[Book Review] Last Forever

27132321

Judul: Last Forever
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 378 hlm.
ISBN: 9797808432

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?

REVIEW:

Kesekian kalinya membaca buku karya Windry Ramadhina, salah satu penulis favoritku.
Penulis memang beberapa kali memunculkan tokoh utama dari novel sebelumnya ke novel berikutnya. Sebagai contoh tokoh wanita dari London: Angel yang muncul pada Walking After You.

Berbeda dengan tokoh yang muncul di Walking After You yang hanya ‘numpang lewat’ atau ‘sekedar muncul di beberapa scene’, tokoh yang muncul di novel ini, atau bisa kita sebut ‘guest’ memiliki porsi ‘kehadiran’ yang lebih banyak. Tokoh yang menjadi guest di novel ini adalah Rayyi, si pemeran utama pria pada novel Montase.

Seperti yang diceritakan di Montase, Rayyi sangat menyukai film dokumenter dan kemudian bekerja di Hardi. Nah, tokoh utama dalam novel Last Forever ini adalah si pemilik Hardi, Samuel Hardi.

Samuel Hardi digambarkan sebagai seorang Don Juan berusia 32 tahun yang sangat anti-komitmen. Disisi lain, penulis mengangkat karakter Lana sebagai tokoh utama wanita yang juga anti-komtimen.
Mereka berdua menjalani sebuah hubungan– tidak, bukan hubungan, karena mereka tidak terikat.

Sama seperti Samuel, Lana juga bekerja dibagian film dokumenter. Bedanya, Lana bekerja di National Geographic dengan kantor pusat di Washington.

Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri. – Samuel Hardi.

Lana terlalu mencintai pekerjaannya.
Disisi lain, Lana mulai menyadari bahwa perasaannya kepada Samuel mulai terbentuk. Hanya saja, Lana terus menghambatnya. Lana selalu berpikir ia dan Samuel akan baik-baik saja. Maksudnya, Lana percaya bahwa ia dan Samuel tidak akan memiliki hubungan yang serius atau semacamnya.

Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar? – Lana Hart.

Mereka berhubungan tanpa ikatan selama kurang lebih 6 tahun. Hubungan tersebut tidak lebih hanya untuk memuaskan ‘kebutuhan’ seks masing-masing. Karena Lana yang sering ‘keliling dunia’ dan bekerja di tempat yang jauh, Lana hanya mengunjungi Samuel kurang lebih setengah atau satu tahun sekali di Jakarta, kadangkala, Samuel yang mengunjungi Lana di Washington. Lana akan mengunjungi Samuel selama seminggu atau bahkan hanya dua hari setiap tahun/ setengah tahunnya. Mereka berhubungan selama enam tahun, tetapi jarang bertemu. Bahkan hanya sekedar menanyakan kabar masing-masing pun tidak.

Lana Hart memang seperti itu. Suka muncul dan menghilang tiba-tiba.

Dan…

Samuel Hardi bukanlah pria yang ambil pusing tentang hal tersebut.
Hanya saja, Samuel Hardi tidak dapat menoleransi kegemaran Lana yang suka ‘meninggalkannya’ tiba-tiba.
Karena, karena Samuel tidak ditinggalkan wanita. Samuel meninggalkan wanita.

Sampai suatu ketika, Lana dan Samuel dihadapkan dengan kenyataan yang membuat mereka harus kembali memikirkan hubungan mereka.

Aku sangat menyukai sampul dari buku ini. Sangat simpel. Fontnya juga pas banget.

Bicara soal tokoh, aku kurang menyukai tokoh Lana. Tokoh ini selalu menolak kenyataan. Tokoh yang terlalu egois bahkan kepada dirinya sendiri. Tokoh yang selalu membangun ‘tembok pertahanan’ dikarenakan sesuatu yang pernah ia hadapi di masa lalu.

Seperti yang dikatakan sampulnya, penulis menuliskan cerita ini berlatarkan tempat di Indonesia seperti Jakarta, dan Flores. Belum lagi tempat-tempat yang hanya ‘sekedar’ lewat, contohnya: LA dan Washington.

Seperti biasa, aku selalu menyukai gaya penulisan penulis. Cerita ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga serba tahu.
Cerita yang ditulis dari sudut pandang orang ketiga cenderung kaku, tetapi tidak karya Windry Ramadhina. Penulis ini selalu berhasil ‘membuai’ pembaca ke dalam ceritanya. Gaya penulisannya rapi, alur yang mengalir, dan yang paling penting: tidak bertele-tele dan mudah dimengerti.

Ada tersebar beberapa sketsa wajah kedua tokoh utamanya, Lana dan Samuel. Sketsa wajah tersebut membantuku dalam ‘berimajinasi’ tentang tokoh dikala aku menikmati cerita ini.

Meski begitu, ada beberapa ‘hal’ yang menurutku kurang. Mungkin ide cerita?
Aku tidak tahu.
Hanya saja, tidak seperti karya-karyanya yang lain, jalan cerita dalam buku ini sedikit membuatku bosan. Mungkin karena konflik yang ‘Klise’?

Overall, aku tetap menikmati cerita ini, sampai akhir. Aku berkata bahwa cerita yang disuguhkan sedikit membosankan. Benar? Yah, tetapi, hanya ‘sedikit’. Porsinya sedikit. Tidak sampai membuat aku ‘stuck‘ di pertengahan buku.

Advertisements

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s