[Book Review] Orang Ketiga

7992546

Judul: Orang Ketiga

Penulis: Yuditha Hardini

Penerbit: GagasMedia

Terbit: cetakan kesembilan, 2013

Tebal: 246 hlm.

ISBN: 9797803945

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada menatap
kedua mata orang yang kamu cintai,
lalu menemukan bayangan orang lain
terpantul disana.

Jadi orang ketiga bukan sesuatu yang membanggakan.

Namun, hati kadang-kadang terlalu naif pada godaan bernama cinta. Tanpa bisa dicegah, tahu-tahu saja kamu terjebak dalam hubungan segitiga. Kamu berusaha keluar, mencari jalan pulang. Kamu bahkan menumpuk banyak alasan untuk berhenti memikirkannya. Berhenti menginginkannya.

Sayangnya, terlambat… kamu terlanjur mencintainya

REVIEW:

“Bukannya pesimis Anggi sayang, tapi realistis. Kenapa orang merasa sakit saat jatuh? Karena sebelumnya dia nggak pernah berpikir akan jatuh. Dia pikir dia bakal bisa terus berjalan lurus. Kalau kita udah mempersiapkan diri  bakal jatuh, saat jatuh beneran, rasa sakitnya nggak bakalan seberapa.” – Kayla.

Anggi mencintai teman sekantornya, Angga. Meskipun sudah mengetahui bahwa Angga sudah mempunyai pacar, Anggi tidak menghiraukan itu. Alasannya klise, sudah terlanjur jatuh cinta.

Angga juga mencintai Anggi, mungkin tidak sebesar cinta Anggi padanya. Pernah sekali, Anggi meminta Angga untuk memutuskan Ratri. Dan… tahukah apa yang dikatakan Angga? Aku. Tidak. Bisa. Kedua keluarga sudah saling mengenal. Sulit menentukan waktu yang pas.

Angga benar-benar memiliki bakat alami dalam berselingkuh. Meskipun selalu mengutamakan waktunya bagi tunangannya, Ratri, Angga selalu membagi waktu untuk berselingkuh dengan Anggi. Angga juga tidak ‘berlaku’ mencurigakan di depan Ratri. Sampai-sampai, suatu ketika, saat perusahaan mereka mengadakan wisata karyawan ke Bali, Angga dan Anggi kepergok teman mereka, Maria. Dan untungnya, Maria bisa menjaga rahasia tersebut.

Di sisi lain, ada Rudi. Rudi sudah dianggap sebagai kakak laki-laki Anggi sendiri. Hal yang tak terduga ialah, Rudi menyatakan bahwa ia mencintai Anggi! Bahkan, di saat-saat Anggi sudah menyerah (belum benar-benar menyerah), katakanlah, Anggi mencari pelarian dengan menyetujui untuk berpacaran dengan Rudi, Rudi segera membahas tentang pernikahan! Dan… disaat ayah dan ibu Anggi sudah menyetujui mereka, Rudi malah terlihat berpikir lagi dua kali.

Pada akhirnya, kepada siapakah hati Anggi akan berlabuh?

“Gue cuma mau lo ingat satu hal. Sebuah hubungan tidak cuma butuh cinta.”

Ini kali pertama aku membaca karya penulis ini. Yuditha Hardini.  Penulis menuliskan cerita dari sudut pandang orang kedua. Hanya saja, tidak kaku.

Menurutku, judul dan tema dari buku ini sangat sensitif. Atau, bisa disebut ‘pada awalnya’ aku ‘merasa’ tema buku ini pasti sangat sensitif. Hanya saja, setelah aku tiba di konflik awal, aku menemukan bahwa cerita ini tidak se-sensitif yang aku kira. Kenapa?

Aku selalu mengira (pada awalnya), jalan cerita dari buku ini adalah: pemeran utama wanita/pria yang menjadi orang ketiga dari sebuah pernikahan. Dan ternyata, yang kudapatkan adalah: pemeran utama wanita yang menjadi orang ketiga dari (masih) sebuah hubungan. Meski sudah bertunangan.

Pada cerita ini, aku menyukai tokoh sampingannya, Kayla. Kayla merupakan sahabat Anggi. Kayla memiliki karakter yang sangat bijak dan selalu berpikir lebih tentang sesuatu. Suka mengemukakan tentang hal-hal yang ‘kemungkinan’ terjadi dan filsofi-filsofinya. Sedangkan, si tokoh utama, Anggi, sangat… Uh, aku tidak menyukai karakter Anggi. Anggi sangat tidak bisa ‘mengatur’ perasaannya. Sampai-sampai, pada suatu titik, aku merasa bahwa Anggi sedikit murahan. Penulis menggambarkan bahwa Anggi adalah murid yang pintar di masa sekolahnya, hanya saja, Anggi ‘bodoh’ dalam urusan percintaan maupun pacaran. Sudah tahu Angga sudah punya tunangan, masih mau saja! uh!

Jujur saja, buku ini tidak pernah ‘berada’ pada daftar keinginanku. Hanya saja, beberapa bulan yang lalu, aku mengunjungi salah satu toko buku di kota Medan dan menemukan buku ini. Ah, penyakit lama pecinta buku selalu begitu. Judul, sinopsis, ataupun cover yang menarik selalu berada di timbunan.

Bicara soal cover, aku menyukainya. Covernya sangat simpel! Ada corak-corak warna putih yang menggambarkan sebuah gitar. Sebagai informasi, Angga merupakan anggota band kantornya spesialis pemain gitar. Dan, begitu pula Anggi yang jatuh cinta dengan Angga karena melihat Angga tampil dengan memainkan gitarnya.

Overall, aku sangat kesal dengan sikap-sikap Anggi. Anggi yang putus-balik terus sama Angga. Begitupula Angga yang tidak bisa memperjuangkan cintanya. Ada pula Rudi, yang malah khawatir setelah ‘mendapatkan’ restu dari orangtua Angga.

Ratings: 3 of 5 Stars.

Advertisements

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s