[Blog Tour] Apapun Selain Hujan – What is Truly Love?

GagasMedia

Tema Blog Tour Apapun Selain Hujan adalah What is Truly Love? 

Jadi, jika ditelaah dari google, banyak sekali arti dari Truly Love. Buku Apapun Selain Hujan juga memuat banyak arti dari Truly Love yang disampaikan secara tidak langsung. Pada bab awal, aku gagal menemukan ‘arti sebenarnya’ dari Truly Love tersebut. Dan, yah… saat menuju akhir, penulis seperti ‘memberi kesempatan’ bagi pembaca untuk ‘mengerti sendiri’ apa itu Truly Love.

Menurutku, Apapun Selain Hujan memberi tahu banyak sekali definisi Truly Love dan salah satunya adalah: Truly Love nggak hanya buat pasangan.

[Baca postingan Review Apapun Selain Hujan]

I was so taken by this story, terutama disaat Faiz dan Wira yang lebih mengutamakan ‘persahabatan’ daripada cinta. Masing-masing dari mereka telah berkorban buat cinta. Memang benar kalau udah berhadapan dengan cinta, kita harus berkorban. Hanya saja, intinya bukan yang itu. Faiz dan Wira sama-sama ‘lebih’ condong ke ‘penyelamatan’ hubungan persahabatan mereka. So sweet, right?20160530111302-1.jpg

Disisi lain, buku ini juga menyiratkan tentang kebimbangan Wira mengenai Kayla dan Nadine sehingga tergagas satu hal: If someone truly loves you, they won’t judge you by your past. Bener nggak sih?

Menurut aku sendiri, Truly Love is complicated.

Aku kurang setuju jika ada yang bilang: Gakpapa kita gak bersama, yang penting kamu bahagia.

Aku merasa kalau si ‘aku’ terlalu berkorban dan dibutakan oleh cinta sejati yang bahkan dia-nya nggak tahu kalau itu cinta sejatinya atau bukan. Bukankah, kalo bener itu cinta sejati, mereka bakal bersama? Emang ada ya yang kasusnya begini: Dia itu cinta sejati gua, tapi nikahnya sama doi.
Mungkin sih ‘aku’ bisa beranggapan kalau ‘dia’ cinta sejatinya yanggg sebenarnya bukan. BIG NO! Mana mungkin cinta sejati kita kecantol di orang?
Mungkin kita cuma terbiasa dengan kehadiran orang itu sampai merasa ‘ada’ yang hilang dan end up: salah mengartikan.
Bener nggak, sih?

Terus, bukankah Truly Love harus diperjuangkan?

 

GIVEAWAY TIME!!!

Rules:

1. Share tentang giveaway ini di twitter dengan hastag #BlogTourASH dan tag @GagasMedia @Authorizuka @viionna_

2. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar (disertai nama akun twitter dan alamat email)

Kamu setuju nggak sih, dengan istilah, “Nggak papa kita nggak bersama, yang penting kamu bahagia?” Alasannya?

3. Akan dipilih satu pemenang yang akan mendapatkan 1 eksemplar buku Apapun Selain Hujan.

4Giveaway ini hanya dilaksanakan selama 24 jam. Berakhir pada 31 Mei 2016 jam 2 siang. 

5. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 Juni 2016.

[Book Review] Apapun Selain Hujan

Apa Pun selain Hujan

Judul: Apapun Selain Hujan
Penulis: Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Terbit: April, 2016
Tebal: 196 hlm. 

[Ikuti Blog Tour + Giveaway]

Wira membenci hujan. Hujan mengingatkannya akan sebuah memori buruk, menyakitinya….

Agar bisa terus melangkah, Wira meninggalkan semuanya. Ia meninggalkan kota tempat tinggalnya. Meninggalkan mimpi terbesarnya. Bahkan, meninggalkan perempuan yang disayanginya.

Namun, seberapa pun jauh langkah Wira meninggalkan mimpi, mimpi itu justru semakin mendekat. Saat ia sedang berusaha keras melupakan masa lalu, saat itulah ia bertemu Kayla.

Pertemuan itu mengubah segalanya.

Sebuah novel tentang melepaskan mimpi di bawah hujan. Tentang cinta yang diam-diam tumbuh bersama luka. Juga tentang memaafkan diri sendiri.

REVIEW:

Wira, Faiz, dan Nadine merupakan sahabat dari kecil, dan mungkin.. akan jadi sahabat selamanya jika Faiz tidak meninggalkan mereka.

Maka dari itu, demi mengobati kesalahannya, Wira memutuskan untuk pindah ke Malang dan tinggal di rumah neneknya. Dan disanalah, ia bertemu perempuan bernama Kayla.

      “Kamu masih hidup, Wira,” tekan Kayla lagi. “Kamu masih hidup, tapi kamu nggak berusaha untuk hidup. Apa itu bukan penghinaan buat Faiz namanya?”

Kayla selalu mengingatkan Wira pada Nadine meskipun Nadine dan Kayla memiliki segala hal yang berbeda. Kayla pendek tapi berisi, Nadine tinggi dan kurus.

Wira yang berkepribadian pendiam menyukai Nadine, begitupula dengan Faiz. Maka, disaat Faiz pergi meninggalkan mereka. Persahabatan mereka hancur. Wira dan Nadine sama-sama memutuskan untuk menjalani hidup mereka sendiri. Sampai Kayla, memutuskan untuk kembali mempertemukan mereka di pertandingan taekwondo. Dan pada titik tersebut, Wira mendapatkan kilas balik yang sudah mati-matian di pendam.

Awal tahun 2013, Wira bertanding dengan Faiz dengan hasil: Wira meraih kemenangan dengan memukul lawannya sampai mati K.O.

Di sisi lain, sepertinya Kayla sudah mulai mencintai Wira. Dan disisi lainnya, Wira seperti tidak dapat lepas dari bayang-bayang Nadine, tapi ia mulai terbiasa dan membuka diri pada Kayla.

Lalu, pada akhirnya, dapatkan Wira memaafkan dirinya?

images (2)

Ditawarkan untuk menjadi host blog tour ini adalah tawaran yang sangat menarik, berhubung karena Orizuka merupakan salah satu penulis favoritku, dan yah.. aku memang udah penasaran banget dan berekspetasi tinggi terhadap buku ini.

Dan.. yah.. buku ini sukses membuat aku terharu. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan tapi menusuk (ini maksudnya apa ? haha) Gaya penulisannya tidak kaku meskipun ditulis dari sudut pandang orang ketiga.

Aku sedikit sulit menentukan tema yang pas buat buku ini. Mungkin kekeluargaan? Atau persahabatan? Eh, mungkin pengorbanan dan ketulusan?
Jujur aja, unsur persahabatan dan ketulusannya terasa banget. Terutama saat Faiz mengatakan sesuatu pada Wira dihari mereka bertanding. Padahal ya, (spoiler) kemarin malam Nadine dan Wira kepergok pulang bersama. It’s very heartbreaking.. Terharu banget, truly love antar sahabat nih. Dan.. bahkan Wira juga nggak nyangka kalau Faiz bisa ngomong begitu. Aduh….

Tokoh favoritku dalam buku ini adalah Kayla. Karakternya terlalu baik. Nggak egois dan peduli sesama. Dan untuk Wira, aku kurang menyukai karakteri ini. Terkadang aku sampai merasa bahwa Wira terlalu emosional sehingga terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Ada juga Uti, nenek Wira yang ‘super-duper’ pengertian. Di sisi lain, penulis banyak menelurkan tokoh sampingan yang ‘cukup’ berperan. Sebagai contoh, si kucing yang bernama Sarang. Secara keseluruhan, Sarang ini seperti titik yang mendekatkan Wira dan Kayla.
Dan untuk teman-teman Wira di Jurusan Teknik yang perhatian sama Wira. Meskipun Wira selalu menolak ajakan mereka, mereka tidak serta-merta mengucilkan Wira. Nggak kayak temen SMA Wira..

Overall, aku sangat menyukai buku ini. Prolog dari buku ini SANGAT menjanjikan! Membaca buku ini membuatku teringat kembali akan buku Orizuka yang terdahulu, The Truth About Forever. Sama-sama bikin nyesek. Bener nggak?

[Book Review] I Was Here

28819877

Judul: I Was Here
Penulis: Gayle Forman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (terjemahan)
Terbit: Februari, 2016
Tebal: 328 hlm.
ISBN: 9786020322421

Ketika Meg, teman baik Cody, mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan pembersih, Cody sangat sedih dan tidak bisa memahami perbuatan sahabatnya itu. Ia dan Meg selalu berbagi cerita—jadi bagaimana ia bisa tidak tahu masalah sahabatnya tersebut?

Namun ketika pergi ke kota tempat Meg kuliah untuk mengemasi barang-barang sang sahabat, Cody mendapati bahwa banyak yang tidak diceritakan Meg: tentang teman-teman sekamarnya—tipe yang takkan pernah dijumpai Cody di Washington, kota kecil tempat ia tinggal. Tentang Ben McAllister, cowok sinis jago main gitar, yang membuat Meg patah hati. Tentang file komputer yang tidak dapat dibuka Cody—sampai ia berhasil membukanya, lalu jadi ragu tentang semua yang dikiranya ia ketahui tentang kematian sang sahabat.

REVIEW:

Ini adalah kali pertama aku membaca bukunya penulis ini, Gayle Forman. Sadly, i can’t get the english ver. of this book and yes, aku nggak bakal bisa ‘ngomentarin’ gaya penulisan yang lebih spesifik. Hanya saja, buat sang editor (too bad buku ini nggak ada proofreadernya), dua kata: banyak TYPO. Kali ini, typos yang saya temukan di buku ini lumayan banyak, sampai ada dobel huruf dan kurang (which is, udah jarang ditemukan pada buku-buku lain sekarang ini).

Untuk cover, this version is better. Kesan mellow-nya dapet.
Jujur saja, membaca buku ini mengingatkanku pada cerita-cerita karya penulis lokal, Winna Efendi. Yap. Buku ini menawarkan kisah persahabatan sekaligus percintaan.
Memang benar, tema tentang persahabatan sudah mainstream sekali. Hanya saja, Gayle Forman menawarkan kisah persahabatan yang pelik, penuh teka-teki, dan tentu saja: perjuangan dan pengorbanan.

Seperti yang dikatakan di sinopsis di atas, I Was Here menempatkan Cody sebagai tokoh utama (bisa dibilang begitu sih, soalnya ‘porsi’ kehadiran Cody yang paling banyak). Menyampaikan kisah perjalanan Cody setelah ditinggal ‘bunuh diri’ oleh sahabat dekatnya, Meg.
Selama ini, Cody pikir ia mengetahui segalanya tentang Meg, bahkan hal yang sekecil apapun. Cody tahu bahwa Meg unik, Meg selalu tergila-gila pada lagu yang bahkan tidak diketahui ‘keadaannya’ oleh orang lain, Meg selalu mendambakan band-band yang tidak terkenal, dan yah… tidak heran, Meg bunuh diri dengan cairan pembersih yang juga sukar ditemukan.

“I failed her
in life. But I won’t fail her in death.”

Suatu hari, Sue and Joe, orangtua Meg, meminta Cody untuk membereskan dan mengemasi barang-barang Meg di kota tempat Meg kuliah dan menetap. Disana, Cody bertemu dengan Ben McCallister, yang ternyata merupakan cowok yang pernah membuat Meg patah hati. Usut punya Ben dan Meg sering bertukar email, tapi kemudian, Ben menyuruh Meg untuk berhenti menganggunya. Dan.. rasa kewaspadaan dan penasaran Cody naik kembali di permukaan.


By the way, at first, aku pkir Cody itu cowok. Setelah usut punya usut, ternyata Cody itu cewek! (Ya iyalah! Masa homo-an sama si Ben?)
Ah iya, mungkin aku ketinggalan satu hal: buku ini juga menawarkan kisah ‘keluarga’. Yep! keluarga Cody dan Meg memang berlawanan. Meg hidup dikeluarga yang berkecukupan dengan orangtua dan seorang adik yang lengkap. Sedangkan Cody hanya hidup dengan ibunya yang merupakan pekerja di Bar dan ‘sedikit’ melarat. That’s why Cody sangat dekat dengan keluarga Meg.

Bicara soal karakter favorit, aku paling suka Ben McCallister, tipikal laki-laki hot+bad boy dan sebenarnya baik (?!)
Tidak lupa juga ada Harry Kang, si cowok blasteran Korea-Amerika yang ‘peran’nya sangat penting dalam meretas email berkode sandi di komputernya Meg.
Untuk Cody, aku kurang menyukai karakter dia, awalnya dia terlalu ‘jual mahal’, eh akhirnya malahan dia yang nyerah. Untuk itu, aku sedikit menyalahkan penulis yang nggak berpengang teguh dengan karakter ‘dingin+sombong+cewek baik-baiknya’ si Cody itu.

“How can you believe someone to be so beautiful and amazing and just about the most magical person you’ve ever known, when it turns out she was in such pain that she had to drink poison to rob her cells of oxygen until her heart had no choice but to stop beating?”

After all, buku ini tidak mengecewakan sama sekali. Meskipun karya-karya terkenal dari penulis ini adalah If I Stay, aku tetap mengukuhkan hati untuk membaca buku ini terlebih dahulu (mungkin ini yang disebut feeling yakk!! hehe) Sebenarnya tidak tahu kenapa juga, mungkin karena covernya yang bagus? Atau, mungkin karena judulnya, “I WAS HERE” yang bikin baper tingkat dewa?