[Book Review] Rintik Tawa

23441611

Judul: Rintik Tawa
Penulis: Rosa Amanda Salim
Penerbit: Elex Media Komputindo
Terbit: 2014
Tebal: 344 hlm.
ISBN: 9786020251042
Jelita merasakan pedih yang luar biasa di saat sang kakak, Jericho, meninggal akibat kecelakaan. Jelita merasa meninggalnya sang kakak akibat dari kelalaian para dokter yang menangani kakaknya. Belum lagi keberadaan sang ayah yang merupakan dokter senior, membuatnya semakin membenci para dokter yang bisa menyelamatkan nyawa pasiennya. Jelita menyimpulkan bawah ini adalah pembunuhan. Dia bertekad untuk menjadi seorang dokter dan menemukan pembunuh kakaknya.
Bima yang mengetahui kepedihan hati Jelita selalu hadir menemaninya. Bersama-sama mengambil sekolah kedokteran dan koas di wilayah yang sama. Tapi apa jadinya kalau Bima menyukai perempuan lain. Belum lagi kehadiran Dokter Edmund yang menghukumnya dengan alasan konyol. Bisakah Dokter Edmund mengisi kekosongan hati Jelita?

REVIEW:

Jelita memiliki ambisi untuk menjadi dokter. Ia berambisi menjadi dokter bukan karena ayahnya yang juga merupakan dokter. Jelita memiliki ambisi untuk menjadi dokter bukan karena ia menyukai profesi itu, sebaliknya, Jelita membenci orang-orang yang berprofesi dokter. Menurut Jelita, dokter adalah seorang pembunuh. Karena kelalaian seorang dokter, Jelita harus kehilangan kakak satu-satunya, selamanya.
Kematian dan kehilangan itu menyakitkan sekali. Benar-benar menyakitkan. Tetapi tidak mungkin menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Maka itu, saya hidup untuk menghilangkan rasa sakit akibat kehilangan. Juga untuk menghilangkan sakit orang lain karena kematian,”

Banner_BacaBareng2015

Jika dilihat dari segi tema, tema yang diangkat sudah ‘cukup’ baik, temanya nggak mainstream. Hanya saja, aku  kurang puas dengan Plotnya. Ada beberapa bagian yang aku rasa terlalu simpel dan tidak masuk akal. Mengapa Jelita menyalahkan dokter?, padahal harusnya Jelita menyalahkan teman kakaknya, Jericko. (Jericko masuk rumah sakit karena kecelakaan adu balap). Lalu, di bagian ‘Ayah Jelita cenderung dingin dan membenci Jelita’ (meskipun hidup dalam satu rumah, mereka tidak saling berinteraksi, Ayahnya sibuk bekerja, pulang-pun tidak bertegur sapa). Belakangan yang aku ketahui, kasus ‘Ayah Jelita cenderung dingin dan membenci Jelita’ berawal karena Ayahnya ‘menyalahkan’ Jelita atas kematian istrinya. (Ibu Jelita meninggal gara-gara melahirkan Jelita). Nah, persoalan ini membuat aku sedikit ‘bahhhhhh…’ Kenapa? Ayah Jelita merupakan seorang dokter spesialis Anestesi. Seorang dokter harusnya punya pikiran yang lebih baik daripada orang lain. Bagaimana bisa seorang dokter dengan ‘pikiran pendeknya’ mem-blame kelahiran anaknya sendiri? Gawd.
…… Begitu juga jam-jam yang sama di hari berikutnya. Praktis, Jelita telah lelah luar biasa secara fisik.
      Setelah menemukan cangkir dengan motif paling netral di antara yang lain, Lily mengisinya dengan air mendidih. Dicarinya bubuk susu di salah satu lemari. Tetapi tak ada bubuk berwarna putih di sana.
…………. Sekali lagi Lily mengerjap-ngerjapkan matanya. Tak mau ambil pusing, Lily mengambil kedua toples itu.
……. Susu atau kopi ya tadi? Jelita tak yakin. ….
Sebenernya, aku itu tipe pembaca yang nggak terlalu perhatian dengan keberadaan typo di dalam suatu cerita. Typo seperti: kesalahan spasi dan huruf masih bisa aku toleransi. Tapii…. kalo typonya udah parah bangettttt…. seperti: PERBEDAAN NAMA TOKOH… itu baru aku nggak bisa toleransi.
(lihat cuplikan singkat di atas) Nama tokoh utamanya: Jelita. Lalu kenapa tiba-tiba ‘berganti nama’ ke Lily? Perbedaan nama Jelita dan Lily itu jauh banget!! Setelah kurang lebih enam baris mengganti ‘nama’, Lily(?) pun kembali bernama Jelita. -_- Ternyata, setelah aku telusuri lebih lanjut, ternyata buku ini nggak ada proofreadernya, cuma editor doang.
Jika kalian adalah pembaca yang cukup jeli. Kalian akan menemukan perbedaan pengucapan nama pada Blurb dan pada reviewku. Ya, Jericho pada blurb buku dan Jericko di reviewku. Nama yang benar adalah: Jericko, artinya: BAHKAN TYPO PUN TERDAPAT PADA BLURB BUKU. Whatttttt….
Tentu saja buku ini memiliki ‘sedikit’ kelebihan.
Dalam upaya mendalami cerita ini, penulis menyertakan banyak istilah kedokteran agar para tokoh-tokohnya terasa ‘benar-benar’ dokter. Aku sampai dibuat terkesan oleh kemahiran penulis dalam menuliskan sebuah scene operasi. Lalu, saat aku membaca biografi penulis di cover belakang buku ini, ternyata penulis memang merupakan dokter. Pada akhirnya, aku kira penulis lebih cocok jadi dokter 😀

 

Ratings: 1.5 of 5 Stars

Advertisements