[Book Review] Dilan: dia adalah Dilanku tahun 1991

25857857

Judul: Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Terbit: 2015
Tebal: 344 hlm.
ISBN: 9786027870994

“Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.”
―Milea

“Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama.”
―Dilan

REVIEW:

Tujuan pacaran adalah putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.

Buku ini merupakan buku lanjutan dari Dilan: dia adalah Dilanku Tahun 1990. Saya pikir, bagi kalian-kalian yang ingin membaca buku ini, hendaklah baca buku yang pertama dahulu. Karena, buku pertama dan buku kedua sangat berhubungan. Mungkin, kalian akan mengalami kebingungan jika langsung baca buku kedua ini.

Jadi, dibuku kedua ini, penulis menceritakan hubungan pacaran antara Dilan dan Milea. Seperti hubungan para remaja lainnya, hubungan Dilan-Milea juga sering terjadi pasang naik-surut. Mungkin karena Dilan yang terlalu keras kepala, atau mungkin Milea yang terlalu mengkhawatirkan Dilan.

Aku menyukai gaya penulisan Pidi Baiq (meskipun sempat merasa ‘kurang puas’ gara-gara pembicaraan antara Dilan dan Milea yang terlalu banyak). Tidak sebagus Winna Efendi atau Windry Ramadhina (menurutku). Tapi, gaya penulisan penulis ini mampu ‘memberi’ suasana vintage. Maksudku, latar tempat yang mendominasi cerita ini sangat terasa, dan.. aku rasa itu semua berkat ‘keahian’ penulis dalam menulis. Tidak bertele-tele (Lupakan bagian pembicaraan Dilan-Milea yang sedikit bertele-tele, tetapi itulah yang menambah keromantisan mereka! Haha.), dan diselipi humor ringan.

Untuk sampul  buku, sampul buku pertama dan kedua tidak jauh beda. Dilan menempati sampul buku pertama, dan Milea menempati sampul buku kedua.

Sebelum membaca buku kedua ini, aku sempat melihat review dari teman-teman di goodreads tentang buku kedua ini. Banyak dari mereka yang ‘kedapatan’  galau, tidak puas, sampai patah hati. Ada pula yang berkata bahwa Dilan dibuku kedua ini bikin patah hati setelah membuat dirinya jatuh cinta dibuku kedua (sebenarnya, untuk bagian bikin ‘patah hati’ ini, aku ‘sedikit’ setuju. Karakter Dilan dibuku kedua ini kurang mendominasi, ia bahkan sangat ‘menampakkan’ jiwa pemberontaknya. Kadang kala, aku merasa bahwa Dilan ‘tidak cukup’ mencintai Milea. Aku malah merasa Milea yang jatuh cinta setengah mati untuk Dilan.

Menurutku, aku mau pacaran dengan DIlan lebih karena sikapnya kepadaku selama ini. Menurutku, dia itu memiliki kepribadian yang aku inginkan. Memiliki pemikiran yang mampu mengubah pola pikirku yang lama.

Lalu, saat aku tiba di bab-bab terakhir, endingnya cukup mengejutkan. Sangat diluar ekspetasiku. Mungkin ini salah-satu cara penulis untuk memberi hukuman kepada pembaca-pembaca yang selalu menerka-nerka akan akhir dari suatu cerita, setidaknya begitu menurutku.

Overall, sama seperti buku pertama, aku juga kurang puas akan akhir dari buku ini. Aku berharap buku ini masih memiliki kelanjutan. Tentu saja, aku akan merindukan Dilan dan Milea!

Advertisements

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s