[Book Review] Dilan: dia adalah Dilanku tahun 1990

22037542

Judul: Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990

Penulis: Didi Baiq

Penerbit: Pastel Books

Terbit: April, 2014

Tebal: 332 hlm.

ISBN: 9786027870413

“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja” (Dilan 1990)

“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.” (Dilan 1990)

“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” (Milea 1990)

REVIEW:

Dilan: dia adalah Dilanku tahun 1990 menceritakan tentang kisah percintaan antara seorang anggota geng motor dan seorang gadis yang menjadi murid baru di sebuah sekolah. Dilan dan Milea.

Seperti yang disebut pada judulnya, penulis menuliskan cerita berlatarkan tahun 1990. Segala sesuatu masih sangat sederhana saat itu. Jika orang-orang menghabiskan waktu berdua dengan berjalan-jalan di mall yang luas, remaja tahun 1990 menghabiskan waktu dengan jalan-jalan berkeliling kota, mengingat tidak adanya mall di daerah tempat tinggal mereka.

Sebelumnya, jauhkan dulu bayangkan kalian semua tentang bagaimana karakter Dilan disini (mengingat bahwa Dilan merupakan anggota dari geng motor). Dan yah, menurutku, Dilan itu baik. Banget. Romantis pula! Dan aku yakin, orang-orang yang sudah membaca buku ini pun, akan setuju akan hal itu.

Milea, penulis menggambarkan karakter Milea sebagai perempuan yang amat cantik. Selain Dilan, masih banyak lelaki yang terang-terangan mengejarnya. Seperti Kang Adi dan Nandan.

Buku ini masih memiliki sekuel, karena buku pertama ditulis dari sudut pandang Milea, mungkin saja, pada buku kedua nanti, penulis akan menuliskan cerita dari sudut pandang Dilan.

“Dilan mungkin tidak paham dengan teori bagaimana seorang lelaki harus memperlakukan wanita, tapi apa yang dia lakukan selalu bisa membuat aku merasa istimewa dan lain daripada yang lain. Menjadi wanita yang paling indah yang pernah kurasakan. Tanpa perlu berlebihan bagi dia untuk membuat aku merasa lebih.”

Jujur saja, aku sangat menyukai karakter Dilan. Dilan sangat ahli dalam mengatur suasana agar lebih baik. Dilan sangat membela Milea. Saat seorang teman Dilan yang sama-sama merupakan anggota geng motor menampar Milea, langsung saja Dilan berkelahi dengan temannya itu. Dilan bahkan pernah memukul salah seorang guru disekolahnya karena menganggap guru itu sudah terlalu keras pada murid-murid. Dan, dari sana kita mengetahui hal lain: selain Dilan yang romantis, ada pula Dilan yang keras.

Setelah dipikir-pikir, aku merasa kurang ‘puas’ pada beberapa hal.

Pertama, dialog antar tokohnya terlalu banyak. Terlalu panjang. Sampai-sampai, terkadang aku melupakan hal-hal remeh seperti latar tempat dimana tokoh itu berada.

Kedua, gaya penulisannya– uh, bukan. Maksudku bahasa penulisannya. Gimana yah. Lebih lain daripada yang lain. Kebanyakan sih, orang-orang bilang kalau bahasa penulisan pada buku ini ‘bandung’ banget. Hanya saja, aku bukan orang Bandung. Maka, aku ‘iya’-kan saja.

Ketiga, aku sama sekali tidak puas dengan akhir dari buku ini (meskipun bukan benar-benar akhir, mengingat adanya buku kedua). Sangat menggantung. Uh, jadi menyesal kenapa nggak langsung beli buku pertama dan kedua. Belum lagi di kotaku tidak ada toko buku resmi seperti Gramedia. Jadi selalu pesan online, atau pergi ke luar kota, Medan contohnya.

Ah, iya. Hampir lupa. Alur yang diangkat penulis untuk menyempurnakan cerita ini adalah alur mundur. Buku ini dibuka dengan perkenalan nama dan wajah para tokoh. Baik tokoh utama maupun tokoh sampingan. Lalu, pada bab pertama, Milea akan memperkenalkan segala sesuatu tentang dirinya. Baik itu keluarga… dan kisah cintanya…

Pada bab kedua, Milea akan menceritakan tentang kisah cintanya bersama Dilan di tahun 1990. Cerita cinta yang sangat romantis dengan segala kesederhanaannya, setidaknya, itulah pendapatku.

“Aku ingin pacaran dengan orang yang dia tahu hal yang aku sukai tanpa perlu kuberitahu, yang membuktikan kepadaku bahwa cinta itu ada tetapi bukan oleh apa yang dikatakannya melainkan oleh sikap dan perbuatannya.”

Overall, aku sangat menikmati buku ini. Setelah sekian lama, akhirnya aku berhasil menuntaskan buku dalam waktu satu hari. Membaca buku ini membuat kita selalu penasaran akan apa yang ada pada halaman berikutnya. Dan sekarang, aku dilanda ke’galau’an karena ingin cepat-cepat mendapatkan (baca: membeli) buku kedua dari buku ini. Sangat direkomendasikan kepada orang-orang yang selalu rindu akan masa-masa sekolah. Rindu akan masa lalu. Saat-saat tidak adanya telepon gengam. Menelepon gebetan dengan telepon rumah dengan suara yang super-duper rendah karena tidak ingin ketahuan oleh penduduk rumah.

Ratings: 4.5 of 5 stars.

Advertisements

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s