[Book Review] Critical Eleven

25737077

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2015
Tebal: 334 hlm.
ISBN: 9786020318929

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

REVIEW:

Jika dipungut dari Goodreads, aku sudah menyelesaikan buku ini pada tanggal 22 agustus. Dan, yah, baru selesai ujian blok pada 30 agustus. Jadi ya, karena aku udah memutuskan untuk ‘nekat’ baca buku pas hari-hari ujian, untungnya aku nggak merasa ‘dirugikan’. Bukunya bagus!

Critical Eleven mengambil Aldebaran Risjad, dipanggil Ale sebagai tokoh utama pria,
Critical Eleven mengambil Tanya Baskoro, dipanggil Anya sebagai tokoh utama wanita.

Jujur saja, (dan sempat merasa malu) ini adalah kali pertama aku membaca karya sang penulis, Ika Natassa. Barangkali, nama ini sudah tidak asing lagi bagi penggemar Metropop. Yes, si penulis buku bestseller! (Jadi pengin baca A Very Yuppy Wedding 😦 Pokoknya masuk Wishlist!)
Aku menyukai gaya penulisan mbak Ika! Penulis menuliskan cerita dari sudut pandang orang pertama. Selain itu, penulis juga menempatkan proposi untuk masing-masing tokoh utama. POV-nya bergantian dari Ale atau Anya.

Tidak ada prolog atau epilog pada buku ini. Maka dari itu, bab pertama dibuka oleh Anya. Tentang ‘kesukaannya’ akan Bandara.

Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination.

Aku menyukai gaya penulisannya mungkin karena diselipi kalimat-kalimat dalam bahasa inggris yang aku rasa sangat ‘membantu’ situasi untuk menjadi makin romantis #? Aku nggak bisa menuliskan dengan begitu spesifik akan bagian ini. Mungkin karena bakal jadi ‘spoiler’ penuh. Disisi lain, gaya penulisannya juga tidak kaku (dimana sangat membantu untuk menghilangkan adanya ‘kesempatan’ bosan melanda para pembaca)
Untuk alur, penulis menuliskan cerita dengan alur maju-mundur. Meskipun tanpa pemisah, (maksudku disini: pemisah waktu ‘sekarang’ dan ‘dahulu’ yang biasa dipisahkan dengan bab atau sebagainya) aku tetap memahami apa yang dilontarkan penulis (tidak pusing, sama sekali!) Mungkin alur ini jugalah yang membuat aku selalu ingin cepat-cepat tiba di halaman terakhir dan nekat baca pada hari-hari ujian!

Dari segi cover, aku sangat menyukainya! Sebuah gambar pesawat yang baru take off dan sangat ‘mencerminkan’ apa isi bukunya. By the way, aku denger-denger, sih, ya, covernya mbak Ika Natassa sendiri loh yang design! Wow!

Tokoh favorit aku dalam buku ini sudah pasti Ale! Pada awalnya, aku pikir Ale itu rada-rada brengsek, eh, ternyata enggak (untunglah!)! Malahan, aku jadi merasa kalau Anya itu super-duper sensitif. Anya juga.. gimana ya bilangnya.. mau tapi sensi?

Sebagai penutup cerita, penulis menambahkan quotes tentang travel (Hlm. 334-335) Favoritku adalah:

Travel is where broken English is welcomed with a wide smile instead of greeted by a grammar nazi.

Overall, aku sangat menyukai buku ini. Aku menyukai segala tentang buku ini. Tapi, bagian terfavoritku adalah ide cerita dan konfliknya. Aku rasa, konfliknya tidak begitu sensitif sampai bisa menciptakan ‘kehancuran’, pada awalnya aku pikir begitu. Ternyata, ada lagi ‘suatu’ hal yang menambahkan ‘kesensitifan’ dari konflik yang diangkat. Dan dari sana, aku mempelajari sesuatu: Berpikir sebelum berbicara. 

Advertisements

6 thoughts on “[Book Review] Critical Eleven

  1. (Critical Eleven mengambil Aldebaran Risjad, dipanggil Ale sebagai tokoh utama pria,
    Critical Eleven mengambil Tanya Baskoro, dipanggil Anya sebagai tokoh utama pria.)

    Ayoloh kak, yang salah di situ yg mana? Kok dua-duanya tokoh utama pria?

  2. Berhubung ini tokoh utamanya Aldebaran Risjad, coba cicip cerita dari adeknya Ale dulu, si Harris Risjad yang ada di novel Antologi Rasa. Mungkin Harris akan dapet satu korban grupie lagi nih. 😀

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s