[Book Review] I Was Here

28819877

Judul: I Was Here
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (terjemahan)
Terbit: Februari, 2016
Tebal: 328 hlm.
ISBN: 9786020322421

Ketika Meg, teman baik Cody, mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan pembersih, Cody sangat sedih dan tidak bisa memahami perbuatan sahabatnya itu. Ia dan Meg selalu berbagi cerita—jadi bagaimana ia bisa tidak tahu masalah sahabatnya tersebut?

Namun ketika pergi ke kota tempat Meg kuliah untuk mengemasi barang-barang sang sahabat, Cody mendapati bahwa banyak yang tidak diceritakan Meg: tentang teman-teman sekamarnya—tipe yang takkan pernah dijumpai Cody di Washington, kota kecil tempat ia tinggal. Tentang Ben McAllister, cowok sinis jago main gitar, yang membuat Meg patah hati. Tentang file komputer yang tidak dapat dibuka Cody—sampai ia berhasil membukanya, lalu jadi ragu tentang semua yang dikiranya ia ketahui tentang kematian sang sahabat.

REVIEW:

Ini adalah kali pertama aku membaca bukunya penulis ini, Gayle Forman. Sadly, i can’t get the english ver. of this book and yes, aku nggak bakal bisa ‘ngomentarin’ gaya penulisan yang lebih spesifik. Hanya saja, buat sang editor (too bad buku ini nggak ada proofreadernya), dua kata: banyak TYPO. Kali ini, typos yang saya temukan di buku ini lumayan banyak, sampai ada dobel huruf dan kurang (which is, udah jarang ditemukan pada buku-buku lain sekarang ini).

Untuk cover, this version is better. Kesan mellow-nya dapet.
Jujur saja, membaca buku ini mengingatkanku pada cerita-cerita karya penulis lokal, Winna Efendi. Yap. Buku ini menawarkan kisah persahabatan sekaligus percintaan.
Memang benar, tema tentang persahabatan sudah mainstream sekali. Hanya saja, Gayle Forman menawarkan kisah persahabatan yang pelik, penuh teka-teki, dan tentu saja: perjuangan dan pengorbanan.

Seperti yang dikatakan di sinopsis di atas, I Was Here menempatkan Cody sebagai tokoh utama (bisa dibilang begitu sih, soalnya ‘porsi’ kehadiran Cody yang paling banyak). Menyampaikan kisah perjalanan Cody setelah ditinggal ‘bunuh diri’ oleh sahabat dekatnya, Meg.
Selama ini, Cody pikir ia mengetahui segalanya tentang Meg, bahkan hal yang sekecil apapun. Cody tahu bahwa Meg unik, Meg selalu tergila-gila pada lagu yang bahkan tidak diketahui ‘keadaannya’ oleh orang lain, Meg selalu mendambakan band-band yang tidak terkenal, dan yah… tidak heran, Meg bunuh diri dengan cairan pembersih yang juga sukar ditemukan.

“I failed her
in life. But I won’t fail her in death.”

Suatu hari, Sue and Joe, orangtua Meg, meminta Cody untuk membereskan dan mengemasi barang-barang Meg di kota tempat Meg kuliah dan menetap. Disana, Cody bertemu dengan Ben McCallister, yang ternyata merupakan cowok yang pernah membuat Meg patah hati. Usut punya Ben dan Meg sering bertukar email, tapi kemudian, Ben menyuruh Meg untuk berhenti menganggunya. Dan.. rasa kewaspadaan dan penasaran Cody naik kembali di permukaan.


By the way, at first, aku pkir Cody itu cowok. Setelah usut punya usut, ternyata Cody itu cewek! (Ya iyalah! Masa homo-an sama si Ben?)
Ah iya, mungkin aku ketinggalan satu hal: buku ini juga menawarkan kisah ‘keluarga’. Yep! keluarga Cody dan Meg memang berlawanan. Meg hidup dikeluarga yang berkecukupan dengan orangtua dan seorang adik yang lengkap. Sedangkan Cody hanya hidup dengan ibunya yang merupakan pekerja di Bar dan ‘sedikit’ melarat. That’s why Cody sangat dekat dengan keluarga Meg.

Bicara soal karakter favorit, aku paling suka Ben McCallister, tipikal laki-laki hot+bad boy dan sebenarnya baik (?!)
Tidak lupa juga ada Harry Kang, si cowok blasteran Korea-Amerika yang ‘peran’nya sangat penting dalam meretas email berkode sandi di komputernya Meg.
Untuk Cody, aku kurang menyukai karakter dia, awalnya dia terlalu ‘jual mahal’, eh akhirnya malahan dia yang nyerah. Untuk itu, aku sedikit menyalahkan penulis yang nggak berpengang teguh dengan karakter ‘dingin+sombong+cewek baik-baiknya’ si Cody itu.

“How can you believe someone to be so beautiful and amazing and just about the most magical person you’ve ever known, when it turns out she was in such pain that she had to drink poison to rob her cells of oxygen until her heart had no choice but to stop beating?”

After all, buku ini tidak mengecewakan sama sekali. Meskipun karya-karya terkenal dari penulis ini adalah If I Stay, aku tetap mengukuhkan hati untuk membaca buku ini terlebih dahulu (mungkin ini yang disebut feeling yakk!! hehe) Sebenarnya tidak tahu kenapa juga, mungkin karena covernya yang bagus? Atau, mungkin karena judulnya, “I WAS HERE” yang bikin baper tingkat dewa?

Advertisements

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s