[Book Review] Gerbang Dialog Danur

25191081

Judul: Gerbang Dialog Danur
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Terbit: 2015
Tebal: 224 hlm.
ISBN: 6022201500

Jangan heran jika mendapatiku sedang bicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu—jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukan. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick dua sahabat yang sering berkelahi, alunan lirih biola William, dan tak lupa; rengekan si Bungsu Johnsen.

Jauh dari kehidupan “normal” adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih, yaitu kebersamaan selamanya. Aku tak bisa memberi itu. Aku mulai menyadari bahwa hidup ini bukan hanya milikku seorang….

Namaku Risa. Aku bisa melihat ‘mereka’.

REVIEW:

Jiwaku sudah hilang, tak bisa lagi disebut manusia. Tapi kini aku merasa jauh lebih hidup daripada saat aku hidup dulu. Aku bahagia, mungkin aku adalah jiwa mati paling bahagia yang pernah ada.- Will

Secara keseluruhan, buku ini adalah sebuah novel. Tetapi, tiap babnya memiliki ‘judul’ yang berbeda. Bukan hanya judul yang berbeda, tapi ‘tokoh’ yang diceritakan juga berbeda. Cerita ditulis dari sudut pandang orang pertama, setiap babnya.

Pada bagian prolog–atau bisa disebut saja pada bagian awal, berjudul Gerbang Dialog Danur, ‘perkenalan’ oleh Risa. Saat tiba di bab (bisa kubilang bab pertama) yang berjudul Anjung Temayun, disana kita akan mulai ‘mengerti’ tentang bagaimana nantinya cerita ini akan mengalir.

Risa memiliki sebuah kemampuan dimana kemampuan itu termasuk ‘kemampuan istimewa’. Risa dapat mendengar dan melihat yang mereka tidak dapat lihat. Hantu.

Sejak kecil, Risa memiliki banyak teman. Hanya saja, teman-teman Risa itu bukanlah jenis ‘makhluk’ yang sama dengan Risa. Mereka adalah William si pemain biola, Peter, Hans dan Hendrick yang narsis dan sering bertengkar, serta Janshen si bungsu dengan gigi ompongnya.

Jika pada bab satu kita disuguhkan tentang ‘cerita’ Risa dan teman-teman hantunya di rumah neneknya, pada bab ke dua, kita akan ‘diajak’ untuk kembali ke masa lalu. Ke masa saat bangsa Belanda masih menjajah tanah air. Ke masa dimana teman Risa, Peter masih hidup. Kala itu, hidup Peter sangat bercukupan. Ayahnya adalah anggota militer yang sangat gagah. Peter juga memiliki ibu yang sangat anggun. Terlebih, Peter memiliki ‘pengasuh’ orang pribumi asli, Siti yang sangat menyayanginya. Hanya saja, di umur 14 tahun, Peter harus kehilangan nyawanya karena orang Jepang yang mereka sebut– Nipon. Bab ini diberi judul Sendiri di Atas Bentala.

Kehidupan Hans dan Hendrick pun di ceritakan pada bab-bab selanjutnya. Bab ini diberi judul Berdecit Bersama Hans dan Hendrick. Tidak banyak yang diceritakan pada bab ini. Kebanyakan adalah potongan ‘curhat’ mereka pada Risa. Seperti biasa, mereka ‘selalu’ bertengkar. Hanya saja, pada bab ini, kita di’beri’ tahu tentang hal-hal yang mungkin ingin kita tahu= Apa yang dilakukan Hans dan Hendrick sebelum mereka mati? Hans jago membuat kue, Hendrick ‘pernah’ populer di sekolahnya.

Cuping Wajah William, bab ini diberi judul seperti itu. Seperti yang dikatakan judulnya, bab ini bercerita tentang kisah di balik sosok pendiam Will. William.

Ada dua jenis manusia yang terlahir ke dunia ini. Manusia yang beruntung dan kurang beruntung. Kita bisa menilai sendiri, masuk di kategori manakah kita?

William beruntung karena ia lahir di tengah keluarga bangsawan kaya raya. Namun, Will juga bisa di sebut kurang beruntung, karena ia hanya dibesarkan oleh harta benda orangtuanya. Ayahnya sangat memuja ibunya. Ibunya sangat peduli dengan gaya pakaian, pergaulan, teman-teman kaya, dan harta benda. Banyak teman ibu Will yang ‘memasukkan’ anak mereka ke sekolah musik ternama. Bagi ibu Will, menyekolahkan anak ke sekolah musik ternama juga ‘merupakan’ salah satu gaya hidup. Maka dari itu, tidak ingin ketinggalan, ibu Will juga menyekolahkan anaknya ke sekolah musik. Pada akhirnya, Will bertemu dengan biola. Dengan biola, ia bisa mengungkapkan ‘rasa’ yang dulunya hanya melintas di kepalanya. Dengan musik, ia lebih mudah mengekspresikan emosinya. Biola tersebut ia beri Nouval.

Pada bab ke-enam (atau bisa dibilang begitu), sebagai bab penutup untuk ‘perkenalan’ tokoh utama hantu (bisa dilihat pada cover) diberi nama Filsofi Gigi. Bab yang cukup singkat, sebenarnya. Seperti judulnya yang mengungkit-ungkit tentang gigi, seperti yang kita ketahui, si bungsu Janshen kehilangan giginya dan menyebabkan ia dipanggil ‘Ompong’. Nah, pada bab ini ‘kita’ akan diberi tahu ‘alasan’ kenapa Janshen kehilangan giginya? Kala itu, saat ia sudah hampir ditebas oleh Nippon, ia sempat terjatuh dan kehilangan gigi tengahnya.

Pada bab selanjutnya, konflik utama akan mulai ‘tersajikan’. Pada awalnya, Risa sudah berjanji pada Peter bahwa ia akan mengakhiri hidupnya agar bisa ‘bersama-sama’ dengan mereka (mengingat bahwa Risa adalah manusia yang akan terus bertumbuh). Kala itu, Risa berjanji, bahwa pada ulang tahun ke-14nya, sama seperti umur di mana Peter kehilangan nyawanya, Risa juga akan ‘meninggalkan’ dunia ini. Hanya saja, banyak hal-hal yang ‘diluar’ kendali. Risa merasa bahwa ia tidak dapat meninggalkan dunia ini. Maka dari itu, Peter marah dan semenjak itu, Peter dan kawan-kawan tidak pernah lagi mau menampakkan diri di depan Risa. Meski mereka masih tinggal di satu rumah yang sama dengan Risa.

Jalan cerita pada buku ini masih panjang. Setelah Risa ditinggal oleh teman-temannya, Risa mulai bertemu dengan ‘Makhluk’ lain. Berbeda dengan Peter dan keluarganya yang tinggal di rumah Risa yang wajahnya cenderung ‘masih bisa dilihat’, makhluk yang Risa temui akhir-akhir ini seringkali mengganggunya dan menampakkan wajah seram mereka. Ini membuat Risa menyesal dan merindukan teman-temannya.

Pada akhirnya, Risa tetap tumbuh dewasa, dan teman-temannya tidak. Apakah, setelah sekian lama, Peter dan teman-temannya akan kembali menampakkan diri di depan Risa?

Setelah cerita inti tentang penggenalan karakter dalam buku ini, masih banyak pengenalan-pengenalan lainnya yang ‘menarik’ hati. Hantu-hantu yang Risa temui kebanyakan meminta pertolongan dengan ‘curhat’ tentang apa yang mereka alami saat mereka hidup dulu. Ada Samantha yang mati karena penyakit yang mengerogotinya, ada Asih yang meninggal karena bunuh diri akibat tidak bisa menanggung aib, ada juga Elizabeth yang bunuh diri karena tidak tahan menjadi ‘pemuas’ nafsu tentara Nippon, persahabatan sehidup semati Jane dan Sarah, Teddy dengan perjuangannya untuk bertahan dari tentara Nippon.

Sebagian besar hantu yang diceritakan memiliki kisah yang kelam, sebagian tidak. Mungkin bagian yang ‘kelam’ terdapat pada bagaimana mereka mati, bukan bagaimana kisah hidup mereka dulunya.

Pada awalnya, aku tidak begitu ‘peduli’ tentang adanya kesamaan nama antara penulis dengan tokoh utama dalam cerita ini. Setelah aku menelah lebih lanjut, ternyata buku ini juga memiliki unsur ‘non-fiksi’. Ya, buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis.

Aku tidak pernah menyukai genre misteri ataupun horror. Bukan karena itu bukan ‘porsi’ku. Aku sangat menyukai film-film horror, terutama film dengan ‘zombie’ di dalamnya. Hanya saja, genre horror yang ditawarkan penulis indonesia seringkali melenceng dari topik utamanya, misalnya genre Horror yang biasanya ‘menyelipkan’ sedikit unsur romance menjadi ‘menyelipkan’ sebagian besar unsur romance yang kadang membuat pembaca… ngeh..

Buku ini juga menyelipkan unsur-unsur romance. Tapi, sesuai dengan genrenya, buku ini tidak ‘begitu-banyak’ menyelipkan tentang hal-hal tersebut (untunglah).

Jujur saja, cover dari buku ini sangat ‘pas’ untuk cerita yang ditawarkan di dalamnya. Hanya saja, aku sempat ‘ngeh’ saat melihat judulnya. Gerbang Dialog Danur. Lalu, saat aku memutuskan untuk membaca dan menyelesaikan buku ini, aku masih tidak mengerti, mengapa Gerbang Dialog Danur? Memang benar, pada halaman 195, aku menemukan ini: Danur adalah air berbau busuk yang keluar dari mayat yang mulai membusuk. Lalu kenapa Gerbang? Sebenarnya penulis sudah menjelaskan banyak hal tentang Gerbang Dialog ini pada awal buku, mungkin aku saja yang tidak mengerti.

Aku menyukai gaya penulisan Risa Saraswati. Meskipun tidak memberi kesan ‘mellow’ (Ah iya, ini novel horror), aku tetap bisa menikmati novel ini. Mungkin karena novel ini ditulis dari sudut pandang orang pertama.

Overall, sebagai pembaca yang tidak begitu ‘berdedikasi’ pada novel bergenre horror, aku menyukai buku ini! Meski begitu, masih banyak hal yang tidak masuk akal pada buku ini 🙂

[Book Review] Swiss: Little Snow in Zurich

18141955

Judul: Swiss,  Little Snow in Zurich
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Bukune
Terbit: Juni 2013
ISBN: 602-220-105-5
Di ZĂĽrich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia.

“Ich liebe dich,”—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—
Yasmine, semoga akhir kisahmu indah.

REVIEW:

Temui Jasmine dengan kamera yang tergantung di lehernya di dermaga yang berbaring kukuh di tepi danau Zurich. Lalu, temui seorang laki-laki di ujung dermaga tersebut. Kedua orang yang sering saling bertemu di dermaga tersebut tapi tidak saling menyapa, Yasmine selalu malu untuk menyapa laki-laki tersebut duluan. Sampai suatu saat, laki-laki itu menyapa Yasmine dan memperkenalkan namanya sebagai Rekel. Rekel Steiner.
Di bawah salju yang berjatuhan, kisah mereka dimulai. Dimulai pada musim dingin, dan diakhiri oleh musim dingin.

https://i1.wp.com/images.gadmin.st.s3.amazonaws.com/n12377/images/buehne/Zuerichsee-1.jpg

“Melangkahlah, temukan kebahagiaanmu, dan jangan lupa berdoa untukku.”
Prolog dan Epilog pada buku ini sangat unik. Point of View pada prolog dan epilognya adalah Snow. Salju. Dibuat seolah-olah Salju adalah hidup, salju yang ikut menyaksikan kisah Rekel dan Yasmine.
Tokoh pada buku ini tidak terlalu banyak, tokoh yang ditampilkan hanya seputar orang-orang yang berhubungan dengan kedua tokoh utama. Seperti sahabat Yasmine, Dylan dan Elena. Atau pacar Rekel, Reene.
Buku ini merupakan buku pinjaman dari teman. Paris: Aline juga sudah menanti untuk dibaca olehku. Sejak kecewa pada seri STPC seperti Casablanca. Aku sudah memutuskan untuk tidak membeli serial tersebut. Tapi, buku ini membuat aku ingin membaca beberapa kisah seri STPC lagi.
Buku ini menyajikan cerita yang cukup bagus, meski mainstream. Hal tersebut–untungnya tertolong oleh gaya penulisan penulis yang rapi, menggunakan kata-kata yang bagus, mengingatkanku pada cara penulisan Windry Ramadhina dan Winna Efendi. Hanya saja, kurasa lingkaran cerita dalam buku ini terlalu sempit. Serta penulis kurang menyajikan tentang kuliner di Swiss. (Di Casablanca, Dahlian menyajikan banyak tempat wisata dan kuliner.), penulis di sini hanya banyak menyabarkan tentang tempat wisata, itu pun kebanyakan dermaga di danau Zurich dan pegungungan. Lalu, pada cover halaman terakhir, aku menemukan sebuah fakta. Fakta bahwa penulis adalah seorang pria. Dan ini membuat aku memberikan poin plus untuk penulis.
Cover dari buku ini sangat manis. Sketsa kota Zurich, mungkin? Beberapa skesta tentang tempat-tempat wisata di Zurich juga dijabarkan dalam buku ini.
Herannya, aku tidak memiliki tokoh favorit (mengingat bahwa aku selalu memiliki tokoh favorit di setiap buku yang aku baca. Atau mungkin aku kurang ‘terbawa’ ke dalam cerita pada buku ini?)
Alasan kenapa aku tidak menyukai tokoh Yasmine:
1. Yasmine terlalu naif, masik mengejar-ngejar orang yang sudah jelas-jelas menyakitinya.
2. Yasmine terlalu bodoh untuk memilih. Dylan adalah laki-laki yang baik, santun, dan yang pasti, ia menyukai Yasmine.
Alasan kenapa aku tidak menyukai Rekel:
1. Rekel tidak berpikiran secara Rasional. Bagaimana ia bisa menuduh orang lain yang membuat adiknya meninggal padahal adiknya meninggal karena kanker getah bening?
2. Rekel adalah laki-laki yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu.
3. Rekel Munafik.

 

Overall, aku cukup menikmati buku ini. Meskipun sempat bosan pada pertengahan buku, aku tetap melanjutkan membaca buku ini sampai habis. Buku ini cocok untuk orang-orang yang menyukai traveling. Membaca buku ini membuat aku ingin mengunjungi kota Zurich. Menikmati Danau Zurich dari dermaga.

Ratings: 3 of 5 Stars

Book Review: Cinta. (Baca dengan titik)

18376379

 

Judul: Cinta.
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Bukune
Terbit: September 2014
Tebal: 324 hlm.
ISBN:  6022201098
 Mengapa cinta membuatku mencintaimu,
ketika pada saat yang sama
kau mencintai orang yang bukan aku?

Ketika telah membuka hati,

aku pun harus bersiap kehilangan lagi.
Apakah setelah cinta memang harus selalu ada
air mata dan luka hati?

Kalau begitu,

bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja.
Cinta.
Tanpa ada yang lain setelahnya.
Kita lihat ke mana arahnya bermuara.

 

REVIEW&PLOT:

Read from April, 27 to June, 7 2014. Begitu reading status yang aku temukan di akun GoodReadsku. Dan cukup terkejut, gimana aku bisa baca sebuah buku sampai lebih dari 1 bulan?
READING PROGRESS
04/27
marked as:
currently-reading
04/27
page 40
12.0%
“Zaman siti nurbaya, heh?”
05/06
page 92
28.0%
“lagi gak mood baca+ D-3 UN :)”
06/05
page 204
62.0%
“Just like another woman, this one is also an easy prey – Endru”
06/07
marked as:
read
To be honest, this book kinda boring. For me.
Sebuah peristiwa besar yang mengguncang hidup seseorang bisa sekaligus mengoyahkan prinsip atau cara pandang terhadap sesuatu yang sebelumnya ia pegang dengan kuat. -P.131
Perpisahan kedua orang tua, hidup dengan Ayahnya, Single Parent.
Itulah yang terjadi pada Nessa. Ibu Nessa pergi meningalkan Nessa dan Ayahnya hanya untuk hidup bersama dengan laki-laki lain. Dan itulah yang membuat Nessa membenci Ibunya. Dan anti pada laki-laki.
Sampai ia bertemu Demas.
Perlahan, ia mulai membuka hatinya untuk pria lagi.
Hanya saja, ia membuka hatinya pada seseorang yang salah, hatinya membuat sebuah kesalahan. Ia membuka hatinya pada pria yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain. Nessa sadar bahwa ini salah, tapi hatinya sudah terlanjur jatuh cinta pada Demas, pria yang sudah memiliki tunangan bernama Ivon.
Ini membuat aku kurang menyukai kedua pemeran utama [Nessa dan Demas]. Mereka jelas-jelas menjalani sebuah ‘Affair’. Tapi penulis menuliskan segala sesuatunya dari sisi Nessa dan Demas, juga Endru. Tidak ada dari sisi Ivon. Oya, penulis menuliskan alur dari sudut pandang penulis sendiri. Saya yakin, jika penulis menuliskan dari sisi Ivon, para pembaca akan membenci Nessa dan Demas. Tapi, sayangnya penulis tidak melakukan itu.
Hal yang tersulit untuk dilakukan, bahkan mungkin mustahil, adalah mencoba membohongi perasaan sendiri. – P.189
Jelas-jelas Bian, sahabat Nessa telah memperingatkannya untuk menjauhi Demas, karena hubungan itu adalah sebuah kesalahan. Tapi Nessa tidak bisa. Ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
Agak heran dengan ‘karakter’ Bian di sini. Penulis menggambarkan Bian sebagai wanita yang tidak ‘innocent’, sedikit liar. Tapi kenapa Bian masih bisa mengultimatum Nessa tentang hubungan gelap? Sedangkan Bian saja, dulu (sekarang udah nikah) memiliki banyak stok pria. Aneh kan? Sebenernya karakter Bian ini baik atau pura-pura baik a.k.a ALIBI?
Lalu, Endru, pria yang dijodohkan dengan Nessa mulai menyadari bahwa ia mencintai Nessa. Endru adalah tipe pria yang tidak mau berkomitmen. Endru tidak pernah melibatkan perasaan saat ia menjalin hubungan dengan wanita lain. Tanpa perasaan, hanya persoalan tubuh.
Endru memiliki masalah yang sama dengan Nessa, hanya saja sedikit berbeda. Ayah Endru yang pergi meninggalkan Ibunya.

 

Setelah aku membaca buku ini, aku bisa menarik dua kesimpulan:
1. Penulis orang yang sangat puitis [Karena Nessa suka membaca buku berisi kumpulan puisi dan juga gemar menulis puisi ataupun haiku.
2. Penulis orang yang suka menggambarkan sesuatu dengan sedetail-detailnya.
Contoh:
Nessa mengangguk-angguk, lalu melempar pandangan ke sekeliling Ngarasopuro. Taman kota yang sebenarnya  hanya berupa area pedestrian yang luas di kiri kanan jalan raya yang cukup panjang. Namun, area pedestrian itu diberi bangku dan dipasangi lampu jalan yang sangat cantik. Lampu jalan yang dipasang setiap lima meter itu berupa tiang tinggi dengan kap yang berbentuk seperti blaa…blaa…bla…
3. Penulis ‘boros’ tinta dan juga kertas.
Karena saya menemukan kalimat yang sangat tidak Efisien dan Efektif.
Seperti:
Bagaimana jika luka adalah sebuah lingkaran.
Luka yang tidak bermula dan tidak berakhir. Mengelilingi hati dengan jeratan berhiaskan duri. Seperti cincin yang terbuat dari batang bunga mawar. Menusuk dari seluruh sisi. Luka yang tidak mengenal waktu. Luka yang tidak tahu dan tidak pernah mendengar kata berhenti. Luka yang hanya tahu ia ada untuk melukai. Luka yang tidak bisa disembuhkan. Luka yang tidak mau—disembuhkan. Luka yang menolak segala usaha perbaikan. Luka yang menganggap dirinya abadi. Dan memang—ia adalah abadi. Luka yang tidak mengenal kata berpisah. Luka yang selalu bertemu dengan luka lain. Luka yang berkoloni. Luka yang berkumpul dan berumah. Luka yang beranak-pinak, melahirkan luka-luka kecil yang lain. Luka-luka yang baru. Luka-luka yang gembira. Luka-luka yang bahagia karena menjadi jamak, menjadi banyak. Menjadi lebih berkuasa dan lebih merajalela. Luka –luka yang menunggu inangnya menyerah. Menyerah, bertekuk lutut, dan mengakui kedigdayaan mereka. Luka-luka yang berambisi menjadi raja. Raja di dalam hati yang rusak. Hati yang rusak karena si pemilik hati terlalu naif dan berharap. Hati yang berharap karena ia tidak belajar dari kekecewaan.

 

Lalu, bicara tentang Judul

Judulnya terlalu lebay yah (menurut saya, jngn tersinggung)
Bukankah hampir 90% di setiap novel pasti ada kata cinta? Atau kisah cinta?
Judulnya itu terlalu ‘nonsense’ ya,

Menurutku, judulnya lebih cocok ‘Affair’ atau sejenis gituleh, karena kan topik ceritanya tentang ‘perselingkuhan’.

Euw….

Cover? So Far, It’s good!
Simple but elegant

Overall, Membaca buku ini membuat aku teringat pada buku-buku di tahun 90-an. Ciri khas buku tahun 90-an itu adalah, dari 100 halaman, hanya 35 halaman yang mencakup inti-inti dari sebuah cerita. Lalu, pada 65 halaman hanya berisi hal-hal yang tidak penting, seperti penggambaran suasana, tempat, dll.
Dan itu juga terjadi di buku ini.
Menurutku, Bernad Batubara adalah orang yang sangat puitis, pintar menggambarkan sebuah benda/ tempat dengan sedetail-detailnya, tapi entah kenapa saya malah merasa banyak sekali hal-hal yang tidak begitu penting dipaparkan oleh si penulis. Entah sebuah penggambaran yang terlalu panjang, ataupun sebuah penggambaran yang tidak penting.

Ratings: 2 of  5 Stars.