra, Bapak dan Ibu Gunawan sebagai tokoh utama. Sebenarnya, tokoh ‘bapak’ disini tidak berperan langsung. Maksudnya, peranannya tidak langsung. Hanya saja, tokoh ‘bapak’ sangat mendominasi cerita. Tanpa karakter ‘bapak’, mungkin saja cerita ini tidak akan terbentuk.
Bapak meninggal karena kanker yang mengerogotinya. Bapak meninggal disaat Satya dan Cakra masih muda. Hanya saja, Bapak membuat sebuah inovasi. Sebuah ide. Ide yang membuat ‘Bapak’ selalu hadir didalam hidup mereka meskipun sudah berpulang.
Sabtu Bersama Bapak menceritakan tentang kehidupan-kehidupan tokohnya. Ada Satya yang tampan tetapi gila kesempurnaan. Ada pula Cakra yang sedang mencari cinta.

Kewajiban suami adalah siap lahir dan batin. Ketika Bapak menikah tanpa persiapan lahir yang matang, itu artinya batin Bapak juga belum matang. Belum siap mentalnya. Karena Bapak gak cukup dewasa untuk mikir apa arti dari ‘siap melindungi’. – Pak Gunawan

Nah, Satya memang tampan, ia juga sudah berkeluarga dengan istri yang cantik dan tiga orang anak. Satya juga memiliki perkerjaan yang menjanjikan. Hanya saja, Satya memiliki karakter yang tidak menyukai kekurangan. Ia mau segalanya terlihat sempurna. Ia sering mengeluh masakan istrinya yang tidak selevel ibunya, anaknya yang tidak pandai matematika, anaknya yang tidak bisa berenang. Meskipun begitu, Satya memiliki istri yang sabar. Hanya saja, kesabaran seseorang selalu ada batasnya.
Dalam mengatasi permasalahan di rumah tangganya, Satya mendengarkan nasehat dari bapak. Bapak selalu berhasil menjadi ‘guru’ dalam segala hal. Belajar menjadi suami dan bapak yang baik.

Disisi lain, Bapak Gunawan memiliki putra kedua. Namanya Cakra. Jika konflik yang dialami tokoh Satya cukup sensitif, konflik yang dialami Cakra cukup mengalir dengan tentang. Juga diselipi beberapa humor yang sukses membuatku terbahak. Cakra sudah bekepala 3… dan.. masih jomblo. Lalu, ia bertemu Ayu.

“Kata Bapak saya… dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu.”

“…”

Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

s

Aku sangat menyukai sampul dari buku ini. Unsur kekeluargaannya sangat terasa. Ditambah lagi warna latar yang memberi rasa ‘adem’.

Cerita ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Dengan alur yang maju. Dibumbui banyak sekali kata-kata manis, tapi nggak sampai diabetes. Penulis juga ‘menyuguhkan’ latar tempat yang berbeda untuk setiap tokohnya.

Aku benar-benar menyukai ‘ide cerita’ ini. Sangat… em, bikin terbawa suasana. Menghanyutkan. Emosi yang dirasakan tokoh benar-benar terasa.

Overall, aku sangat menyukai cerita ini! Lima bintang! Unsur kekeluargaannya sangat terasa. Diselipi humor dan romansa. Cocok untuk semua kalangan yang ingin ‘merasakan’ banyaknya unsur dalam cerita yang melebur dan menciptakan sebuah karya bagus.

By the way, buku ini akan segera diangkat ke layar lebar. Kabarnya, mereka juga akan syuting di luar negeri! *excited!! Untuk itu, aku berdoa supaya filmnya tidak akan mengecewakan pembaca :)!

[Book Review] Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

25623876

Judul: Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 276 hlm.
ISBN: 9797808165

Kau percaya masa depan masih memiliki kita?”
“Akan selalu ada kita. Aku percaya.”

NANTI tidak bisa begitu saja menoleh dan pergi dari masa lalu meskipun ia sudah berkali-kali melakukannya. Terakhir, ia mengucapkan selamat tinggal dan menikah dengan lelaki yang kini berbaring di makamnya itu.

Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.
Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.

Masa lalu, bagiku, hanyalah masa depan yang pergi sementara.

Namun, ada saatnya ingatan akan kelelahan dan meletakkan masa lalu di tepi jalan. Angin akan datang menerbangkannya ke penjuru tiada. Menepikannya ke liang lupa. Dengan menuliskannya, ke dalam buku, misalnya, masa lalu mungkin akan berbaring abadi di halaman-halamannya.

Maka, akhirnya, kisah ini kuceritakan juga.

REVIEW:

Buku ini sangat unik, setidaknya begitu menurutku. Mungkin karena aku belum pernah membaca buku yang seperti ini. Sebenarnya, dimana letak keunikannya? Mari kita bahas!

Pertama, tentu saja, judulnya sangat unik! Bagaimana bisa Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi dijadikan sebuah judul dari novel? Pada awalnya, aku sangat penasaran dengan isi dalam buku ini. Mungkin karena aku melihat judulnya (biasanya, sebuah buku dapat menentukan ‘tema’ , ‘ciri khas’, atau bahkan ‘konflik’ dari ceritanya), lalu, setelah aku menyelesaikan cerita di dalamnya, aku terheran-heran dengan judulnya. Menurutku, judulnya sama sekali tidak berhubungan dengan ceritanya (atau mungkin, hanya aku yang kurang ‘menangkap’ isi cerita?). Lalu, jika penulis buku ini membaca postinganku ini, aku ingin bertanya satu hal. Kenapa berjudul ‘Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi’?

Kedua, ‘penulis’ hadir di dalam cerita! Whoa, ini apa maksudnya?
Gini ya, seperti yang aku katakan tadi, jadi ya.. tokoh utama dalam novel ini mengenali seorang penulis yang bernama M Aan Mansyur (Ini kan nama penciptanya? Hahaha) Sebenarnya sih ya, ‘hadir’ di sini bukan dalam artian mengambil ‘peran’ atau sekedar bertemu dengan tokoh utama. Kata ‘hadir’ maksudnya nama penulis disebutkan di sebuah kesempatan saat tokoh utama pria berbicara dengan tokoh utama wanita.

Lalu, yang ketiga, prolog dari buku ini dibuka oleh ‘kenalan’ dari si penulis cerita. Aduh, gimana ya jelasinnya. Tokoh utama (tokoh fiksi) juga seorang penulis. Aduh, gimana jelasinnya yah.. Gini ya, awal-awal aku membaca buku ini juga sempat bingung. dibuat bingung oleh prolognya. Sempat terlintas kalau buku ini buku non-fiksi. Eh, ternyata fiksi, memang. (Eh, nggak tahu, deh!) Singkatnya, buku ini dibuka dengan prolog yang sangat ‘menjanjikan’. Menjanjikan gimana sih? Yuk, langsung aja baca buku ini!

Yang terakhir. Soal ‘penamaan’ para tokoh. Penulis benar-benar ahli dalam memberi ‘nama’ untuk tokoh fiksinya. Bahkan, ‘nama’ dari tokoh fiksi dalam novel ini bikin adem banget! Entah kenapa. Mungkin karena aku mendapati ‘makna’ dari nama tersebut (meskipun nggak benar-benar ngerti) 
Sedikit bocoran: tokoh utama pria bernama Jiwa, tokoh utama wanita bernama Nanti. Sebenarnya, salah satu penyebab aku sedikit ‘susah’ mengerti jalan cerita buku ini, (pada awalnya) adalah karena nama-nama dari tokoh-tokoh dalam cerita yang sedikit ‘istimewa’.

Penulis juga sangat ahli dalam per-alur-an. Alur maju-mundur. Alurnya sangat cepat. Dari masa kanak-kanak, hingga dewasa. Ada beberapa karakter pendukung dalam buku ini. Ada seorang karakter pendukung yang aku rasa ‘mendukung’ banget untuk tokoh utamanya. Jelasnya, panutan untuk tokoh utamanya. Panutan yang mengajarkan bahwa ‘Cinta tak harus memiliki.’

Perempuan adalah keindahan yang tersimpan dan selalu hidup di kepala laki-laki seperti kita. Tidak akan mati oleh mata pisau waktu. 

Ah, ya. Dalam postingan kali ini, aku tidak akan membeberkan spoiler dari buku ini. Dibalik semua kelebihan-kelebihan yang aku tuliskan diatas. Ada sesuatu yang menurutku kurang aku kira cerita yang disampaikan penulis sangat sederhana. Konfliknya juga sederhana, tidak begitu sensitif. Bahkan, kadang aku merasa tema cerita yang seperti ini akan bosan (meskipun aku tidak begitu yakin tentang temanya), tapi.. aku pikir aku harus menilai ‘keahlian’ dalam penulisan yang dimiliki penulis ini. M Aan Mansyur benar-benar super! Aku jatuh cinta dengan gaya penulisannya! Buku ini juga dibanjiri oleh kata-kata yang bikin nyangkut di hati. 

Overall, aku merekomendasikan buku ini pada kalian semua yang menyukai bahan bacaan yang ringan!

[Book Review] Almost is Never Enough

25603085

Judul: Almost is Never Enough

Penulis: Sefryana Khairil

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2015

Tebal: 338 hlm.

ISBN: 9797808149

Ada hati yang kujaga agar tak jatuh.
Namun, saat di dekatmu, seringnya ia tak patuh

AL
Telah kehilangan orang yang kita sayang adalah persamaan kita.
Kita saling berbagi rasa sakit setelah kepergiannya.
Ketika aku menginginkan lebih, aku tahu ada yang salah.
Namun, aku tak mampu terus menjaga jarak denganmu.
Melihatmu dari jauh saja rasanya tak cukup.
Jika benar ini cinta, tepatkah ia datang kali ini?

ELLA
Mewujudkan keinginan orang yang kita sayang
tentu itu akan kita lakukan–apa pun taruhannya.
Sayangnya, kau justru merebut satu-satunya yang ia miliki.
Membuatmu selalu resah karena rasa bersalah.
Pernahkah kau merasakannya?
Aku tak pernah sengaja menginginkanmu
meski bersamamu adalah cara untuk menggenapkanku.
Jika kita diciptakan untuk bersama,
biarlah waktu yang menelan ragu kita.
Karena entah kapan aku akan bisa mengakui;
bahwa hati tak akan puas jika tidak memilikimu sepenuhnya.

REVIEW:

 

Saat ini, Ella sedang ‘mengandung’ anak dari Al dan Maura. Maura memiliki kelainan pada rahimnya. Rahim Maura lebih kecil dari biasanya. Maka dari itu, kemungkinan Maura untuk memiliki anak kurang dari 5%. Di sisi lain, Maura sangat menginginkan seorang anak. Begitu juga Al. Lalu, Maura dan Al sepakat untuk mencari ‘ibu pengganti’ dan pilihan mereka jatuh pada Ella, sahabat Maura. Ella langsung menyetujui untuk menumbuhkan embrio Maura dan Al dalam rahimnya karena saat itu Ella sedang kesulitan ekonomi, ditambah lagi, Maura merupakan sahabat Ella. Maura dan Al memberikan uang yang cukup banyak dan ditambah dengan semua fasilitas yang di dapat Ella saat mengandung anak mereka.

Belum sempat melihat anaknya lahir kedunia, Maura pergi. Kecelakaan.

Hitam mengenal baik kelam
meski aku merasa mereka sama.
Meski sudah kubiarkan lampu di atas rupamu
terus menyala.

Seperti yang diinginkan Maura sebelum kepergiannya. Maura ingin mereka bertiga (Maura, Al, dan Ella) untuk tinggal bersama-sama di Seattle sampai Ella melahirkan anaknya. Al pun membawa Ella dan anak Ella (bernama Zoey) untuk tinggal bersama. Tentu saja, Ella berpikir dengan sangat keras untuk hal ini. Bagaimana bisa dia tinggal satu rumah dengan suami dari sahabatnya?


Ini kali pertama aku membaca buku dari penulis ini, Sefryana Khairil. Lalu, aku mendapati bahwa aku sangat menyukai tema dari buku ini. Meskipun sedikit sensitif. Ah, mungkin memang benar, kalau aku memang menyukai tema-tema yang cukup sensitif. Mungkin karena lebih bisa ‘nyesekin’ atau ‘baper-in’.

Secara luas, aku rasa karakter yang ditampilkan dari buku ini tergolong sedikit. Sepertinya lebih dari setengah dari lembar pada buku ini hanya menceritakan semua persoalan antara Al dan Ella. Sedikit tentang Liz, adik Ella yang selalu memberikan ‘nasihat’ pada Ella dan teman curhat Ella selain Maura. Tidak lupa diselipkan tokoh ketiga yang bernama Ben(yang tidak benar-benar tokoh ketiga ya. Mengingat perannya sedikit sekali. Tapi cukup kuat untuk membuat Al cemburu dan menyadari perasaannya ke Ella).

By the way, aku sangat menyukai sampul dari buku ini. Sangat gimana yah.. sweet? Heart-warming? Ah, pokoknya suka! Pemilihan judulnya sih bagus, tapi kayaknya kurang ‘klop’ kalau sudah membaca cerita ini. Gimana ya, judul dari sebuah buku menentukan bagaimana cerita akan mengalir. Bener nggak? Tapi, aku rasa Almost is Never Enough nggak terlalu menggambarkan buku ini. Bikin ingat Ariana Grande! Hahaha.

Penulis mengambil latar tempat di beberapa kota di US, seperti Atlanta, NYC, dan Seattle, dan aku merasa ada yang kurang akan hal itu. Mungkin karena sangat sedikitnya penggambaran seperti apa–atau suasana di kota NYC dan Atlanta, tapi aku tidak begitu mempermasalahkan tentang penggambaran kota di Atlanta itu, secara tuh, Atlanta hanya ‘sekedar lewat’ tokohnya tidak mengambil tempat di situ. Hanya saja, Atlanta adalah kota tempat dimana Ella tinggal sebelum Maura menyewakan apartemen di NYC. So, I won’t mind it.

Penulis menuliskan cerita ini dari sudut pandang orang kedua. Seperti biasa, aku akan mengatakan: lebih suka kalau penulisannya dari sudut pandang orang kedua. Lebih mudah ‘terbuai’. Tapi, meski diceritakan dari sudut pandang orang kedua, aku sangat menikmati buku ini. Meskipun tidak dibaca dengan sekali duduk. Setidaknya, buku ini di baca olehku dalam kurang lebih 2 hari. Sudah termasuk cepat ya, soalnya tahun ini ‘minat’ bacaku menurun. Entah kenapa. Eh, nggak sih. Bukan minat baca yang turun, buktinya masih sering aja ninggiin timbunan #plakk.

Overall, aku sangat menikmati cerita dalam buku ini. Berencana untuk membaca buku-buku lain  dari penulis ini!

Ratings: 4.5 of 5 stars.

[Book Review] Orang Ketiga

7992546

Judul: Orang Ketiga

Penulis: Yuditha Hardini

Penerbit: GagasMedia

Terbit: cetakan kesembilan, 2013

Tebal: 246 hlm.

ISBN: 9797803945

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada menatap
kedua mata orang yang kamu cintai,
lalu menemukan bayangan orang lain
terpantul disana.

Jadi orang ketiga bukan sesuatu yang membanggakan.

Namun, hati kadang-kadang terlalu naif pada godaan bernama cinta. Tanpa bisa dicegah, tahu-tahu saja kamu terjebak dalam hubungan segitiga. Kamu berusaha keluar, mencari jalan pulang. Kamu bahkan menumpuk banyak alasan untuk berhenti memikirkannya. Berhenti menginginkannya.

Sayangnya, terlambat… kamu terlanjur mencintainya

REVIEW:

“Bukannya pesimis Anggi sayang, tapi realistis. Kenapa orang merasa sakit saat jatuh? Karena sebelumnya dia nggak pernah berpikir akan jatuh. Dia pikir dia bakal bisa terus berjalan lurus. Kalau kita udah mempersiapkan diri  bakal jatuh, saat jatuh beneran, rasa sakitnya nggak bakalan seberapa.” – Kayla.

Anggi mencintai teman sekantornya, Angga. Meskipun sudah mengetahui bahwa Angga sudah mempunyai pacar, Anggi tidak menghiraukan itu. Alasannya klise, sudah terlanjur jatuh cinta.

Angga juga mencintai Anggi, mungkin tidak sebesar cinta Anggi padanya. Pernah sekali, Anggi meminta Angga untuk memutuskan Ratri. Dan… tahukah apa yang dikatakan Angga? Aku. Tidak. Bisa. Kedua keluarga sudah saling mengenal. Sulit menentukan waktu yang pas.

Angga benar-benar memiliki bakat alami dalam berselingkuh. Meskipun selalu mengutamakan waktunya bagi tunangannya, Ratri, Angga selalu membagi waktu untuk berselingkuh dengan Anggi. Angga juga tidak ‘berlaku’ mencurigakan di depan Ratri. Sampai-sampai, suatu ketika, saat perusahaan mereka mengadakan wisata karyawan ke Bali, Angga dan Anggi kepergok teman mereka, Maria. Dan untungnya, Maria bisa menjaga rahasia tersebut.

Di sisi lain, ada Rudi. Rudi sudah dianggap sebagai kakak laki-laki Anggi sendiri. Hal yang tak terduga ialah, Rudi menyatakan bahwa ia mencintai Anggi! Bahkan, di saat-saat Anggi sudah menyerah (belum benar-benar menyerah), katakanlah, Anggi mencari pelarian dengan menyetujui untuk berpacaran dengan Rudi, Rudi segera membahas tentang pernikahan! Dan… disaat ayah dan ibu Anggi sudah menyetujui mereka, Rudi malah terlihat berpikir lagi dua kali.

Pada akhirnya, kepada siapakah hati Anggi akan berlabuh?

“Gue cuma mau lo ingat satu hal. Sebuah hubungan tidak cuma butuh cinta.”

Ini kali pertama aku membaca karya penulis ini. Yuditha Hardini.  Penulis menuliskan cerita dari sudut pandang orang kedua. Hanya saja, tidak kaku.

Menurutku, judul dan tema dari buku ini sangat sensitif. Atau, bisa disebut ‘pada awalnya’ aku ‘merasa’ tema buku ini pasti sangat sensitif. Hanya saja, setelah aku tiba di konflik awal, aku menemukan bahwa cerita ini tidak se-sensitif yang aku kira. Kenapa?

Aku selalu mengira (pada awalnya), jalan cerita dari buku ini adalah: pemeran utama wanita/pria yang menjadi orang ketiga dari sebuah pernikahan. Dan ternyata, yang kudapatkan adalah: pemeran utama wanita yang menjadi orang ketiga dari (masih) sebuah hubungan. Meski sudah bertunangan.

Pada cerita ini, aku menyukai tokoh sampingannya, Kayla. Kayla merupakan sahabat Anggi. Kayla memiliki karakter yang sangat bijak dan selalu berpikir lebih tentang sesuatu. Suka mengemukakan tentang hal-hal yang ‘kemungkinan’ terjadi dan filsofi-filsofinya. Sedangkan, si tokoh utama, Anggi, sangat… Uh, aku tidak menyukai karakter Anggi. Anggi sangat tidak bisa ‘mengatur’ perasaannya. Sampai-sampai, pada suatu titik, aku merasa bahwa Anggi sedikit murahan. Penulis menggambarkan bahwa Anggi adalah murid yang pintar di masa sekolahnya, hanya saja, Anggi ‘bodoh’ dalam urusan percintaan maupun pacaran. Sudah tahu Angga sudah punya tunangan, masih mau saja! uh!

Jujur saja, buku ini tidak pernah ‘berada’ pada daftar keinginanku. Hanya saja, beberapa bulan yang lalu, aku mengunjungi salah satu toko buku di kota Medan dan menemukan buku ini. Ah, penyakit lama pecinta buku selalu begitu. Judul, sinopsis, ataupun cover yang menarik selalu berada di timbunan.

Bicara soal cover, aku menyukainya. Covernya sangat simpel! Ada corak-corak warna putih yang menggambarkan sebuah gitar. Sebagai informasi, Angga merupakan anggota band kantornya spesialis pemain gitar. Dan, begitu pula Anggi yang jatuh cinta dengan Angga karena melihat Angga tampil dengan memainkan gitarnya.

Overall, aku sangat kesal dengan sikap-sikap Anggi. Anggi yang putus-balik terus sama Angga. Begitupula Angga yang tidak bisa memperjuangkan cintanya. Ada pula Rudi, yang malah khawatir setelah ‘mendapatkan’ restu dari orangtua Angga.

Ratings: 3 of 5 Stars.