[Book Review] Almost is Never Enough

25603085

Judul: Almost is Never Enough

Penulis: Sefryana Khairil

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 2015

Tebal: 338 hlm.

ISBN: 9797808149

Ada hati yang kujaga agar tak jatuh.
Namun, saat di dekatmu, seringnya ia tak patuh

AL
Telah kehilangan orang yang kita sayang adalah persamaan kita.
Kita saling berbagi rasa sakit setelah kepergiannya.
Ketika aku menginginkan lebih, aku tahu ada yang salah.
Namun, aku tak mampu terus menjaga jarak denganmu.
Melihatmu dari jauh saja rasanya tak cukup.
Jika benar ini cinta, tepatkah ia datang kali ini?

ELLA
Mewujudkan keinginan orang yang kita sayang
tentu itu akan kita lakukan–apa pun taruhannya.
Sayangnya, kau justru merebut satu-satunya yang ia miliki.
Membuatmu selalu resah karena rasa bersalah.
Pernahkah kau merasakannya?
Aku tak pernah sengaja menginginkanmu
meski bersamamu adalah cara untuk menggenapkanku.
Jika kita diciptakan untuk bersama,
biarlah waktu yang menelan ragu kita.
Karena entah kapan aku akan bisa mengakui;
bahwa hati tak akan puas jika tidak memilikimu sepenuhnya.

REVIEW:

 

Saat ini, Ella sedang ‘mengandung’ anak dari Al dan Maura. Maura memiliki kelainan pada rahimnya. Rahim Maura lebih kecil dari biasanya. Maka dari itu, kemungkinan Maura untuk memiliki anak kurang dari 5%. Di sisi lain, Maura sangat menginginkan seorang anak. Begitu juga Al. Lalu, Maura dan Al sepakat untuk mencari ‘ibu pengganti’ dan pilihan mereka jatuh pada Ella, sahabat Maura. Ella langsung menyetujui untuk menumbuhkan embrio Maura dan Al dalam rahimnya karena saat itu Ella sedang kesulitan ekonomi, ditambah lagi, Maura merupakan sahabat Ella. Maura dan Al memberikan uang yang cukup banyak dan ditambah dengan semua fasilitas yang di dapat Ella saat mengandung anak mereka.

Belum sempat melihat anaknya lahir kedunia, Maura pergi. Kecelakaan.

Hitam mengenal baik kelam
meski aku merasa mereka sama.
Meski sudah kubiarkan lampu di atas rupamu
terus menyala.

Seperti yang diinginkan Maura sebelum kepergiannya. Maura ingin mereka bertiga (Maura, Al, dan Ella) untuk tinggal bersama-sama di Seattle sampai Ella melahirkan anaknya. Al pun membawa Ella dan anak Ella (bernama Zoey) untuk tinggal bersama. Tentu saja, Ella berpikir dengan sangat keras untuk hal ini. Bagaimana bisa dia tinggal satu rumah dengan suami dari sahabatnya?


Ini kali pertama aku membaca buku dari penulis ini, Sefryana Khairil. Lalu, aku mendapati bahwa aku sangat menyukai tema dari buku ini. Meskipun sedikit sensitif. Ah, mungkin memang benar, kalau aku memang menyukai tema-tema yang cukup sensitif. Mungkin karena lebih bisa ‘nyesekin’ atau ‘baper-in’.

Secara luas, aku rasa karakter yang ditampilkan dari buku ini tergolong sedikit. Sepertinya lebih dari setengah dari lembar pada buku ini hanya menceritakan semua persoalan antara Al dan Ella. Sedikit tentang Liz, adik Ella yang selalu memberikan ‘nasihat’ pada Ella dan teman curhat Ella selain Maura. Tidak lupa diselipkan tokoh ketiga yang bernama Ben(yang tidak benar-benar tokoh ketiga ya. Mengingat perannya sedikit sekali. Tapi cukup kuat untuk membuat Al cemburu dan menyadari perasaannya ke Ella).

By the way, aku sangat menyukai sampul dari buku ini. Sangat gimana yah.. sweet? Heart-warming? Ah, pokoknya suka! Pemilihan judulnya sih bagus, tapi kayaknya kurang ‘klop’ kalau sudah membaca cerita ini. Gimana ya, judul dari sebuah buku menentukan bagaimana cerita akan mengalir. Bener nggak? Tapi, aku rasa Almost is Never Enough nggak terlalu menggambarkan buku ini. Bikin ingat Ariana Grande! Hahaha.

Penulis mengambil latar tempat di beberapa kota di US, seperti Atlanta, NYC, dan Seattle, dan aku merasa ada yang kurang akan hal itu. Mungkin karena sangat sedikitnya penggambaran seperti apa–atau suasana di kota NYC dan Atlanta, tapi aku tidak begitu mempermasalahkan tentang penggambaran kota di Atlanta itu, secara tuh, Atlanta hanya ‘sekedar lewat’ tokohnya tidak mengambil tempat di situ. Hanya saja, Atlanta adalah kota tempat dimana Ella tinggal sebelum Maura menyewakan apartemen di NYC. So, I won’t mind it.

Penulis menuliskan cerita ini dari sudut pandang orang kedua. Seperti biasa, aku akan mengatakan: lebih suka kalau penulisannya dari sudut pandang orang kedua. Lebih mudah ‘terbuai’. Tapi, meski diceritakan dari sudut pandang orang kedua, aku sangat menikmati buku ini. Meskipun tidak dibaca dengan sekali duduk. Setidaknya, buku ini di baca olehku dalam kurang lebih 2 hari. Sudah termasuk cepat ya, soalnya tahun ini ‘minat’ bacaku menurun. Entah kenapa. Eh, nggak sih. Bukan minat baca yang turun, buktinya masih sering aja ninggiin timbunan #plakk.

Overall, aku sangat menikmati cerita dalam buku ini. Berencana untuk membaca buku-buku lain  dari penulis ini!

Ratings: 4.5 of 5 stars.

Advertisements

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s