[Book Review] The Notebook

23215247

Judul: The Notebook
Penulis: Nicholas Sparks
Penerbit: Gramedia (Indo vers.)
Terbit: Cetakan keempat, 2014
Tebal: 256 hlm.
ISBN: 9786020306490

REVIEW:

Ayahku pernah bilang bahwa begitu kau jatuh cinta untuk pertama kali, kehidupanmu akan berubah selamanya, dan betapapun kau berusaha, perasaan itu tidak akan bisa dihapuskan. Gadis yang kau ceritakan padaku adalah cinta pertamamu. Dan apa pun yang kau lakukan, dia akan tetap di hatimu selamanya.

Sangat disayangkan, aku menemukan banyak sekali typo. Padahal, terjemahannya sudah cukup baik.

Aku membaca The Notebook tahun lalu. Dan, yah, film The Notebook bikin aku ‘selalu’ pengin membaca bukunya. The Notebook sendiri juga merupakan buku Nicholas Sparks pertama yang aku baca. By the way, Nicholas Sparks akan menerbitkan buku baru lainnya yang berjudul See Me (sedang pre-order) dan film adaptasi barunya, The Choice. Trailer dari The Choice bisa dilihat disini.

The Notebook bercerita tentang seorang pria biasa, Noah Calhoun yang jatuh cinta kepada seorang wanita kaya, Allison Nelson. Mereka bertemu saat musim panas. Kala itu, Allie dan keluarganya mengunjungi New Bern untuk liburan musim panas. Kala itu, Noah masih berusia 17 tahun dan Allie 15 tahun, mereka saling jatuh cinta kala itu. Hanya saja, orang tua Allie menggangap Noah tidak pantas untuknya. Maka dari itu, selesai musim panas, selesai juga cinta mereka, atau, begitulah yang orang tua Allie anggap. Tetapi, tidak dengan Noah dan Allie.

Dalam satu tahun setelah kepergian Allie dari kota itu, Noah kerap mengirimi Allie surat, setiap hari dalam satu tahun. Hanya saja, surat tersebut tidak pernah mendapat balasan. Allie ternyata tidak pernah menerima surat tersebut. Bertahun-tahun setelahnya, Noah memutuskan untuk mencari Allie. Tapi ia kehilangan jejak, Allie dan keluarganya sudah pindah.

Bertahun-tahun kemudian, Allie tidak sengaja melihat sebuah berita dikoran yang dipegangnya. Berita tersebut memuat foto sebuah rumah berlatar warna putih dan terpampang foto Noah di dalamnya. Foto tersebut memuat Allie kembali mengingat masa lalu. Ia jadi meragukan pertunangannya dengan Lon Hammod, pria yang dikenalnya saat Allie menjadi relawan untuk mengobati prajurit perang dunia. Lalu, Allie memutuskan untuk kembali ke New Bern, kembali ke kota yang menyimpan masa lalunya.

Allie dan Noah kembali bertemu, setelah empat belas tahun, mereka kembali bertemu. Hanya saja, keadaan sudah berubah sekarang.

Kau adalah jawaban untuk semua doa yang pernah kupanjatkan. Kau adalah sebait lagu, sejumput mimpi, sepenggal bisikan, dan aku tak mengerti bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu selama ini. Aku mencintaimu, Allie, melebihi yang bisa kaubayangkan. Aku memang mencintaimu selama ini, dan selamanya aku akan selalu mencintaimu.

Cerita dibuka dengan seorang pria tua yang membacakan buku catatan untuk seorang wanita tua dirumah sakit. Maka, alur yang digunakan dalam buku ini adalah alur mundur. Tidak usah dipertanyakan lagi, ya, tentang siapa si wanita tua dan pria tua tersebut. Aku yakin, kalian semua pasti tahu tentang hal tersebut.

Ada banyak hal yang berbeda antara buku dengan film. Hal yang paling dapat dirasakan adalah adanya karakter tambahan. Sebenarnya aku tidak begitu mempermasalahkan ini. Toh, karakternya juga tidak terlalu penting.

Perbedaan lainnya adalah, titik pertemuan antara Noah dan Allie. Dibuku, pertemuan mereka tidak digambarkan dengan jelas. Sedangkan di film diceritakan bahwa mereka bertemu disuatu malam di sebuah pasar malam.

Tokoh Lon Hammond Jr., tunangan Allie juga diceritakan sedemikian mendetail, padahal difilm karakter Lon tidak begitu mencolok. Lain dengan karakter ayah Noah. Di film, karakter ayah Noah cukup mendominasi, hadir di tengah-tengah Allie dan Noah. Membantu keromantisan yang mereka bangun meskipun tidak langsung.

Jujur saja, aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa buku ini hanya memiliki 200-an halaman. Bagaimana bisa cerita yang sedemikian rupa bisa sedemikian tipis?
Dan, aku juga sangat kecewa terhadap covernya. Sepertinya penerbit indonesia benar-benar sangat ‘stuck‘ pada cover ini. Jika dilihat dari riwayat penerbitannya, buku ini sudah dicetak ulang empat kali. Kali keempat adalah tahun 2014. Masa, nggak mengalami perubahan cover, sih? Jujur, covernya sangat tidak bagus. Terlalu simpel.

Overall, meskipun aku banyak merasa tidak puas pada beberapa bagian di buku ini, aku tetap memberi rating yang bagus di Goodreads. Sebenarnya, aku pikir cerita ini jadi tidak bagus karena aku membaca versi indonesianya (bukan menjelek-jelekkan ya, tapi memang kenyataan, bukan?), aku benar-benar pengin membaca versi internationalnya. Mungkin akan lebih baik jika aku mencari e-book dari buku ini. Penasaran, ada nggak sih bagian-bagian yang ‘beda’ antara versi asli dan terjemahannya? Ah, mungkin yang ‘beda’ cover ya? Aku melihat ada beberapa cover yang bagus-bagus, tapi tidak tahu, terbitan negara mana, secara tuh, The Notebook  sudah diterbitkan dibanyak negara.

By the way, mungkin kali ini, aku lebih suka versi filmnya daripada novelnya. No offense. Cuma, menurutku versi filmnya lebih bagus. Apalagi pemilihan aktor dan artis yang cocok banget!

Salah satu adegan favorit di film. Sangat disayangkan, ternyata adegan ini tidak digambarkan dibuku aslinya…

Advertisements

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s