[Blog Tour] Apapun Selain Hujan – What is Truly Love?

GagasMedia

Tema Blog Tour Apapun Selain Hujan adalah What is Truly Love? 

Jadi, jika ditelaah dari google, banyak sekali arti dari Truly Love. Buku Apapun Selain Hujan juga memuat banyak arti dari Truly Love yang disampaikan secara tidak langsung. Pada bab awal, aku gagal menemukan ‘arti sebenarnya’ dari Truly Love tersebut. Dan, yah… saat menuju akhir, penulis seperti ‘memberi kesempatan’ bagi pembaca untuk ‘mengerti sendiri’ apa itu Truly Love.

Menurutku, Apapun Selain Hujan memberi tahu banyak sekali definisi Truly Love dan salah satunya adalah: Truly Love nggak hanya buat pasangan.

[Baca postingan Review Apapun Selain Hujan]

I was so taken by this story, terutama disaat Faiz dan Wira yang lebih mengutamakan ‘persahabatan’ daripada cinta. Masing-masing dari mereka telah berkorban buat cinta. Memang benar kalau udah berhadapan dengan cinta, kita harus berkorban. Hanya saja, intinya bukan yang itu. Faiz dan Wira sama-sama ‘lebih’ condong ke ‘penyelamatan’ hubungan persahabatan mereka. So sweet, right?20160530111302-1.jpg

Disisi lain, buku ini juga menyiratkan tentang kebimbangan Wira mengenai Kayla dan Nadine sehingga tergagas satu hal: If someone truly loves you, they won’t judge you by your past. Bener nggak sih?

Menurut aku sendiri, Truly Love is complicated.

Aku kurang setuju jika ada yang bilang: Gakpapa kita gak bersama, yang penting kamu bahagia.

Aku merasa kalau si ‘aku’ terlalu berkorban dan dibutakan oleh cinta sejati yang bahkan dia-nya nggak tahu kalau itu cinta sejatinya atau bukan. Bukankah, kalo bener itu cinta sejati, mereka bakal bersama? Emang ada ya yang kasusnya begini: Dia itu cinta sejati gua, tapi nikahnya sama doi.
Mungkin sih ‘aku’ bisa beranggapan kalau ‘dia’ cinta sejatinya yanggg sebenarnya bukan. BIG NO! Mana mungkin cinta sejati kita kecantol di orang?
Mungkin kita cuma terbiasa dengan kehadiran orang itu sampai merasa ‘ada’ yang hilang dan end up: salah mengartikan.
Bener nggak, sih?

Terus, bukankah Truly Love harus diperjuangkan?

 

GIVEAWAY TIME!!!

Rules:

1. Share tentang giveaway ini di twitter dengan hastag #BlogTourASH dan tag @GagasMedia @Authorizuka @viionna_

2. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar (disertai nama akun twitter dan alamat email)

Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?

3. Akan dipilih satu pemenang yang akan mendapatkan 1 eksemplar buku Apapun Selain Hujan.

4Giveaway ini hanya dilaksanakan selama 24 jam. Berakhir pada 31 Mei 2016 jam 2 siang. 

5. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 Juni 2016.

Advertisements

34 thoughts on “[Blog Tour] Apapun Selain Hujan – What is Truly Love?

  1. twitter: @nunaalia
    email: auliyati.online@gmail.com

    Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?

    Tidak setuju!
    Buat aku, kalau cinta ya harus bersama. Kalau tidak bersama, ya bukan cinta namanya. Cinta memang harus berkorban, tapi maksudnya berkorban apapun untuk berjuang mendapatkan cinta itu dan bisa bersama-sama dengan orang yg dicintai, bukan berkorban dengan melepaskannya. Lagi pula apa mungkin dia juga bisa bahagia jika tidak bersama kita yg jg dicintainya?

  2. Julia dwi kartikasari
    @Juliakartika326
    Juliakartika18@yahoo.com

    Setuju. Kalau memang dengan tidak bersama, dia bisa bahagia kenapa nggak? Toh bukankan kita bisa bahagia dengan melihat orang yang kita sayang bahagia? Apalah artinya meskipun bersama tapi dia nggak bahagia? Emang kita bisa bahagia dengan cara itu? Tidak. Dia tidak akan nyaman dan hal itu juga akan menular ke kita, kita tidak akan merasa nyaman. Jadi, lebih baik saling mengerti dengan kemauan kedua pihak dan melakukan keputusan yang bisa membuat kedua belah pihak bahagia. Meskipun dengan cara tidak bersama.

  3. Twitter: @Fian_aulia
    Email: Fianaulia01@gmail.com

    Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita gak bersama, yang penting kamu bahagia?”
    Nggak setuju.

    Alasannya?
    Cinta itu dilandasi rasa perjuangan dan pengorbanan. Mengapa perjuangan saya tulis terlebih dahulu? Bayangkan, kalau kita berkorban dulu lalu berjuang, lalu apa yang akan diperjuangkan? Sedangkan segalanya telah dikorbankan.

    Nah, yang namanya Truly Love itu harus diperjuangkan. Seiringnya waktu, cinta itu akan terlihat, masih patut diperjuangkan atau tidak. Kalau sudah tidak patut, korbankan saja. Berarti bukan cinta sejati.

    Jika belum apa-apa sudah berkorban begitu saja, berarti jelas-jelas bukan Truly Love.

    Istilahnya begini, mendung tak berarti hujan. Cinta bukan berarti cinta sejati. Bukankah sudah digaris bawahi, ‘Cinta sejati akan selalu bersama’.

    Nah, jangan membohongi perasaan sendiri, atau kasarnya terlalu munafik. Cinta bukan sekadar saling membalas hati. Tapi, juga saling memiliki dan menjaga.

    Apa salahnya berjuang, kita akan mendapat sebuah pelajaran berharga dari yang namanya perjuangan. 🙂
    Terima kasih.

  4. Twitter: @Fian_aulia
    Email: Fianaulia01@gmail.com

    Gak setuju.
    Cinta itu dilandasi rasa perjuangan dan pengorbanan. Mengapa perjuangan saya tulis terlebih dahulu? Bayangkan, kalau kita berkorban dulu lalu berjuang, lalu apa yang akan diperjuangkan? Sedangkan segalanya telah dikorbankan.

    Nah, yang namanya Truly Love itu harus diperjuangkan. Seiringnya waktu, cinta itu akan terlihat, masih patut diperjuangkan atau tidak. Kalau sudah tidak patut, korbankan saja. Berarti bukan cinta sejati.

    Jika belum apa-apa sudah berkorban begitu saja, berarti jelas-jelas bukan Truly Love.

    Istilahnya begini, mendung tak berarti hujan. Cinta bukan berarti cinta sejati. Bukankah sudah digaris bawahi, ‘Cinta sejati akan selalu bersama’.

    Nah, jangan membohongi perasaan sendiri, atau kasarnya terlalu munafik. Cinta bukan sekadar saling membalas hati. Tapi, juga saling memiliki dan menjaga.

    Apa salahnya berjuang, kita akan mendapat sebuah pelajaran berharga dari yang namanya perjuangan.
    Terima kasih.

  5. Nama: Mega Widyawati
    Akun twitter: @widy4_w
    Email: mega.wda0206@gmail.com

    Kamu setuju nggak sih, dengan istilah “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?

    Tergantung sih kalo aku. Lihat dulu bagaimana karakter atau sifat orang yang akan menjadi teman hidup untuk bersama itu. Kalau pun dia orang baik yang mampu membuatku merasa bahagia dan mau menerimaku apa adanya, terus terang aku akan pertahankan dia sekuat jiwa dan raga.
    Tetapi kalo dia orang yang,ehem kurang pengertian, nggak sopan, tukang selingkuh pula. Wajar aja aku akan langsung melepaskannya sambil mengatakan ini dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Padahal dalam hati aku langsung hepi bukan main. Dan saat itu juga aku merasakan duniaku menjadi tenang dan bahagia.

    Menurutku, definisi Bahagia itu, adalah bagaimana kita merasa senang, tenang, nyaman dan bisa tersenyum cerah. Kebahagiaan akan ada selama kita sendirilah yang terus berusaha mencarinya sampai dapat, setelah dapat kita harus mempertahankan kebahagiaan itu, selagi kita masih punya kesempatan.

  6. Nama: Bella Pratiwi
    Twitter: @Bella_RNZ
    E-mail: bellaraspati@gmail.com

    Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?

    Terdengar egois tapi aku cenderung memilih tidak setuju. 🙂

    Ada suatu fase dalam hidupmu ketika kamu lebih memilih untuk mengikhlaskan atau kemudian perlahan diikhlaskan.

    Aku sudah berapa kali mencoba untuk mengikhlaskan, membiarkan ‘cinta’ itu lari dari hidupku, menghapus perlahan perasaan yang pernah ada di hatiku, tapi kenyataannya, ‘cinta’ yang pergi tidak bahagia dengan ‘cinta’-nya yang baru.
    Pada dasarnya, cinta itu bisa datang tiba-tiba, ataupun proses. Nikmatin aja prosesnya. Kalau masih dalam proses, jangan dulu mengambil keputusan “nggak papa kamu nggak sama aku, yang penting kamu bahagia”. Karena nggak ada jaminan dia bahagia setelah pergi, dan nggak ada jaminan dia nggak menyesal setelah pergi meninggalkan kita.

    Buat aku, ketika kita menemukan cinta sejati, yang harus kita hadapi adalah berjuang untuk membuat kita dan cinta kita bahagia. Bukan hanya diam saja melihat cinta kita diperjuangkan orang lain. 🙂

  7. Setuju. Terlepas dari jodoh atau tidak jodoh ya. Sebab kalau bicara jodoh suka bingung. Kan susah ditebak mana jodoh yang tepat. Tapi dengan merelakan orang yang kita sayang dengan orang yang dipilihnya, itu berarti kita tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada pasangan. Bahaya kalau sampai kebersamaan didasari paksaan. Dan kita cukup berdoa semoga pilihan dia benar, dan membahagiakannya. Begitu.

    Twitter; @adindilla
    Email: hapudincreative@gmail.com

  8. Akun twitter : @Agatha_AVM
    Alamat email : agathavonilia@gmail.com

    Nggak setuju, bahagia? Nggak bersama? That’s impossible. Aku bukan orang naif yang mengorbankan kebahagiaanku demi orang lain. Cinta sejati harus diperjuangkan bukan dikorbankan. Aku berkorban demi kebahagiaan orang lain, terus siapa yang akan berkorban demi kebahagiaanku? Tuhan memberi kita hidup untuk berjuang. Segala hasil yang kita peroleh didapat dari hasil kerja keras. Begitu juga Cinta Sejati, dia dipasangkan denganku. Mau tidak mau, aku harus memperjuangkannya demi kebahagiaan sejati. Terkadang sikap egois merupakan anugerah untuk mengambil keputusan dalam hidup bagi diri sendiri. Berjuang dan berdoa.

  9. Akun Twitter: @DEENAmond
    Link Share: https://twitter.com/DEENAmond/status/737251821593362432?s=09
    Alamat Email: deena(dot)rosalina(at)gmail(dot)com

    Q. Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?

    A. Untuk hal semacam ini, sebenernya aku bukan ahli, karena aku sendiri belum ngalamin percintaan yang complicated begini. Kalai pribadi sih, pendapatku kalau destiny atau belahan jiwa atau jodoh itu pasti akan berakhir bersama. Tapi kenyataan kan nggak selalu yang diharapkan. Realita itu kejam, kalau mengutip kata Audy di buku 4/4. Realitanya cinta ada karena biasa dan kalau kita nggak ketemu sama jodoh dan biasa bertemu dengan orang lain, kemungkinannya lebih besar kita bersama dengan orang yang bukan jodoh.
    Jadi istilah “nggak apa-apa nggak bersama, asal kamu bahagia” itu realitanya bisa aja terjadi, meski pribadi aku ga setuju sama istilah itu.

  10. Nama: Shinta Amelia
    Twitter: @S130596
    Email: shimeliaw[at]gmail[dot]com

    “Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia” Alasannya?”

    Engg… setuju sih. Alasannya karena, buat apa kita mempertahankan sebuah hubungan kalau ada salah satu pihak yang sudah tidak lagi merasa bahagia dengan hubungan tersebut. Iya, kan?

    Saya percaya kita semua punya hak untuk mencintai siapa saja di dunia ini, jatuh cinta pada siapa saja. Tapi untuk memiliki? Belum tentu. Saya tidak mau egois, memenjarakan hati seseorang yang sudah tidak lagi berbahagia menyambut saya, hanya demi kenyamanan saya… karena hal itu pada akhirnya pun akan membuat saya jadi tidak bahagia juga dengan melihatnya tidak bahagia. Jadi, biar saja saya menikmati hak saya sebagai pencinta yang mencintainya dengan tulus. Dia tidak punya kewajiban untuk membalas, dan saya juga tidak punya hak untuk terus memaksanya tetap tinggal di sisi.

    Jadi…. Nggak papa kalau kami nggak bersama, yang penting dia bahagia, walaupun konsekuensinya memang harus mengorbankan kebahagiaan saya sendiri. Bukankah melepaskan juga bagian dari cinta? benar-benar cinta?

    Hehehe. Terima kasih.

  11. Nama : Nur Rachmawati Z
    Twitter : @OmbakBintang
    Email : ombakbintang@gmail.com
    Kalau aku setuju dengan pernyataan itu. Memang si berat. Tapi kalau melepasnya bikin bahagia, sedang bersama dia tersiksa juga sakitkan. Cinta menurutku gak mengikat dan gak mengharuskan kita bersama. Juga gak akan hilang kalau itu memang benar cinta yang tulus. Bukan ingin menyerah tanpa perjuangan. Perjuangan sebenarnya adalah berdamai dengan hati, rasa juga kenyataan.

  12. Nama: Bintang Permata Alam
    Twitter: @Bintang_Ach
    Email: bintangpermata45@gmail.com

    Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?
    Aku pribadi, tidak setuju.

    Alasannya? Aku—sebagai laki-laki—tidak ingin orang yang aku cintai pergi begitu saja. Aku tidak ingin mengkhianati usahaku dalam mendapatkan dia, dan aku tidak ingin meludahi diriku sendiri. Sebelumnya, mari cermati baik-baik. Melepaskan dan merelakan dalam persepsiku itu berbeda. Melepaskan adalah ketika kita membiarkan orang yang kita sayangi pergi begitu saja tanpa khawatir dia akan bahagia atau tidak nanti. Istilahnya masa bodoh lah, mau sengsara terserah, mau bahagia pun juga nggak ngurus. Berbeda dengan merelakan. Merelakan dalam pandanganku adalah menyerahkan orang terkasih kita kepada orang lain demi kebahagiaannya. Bukankah, pengecut? Dari mana bahagianya?

    Hey, wake up, please! Lu dengan mudahnya merelakan kekasih lu bersama orang lain dengan alasan kebahagiaan? Memandang diri lu sebagai pengecut dan cowok murahan, itu yang disebut kebahagiaan? Lagi pun, belum tentu kok kekasihmu itu bahagia dengan orang lain. Nah, apa yang di sebut kak Vionna di atas menurutku masuk ke dalam kategori merelakan. Kategori seorang pengecut. Sekarang, sudah jelas kan kenapa aku tidak setuju?
    Sekarang, mari kita bayangkan, seorang laki-laki, merelakan kekasihnya untuk orang lain demi kebahagiaan dia. Bisakah disebut hebat? Pahlawan? Heroik? Heroik karena kekasihnya diambil kita cuma diem aja?

    Hey man, kalo lu cinta sama kekasih lu, lu bener-benar ingin lihat dia bahagia, jangan pilih cara seorang pengecut dong. Hargai diri lu sendiri, jangan sok merendah dan murahan seperti itu. Kalau lu benar-benar ingin dia bahagia, ya usahakan. Cinta adalah sebuah pertanggung jawaban. Maka, kepada siapa kita jatuh cinta, maka kepada dialah kita bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas kebahagiaan dia, kesedihan dia, dan kehidupan dia di masa mendatang.

    Itu baru namanya Truly Love. Suatu keadaan di mana lu siap bertanggungjawab atas semuanya, bukan malah memberikannya kepada orang lain seperti barang murahan.

    Lu kira, perempuan itu bola? Bisa dioper sana-sini?

    Think smart boy!

  13. @wilahamamy1
    Hizbihanina99@gmail.com

    “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia,aku juga bahagia”. Kalimat barusan itu lebih nyeremin dari film horor manapun. Bullshit banget, ga setuju sama kalimat horor tadi. Ya emang sih ada rasa bahagia tapi cuma 0,1% lebih banyak sakitnya ketimbang bahagianya. Dan itu lebih ke bahagia atau pasrah?aku juga ga tau

    Well, aku cuma mau realistis aja. Aku ga pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Cinta, bahkan aku tau definisinya juga menyimpulkan dari novel. Cinta sejati? Banyak yang bilang ini cuma ada di dongeng. Kalau menurutku, cinta sejati itu tergantung siapa yang menilai. Melepaskan cinta sejati untuk yang lain demi melihat dia bahagia. Kamu yakin itu cinta? Kalau aku sih enggak.

  14. Nama: Trissella
    Akun twitter: @trissella
    Email: rtrissellam@gmail.com

    Istilah, “Nggakpapa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia.” Sebenernya rumit ya. Setuju atau nggaknya, tergantung kondisi sih, menurutku.

    Kalau memang dia nggak mencintai kita, ya masa’ mau dipaksa untuk bersama. Jelas kita akan bahagia di atas penderitaan dia, dong, ya? Memang siapa yang mau bersama dengan orang yang nggak mencintai kita? Risikonya ada dua: dia akan tetap bersama kita padahal nggak mencintai kita atau dia ujungnya akan meninggalkan kita demi orang yang dicintai (jelas itu bukan kita)

    Kondisi yang lain, membuatku setuju dengan istilah itu. Ya kalau memang kami saling cinta, kenapa kita nggak bisa bersama, kan? Kalau dari kami sendiri sudah ada niatan untuk bersama, pasti ada alasan lain yang memaksa untuk kami pisah. Menurutku, dalam kondisi ini, semuanya harus diperjuangkan untuk hubungan kami. Apa pun itu. Sampai titik darah penghabisan. Namun kalau halangan itu ternyata berlapis-lapis, boleh kalian memutuskan untuk menyerah. Mungkin kalian tidak berjodoh? Bisa jadi. Tapi, setidaknya kita sudah berjuang, bukan?

  15. Nama : Devina
    Twitter : @mariadevina_
    Email : dvnaput@gmail.com

    Sangat tidak setuju.
    “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia” Semacam istilah “Cinta tak harus memiliki” yaa… Haha. Kalau menurutku pribadi jujur aja ya itu basi banget.
    Aku baca beberapa komentar di atas. Bener banget kalau cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Banget. Berjuang sama berkorban itu kayaknya emang udah satu paket sih ya. Namanya nggak akan jadi perjuangan kalau nggak ada yang dikorbankan.
    Nah. Yang judulnya berkorban sejujurnya itu pasti merugikan buat diri kita sendiri dan belum tentu orang yang buat kita berkorban ini sadar. Bahkan mungkin dia akan masa bodoh dan malah pergi ninggalin kita.
    Lalu kamu bilang “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia.” Kamu yakin dia bahagia dengan nggak sama kamu? Aku nggak yakin. Selama ini kamu udah berjuang dan berkorban banyak demi dia, kamu justru nggak peduli dengan diri kamu sendiri. Kamu selalu memberikan yang terbaik untuk dia. Kamu yakin orang lain bisa melakukan hal sepertimu? Aku nggak yakin.
    Berjuang dan berkorban itu nggak pernah mudah dan kerap kali sama sekali tidak menguntungkan. Walaupun kadang kita merasa bahagia jika melihat orang yang kita sayang bahagia. Tapi jujur saja melihatnya bahagia dengan yang lain pasti tidak membuat kita bahagia. Nggak perlu jadi orang munafik untuk menjawab itu. Kita hanya berpura-pura bahagia. Pernahkah kamu bertanya kepadanya apakah dia benar-benar bahagia atau hanya berpura-pura bahagia sepertimu? Haha.
    Sekarang aku mau tanya, apakah kamu akan bahagia bila kamu tidak bersama keluargamu?
    Oh, tunggu. Kamu menganggap dia truly love-mu? Apa kamu lupa dengan keluargamu? Kadang truly love tidak melulu tentang sepasang pria dan wanita.

    ^^

  16. “Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia” Alasannya?”

    Menurutku, tidak. Karena aku juga masih manusia, terlebih aku perempuan. Sekuat apapun mengorbankan cinta ataupun sahabat tertawa bareng orang lain, hati juga hati manusia pasti merasa kecewa akan diri sendiri.

    “Kenapa aku gabisa seperti orang itu?”

    Dan jikalau hatimu terbuat dari besi sekuat apapun. Pasti akan terpikirkan.

    “Aku harus bisa menjadi seperti itu.”

    Sama hal denganku, aku seorang introvert dan sahabatku seorang ekstrovert. Kami berbeda. Pernah terpikir ingin berubah kepribadianku dari introvert menjadi ekstrovert. Sampai akhirnya aku menemukan jalan buntu dimana aku telah merasa bodoh selama ini berusaha menjadi seorang ekstrovert. Dari dalam diriku seperti ada yang berteriak, “itu bukan dirimu” yang suaranya tak sampai menyadarkanku saat itu.

    Dari sana, aku menyadari… bahwa kasih itu pengertian. Berapa kali pun kau menganggap tidak cocok dengan seseorang yang kau anggap berharga itu, jika ada saling pengertian di kedua pihak. Mau seberapa banyak perbedaan yang menjauhkan itu bukanlah yang berarti.

    Keegoisan menurutku itu buruk. Tapi jika ego itu tidak ada di dalam hidup ini, aku takkan tau apa arti sebenarnya dari kasih itu. Itu mengapa ego itu dicipta dan ada di dunia ini. 🙂

  17. Nama: Amartya Putri Kinasih
    Twitter: @PutriPutrIDR
    Email: amartyaputri_kinasih@yahoo.com

    “Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?”

    Kalau ditanya seperti itu aku akan jawab: aku setuju sekaligus tidak setuju.

    Alasannya:

    Dengan egois, (disertai jiwa perjuangan) aku akan jawab tidak setuju.
    Sederhananya, karena nggak ada jaminan kamu bahagia sama orang lain dan nggak ada jaminan kamu nggak menyesal nantinya.
    Manusia itu seharusnya tipe pejuang. Cinta itu butuh perjuangan. Walau untuk beberapa kasus cinta bisa terlihat instan, datang tiba-tiba. Tetapi cinta juga berproses. Dan yang instan biasanya cuma bikin penyakit (ambil contoh: mi instan). Nah biar ngga jadi sakit diujungnya ya harus melewati proses.
    Aku bukan orang pengecut yang di tengah-tengah proses cinta itu mengambil keputusan: “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia.”
    Setiap insan harusnya tahan pahitnya proses, menghadapi rintangan yang menguji perasaan. Dan prinsipku itu berjuang untuk membuat aku dan ‘cinta’-ku bahagia. Bukan hanya diam melihat ‘cinta’-ku diperjuangkan orang lain. Akan selalu makan hati nantinya.

    Tapi ada kalanya aku setuju dengan istilah: “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia.”
    Alasannya ya ketika perjuangan kita sudah tidak memungkinkan lagi. Disaat semua proses sudah dilalui, sudah berjuang untuk saling memahami, tapi perasaan tak kunjung menemui titik terang sedangkan rintangan selalu menghadang. Kalo sudah di fase ini, saatnya kita mencari kebahagiaan yang baru. Dia bukan Truly Love kita. Life must go on. 🙂

  18. Nama : Anggita Surya
    Twitter : @anggitasrya
    Email : coretankatagita@gmail.com

    “Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia” Alasannya?”

    Aku pribadi tidak setuju.
    Karena, bagaimana jika bahagiaku adalah bersama kamu? Apa hanya kamu yang berhak untuk bahagia? Aku juga berhak. Semua orang berhak untuk bahagia.
    Tapi kalau bahagiamu adalah bersama dia.. untuk apa? Untuk apa aku berkorban jika memang bahagiamu adalah bersama dia?

    Jika ia memilih untuk bersama orang lain pun, itu bukanlah suatu jaminan kalau ia akan bahagia. Jadi aku tidak akan langsung melepaskannya, aku akan memperjuangkannya, hingga diri ini tak dapat lagi berjuang. Cinta itu bisa sempurna, bila kita mau berkorban. Jika memang harus begitu, aku akan mengorbankan segala waktu dan perasaanku untuk memperjuangkannya. Walaupun mungkin kali ini aku harus mengalah, mengalah dengan egoku, mengalah dengan keinginannya yang ingin bersama orang lain. Karna cinta itu mengerti, mengerti arti mengalah.
    Tapi, rasanya ini tidak adil jika hanya aku yang terus berjuang tanpa merasa diperjuangkan.

    “Cinta itu satu, kalau lebih itu bukan cinta, itu obsesi.”

    Mungkin aku harus meyakini terlebih dahulu bahwa yang aku rasakan ini adalah benar benar cinta, bukan obsesi untuk memilikinya. Setelah itu baru aku akan benar benar memperjuangkan kebahagiaanku, bahagiaku yang bersamanya.

  19. nama akun twitter : @MukhammadMaimun
    alamat email : maimun_ridlo@yahoo.com

    Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?

    Sebenarnya gak setuju banget karena itu sangat sangat menyakiti relung hati kita yang paling dalam meski kita tidak akan berusaha menampakkannya apalagi pada si dia.
    Tapi, apabila memang kenyataannya adalah memang dia lebih bahagia dengan orang lain, maka hal itu menurut saya wajib dilakukan. Karena apabila kita memaksakan untuk selalu bersama kita sementara dia hanya merasa kasiha, merasa terkekang, terpaksa, maka itu bukan cinta. itu hanya iba. Dan kita berarti egois dengan terus memaksanya agar selalu di samping kita. Dan cinta gak bisa dibangun dari satu sisi saja karena nanti akan mudah runtuh.

  20. Ananda Nur Fitriani
    @anandanf07
    anandanftrn[at]gmail[dot]com

    Setuju. Karena menurutku, jika dua orang saling cinta pasti akan berjuang untuk bersama terlebih dahulu. Namun jika sudah ada ucapan seperti itu, berarti mereka memang tidak bisa bersama atau mungkin kebersamaan mereka malah memunculkan kesedihan, bukannya kebahagiaan. Maka dari itu, seharusnya cinta lebih memprioritaskan kebahagiaan masing-masing. Walaupun dengan bersama seseorang yang dicintai juga merupakan sumber kebahagiaan. Tapi jika ternyata kebersamaan tersebut tidak membuat orang yang kita cintai bahagia? Aku sih lebih baik tidak bersama, asalkan orang yang aku cintai mendapatkan kebahagiaannya 🙂

  21. @RaaChoco
    Humairabalfas5@gmail.com

    Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?

    Setuju.
    Sekuat apapun kita berusaha, jika memang takdir kita tak berjodoh, kita mau apa. Bukan masalah usaha seberapa kuat bertahan dan mempertahankan, bukan masalah saling mencintai dan dicintai atau hanya mencintai saja, disini kita melawan takdir Tuhan yang pada hakikatnya kita akan kalah sebesar apapun usaha kita. Jika memang kita berjodoh, tapi saat ini tak dapat bersama. Tak masalah, karena pada akhirnya kita akan bersatu bagaimana pun caranya.

    Pada awalnya pasti tak terima dan sedih sekali, sangat. Tapi, semuanya sudah ditentukan, cinta saja tak cukup untuk dua orang yang saling mencintai dan takdir Tuhan lah yang punya peranan paling penting di dalamnya.

  22. nama: esty
    akun twitter: @estiyuliastri
    email: estiyuliastri@gmail.com

    Gak setuju, alasannya cinta itu nggak buta. Kita harus buka mata lebar-lebar, jangan naif. Berpikirlah realitis. Itu bukan cinta namanya kalo kita rela “ngelepas” orang yg kita cintai agar dia bahagia.
    Kalo aku ditempatkan pada posisi ini, aku akan mencoba membuat keputusan yg sama2 membuat kita berdua bahagia.
    Caranya?
    Aku akan mencoba mengajak dia meluangkan waktu 1 hari bersama, melewati hari hanya dengannya.
    Tujuannya apa? Biar aku & dia sama2 berpikir dgn kepala jernih. Apakah kita benar-benar uda siap berpisah? Apa kita uda gak saling membutuhkan? Apa gak ada cara lain agar kita bisa bersama?
    Sebelum memutuskan bersama-sama langkah apa yg akan diambil untuk hubungan ini selanjutnya. Apapun itu hasilnya, “aku & dia bakal LEBIH BAHAGIA dengan keputusan yg sudah kita berdua buat” 😉

  23. Ade
    @aroktavia
    oktaviaro96@gmail.com

    Jika ditanya setuju atau tidak setuju, entahlah mana jawaban yang akan saya pilih. Karena ketika benar-benar menghadapi cinta, jawaban dari perjuangan tidak meluluh diperjuangkan atau direlakan. Jawabannya tidak akan selalu hitam atau putih. Ada kalanya saya setuju untuk memperjuangkan cinta itu. Berusaha menempatkan diri untuk menjadi seseorang yang akan dilihatnya dan pantas bagi dia. Sayangnya, saya akan kelelahan dalam perjuangan sendiri ini, ujungnya-ujungnya saya akan lebih memilih merelakan. Saya pernah ada difase berjuang dan merelakan. Ada aliranhgangat di dalam hati saya ketika saya mengikhlaskan hubungan orang yang saya cintai dengan pilihannya, terutama saat dia lebih banyak tersenyum dibanding sebelumnya.

    Berbeda ketika dua orang saling mencintai, perjuangan itu akan terasa sangat hebat. Hasil akhir bukanlah hanya angan semata. Maka saat itulah sebuah cinta benar-benar harus diperjuangkan. Situasi ini yang membuta saya “tidak setuju” dengan pernyataan “gak papa gak bersama”.

  24. @sayektiardiyani
    email: firstyjl6@gmail.com

    saya tidak sepenuhnya setuju dengan pernyataan itu. pernyataan itu menggambarkan pribadi yang mengatakannya mudah menyerah. kalau memang ia mencintai seseorang ia harus memperjuangkannya semaksimal dan sebatas kemampuannya, dengan cara2 sportif. harus ada pengorbanan untuk memiliki orang yang dicintai dan akan dibahagiakannya. kalau seseorang itu tidak mencintainya, dia harus berjuang berusaha agar orang itu bisa mencintainya, bisa “melihatnya” sebagai orang yang pantas dicintai dan dimiliki. dengan usaha yang sportif, dengan pribadi yang baik, tak ada pernyataan nggak papa kita tak bersama. namun, jika segala usaha yang dijalani memang tidak membuahkan hasil berarti sudah tangan Tuhan yang berbicara alias tidak jodoh. kalau berbicara jodoh–setelah segala usaha dan pengorbanan memang tidak berhasil– pernyataan di atas saya setuju. ya, kalau tidak jodoh berarti orang tersebut bukan yang terbaik untuknya. dia lebih baik bahagia dengan orang lain, orang yang terbaik buatnya

    🙂

  25. Nama : Suwardi
    Akun Twitter : @Deviambar_
    email : deviambar354@gmail.com

    Bagi saya setuju adalah jalan keluar yg terbaik. Membahagiakan orang, membuat orang lain bahagia apalagi senang adalah kebahagian kita juga. Meskipun kebahagian itu harus membuat kita mengalah. Lagi pula apa salah nya memberikan orang yang benar-benar kita cintai bahagia denga orang lain. Bila dengan kita saja ia tak bahagia. Lebih baik membiarkan kan nya pergi bersama orang lain. adalah pilihan yang bijak. Asal kan ia bahagia. tidak lah mengapa. Mengalah adalah jalan pintas nya. Dan Allah yg akan menggantikan dia, mungkin dia tidak berolah bila bersama kita terus, maka dari itu selalu positif thinking. Tentang apa-apa Yng allah berikan. Meskipun jalan skenario yang Allah berikan menyakitkan. Tetapi percayalah, sungguh manis.Bila kita sudah berhasil melewati cobaan yng pahit itu.
    Setuju , untuk Indonesia lebih baik lagi…., dan #SayNoToPacaran untuk Indonesia lebih Islami….. Amien. semoga barokah semua nya.

  26. Twitter : @partika_2
    E-mail : ayuwinda186@gmail.com

    Kamu setuju nggak sih, dengan
    istilah, “Nggak papa kita nggak
    bersama, yang penting kamu
    bahagia?”

    Enggak.
    Menurutku, cinta itu harus di perjuangkan sampai si doi memilih mana yang dia cinta. Aku atau Kamu.
    Jika, si doi milih Kamu bukan Aku. Ya, Aku tinggal biling “Dia bukan jodoh Aku”.
    Seperti hujan, begitulah Aku merelakan Kamu demi sahabat Aku.

  27. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    rinspiration95@gmail.com

    Setuju. Memang sih kita mengharapkan bisa menjalin hubungan baik dengan semua orang, tapi kita juga nggak bisa memaksakan kehendak agar semua orang bisa menyukai kita. Pastinya kita udah mencoba menjadi versi terbaik bagi diri kita sendiri, tapi belum tentu orang lain nyaman dengan itu.
    Seseorang dikatakan dewasa kalau bisa menghargai perbedaan dan nggak menggantungkan kebahagiaan dengan orang lain. Bukan berarti kalo nggak sama dia, dunia kita hancur dan nggak bisa bahagia lagi. Tapi terlepas dari dia, seharusnya kita bisa bahagia dan melanjutkan hidup.
    Aku percaya bahwa sesuatu yang bukan untuk kita, suatu saat pasti akan terlepas juga. Sesuatu yang dipaksakan juga nggak akan berhasil baik. Kalau nggak bisa bersama, yaudah diikhlaskan saja. Tuhan pasti memberi yang terbaik untuk kita 🙂

  28. Twitter : @destinugrainy
    Email: destinugrainy[at]gmil[dot]com

    Nggak setuju. Cinta itu harus diperjuangkan. Ada usaha dan harapan. Kalau memang dia bersama orang lain,ya lepaskan. Karena cinta sejati menemukan jalannya kembali ke “rumah”

  29. @_loisninawati
    Ninawatilois@gmail.com

    Setuju setuju aja sih kalau aku. Itu kan karena dia emang menyayangi seseorang yg sangat dia sayang. Jadi, meskipun dia nggak bahagia, yg penting ngeliat org yg kita sayang itu bahagia udah seneng. Daripada bareng kita tapi dianya nggak bahagia. Ya kan?😆

  30. Putri Prama Ananta
    @putripramaa
    anantaprama@yahoo.co.id
    Tidak, aku tidak setuju.
    Aku membayangkan diriku berkata, “Nggak apa-apa kok kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia.” Kemudian orang yang kuomongi itu hanya mengangguk dan pergi ninggalin aku. Huh.
    Hello~! Lalu, aku bahagianya di mana? Aku kok munafik sekali kalau ngomong seerti itu ke orang yang aku cintai. ‘Asal kamu bahagia, aku bakal bahagia’ itu cuma mitos bagiku. Aku nggak mungkin bahagia hanya dengan ‘melihat’ orang bahagia. Bahagia bukan hanya karena melihat membahagiakan orang lain yang kucintai saja melainkan juga karena membahagiakan diri sendiri dan mencintai diri sendiri juga. Kalau kamu merasa bahagia ‘melihat’ orang lain, kamu nggak pernah benar-benar merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang kamu rasakan itu semu. Nggak nyata sama sekali.
    Seorang yang benar-benar mencintaimu akan memikirkan bagaimana cara membahagiakan kamu, bukan cuma ‘melihat’ kamu bahagia saja terus ikut bahagia.

    Namun, kita bisa kok menggunakan kalimat itu ketika kita sudah menemukan orang lain yang ingin kita ajak bersama dan berbahagia bersama. Tapi, kalau kita menggunakan kalimat itu untuk menyesap kebahagiaan bersama kesedihannya, saranku jangan sekalipun mencoba! ITU SAMA SEKALI NGGAK MEMBAHAGIAKAN! Dan ITU NGGAK BENER-BENER NGGAK PAPA!
    Thank you for giveaway. Maaf berapi-api begitu, sekalian curhat soalnya. Hehehe.
    Maaf jawabnya mepet DL jugaa T.T

  31. Email : husnamnwrh.oktaviani@gmail.com
    Twitter : @husnaoktaviani_

    Kamu setuju nggak sih, dengan
    istilah, “Nggak papa kita nggak
    bersama, yang penting kamu
    bahagia?” Alasannya?

    Aku tidak setuju. Karena, menurutku, bahagia adalah saling dan sepasang. Bukan salah satu dan menjadi pincang. Ibaratnya seekor burung yang hanya bisa terbang dengan dua sayap, kalau hanya satu sayap yang utuh, ia kesulitan. Sama halnya dengan cinta, bahagianya adalah sepasang. Munafik sekali orang-orang yang menganggap dirinya bahagia, asalkan orang yang disayang bahagia walaupun tidak bersama.

    Manusia punya perasaan, egois yang tinggi. Istilah “Nggak papa kita nggak
    bersama, yang penting kamu
    bahagia?” adalah sesuatu untuk menutupi keegoisannya untuk bersama seseorang yang dicintainya.

    Intinya, aku sangat tidak setuju dengan istilah tersebut. Hei, bahagia itu saling, sepasang, bukan sendirian 🙂

  32. @Jju_naa
    ratihmulyati02@gmail.com

    Kalau secara sepintas, aku setuju sama pemikiran mba. Katanya cinta kok nyerah gitu aja, Mas? 😀

    Tapi, kalau di pikir-pikir (pertanyaannya mantep, kepikiran mulu, sampe nanya² pendapat temen saking ngejelumetnya 😀 ), aku setuju.
    Cemen banget ya? wkwkwk
    Gini, aku mikirnya seandainya ‘Aku’ ada di posisi ‘Dia’ dalam situasi ga memungkinkan lagi untuk bertahan, pengen ‘Lepas’. Tapi, di paksa bertahan karena ‘Aku cinta kamu’.
    Kok kesannya antagonis banget ya?

    Nah loh, hehehe
    Ya meskipun awalnya pasti kesel dan ga iklas, tapi lama² pasti ilang kok. Lagian, aku ga bakal tega dan ga punya harga diri banget, kalau sampai maksain seseorang harus tetap tinggal, meskipun tau dia melakukannya dengan terpaksa dan tersiksa. Dan kita di hinggapi rasa bersalah. Usaha! itu hak kita untuk memperjuangkan cinta kita. Ya tapi, kalau cuma kita yang usaha mati-matian tapi dia nya memang enggak bisa (mau), ya percuma. Sama aja kaya dorong tembok, ga bakal berubah (bergeser) (Ada ni rumus fisikanya 😀 ).Yang ada kita cape sendiri, hancur, keliatan jahat, dll . Positif aja, dia bukan cinta sejati(jodoh) aku. Cuma pos pemberhentian sementara. Cinta sejati/jodoh aku ada di perjalanan selanjutnya. Ingat, ga ada cerinya tulang rusuk yang tertukar 🙂
    Kita juga ga bisa tau itu cinta sejati kita atau bukan, sampai kita tiba di pemberhentian terakhirkan? ^_^

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s