[Book Review/ Baca Bareng 2015] Perfect Pain

Perfect Pain

Judul: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 316 hlm.
ISBN: 979-780-840-8
Format: Paperback

Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

REVIEW:

…..Manusia memang punya daya adaptasi dan toleransi yang baik, bukan? Buatku, ada dua macam luka. Satu, luka yang bisa sembuh. Bekasnya hilang seakan tak pernah terjadi apa-apa. Seperti memar-memar ditubuhku. Begitu warna ungu kebiruannya berubah menjadi kuning menyerupai warna kulit, memar itu siap lenyap.
Namun, ada pula jenis luka kedua, yang semahir apapun pengobatannya, takkan pernah hilang. Seperti memar-memar di hatiku. Di jiwaku.

Penulis mengangkat tema yang cukup sensitif: KDRT, sesuai sekali dengan judul yang diangkat: Perfect Pain.

Dikisahkan seorang wanita bernama Bidari, yang menikahi Bram diumur yang masih sangat mudah, 18 tahun. Parahnya, pernikahan mereka sebenarnya tidak disetujui oleh ayah Bidari yang merupakan seorang tentara. Kemudian, Bidari dan Bram memutuskan untuk kawin lari, kawin tanpa persetujuan orang tua.

“Ingat, Bi. Kamu yang bersikeras menikah dengan Bram. Kalau ada apa-apa, jangan nangis-nangis pulang ke rumah.

Memang benar sekali kata orang, kita nggak bakal bisa mengenal seseorang dengan baik sebelum tinggal bersama.

Sebelumnya, Bidari pikir Bram dapat menolongnya untuk keluar dari lingkaran ayahnya. Ayahnya yang selalu mencaci maki Bidari, tidak pernah puas, dan selalu menganggap Bidari anak yang lemah, juga bodoh.
Bram yang sangat protektif dan menyayangi Bidari membuat Bi memimpikan rumah tangga yang indah bersama Bram. Nyatanya, mimpi dan kenyataan memang beda jauh.

“Bi, setiap orang layak dicintai. Kalau di kepalamu selalu tertanam ide bahwa kamu nggak pantas dicintai, maka itulah cara orang akan memperlakukanmu.”


Ini kali pertama aku membaca karya penulis ini. Jujur, penulis sukses membuatku berkaca-kaca sepanjang cerita.
Cerita dibuka oleh Bi yang dipanggil sekolah karena anaknya, Karel menonjok temannya. Kemudian, cerita terus mengalir sampai ke alasan kenapa Karel selalu muran dan hanya menggambar sosok ibunya. Disisi lain, Miss Elena selaku wali kelas Karel sangat mengkhawatirkan anak itu.
Karena Karel sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan bejat ayahnya itu, Karel memutuskan untuk mengunjungi pacar Miss Elena yang merupakan seorang pengacara.

Nah, dari situlah cerita terus mengalir. Dimana Sindhu, si pengacara terus bertekat untuk menolong Bidari dan Karel.

Hanya saja, ada konflik selipan dalam buku ini. Tentang Sindhu.

Sama seperti Karel, Sindhu juga merupakan korban KDRT. Versi yang lebih parah. Kenapa?

Mungkin memang benar yang dikatakan Bi, bahwa suaminya memiliki kepribadian ganda. Disuatu waktu, Bram dapat naik pitam dan dengan gampangnya melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Bidari. Tapi, di waktu yang lain, Bram akan minta maaf dengan wajah polosnya bahkan memelas dan hampir menangis! Barangkali, itulah alasan mengapa Bi bertahan sampai belasan tahun.

Pada akhirnya, apa keputusan Bi? Apakah ia tetap tinggal, atau pergi?


Pada awalnya, tokoh utamanya akan digambarkan sebagai sosok yang lemah. Benar-benar lemah.
Memang benar, sebagai tokoh utama, Bidari tergolong lemah. Tetapi tidak benar-benar lemah.
Ayah Bidari selalu mencacinya dengan mengatakan ia tidak berguna, lemah, bodoh. Karena itu, hal-hal yang tertanamkan di otak Bidari sama percis dengan yang dikatakan ayahnya: Lemah dan tidak berguna.

Pada titik tersebut, kesalahan benar-benar ada pada ayah Bidari. Mendidik anak dengan benar bukan berarti boleh men-judge anak seenaknya. Secara tidak langsung, itulah yang akan ‘ditangkap’ dan ‘diterima’ si anak. Bahwa mereka adalah apa yang dikatakan orang tuanya.

Disisi lain, Bidari telah menangkap mentah-mentah apa yang dikatakan ayahnya. Ia menerima Bram karena takut tidak ada yang mau mencintainya sebesar Bram mencintainya. Bi pikir ia tidak pantas dicintai, seperti yang dikatakan ayahnya.

Sindhu, si pengacara, yang awalnya aku pikir cuma ‘numpang lewat’ ternyata mendapatkan peran yang penting dalam cerita.

Overall, tokoh favorit aku dalam cerita ini tentu saja Sindhu. Ia benar-benar dapat diandalkan.
Disisi lain, aku cukup menyukai Miss Elena. Hanya saja, mungkin karena Elena yang hidup dilingkungan ‘Orangtua bahagia’, ia tidak begitu bisa merasakan apa yang dialami oleh Bidari sehingga perannya tidak begitu banyak.
Kemudian ada Bram, suami Bi yang aku pikir memiliki sedikit gangguan jiwa. Kadang aku merasa kasihan, tapi lebih banyak merasa marah! Haha.

Lalu untuk Bi, aku malah kurang menyukai karakter ini. Bi terlalu ‘pasrah’ dengan keadaan. Mungkin perkataan ayah Bi ‘sedikit’ benar (jadi ngerasa jahat.. xD)

Untuk covernya, aku suka banget! Pilihan warna latarnya bikin adem, bener nggak? Pilihan judulnya juga top. Langusng bikin galau. Setuju?

Tidak lupa, aku bener-bener suka gaya penulisan mbak Anggun! Mengingat banyaknya quotes yang bertebaran disepanjang cerita.

‘Jangan jadikan orang lain lasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian.” – Sindhu

Advertisements

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s