[Book Review] Manusia Setengah Salmon

13290213

Judul: Manusia Setengah Salmon
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: GagasMedia
Genre: Non-fiksi
Tebal: 264 hlm.
Terbit: 2011

REVIEW:

Jadi, ya. Aku nggak pernah membaca buku karya Raditya Dika sekalipun sebelumnya. Mungkin ini terdengar aneh, meingat bahwa Dika merupakan penulis Non-Fiksi yang paling terkenal di Indonesia, novelnya pun sudah dijadikan Film berkali-kali.
Dan yah… disaat semua orang sibuk pre-order dan berlomba-lomba mereview Koala Kumal-nya Raditya Dika, aku malah nge-stuck pada Manusia Setengah Salmon ini.
Pada awalnya, aku nggak pernah niat untuk ngebaca buku-buku komedi ya (bukan tidak suka yang bergenre komedi, hanya saja, aku orangnya suka ngebaca buku di kafe, sambil jaga toko, kalau tiba-tiba ketawa gak jelas kan berabe).
Aku membeli buku ini seharga 20rb saja, sebenarnya nggak gitu tertarik juga sih sama bukunya… sedetik kemudian… *baruingetkaloakulagiikutanNon-FictionRC*.
Lalu, buku itu aku beli dan langsung aku baca begitu sampai di rumah. Aku membaca buku ini hanya dalam waktu kurang lebih 3 jam. Kau tahu apa yang terjadi? Aku menyukai humor-humor dalam buku ini. Mungkin kita dapat menyebutnya ‘humor khas Dika’. Aku menyukai buku ini, dan ‘akan’ membeli dan membaca KOALA KUMAL!
*Raditya Dika saat di Belanda*
      Gue tanya balik ke dia, ‘And what’s your name?
  ‘Perek.’
      ‘I’m sorry?‘ tanya gue, lagi.
‘My name is Perek.’
      ‘Why is your name Perek?!’ tanya gue, kaget.
      Si perek agak kaget dikit, terus dia bilang, ‘Well, because my parents give my name Perek. I was born as a Perek.’
Kekurangan dari buku ini:
1. Gaya bahasa yang cenderung ‘apa adanya’. Tidak ada formalitas. Mungkin memang ini salah-satu karakteristik dari buku bergenre humor. Jika gaya bahasanya ditulis dengan ‘aku-kamu‘ mungkin buku ini akan menjadi buku bergenre romance atau sejenisnya.
2. Kualitas kertas yang dipakai memang bagus. HVS putih. Hanya saja… jika aku mengelus (kau tahu kan, jenis mengelus saat membalikkan halaman), telapak jari tangan saja jadi hitam. Intinya, tinta cetak dari buku ini mudah lengket. Nggak banget!
3. Alasan yang paling logis kenapa dari awal aku tidak pernah menaruh minat pada buku karya Raditya Dika adalah… Cover. Bukannya menghina tentang covernya ya (mengingat bahwa semua cover buku-nya Raditya Dika selalu menyertakan ‘muka’ dari penulisnya. Seperti ilustrasi-ilustrasi atau wajah penulis hasil rekayasa Photoshop, contoh: cover pada buku ini, muka penulis di’rekayasa’ menjadi ‘bersirip mirip ikan. Menurutku, cover ini sangat ‘Not My Cup of Tea’ atau ‘Nggak Aku Bangett’.
Pada awalnya, aku sempet terheran-heran dengan judulnya. Manusia Setengah Salmon?
Apaa???
Emang ada yang begituan? Nggak cukup Ganteng-ganteng Serigala atau Cantik-cantik magic?
Dan ternyataa…
Judul “Manusia Setengah Salmon” itu hanya sebagai ungkapan. ‘Salmon’ yang mengartikan pindah.
..setiap tahunnya ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur….
..Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan. Banyak juga yang menjadi santapan beruang yang nunggu di daerah-daerah danngkal. Namun salmon-salmon ini tetap pergi, tetap pindah, apapun yang terjadi.
..Salmon mengingatkan gue kembali, bahwa esensis kita menjadi makhluk hidup adalah pindah. Dimulai dari kecil, kita pindah dari rahim ibu kita ke dunia nyata. Lalu kita pindah sekolah, lalu pindah pekerjaan. Dan, pada akhirnya, kita pindah hidup. Mati, pindah ke alam lain.
Untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan.Mau tidak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berni berjuang untuk mewujukan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Kenapa ‘Salmon’? Kenapa tidak lele? 
Karena, pada buku ini, penulis ‘lebih’ banyak menceritakan ‘hobi’ lain dari hidupnya. Yaitu: pindah. Pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati.
Dibalik segala kekurangan pada buku ini, tentu saja buku ini juga memiliki kelebihan. Buku ini menawarkan senyum dan tawa bagi pembacanya dengan observasi ngawur & humor khas Dika. Meskipun pada beberapa bagian aku merasa humornya ‘garing’, aku tetap menikmati kelucuan pada buku ini.
Overall, aku menawarkan buku ini untuk dibaca (meskipun sebagian besar dari kalian sudah membaca ini) kalian semua yang memiliki banyak waktu luang sehingga dilanda kebosanan, dan parahnya… kalian tidak bisa atau tidak tahu cara ‘mengusir’ rasa bosan itu. Buku ini ‘mungkin’ bisa menawarkan obat pengusir rasa bosan itu 🙂

Ratings: 3 of 5 Stars

[Opini Bareng] Karakter Tokoh Utama

1424592494831

Jika pada bulan Januari tema Opini Bareng adalah tentang Ekspetasi [Baca disini]. Maka, di bulan Januari ini, tema opini bareng kali ini adalah tentang Karakter Tokoh Utama.
Apakah kamu lebih menyukai karakter utama yang serbasempurna, mirip dengan kepribadianmu, atau yang hidupnya penuh dengan masalah dan ketidaksempurnaan? Apakah kamu menyukai tokoh utama yang cerewet atau pendiam?
Jujur aja, aku cenderung menyukai tokoh dengan karakter yang sama denganku.
Aku selalu menyukai tidak semua ‘apapun’ yang memiliki kesamaan denganku. Dengan begitu, aku akan lebih mudah terbawa suasana serta merasakan ’emosi’ dari sang tokoh (meskipun seringkali aku lebih ‘mudah’ merasakan emosi sang tokoh dari cara penulisan penulis sendiri.)
Sebenarnya, aku itu nggak tahu gimana cara menilai karakterku sendiri. Hanya saja, yang aku tahu tentang karakterku adalah: Aku orang egois. Tipe kepribadianku (saat diuji di pelajaran sosiologi) adalah koleris kuat. Tipe kepribadian (dapat kalian sebut karakter, mungkin ?) orang koleris adalah: Keras kepala, mau menang sendiri, pejuang, sombong,  susah berteman (percayalah, aku tidak seburuk itu). Nah, biasanya, orang-orang koleris ini yang dapat memicu terjadinya konflik yang lebih dalam. Klimaks yang menegangkan.

Banner_OpiniBareng2015

Kenapa menyukai tokoh utama dengan karakter mirip dengan karakterku? 
Karena aku tidak menyukai tokoh dengan karakter yang lemah. Singkatnya, aku suka tokoh utama yang kuat. 

...

Tokoh utama (perempuan) yang lemah biasanya menjadi ‘korban’ konflik dari sebuah cerita. Baik itu cerita bergenre adult, sci-fi, dystopian(yang sedikit, berhubung biasanya genre ini seringkali mengangkat tokoh utama wanita yang kuat.) dannn…. romance! Memang sih, kebanyakan pada novel-novel erotis atau romance yang tentunya… picisan. Pernah mendengar cerita yang seperti ini: “Sang wanita sangat mencintai suaminya, jadi, dia rela disiksa lahir-batin, berusaha mempertahankan rumah tangganya sepihak.” Mungkin pernah, hanya saja, pada akhirnya mereka berdua akan disatukan lagi oleh penulis cerita. Ada juga yang tidak.
Kenapa tidak menyukai tokoh dengan karakter serba-sempurna?
Karakter yang serba-sempurna itu membuat aku ‘selalu’ mengingat tentang ke-fiksi-an tokoh. Kita semua tahu jika tokoh dengan karakter: Baik (benar-benar BAIK bukan alibi a.k.a Alim Alim Biadab), sopan (benar-benar sopan, sopan bicaranya, sopan pakaiannya, sopan semuanya), tanpa pamrih (kau akan menemukan karakter tanpa pamrih di buku seri DIVERGENT) singkatnya, karakter yang begituan itu: TOO GOOD TO BE TRUE.
 Barangkali, postingan baca bareng ini merupakan yang tertelat dari semua yang telat. Sebenarnya, aku sudah menulis tentang opini bareng ini sejak awal bulan Febuari. Entah kenapa, post ini selalu tidak berhasil dipublikasikan, selalu disimpan di konsep. Mengalami beberapa kali perubahan (mengingat aku adalah orang yang plin-plan)
Awalnya, aku sempat beberapa kali mengalami writer’s block. Menyusun sebuah kata-kata, tapi kata-kata itu tidak berhasil aku jadikan bagian dari kalimat. Maka, dengan segala ‘ke-gaje-an’ aku. Jika ada yang ‘aneh’ dari post ini. Mohon dikomentari^^
Ah, ya. Berhubungan tentang ‘kesempurnaan’. Aku jadi ingat dengan quote ini:
Shiraishi Itsumi terlalu sempurna. Secara umum, baik itu dalam menghias roti, atau kudapan tradisional, untuk meningkatkan cita rasa, seorang artis sengaja menghancurkan kesimetrisannya. Bentuk itulah yang justru menarik. Tetapi, sosok Itsumi terlalu mendetail seolah sudah dihitung dengan cermat dan diatur terlalu teratur dan tidak ada yang tidak sempurna. Benda yang sempurna itu tidak cantik. Vulgar.

[Book Review] Aku Tahu Kamu Hantu

18168966

Judul: Aku Tahu Kamu Hantu
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Terbit: July, 2013
Tebal: 268
ISBN: 9797806529
Aku di sini.
Kamu bisa melihatku,
tetapi kamu tidak bisa mendengarku.
Aku tahu kamu bingung,tetapi yakinlah…
aku tidak pernah bermaksud jahat.
Aku hanya ingin meminta tolong,
karena kamulah satu-satunya orang yang bisa memecahkan teka-teki ini.
Jika kamu melihatku lagi,
tolong jangan berpaling.
Semoga kamu mengerti isyaratku.

REVIEW:

Dalam silsilah keluarga Olivia, anak perempuan sulung akan memiliki kemampuan untuk melihat ‘makhluk tak kasat mata’ jika sudah tujuh belas tahun. Seperti yang terjadi pada ibu dan neneknya, Oliviapun mewarisi kemampuan ini.
Di hari ia ulang tahun ke tujuh belas, Liv melihat banyak makhluk halus.
Frans, teman satu sekolah Liv sudah tidak pulang 1 minggu. Orangtua Frans ingin melapor ke polisi tentang anaknya yang hilang. Dan, kau tahu apa yang terjadi? Liv melihat Frans. Ya, hanya Liv yang ‘melihat’ Frans. Frans dengan tubuh transparan jangkungnya disertai lebam di beberapa tempat. Frans sudah mati.
Liv menceritakan ‘pengelihatan’nya ini pada sahabatnya, Daniel. Liv juga menceritakan tentang keinginannya untung menolong arwah Frans dengan menemukan keberadaan mayat Frans. Bukannya mendukung dan membantu Liv, Daniel malah menjauhi Liv dengan alasan ‘menjernihkan pikiran’.
Di samping itu, Liv mencurigai tiga cowok populer di sekolahnya: Bayu, Arwin, dan Stefan. Bukan dengan alasan dan bukti tidak jelas. Liv memergokki Sarah, temannya menangis di balik toilet dengan tas yang koyak bekas silet. Belum Sarah yang takut hanya pada suara-suara ketiga cowok populer itu. Liv yakin kematian Frans ada hubungannya dengan ketiga cowok populer tersebut.
Tidak seperti novel-novel thiller Lixie Xu atau Agatha Christie yang membuat pembaca mencurigai banyak tokoh. Disini, aku tidak mencurigai banyak tokoh. Pada awalnya, aku mencurigai Daniel, kemudian tiga cowok populer itu. Hanya itu saja, tidak ada yang lain.
Aku membaca buku ini hanya dalam waktu beberapa jam. Sekitar jam 11 sampai jam 2. Sudah lama aku tidak membaca buku sedemikian cepat. Mungkin karena ‘semangat’ku karena baru habis ujian (btw, aku nggak baca satu bukupun selama satu minggu ini). Beli buku ini pun kemarin. Aku bukan tipe pembaca yang menyukai novel horror. Aku lebih prefer nonton film horror daripada membaca. Ada beberapa novel horror yang aku baca, beberapa merupakan novel fantasteen, dan berakhir dengan kekecewaanku akan tokoh hantu yang menurutku tidak cukup ‘horror’ untuk menguji adrenalian. Maka dari itu, aku juga lebih menyukai genre thiller yang selalu membuatku mencurigai tokoh ini-itu.
Cover pada novel ini ‘cukup’ misterius. Gambar bunga di cover sebenarnya cukup manis. Hanya saja, jika diteliti lebih mendalam, kalian akan menemukan gambar tengkorak di tengah-tengahnya. Benar-benar mencerminkan kehorroran dari novel horror (minus bunga mawarnya yang aku kira lebih cocok buat cover novel romance)
Jadi ya, inti cerita disini (Liv dapat melihat makhluk gaib) aku rasa sudah terlalu mainstream untuk novel horror. (Ya kali, kalo nggak bisa lihat bukan novel horor dong!(?)!). #lupakanbagianini
Tidak ada satupun tokoh yang aku favoritkan dalam buku ini karena aku rasa dibalik kelebihan Liv yang dapat melihat hantu, aku tidak melihat kelebihan-kelebihan lain yang dipaparkan penulis. Ah, jangan lupa tentang hati mulia Liv yang ingin menolong hantu. Hanya saja, sifat Liv yang beginian aku rasa terlalu naif.
Tokoh Daniel, sahabat Liv yang malah menjauh saat sahabatnya dilanda ‘kegalauan’. Bagaimana tipe yang beginian dijadikan sahabat?! Ah, ya, aku bersyukur banget penulis nggak buat persahabatan Daniel-Liv jadi sahabat tapi cinta. Kan nggak bangett untuk novel horror.
Overall, meskipun novel ini tidak cukup ‘horror’ untuk menguji adrenalinku, novel ini telah menolong aku untuk melewati waktu senggangku yang membosankan. Meskipun aku rasa novel ini tarafnya ‘biasa-biasa’ saja untuk genre horror, untungnya novel ini tidak membosankan. Novel yang tidak membuat pembaca merasa bosan sudah bisa mendapat nilai plus, meskipun banyak unsur yang membuat pembaca tidak puas.

 

Ratings: 2.5 of 5 Stars.

[Book Review] Muse

23432894

Judul: Muse
Penulis: Devania Annesya
Penerbit: Grasindo
Terbit: 2014
Tebal: 200 hlm
ISBN: 9786022517474
Aku sahabat dari istrimu, tempat kau biasa mendiskusikan segala hal. Aku sahabat dari istrimu, tempat di mana kau selalu meminta nasihat dalam menghadapi kegilaan istrimu. Aku sahabat dari istrimu, dan aku jatuh cinta padamu.

Jatuh cinta pada Jonas adalah apa yang tidak pernah Renatha rencanakan. Namun begitulah adanya, ia jatuh cinta pada Jonas, suami dari Nadia – sahabatnya. Mulanya itu hanya sebuah rasa tanpa perlu mendapat pengakuan. Mulanya…

“Kau… mau sampai kapan kau akan lari, hm?“
“Kenapa tidak? Kalau perlu aku lari lagi sekarang. Aku akan pergi ke tempat di mana aku tidak akan menemukan satu orang pun yang mengetahui masa laluku. Terutama kamu! Adalah sebuah kesalahan mempercayaimu malam itu!“

REVIEW:

Memang benar bahwa Renatha memiliki segalanya, secara fisik. Renatha memiliki darah Jerman, dari ayahnya. Barangkali, kelebihan-kelebihan itu yang membuat ia populer, dimanapun. Apalagi dengan warna mata hijaunya yang berkilauan. Memiliki daya ikat tersendiri.
Tentu saja, sebagai tokoh dalam sebuah cerita fiksi, Renatha tidak akan pernah memiliki ‘kesempurnaan’ yang lengkap. Memang benar, ‘daya tarik’ mata hijaunya merupakan pemberian dari ayahnya yang juga bermata hijau, tapi… ‘mata hijau’-nya adalah satu-satunya hal yang ayahnya berikan (turunkan) padanya. Karena sejak awal, Renatha tidak pernah dekat… atau bertegur sapa dengan ayahnya. Bagi Renatha, ayahnya… tidak terjangkau.
Renatha memiliki pekerjaan yang menjanjikan, pramugari di sebuah maskapai penerbangan di Jakarta. Begitu juga dengan Nadia, sahabat Renatha. Mungkin, ‘daya tarik’ Nadia tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan ‘daya tarik’ yang dimiliki Renatha. Hanya saja, ‘keberuntungan’ Nadia membuat Renatha iri.
Keberuntungan bahwa Nadia menikahi Jonas Antariksa, seorang penulis novel. Iri karena ‘kesetiaan’ dan ‘kecintaan’ Jonas pada Nadia. Iri karena Nadia mendapatkan suami ‘langka’. Suami yang memiliki aspek-aspek yang ‘diidamkan’ oleh wanita.
Awalnya, Renatha merasa akan ‘merebut’ kebebasan Nadia, hal yang lazim dilakukan oleh suami kebanyakan. Tapi, Jonas berbeda, ia tidak mengekang Nadia. Ia membebaskan Nadia untuk ‘melanjutkan’ hubungan persahabatan lagi dengan Renatha. Awalnya, hanya Nadia-lah sahabat Renatha. Lalu, entah kenapa, kemudian Renatha menjadi ‘tempat’ untuk Jonas menumpahkan semua ‘curahan hati’ tentang kehidupan rumah tangganya dengan Nadia. Barangkali, ‘kegigihan’ Jonas untuk mempertahankan rumah tangganya membuat Renatha jatuh cinta pada Jonas.
Ya, Renatha jatuh cinta pada Jonas, suami sahabatnya sendiri.
      Adalah kamu yang selama ini kunanti. Adalah kamu yang selama ini kucari. Adalah kamu yang merupakan akhir dari hidup yang kujalani. Bagimu mungkin aku hanya seorang gadis asing yang mudah tertawa oleh candamu. Hanya kenalan yang selalu ada ketika kau merasa lelah melangkah. Hanya seorang kawan yang menangis ketika kau bilang kau ingin hilang dari muka bumi. 
      Yang perlu kamu tahu, akulah seorang yang akan gemetar ketakutan seperti anak kecil ketika membayangkan kau akan benar-benar hilang. Yang perlu kamu tahu, akulah seorang yang jantungnya rapuh kala lenganmu menggesek lenganku. Dan akulah gadis yang separuh napasnya hilang menguap di dimensi nanti tanpa pernah kau menyadari rasa ini.
Renatha.
Cerita ini disusun dengan alur maju-mundur. Di bagian prolog, kita akan menemukan surat berisi ‘ungkapan hati’ Renatha yang ditujukan pada Jonas. Lalu, pada bab 2, pembaca aka dibawa kembali ke masa-masa pertemuan Nadia dengan Jonas. Kala itu, Nadia dan Jonas belum berkenalan. Mungkin ‘kegigihan’ Nadia untuk berkenalan dengan Jonas membuat Jonas tertarik dan kemudian menyukai Nadia. Lain dengan Renatha yang cenderung dingin dan sering melamun.
Mungkin, pembaca akan menyebut Renatha ‘perempuan licik’ atau barangkali ‘perempuan ular’. Mungkin semua itu tidak benar, walau sedikit benar. Renatha benar-benar menyayangi Raisa, anak dari Jonas dan Nadia. Tapi, itu semua tidak menutup kemungkinan akan Renatha yang tidak ‘memanfaatkan’ Raisa untuk bertemu lebih sering dengan Jonas. Raisa adalah alasan Jonas untuk berada lebih dekat dengan Renatha.
Cerita ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran tokoh lain di samping Renatha.
Davi, mari kita menyebutnya ‘pria brengsek pura-pura baik depan apartemen’. Davi menyukai kecantikan Renatha. Tentu saja, seperti pria metropolitan brengsek lainnya, Davi tidak percaya dengan komitmen. Berpacaran dengan banyak perempuan sekaligus. Renatha adalah perempuan yang cantik. Davi tidak akan pernah tidak menyukai perempuan yang cantik. Itulah asumsi Davi, pada awalnya. Tapi, akhir selalu berbeda dengan awal. Hipotesis awal dan hipotesis akhir seringkali berbeda.
Pada akhirnya, bagaimana keadaan rumah tangga Jonas dan Nadia? Bagaimana pula ‘keadaan’ hati Renatha? Mengingat bahwa ‘keadaan hati’ dapat berubah. Apakah Renatha akan mencintai Jonas sampai akhir? Lalu, bagaimana dengan Davi? Bagaimana pula keadaan Raisa jika Jonas dan Nadia bercerai?
Tokoh favoritku dalam cerita ini adalah Jonas. Jonas adalah tipe suami yang tidak ‘mengekang’ kebebasan istrinya. Selalu mengalah untuk menyelamatkan rumah tangganya. Suami yang tidak mudah tergoda dengan wanita lain. Dan yang paling penting, suami yang memprioritaskan kenyamanan anaknya.
Konflik pada cerita ini tergolong sensitif. Seorang wanita yang menyukai suami dari sahabatnya sendiri. Untungnya, konflik yang diangkat tidak klise. Jangan bertanya lagi konflik seperti apa yang klise. Semua pembaca tahu itu.
Sejak lama, buku ini sudah ‘menempati’ wishlist aku. Aku selalu penasaran dengan karya ini. Terutama karena pengarangnya adalah pengarang yang sama dengan pengarang X: Kenangan yang Berpulang serta Blurb buku yang sangat menjanjikan.
Ekspetasi awalku akan seberapa besar aku akan menyukai buku ini ternyata tidak begitu berbeda dengan akhirnya. Aku menyukai buku ini. Aku menyukai cover dari buku ini. Sangat suka. Aku juga menyukai klimaks dari konflik dalam buku ini. Terutama karena konflik yang diangkat pun juga sedikit sensitif.

 

Ratings: 4 of 5 Stars

[Book Review] London: Angel

18163180
Judul: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2013
Tebal: 330 hlm.
ISBN: 979-780-653-7
Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

REVIEW:

Di bawah langit London, di depan London Eye, temui Gilang yang sedang merenungkan ‘cara menyatakan’ perasaannya pada sahabatnya, Ning.
Ning, sahabat Gilang, wanita berparas indonesia dengan potongan rambut sebahu sangat mencintai seni, terutama patung, maka dari itu, Ning pergi ke London, meninggalkan Gilang dan keluarganya untuk melanjutkan kuliah di London dan… tentu saja… seperti cita-citanya, Ning bekerja di Tate Modren.
      “A-aku terkesan.” Mister Lowesley, meskipun dengan suara gugup dan takut-takut, ikut berbicara. “Tidak semua lelaki berani pergi ribuan kilometer demi seorang perempuan. Itulah ci-cinta.”
Ning memang selalu seperti itu, tahu akan perasaan Gilang padanya, tapi pura-pura tidak tahu untuk menjaga persahabatannya. Barangkali, hati Ning memang tidak untuk Gilang. Hati Ning selalu tercurah pada seni, Gilang bukanlah penggemar seni.
Saat hujan mengguyur kota London, temui si ‘gadis misterius’ dengan payung merahnya. Dimana saja, kau akan menemukan si ‘gadis misterius’ di setiap sudut kota London, asalkan, hari itu hujan. Sesuai dengan ‘kemisteriusan’ gadis tersebut, Gilang menamakan gadis itu Goldilocks.
Picture of Tate Modren’s Interior

 

Windry Ramadhina selalu menjadi penulis favorit aku. Aku selalu menyukai apapun yang ia tulis. Mulai dari Metropolis, Walking After You, Interlude, Montase, dan… tentu saja, London. Aku dengar, proyek STPC(Setiap Tempat Punya Cerita) ini memiliki waktu deadline yang cukup cepat. Ajaibnya, buku ini menjabarkan cerita yang tidak terkesan seperti penulis yang mengejar waktu deadline a.k.a karya abal-abal.
Hanya saja, penulis tidak ‘memberi tahu’ nama lengkap (atau mungkin memang tidak ada?) para tokohnya. Seperti Gilang (masih bisa diterima) tapi Ning? Apakah seseorang memiliki nama yang begitu singkat? Hanya 4 huruf? Juga gadis misterius yang muncul bersamaan dengan turunnya hujan tidak memiliki nama, mungkin Ayu?
Aku menyukai saat-saat penulis menjabarkan tentang Tate Modren, London Eye, toko payung James Smith & Sons. Semuanya terlihat benar-benar nyata, pembaca dapat berimajinasi lebih tinggi. Serasa benar-benar di London. Penggambaran tempat dan suasana adalah salah satu keahlian penulis. Penggambaran dengan selengkap-lengkapnya tapi tidak terasa seperti membuat. Sesuai dengan aslinya. Keberadaan Tate Modren (studio seni) benar-benar terletak di London. Seperti penggambungan antara Fiksi dengan Non-Fiksi.
Biasanya, peran pembantu dalam sebuah cerita tidak begitu penting. Tapi, penulis ‘menyisihkan’ tempat yang lumayan banyak bagi para pemeran pembantu. Seperti: Brutus, Dum, Dee, dan Hyde. Mereka adah teman baik Gilang. Mereka jugalah yang menyakinkan Gilang untuk mengejar cinta ke langit London.
Buku ini bertemakan sahabat jadi cinta.
Buku-buku dengan tema seperti ini kebanyakan berakhir dengan akhir yang bahagia. Lalu, apakah ‘akhir bahagia’ itu berlaku dalam cerita ini?
Overall, aku merekomendasikan buku ini bagi kamu semua yang ingin/ pernah bermimpi untuk pergi ke kota London. Kamu yang pernah merasakan ‘cinta’ yang berlabuh ke tempat yang salah. Ditemani oleh secangkir cappucino, buku ini akan membuat ‘waktu luang’-mu lebih berarti.

Ratings: 4 of 5 stars