Scene on Three #2

SceneOnThree

Halo! Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa kembali untuk menuliskan kejadian-kejadian di meme Scene on Three ini! By the way, sepertinya terakhir kali aku berpartisipasi dalam meme ini hampir setahun yang lalu xD.

      Samuel mencibir. “Aku tidak menikah, oke? Itu tidak ada dalam kamusku.” Itu benar. Dia tidak berhubungan serius dengan perempuan. Dengan perempuan, dia sebatas berkencan, bercumbu, dan bercinta. Tidak lebih. Itu pun tidak untuk waktu yang lama. “Komitmen adalah penyakit,” dalihnya, “itu sesuatu yang menggerogoti hubungan lelaki dan perempuan sampai habis, sampai keduanya tidak tahu lagi apa yang dulu membuat mereka bergairah. Mereka jadi terikat.” 

Lawan bicaranya mengernyit. “Wajar lelaki dan perempuan jadi terikat. Itu tujuan mereka menikah. Supaya bisa saling memiliki.”

Samuel mendesah, lalu malas-malasan mendebat, “Saling membebani, lebih tepatnya. Percayalah, menikah cuma akan menghilangkan keasyikan. Begitu terikat, lelaki dan perempuan berubah membosankan. Segala hal, bahkan seks, mereka lakukan semata-mata karena rutinitas dan kewajiban. Lalu, salah satu atau keduanya mulai menginginkan pasangan baru. Ujung-ujungnya, mereka berpisah. Kalaupun tidak, mereka saling membenci sampai mati. Nah, katakan, kenapa aku harus membuang kebebaskanku untuk itu?”

Scene diatas merupakan percakapan antara Daniel Hardi dan salah satu pekerjanya, Rayyi. Scene diatas diambil dari buku terbaru karya Windry Ramadhina, salah satu penulis favoritku yang berjudul “Last Forever”

Aku belum menyelesaikan membaca buku ini, jadi belum ada review. Mungkin review akan kutulis dua hari lagi, atau jika ada keajaiban, besok. Mengingat minat reviewku akhir-akhir bener-bener parah.

Alasanku kenapa aku memilih scene tersebut adalah karena Daniel. Daniel yang menolak mentah-mentah komitmen. Aku tidak bisa menjabarkan seluruh alasanku. Karena, jika iya, itu sama saja aku membeberkan poin-poin penting dalam buku ini. Sedikit pencerahan, Last Forever bercerita tentang dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta dan terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen.

Silakan bagi scene kalian sampai akhir bulan ini:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Happy Halloween! ❤

 

 

Advertisements

[Movie Review] The Martian

Me and my cousins watched this movie together on saturday night around 9pm. So, after i watch the movie, i decided to write the review of this movie.

To be honest, i never really like sci-fci movie. I think it because sci-fci movie is very hard to understand (i mean, understand the story plot. But, i won’t mind if there’s any sci-fci+romance movie.)
Talking about sci-fci, i’ve watched a movie titled ‘Gravity’. The story’s idea is almost equal to The Martian. No really equal, but.. yeah…
Gravity is telling about a woman whom’s trapped in the space because her crew’s spaceship has damaged (i forgot what was the cause) the rest of her crews were die, left her alone in the space. With her spacesuit and her limited oxygen, she’s struggling to survive.
Really, Gravity is farrr from good. The movie was very boring. I said this not because i hate the actors or actress or whatev, but it was a reality. I think, Gravity should’ve been on list’s ‘The Most Boring Movies Ever Made’.

Back to the topics…
The Martian is Sci-fci movie based on Andy Weir’s novel which starring Matt Damon as Mark Watney.
Watney is an astronaut who’s assumsed that he has died because of the storms that hit mars when Watney and his crews with Ares III spaceship manned missions to Mars.
Yes, they were missunderstood. Watney hasn’t die (yet).
So, with his botanical knowledges, he decided to grow some potatoes in Mars, in the Habitat (Habitat is Ares crews resident) (wow!). By the way, he’s using his own feces as fertilisers (ugh!)
Mark Watney has one chance to be survived and come back home: wait for Ares IV which will landing on Mars 4 years later.
Fortunately, one of Nasa’s engineers realized that there’s something’s moving in Mars. They realized that Watney is still alive.
After that, they started to think about make contact with Watney in Mars.

Life is hard, in the Earth. It’s harder in Mars. True?

I really like this movie. As sci-fci movie, this movie is very good. Especially, this movie was set in the Mars. The actor who’s starring as Mark Watney is very impress me with his acting skills.
By the way, there’s a little bit of humor senses in this movie (i’d like it if there’s more.. kekekeke) and.. yes… a little ridiculous scenes. It’s Watney’s bodies tranformations.

Actually, at first, i really can’t understand every single thing. I think this movie is hard to understand (or am i the one who’s hard to understand? nevermind!). At first, i didn’t know that ‘SOL’ is like ‘DAY’ on Earth.
At first, i think ‘SOL’ is places name.

Overall, this movie is amazed me! Not because of the storyline, i think it more because of the technologys that used for the movie (Some articles said that there’s some real technologys in NASA that used in that movie)

By the way, this month i watched 3 movie already. First is The Martian, following by Crimson Peak (This is a great movie! OMG! I do really love the characters, storyline, conflict, all of them! I even think that this movie is the greatest movie i’ve ever watched this year ><) and, the last (but not least) movie i watched this month is Goosebumps! And… i’ve already planned to watch knock-knock tomorrow night 😀

I’m sure there’s grammatical errors in this post. I’ll just hope that y’all will understand because english is not my mother language and still learning by writing my movies review in english 🙂

Displaying 20151010_211022_resized.jpg

[Opini Bareng] Oktober: Peran Wanita

rd_image_resized

Aku selalu menyukai cerita-cerita yang memiliki karakter wanita yang kuat (Mungkin disini aku akan ‘sedikit’ membahas tentang karakter tokoh, no offense ya. Berhubung opini bareng tentang karakter utama aku lewati kemarin-kemarin), Bagaimanapun perannya dicerita tersebut. Aku pikir, bukan cuma aku yang menyukai karakter wanita kuat. Banyak pembaca juga menyukai itu. Aku rasa, alasan kita menyukai karakter wanita yang kuat adalah: (mungkin) karakter yang kuat dapat ‘menyelamatkan’ cerita dari ‘kemenye-menye-an’. Tahu kan? Maksudku, ceritanya bakal ‘terasa’ lebay, atau lebih tepatnya: ‘overdosis karakter’.

Mungkin banyak yang tidak setuju akan hal ‘kenapa aku menyukai karakter wanita kuat’. Jelas ya, pastikan setiap orang memiliki pendapat masing-masing, bener?
Meski begitu, aku juga tidak sepenuhnya membenci karakter wanita yang lemah. Mungkin perannya dalam cerita tersebut yang ‘memaksa’, dipaksa keadaan istilahnya.

Biasanya, peran wanita selalu mendominasi dalam setiap cerita. Ada peran wanita kuat, ada juga peran wanita yang lemah. Disini, aku akan membahas tentang peran wanita kuat yang aku baca dibeberapa cerita maupun yang aku temui di film adaptasi.

Sebagai contoh, Katniss Everdeen di The Hunger Games. Jujur saja, aku memiliki buku The Hunger Games, tapi masih di rak, belum dibaca, kebiasaan pembaca, bener?
Kembali ke topik, aku menyimpulkan Katniss adalah peran wanita yang kuat karena aku telah menonton filmnya dari awal, dan yah, akan sampai akhir.
Dan.. kembali lagi ke topik, di The Hunger Games, Katniss ditempatkan sebagai peran utama wanita. Pada awalnya, karakter Katniss digambarkan sangat lemah (atau, pura-pura lemah?), lalu berangsur-angsur ke kuat meskipun masih banyak tekanan-tekanan yang ia alami. Disini, peran Katniss sangat membantu menyelesaikan ‘konflik’ cerita (ya iyalah, namanya dia pemeran utama!)…

Disisi lain, ada juga peran utama wanita yang sangat menyusahkan. Menyusahkan karena sikapnya. Sebagai contoh: plin-plan. Tipe ini sangat aku hindari (didunia nyata), karena tipe ini bener-bener nggak punya pendirian (udah pernah ngalami, banyak temen aku yang begini. Hari ini bilang ‘bisa’, besoknya ‘malas pigi’.)

Sebagai contoh, Teresa di The Scroch Trials cukup membuatku kesal. Aku bener-bener nggak menyangka ia akan mengkhianati Thomas. Aku tidak tahu ia bodoh atau pintar (karena belum baca buku ketiga dan baru nonton sampe film kedua. Sebenarnya aku yakin sih, kalo WCKED itu jahat, tapi ya, aku kurang ngerti soal ceritanya. Tapi aku suka #ehgimanasih) Dari awal, aku merasa peran Teresa itu kurang penting, bahkan kadangkala aku merasa kalau peran Teresa itu ‘menyusahkan’ dan… ternyata.. iya.. emang…
Tapi kalau nggak ada Teresa nggak bakal seru, sih…. -_-

Sebenarnya, aku bisa memberikan contoh peran wanita yang patut dikagumi dan bikin kesal lainnya. Hanya saja, aku tidak bisa mengingat apapun untuk sekarang ini -_-. Kalau sudah ingat, bakal aku edit kembali 🙂

By the way, maafkan jika opini yang kutorehkan bulan ini ‘sedikit’ out of line ya. Atau bahkan, kalian sama sekali tidak mengerti apa yang aku bicarakan #sedih. Mungkin aku sedang lelah….~

[Edited]

Baru ingat soal Misteri Patung Garam, jadi, entah kenapa, aku tidak menuliskan review untuk cerita ini. Mungkin karena tema beginian lebih sulit ditulis reviewnya, atau bisa juga karena ‘semangat’ reviewku tiba-tiba punah saat itu #lupakan.
Misteri Patung Garam bercerita tentang seorang polisi muda bernama Kiri Lamari yang sedang mencari titik terang dari pembunuhan berantai. Pembunuh ini selalu mengoleskan garam ke para korbannya sehingga tubuh mereka menjadi ‘Patung Garam’
Nah, dalam mengusut kasus ini, Kiri Lamari dibantu oleh pacarnya. Wanita yang cerdas. Perannya sangat membantu dalam hal ini. Padahal, awalnya aku kira dia bakal memiliki peran yang kecil dan hanya menyusahkan. Ternyata, ia sangat membantu dalam mencari kebenarannya. Salut! By the way, aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca! Bagus banget!

[Book Review] The Notebook

23215247

Judul: The Notebook
Penulis: Nicholas Sparks
Penerbit: Gramedia (Indo vers.)
Terbit: Cetakan keempat, 2014
Tebal: 256 hlm.
ISBN: 9786020306490

REVIEW:

Ayahku pernah bilang bahwa begitu kau jatuh cinta untuk pertama kali, kehidupanmu akan berubah selamanya, dan betapapun kau berusaha, perasaan itu tidak akan bisa dihapuskan. Gadis yang kau ceritakan padaku adalah cinta pertamamu. Dan apa pun yang kau lakukan, dia akan tetap di hatimu selamanya.

Sangat disayangkan, aku menemukan banyak sekali typo. Padahal, terjemahannya sudah cukup baik.

Aku membaca The Notebook tahun lalu. Dan, yah, film The Notebook bikin aku ‘selalu’ pengin membaca bukunya. The Notebook sendiri juga merupakan buku Nicholas Sparks pertama yang aku baca. By the way, Nicholas Sparks akan menerbitkan buku baru lainnya yang berjudul See Me (sedang pre-order) dan film adaptasi barunya, The Choice. Trailer dari The Choice bisa dilihat disini.

The Notebook bercerita tentang seorang pria biasa, Noah Calhoun yang jatuh cinta kepada seorang wanita kaya, Allison Nelson. Mereka bertemu saat musim panas. Kala itu, Allie dan keluarganya mengunjungi New Bern untuk liburan musim panas. Kala itu, Noah masih berusia 17 tahun dan Allie 15 tahun, mereka saling jatuh cinta kala itu. Hanya saja, orang tua Allie menggangap Noah tidak pantas untuknya. Maka dari itu, selesai musim panas, selesai juga cinta mereka, atau, begitulah yang orang tua Allie anggap. Tetapi, tidak dengan Noah dan Allie.

Dalam satu tahun setelah kepergian Allie dari kota itu, Noah kerap mengirimi Allie surat, setiap hari dalam satu tahun. Hanya saja, surat tersebut tidak pernah mendapat balasan. Allie ternyata tidak pernah menerima surat tersebut. Bertahun-tahun setelahnya, Noah memutuskan untuk mencari Allie. Tapi ia kehilangan jejak, Allie dan keluarganya sudah pindah.

Bertahun-tahun kemudian, Allie tidak sengaja melihat sebuah berita dikoran yang dipegangnya. Berita tersebut memuat foto sebuah rumah berlatar warna putih dan terpampang foto Noah di dalamnya. Foto tersebut memuat Allie kembali mengingat masa lalu. Ia jadi meragukan pertunangannya dengan Lon Hammod, pria yang dikenalnya saat Allie menjadi relawan untuk mengobati prajurit perang dunia. Lalu, Allie memutuskan untuk kembali ke New Bern, kembali ke kota yang menyimpan masa lalunya.

Allie dan Noah kembali bertemu, setelah empat belas tahun, mereka kembali bertemu. Hanya saja, keadaan sudah berubah sekarang.

Kau adalah jawaban untuk semua doa yang pernah kupanjatkan. Kau adalah sebait lagu, sejumput mimpi, sepenggal bisikan, dan aku tak mengerti bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu selama ini. Aku mencintaimu, Allie, melebihi yang bisa kaubayangkan. Aku memang mencintaimu selama ini, dan selamanya aku akan selalu mencintaimu.

Cerita dibuka dengan seorang pria tua yang membacakan buku catatan untuk seorang wanita tua dirumah sakit. Maka, alur yang digunakan dalam buku ini adalah alur mundur. Tidak usah dipertanyakan lagi, ya, tentang siapa si wanita tua dan pria tua tersebut. Aku yakin, kalian semua pasti tahu tentang hal tersebut.

Ada banyak hal yang berbeda antara buku dengan film. Hal yang paling dapat dirasakan adalah adanya karakter tambahan. Sebenarnya aku tidak begitu mempermasalahkan ini. Toh, karakternya juga tidak terlalu penting.

Perbedaan lainnya adalah, titik pertemuan antara Noah dan Allie. Dibuku, pertemuan mereka tidak digambarkan dengan jelas. Sedangkan di film diceritakan bahwa mereka bertemu disuatu malam di sebuah pasar malam.

Tokoh Lon Hammond Jr., tunangan Allie juga diceritakan sedemikian mendetail, padahal difilm karakter Lon tidak begitu mencolok. Lain dengan karakter ayah Noah. Di film, karakter ayah Noah cukup mendominasi, hadir di tengah-tengah Allie dan Noah. Membantu keromantisan yang mereka bangun meskipun tidak langsung.

Jujur saja, aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa buku ini hanya memiliki 200-an halaman. Bagaimana bisa cerita yang sedemikian rupa bisa sedemikian tipis?
Dan, aku juga sangat kecewa terhadap covernya. Sepertinya penerbit indonesia benar-benar sangat ‘stuck‘ pada cover ini. Jika dilihat dari riwayat penerbitannya, buku ini sudah dicetak ulang empat kali. Kali keempat adalah tahun 2014. Masa, nggak mengalami perubahan cover, sih? Jujur, covernya sangat tidak bagus. Terlalu simpel.

Overall, meskipun aku banyak merasa tidak puas pada beberapa bagian di buku ini, aku tetap memberi rating yang bagus di Goodreads. Sebenarnya, aku pikir cerita ini jadi tidak bagus karena aku membaca versi indonesianya (bukan menjelek-jelekkan ya, tapi memang kenyataan, bukan?), aku benar-benar pengin membaca versi internationalnya. Mungkin akan lebih baik jika aku mencari e-book dari buku ini. Penasaran, ada nggak sih bagian-bagian yang ‘beda’ antara versi asli dan terjemahannya? Ah, mungkin yang ‘beda’ cover ya? Aku melihat ada beberapa cover yang bagus-bagus, tapi tidak tahu, terbitan negara mana, secara tuh, The Notebook  sudah diterbitkan dibanyak negara.

By the way, mungkin kali ini, aku lebih suka versi filmnya daripada novelnya. No offense. Cuma, menurutku versi filmnya lebih bagus. Apalagi pemilihan aktor dan artis yang cocok banget!

Salah satu adegan favorit di film. Sangat disayangkan, ternyata adegan ini tidak digambarkan dibuku aslinya…