[Book Review] Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

25623876

Judul: Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2015
Tebal: 276 hlm.
ISBN: 9797808165

Kau percaya masa depan masih memiliki kita?”
“Akan selalu ada kita. Aku percaya.”

NANTI tidak bisa begitu saja menoleh dan pergi dari masa lalu meskipun ia sudah berkali-kali melakukannya. Terakhir, ia mengucapkan selamat tinggal dan menikah dengan lelaki yang kini berbaring di makamnya itu.

Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.
Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.

Masa lalu, bagiku, hanyalah masa depan yang pergi sementara.

Namun, ada saatnya ingatan akan kelelahan dan meletakkan masa lalu di tepi jalan. Angin akan datang menerbangkannya ke penjuru tiada. Menepikannya ke liang lupa. Dengan menuliskannya, ke dalam buku, misalnya, masa lalu mungkin akan berbaring abadi di halaman-halamannya.

Maka, akhirnya, kisah ini kuceritakan juga.

REVIEW:

Buku ini sangat unik, setidaknya begitu menurutku. Mungkin karena aku belum pernah membaca buku yang seperti ini. Sebenarnya, dimana letak keunikannya? Mari kita bahas!

Pertama, tentu saja, judulnya sangat unik! Bagaimana bisa Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi dijadikan sebuah judul dari novel? Pada awalnya, aku sangat penasaran dengan isi dalam buku ini. Mungkin karena aku melihat judulnya (biasanya, sebuah buku dapat menentukan ‘tema’ , ‘ciri khas’, atau bahkan ‘konflik’ dari ceritanya), lalu, setelah aku menyelesaikan cerita di dalamnya, aku terheran-heran dengan judulnya. Menurutku, judulnya sama sekali tidak berhubungan dengan ceritanya (atau mungkin, hanya aku yang kurang ‘menangkap’ isi cerita?). Lalu, jika penulis buku ini membaca postinganku ini, aku ingin bertanya satu hal. Kenapa berjudul ‘Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi’?

Kedua, ‘penulis’ hadir di dalam cerita! Whoa, ini apa maksudnya?
Gini ya, seperti yang aku katakan tadi, jadi ya.. tokoh utama dalam novel ini mengenali seorang penulis yang bernama M Aan Mansyur (Ini kan nama penciptanya? Hahaha) Sebenarnya sih ya, ‘hadir’ di sini bukan dalam artian mengambil ‘peran’ atau sekedar bertemu dengan tokoh utama. Kata ‘hadir’ maksudnya nama penulis disebutkan di sebuah kesempatan saat tokoh utama pria berbicara dengan tokoh utama wanita.

Lalu, yang ketiga, prolog dari buku ini dibuka oleh ‘kenalan’ dari si penulis cerita. Aduh, gimana ya jelasinnya. Tokoh utama (tokoh fiksi) juga seorang penulis. Aduh, gimana jelasinnya yah.. Gini ya, awal-awal aku membaca buku ini juga sempat bingung. dibuat bingung oleh prolognya. Sempat terlintas kalau buku ini buku non-fiksi. Eh, ternyata fiksi, memang. (Eh, nggak tahu, deh!) Singkatnya, buku ini dibuka dengan prolog yang sangat ‘menjanjikan’. Menjanjikan gimana sih? Yuk, langsung aja baca buku ini!

Yang terakhir. Soal ‘penamaan’ para tokoh. Penulis benar-benar ahli dalam memberi ‘nama’ untuk tokoh fiksinya. Bahkan, ‘nama’ dari tokoh fiksi dalam novel ini bikin adem banget! Entah kenapa. Mungkin karena aku mendapati ‘makna’ dari nama tersebut (meskipun nggak benar-benar ngerti) 
Sedikit bocoran: tokoh utama pria bernama Jiwa, tokoh utama wanita bernama Nanti. Sebenarnya, salah satu penyebab aku sedikit ‘susah’ mengerti jalan cerita buku ini, (pada awalnya) adalah karena nama-nama dari tokoh-tokoh dalam cerita yang sedikit ‘istimewa’.

Penulis juga sangat ahli dalam per-alur-an. Alur maju-mundur. Alurnya sangat cepat. Dari masa kanak-kanak, hingga dewasa. Ada beberapa karakter pendukung dalam buku ini. Ada seorang karakter pendukung yang aku rasa ‘mendukung’ banget untuk tokoh utamanya. Jelasnya, panutan untuk tokoh utamanya. Panutan yang mengajarkan bahwa ‘Cinta tak harus memiliki.’

Perempuan adalah keindahan yang tersimpan dan selalu hidup di kepala laki-laki seperti kita. Tidak akan mati oleh mata pisau waktu. 

Ah, ya. Dalam postingan kali ini, aku tidak akan membeberkan spoiler dari buku ini. Dibalik semua kelebihan-kelebihan yang aku tuliskan diatas. Ada sesuatu yang menurutku kurang aku kira cerita yang disampaikan penulis sangat sederhana. Konfliknya juga sederhana, tidak begitu sensitif. Bahkan, kadang aku merasa tema cerita yang seperti ini akan bosan (meskipun aku tidak begitu yakin tentang temanya), tapi.. aku pikir aku harus menilai ‘keahlian’ dalam penulisan yang dimiliki penulis ini. M Aan Mansyur benar-benar super! Aku jatuh cinta dengan gaya penulisannya! Buku ini juga dibanjiri oleh kata-kata yang bikin nyangkut di hati. 

Overall, aku merekomendasikan buku ini pada kalian semua yang menyukai bahan bacaan yang ringan!

Advertisements

2 thoughts on “[Book Review] Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s