[Giveaway Winner] Rentak Kuda Manggani

Hai!
Pertama-tama, maaf untuk ‘pengumuman’ pemenang yang telat. Behubung karena hari senin kemarin aku sibuk banget 😀

Dan.. Jujur ya, memilih jawaban bagus diantara jawaban bagus-bagus itu sulit banget. Jadi, setelah melakukan pemilihan sebaik-baiknya. Aku menyimpulkan seorang pemenang. By the way, aku suka gaya penulisan jawabannya. Bagus tulisannya 🙂

Selamat Kepada:

Irfan R

Twitter: @irfansebs
yang akan mendapatkan 1 buah novel Rentak Kuda Manggani dan 1 novel terbaru dari Divapress. 

Silahkan email ke vionsese138@gmail.com dengan format:

Subjek: Pemenang Blogtour
Nama:
Alamat lengkap: 

Ikuti Blogtour di blog berikutnya:

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak

22544789

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Aditya Mulyo
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2014
Tebal: 278 hlm.
ISBN: 9797807215
Format: Paperback

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

REVIEW:

Pada awalnya, aku benar-benar tidak tertarik dengan buku ini. Meskipun buku ini cukup populer di para blogger buku, begitupula di goodreads. Banyak user yang memberi bintang tinggi untuk buku ini. Hanya saja, aku tidak tertarik, setidaknya, begitu pada awalnya. Alasan kenapa aku tidak tertarik mungkin karena judul yang diambil, Sabtu Bersama Bapak. Selain judul, sinopsis sampul belakang juga kurang menonton. Terlalu flat, atau begitulah menurutku pada awalnya.

Membeli dan membaca buku ini benar-benar tidak ada dalam rencanaku awalnya. Bulan lalu, aku pergi ke pameran buku yang diadakan Gramedia di kotaku (mengingat tidak adanya toko buku Gramedia di kotaku). Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku datang ke pameran terserbut. Hanya saja, novel fiksi dalam pameran tersebut sangat sedikit, banyak sekali novel fiksi yang sudah kubeli maupun kubaca. Maka dari itu, sebagai opsi terakhir, aku membeli Sabtu Bersama Bapak. Buku yang ‘ceritanya’ sangat diluar ekspetasiku. Seperti kata Ika Natassa, Sabtu Bersama Bapak deserves a shoutout!

Jujur saja, aku belum pernah membaca buku karya penulis ini sebelumnya. Singkat kata, penulis ini benar-benar penulis baru untukku.

Sabtu Bersama Bapak mengangkat tema kekeluargaan diselipi berbagai konflik yang menyerang tokoh-tokohnya.
Sabtu Bersama Bapak mengangat Satya, Cakra, Bapak dan Ibu Gunawan sebagai tokoh utama. Sebenarnya, tokoh ‘bapak’ disini tidak berperan langsung. Maksudnya, peranannya tidak langsung. Hanya saja, tokoh ‘bapak’ sangat mendominasi cerita. Tanpa karakter ‘bapak’, mungkin saja cerita ini tidak akan terbentuk.
Bapak meninggal karena kanker yang mengerogotinya. Bapak meninggal disaat Satya dan Cakra masih muda. Hanya saja, Bapak membuat sebuah inovasi. Sebuah ide. Ide yang membuat ‘Bapak’ selalu hadir didalam hidup mereka meskipun sudah berpulang.
Sabtu Bersama Bapak menceritakan tentang kehidupan-kehidupan tokohnya. Ada Satya yang tampan tetapi gila kesempurnaan. Ada pula Cakra yang sedang mencari cinta.

Kewajiban suami adalah siap lahir dan batin. Ketika Bapak menikah tanpa persiapan lahir yang matang, itu artinya batin Bapak juga belum matang. Belum siap mentalnya. Karena Bapak gak cukup dewasa untuk mikir apa arti dari ‘siap melindungi’. – Pak Gunawan

Nah, Satya memang tampan, ia juga sudah berkeluarga dengan istri yang cantik dan tiga orang anak. Satya juga memiliki perkerjaan yang menjanjikan. Hanya saja, Satya memiliki karakter yang tidak menyukai kekurangan. Ia mau segalanya terlihat sempurna. Ia sering mengeluh masakan istrinya yang tidak selevel ibunya, anaknya yang tidak pandai matematika, anaknya yang tidak bisa berenang. Meskipun begitu, Satya memiliki istri yang sabar. Hanya saja, kesabaran seseorang selalu ada batasnya.
Dalam mengatasi permasalahan di rumah tangganya, Satya mendengarkan nasehat dari bapak. Bapak selalu berhasil menjadi ‘guru’ dalam segala hal. Belajar menjadi suami dan bapak yang baik.

Disisi lain, Bapak Gunawan memiliki putra kedua. Namanya Cakra. Jika konflik yang dialami tokoh Satya cukup sensitif, konflik yang dialami Cakra cukup mengalir dengan tentang. Juga diselipi beberapa humor yang sukses membuatku terbahak. Cakra sudah bekepala 3… dan.. masih jomblo. Lalu, ia bertemu Ayu.

“Kata Bapak saya… dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu.”

“…”

Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

s

Aku sangat menyukai sampul dari buku ini. Unsur kekeluargaannya sangat terasa. Ditambah lagi warna latar yang memberi rasa ‘adem’.

Cerita ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Dengan alur yang maju. Dibumbui banyak sekali kata-kata manis, tapi nggak sampai diabetes. Penulis juga ‘menyuguhkan’ latar tempat yang berbeda untuk setiap tokohnya.

Aku benar-benar menyukai ‘ide cerita’ ini. Sangat… em, bikin terbawa suasana. Menghanyutkan. Emosi yang dirasakan tokoh benar-benar terasa.

Overall, aku sangat menyukai cerita ini! Lima bintang! Unsur kekeluargaannya sangat terasa. Diselipi humor dan romansa. Cocok untuk semua kalangan yang ingin ‘merasakan’ banyaknya unsur dalam cerita yang melebur dan menciptakan sebuah karya bagus.

By the way, buku ini akan segera diangkat ke layar lebar. Kabarnya, mereka juga akan syuting di luar negeri! *excited!! Untuk itu, aku berdoa supaya filmnya tidak akan mengecewakan pembaca :)!

[Book Review] The Dead Returns

25924054

Judul: The Dead Returns
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Terbit: 1 Agustus 2015
Tebal: 252 hlm.
ISBN: 9786027742574

Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing.
Untungnya aku selamat.

Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin,
aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja.
Tubuhku berganti dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.

Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.

Tersangkanya, teman sekelas.
Total 35 orang.
Salah satunya adalah pembunuhku.

REVIEW:

Suatu malam, Koyama Nobuo jatuh dari tebing. Karena suasana yang begitu gelap saat itu, ia tidak dapat melihat siapa pelaku tersebut, siapa yang mendorongnya, siapa yang membuat jiwanya berlabuh ditubuh orang lain.

Benar, jiwa Koyama Nobuo hidup ditubuh pria lain, Takahashi Shinji. Nobuo bahkan tidak tahu, apakah ia harus bersyukur atau tidak. Disisi lain, ia menyukai ‘kehidupan’ Takahashi Shinji, wajah yang tampan, orangtua yang baik dan kaya, sampai pacar yang cantik.

Karena merasa diberi kesempatan, Nobuo yang hidup di tubuh Shinji memutuskan untuk memanfaatkan tubuh Shinji untuk mencari pembunuhnya. Hanya saja, mencari orang diantara 35 orang itu sangat susah. Belum lagi, Nobuo merasa orang-orang yang ada disekelilingnya mencurigakan. Termasuk ibu, sahabat, dan bahkan gurunya.

Aku baru bisa merasakan, bahwa hidup sebagai orang lain itu sangatlah melelahkan.

Menurutku, alur cerita terlalu pendek untuk buku yang bertemakan seperti ini. Singkatnya, kurang panjang. Meski begitu, seperti biasa, penulis sukses membuat aku ‘salah-sangka’. Endingnya benar-benar unbelievable! Pembunuhnya bener-bener unpredictable!

Disisi lain, aku juga sangat menyukai cover dari buku ini. Sangat misterius. Tatapan sang pria di cover depan bikin merinding, bener nggak? Tapi, jika dilihat-lihat lagi, kok mukanya mirip cewek di cover Girls in The Dark ? #lupakan.

Karena aku yang tidak terlalu sering membaca buku dari penulis jepang, aku selalu mengalami kendala dalam ‘mengingat’ nama tokoh. Beneran, dari awal sampai akhir, aku pikir Nobuo itu cewek. Pada akhirnya, temenku bilang kalo Nobuo itu cowok (?)

Entah kenapa, semangat menulis reviewku akhir-akhir ini menurun drastis. Semangat membacaku juga turun banget tahun ini. Jujur aja, aku membaca buku ini kira-kira seminggu/ dua minggu yang lalu. Dan baru kesampaian review hari ini. Mungkin, karena hari ini libur, ya. Jadwal sekolahku padat banget sekarang. Les dan ditambah eskul dari sekolah.

Overall, aku menyukai buku ini seperti bagaimana aku menyukai Girls in The Dark. Hanya saja, di beberapa titik aku merasa GiTD lebih bagus dari pada The Dead Returns (meski dari konflik lebih seru yang ini.)

[Blogtour + Giveaway] Rentak Kuda Manggani

Starking_resized

Judul: Rentak Kuda Manggani
Penulis: Zelfeni Wimra dkk.
Penerbit: Diva Press
Terbit: Agustus, 2015
Tebal: 176 hlm.
ISBN: 978-602-255-954-2

Kembali ke rumah masing-masing adalah kembali memasuki diri. Mengetuk dan menyapa ruang-ruang perenungan. Menghirup napas sedalam mungkin sehingga bisa memaknai kesendirian. Zelfeni Wimra—Rentak Kuda Manggani

Malam ini seharusnya kami berada di rumah, menyiapkan kado-kado di bawah pendar lampu pohon Natal, bernyanyi, menikmati suka cita serta hidangan yang enak bersama keluarga. Tetapi perang telah membawa kami jauh dari rumah. Adam Yudhistira—Stille Nacht

Ia tidak melukaiku, sungguh, tapi aku begitu terluka. Kematiannya bagiku adalah cara Tuhan mengembalikanku ke tempat kami pertama saling menambatkan cinta. Faisal Oddang—Lelaki yang Takut Menyeberang

Perkenalan kalian seperti malam yang turun di Ormoc—terjadi begitu saja. Mungkin juga kau tidak terlalu mengharapkannya, seperti hujan renyai yang bersikeras bertahan di kota itu. W.N. Rahman—Sebelum Mencapai Tacloban

Di belakang punggungnya, kusaksikan puluhan orang mengikuti kakinya melangkah. Pemimpin agama, para pejabat pemerintahan, polisi, para guru, kaum migran, anak-anak telantar, dan pelacur. Yohanes W. Hayon—Pegawai Pajak

REVIEW:

Buku ini berisi kumpulan cerpen sebanyak duapuluh satu buah dengan pengarang yang berbeda untuk setiap ceritanya. Heran kan? Begitupula denganku. Awalnya aku nggak nyangka, buku yang tergolong tipis ini mampu menampung cerpen sebanyak itu.

By the way, aku memiliki sebuah kebiasaan khusus jika membaca kumcer. Aku selalu menelaah bagian ‘daftar isi’ dan mencari-cari judul yang paling menarik, dilanjutkan ke judul-judul berikutnya. Aku pikir ini bukan kebiasaan baik, ya. Pasti kalian pernah denger yang beginian: jangan judge karna lo bukan hakim.. #lupakan!

Rentak Kuda Manggani, dari cerpen sebanyak itu, ada sebuah cerpen yang berjudul Rentak Kuda Manggani. Aku tidak tahu, mengapa tim penerbit akhirnya ‘mengangkat’ judul cerpen ini menjadi judul keseluruhan yang mewakili.
Mari kita bicara soal penampakan sampul!
Aku sangat menyukai desain dari sampul buku ini. Desain yang simpel tetapi sangat ‘meyakinkan’.

Dan… jujur saja, semua penulis yang karyanya memenuhi setiap lembar buku ini masih tergolong baru bagiku. Aku belum pernah membaca karya-karya terdahulu mereka. Dan.. aku menemukan beberapa penulis yang ‘bukunya wajib baca’, and.. looking forward to their next project!

Karena banyaknya isi cerita dalam buku ini, aku hanya akan mereview beberapa cerita yang aku suka.
nb: no particular order

  • Menjadi Jangkrik oleh Benny Arnas
    Aku menyukai cerpen ini. Bukan karena jalan cerita yang ‘aku banget’ sehingga ‘aku suka’. Tapi gara-gara cara penyampaian cerita yang dilakukan oleh penulis. Cerpen ini sama sekali tidak ‘mengandung’ percakapan antar tokoh meski diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Sebenarnya, tidak ada yang aneh dalam hal ini, mengingat bahwa cerita ini merupakan cerpen.
    Disisi lain, penulis benar-benar tahu cara mencari judul yang membuat pembaca tertarik.

Pada akhirnya, cara paling indah untuk melawan kebohongan yang dilegalkan dan dimaklumatkan adalah dengan mengabaikannya.

  • Gisela Meine Rose by Granito Ibrahim
    Cerita ini mengambil latar waktu dimasa peperangan dan bercerita tentang seorang pria bernama Heinz yang berjuang dalam pasukan peperangannya dan seorang wanita Gisela yang sabar menunggu.
    Cara penulisan penulis dalam menggambarkan suasana peperangan membuatku kagum, apalagi diselipi suasana mellow. Terlebih lagi, akhir (yang tidak benar-benar akhir) yang cukup mengagetkan.

“Demi Gisela, lakukan apa yang aku katakan! Atau semuanya akan terlambat.”

  • Love, Halley, and War oleh Ade Ferdiansyah
    Sama seperti cerpen diatas, cerita ini juga mengambil latar waktu dimasa lalu dan latar tempat yang mendominasi adalah masa peperangan. Yang membedakan hanyalah alur yang cepat. Dari tahun 1910 sampai 1980-an.
    Cerita ini juga bercerita tentang dua kekasih yang harus dipisahkan karena adanya peperangan. Sang lelaki yang terus memperjuangkan cinta mereka ditengah peperangan dengan menulis surat secara berkala. Hanya saja, si perempuan tidak pernah membalas surat-surat tersebut.
    Sebenarnya… apa yang terjadi?
    Mungkin, dari semua cerpen yang terdapat dinovel ini, aku paling menyukai cerpen ini. Membaca cerpen ini membuatku teringat novel karya Nicholas Sparks yang berjudul The Longest Ride. Percakapan-percakapan yang sederhana dan manis. Pengorbanan tokoh utamanya sangat bikin baper.

“Aku bukan takut karena peluru atau semacamnya, yang mungkin saja bisa membuatku lumpuh seumur hidup atau bahkan mati. Tetapi yang aku takutkan adalah kehilangan kamu. Merpati kecil yang sangat aku cintai.

  • Rentak Kuda manggani by Zelfeni Wimra
    Bercerita tentang seorang pria diusia lansia yang memiliki banyak penyesalan dihidupnya. Menyesali sekaligus mensyukuri pilihan yang diambilnya dimasa lalu. Kini, disaat usianya yang tidak lagi muda, pria itu memutuskan untuk ‘menyusuri’ kembali masa lalunya. Ingatannya selalu melayang kepada perempuan berbau cengkih itu.

Kembali ke rumah masing-masing adalah kembali memasuki diri. Mengetuk dan menyapa ruang-ruang perenungan. Menghirup napas sedalam mungkin sehingga bisa memaknai kesendirian.

-Giveaway Time-

Penasaran dengan cerpen-cerpen lainnya? Ikuti giveaway dan menangkan satu buku Rentak Kuda Manggani dan satu buah novel terbaru dari Diva Press untuk satu pemenang. 

Syarat:

  1. [Wajib] Follow twitter @divapress01 atau like FanPage Penerbit DIVA Press
  2. [Tidak Wajib] Follow twitter @viionna_ atau instagram @viionna
  3. [Wajib] Share link giveaway ini ditwitter dan mention @divapress01 dan @viionna_
  4. [Wajib] Menjawab pertanyaan ini dikolom kometar dibawah dengan Format:
    Nama:
    Link Share:
    Jawaban:

Ceritakan pengalaman menarik yang pernah terjadi dihidupmu! Kalau dijadikan cerpen, menurutmu bakal dikasih judul apa sih?

1441535282764

[Periode giveaway: 21-27 September 2015/ Pengumuman pemenang: 28 September 2015]

[Book Review] Dilan: dia adalah Dilanku tahun 1991

25857857

Judul: Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Terbit: 2015
Tebal: 344 hlm.
ISBN: 9786027870994

“Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.”
―Milea

“Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama.”
―Dilan

REVIEW:

Tujuan pacaran adalah putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.

Buku ini merupakan buku lanjutan dari Dilan: dia adalah Dilanku Tahun 1990. Saya pikir, bagi kalian-kalian yang ingin membaca buku ini, hendaklah baca buku yang pertama dahulu. Karena, buku pertama dan buku kedua sangat berhubungan. Mungkin, kalian akan mengalami kebingungan jika langsung baca buku kedua ini.

Jadi, dibuku kedua ini, penulis menceritakan hubungan pacaran antara Dilan dan Milea. Seperti hubungan para remaja lainnya, hubungan Dilan-Milea juga sering terjadi pasang naik-surut. Mungkin karena Dilan yang terlalu keras kepala, atau mungkin Milea yang terlalu mengkhawatirkan Dilan.

Aku menyukai gaya penulisan Pidi Baiq (meskipun sempat merasa ‘kurang puas’ gara-gara pembicaraan antara Dilan dan Milea yang terlalu banyak). Tidak sebagus Winna Efendi atau Windry Ramadhina (menurutku). Tapi, gaya penulisan penulis ini mampu ‘memberi’ suasana vintage. Maksudku, latar tempat yang mendominasi cerita ini sangat terasa, dan.. aku rasa itu semua berkat ‘keahian’ penulis dalam menulis. Tidak bertele-tele (Lupakan bagian pembicaraan Dilan-Milea yang sedikit bertele-tele, tetapi itulah yang menambah keromantisan mereka! Haha.), dan diselipi humor ringan.

Untuk sampul  buku, sampul buku pertama dan kedua tidak jauh beda. Dilan menempati sampul buku pertama, dan Milea menempati sampul buku kedua.

Sebelum membaca buku kedua ini, aku sempat melihat review dari teman-teman di goodreads tentang buku kedua ini. Banyak dari mereka yang ‘kedapatan’  galau, tidak puas, sampai patah hati. Ada pula yang berkata bahwa Dilan dibuku kedua ini bikin patah hati setelah membuat dirinya jatuh cinta dibuku kedua (sebenarnya, untuk bagian bikin ‘patah hati’ ini, aku ‘sedikit’ setuju. Karakter Dilan dibuku kedua ini kurang mendominasi, ia bahkan sangat ‘menampakkan’ jiwa pemberontaknya. Kadang kala, aku merasa bahwa Dilan ‘tidak cukup’ mencintai Milea. Aku malah merasa Milea yang jatuh cinta setengah mati untuk Dilan.

Menurutku, aku mau pacaran dengan DIlan lebih karena sikapnya kepadaku selama ini. Menurutku, dia itu memiliki kepribadian yang aku inginkan. Memiliki pemikiran yang mampu mengubah pola pikirku yang lama.

Lalu, saat aku tiba di bab-bab terakhir, endingnya cukup mengejutkan. Sangat diluar ekspetasiku. Mungkin ini salah-satu cara penulis untuk memberi hukuman kepada pembaca-pembaca yang selalu menerka-nerka akan akhir dari suatu cerita, setidaknya begitu menurutku.

Overall, sama seperti buku pertama, aku juga kurang puas akan akhir dari buku ini. Aku berharap buku ini masih memiliki kelanjutan. Tentu saja, aku akan merindukan Dilan dan Milea!

[Book Review] Critical Eleven

25737077

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2015
Tebal: 334 hlm.
ISBN: 9786020318929

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

REVIEW:

Jika dipungut dari Goodreads, aku sudah menyelesaikan buku ini pada tanggal 22 agustus. Dan, yah, baru selesai ujian blok pada 30 agustus. Jadi ya, karena aku udah memutuskan untuk ‘nekat’ baca buku pas hari-hari ujian, untungnya aku nggak merasa ‘dirugikan’. Bukunya bagus!

Critical Eleven mengambil Aldebaran Risjad, dipanggil Ale sebagai tokoh utama pria,
Critical Eleven mengambil Tanya Baskoro, dipanggil Anya sebagai tokoh utama wanita.

Jujur saja, (dan sempat merasa malu) ini adalah kali pertama aku membaca karya sang penulis, Ika Natassa. Barangkali, nama ini sudah tidak asing lagi bagi penggemar Metropop. Yes, si penulis buku bestseller! (Jadi pengin baca A Very Yuppy Wedding 😦 Pokoknya masuk Wishlist!)
Aku menyukai gaya penulisan mbak Ika! Penulis menuliskan cerita dari sudut pandang orang pertama. Selain itu, penulis juga menempatkan proposi untuk masing-masing tokoh utama. POV-nya bergantian dari Ale atau Anya.

Tidak ada prolog atau epilog pada buku ini. Maka dari itu, bab pertama dibuka oleh Anya. Tentang ‘kesukaannya’ akan Bandara.

Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination.

Aku menyukai gaya penulisannya mungkin karena diselipi kalimat-kalimat dalam bahasa inggris yang aku rasa sangat ‘membantu’ situasi untuk menjadi makin romantis #? Aku nggak bisa menuliskan dengan begitu spesifik akan bagian ini. Mungkin karena bakal jadi ‘spoiler’ penuh. Disisi lain, gaya penulisannya juga tidak kaku (dimana sangat membantu untuk menghilangkan adanya ‘kesempatan’ bosan melanda para pembaca)
Untuk alur, penulis menuliskan cerita dengan alur maju-mundur. Meskipun tanpa pemisah, (maksudku disini: pemisah waktu ‘sekarang’ dan ‘dahulu’ yang biasa dipisahkan dengan bab atau sebagainya) aku tetap memahami apa yang dilontarkan penulis (tidak pusing, sama sekali!) Mungkin alur ini jugalah yang membuat aku selalu ingin cepat-cepat tiba di halaman terakhir dan nekat baca pada hari-hari ujian!

Dari segi cover, aku sangat menyukainya! Sebuah gambar pesawat yang baru take off dan sangat ‘mencerminkan’ apa isi bukunya. By the way, aku denger-denger, sih, ya, covernya mbak Ika Natassa sendiri loh yang design! Wow!

Tokoh favorit aku dalam buku ini sudah pasti Ale! Pada awalnya, aku pikir Ale itu rada-rada brengsek, eh, ternyata enggak (untunglah!)! Malahan, aku jadi merasa kalau Anya itu super-duper sensitif. Anya juga.. gimana ya bilangnya.. mau tapi sensi?

Sebagai penutup cerita, penulis menambahkan quotes tentang travel (Hlm. 334-335) Favoritku adalah:

Travel is where broken English is welcomed with a wide smile instead of greeted by a grammar nazi.

Overall, aku sangat menyukai buku ini. Aku menyukai segala tentang buku ini. Tapi, bagian terfavoritku adalah ide cerita dan konfliknya. Aku rasa, konfliknya tidak begitu sensitif sampai bisa menciptakan ‘kehancuran’, pada awalnya aku pikir begitu. Ternyata, ada lagi ‘suatu’ hal yang menambahkan ‘kesensitifan’ dari konflik yang diangkat. Dan dari sana, aku mempelajari sesuatu: Berpikir sebelum berbicara.