[Book Review] Swiss: Little Snow in Zurich

18141955

Judul: Swiss,  Little Snow in Zurich
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Bukune
Terbit: Juni 2013
ISBN: 602-220-105-5
Di Zürich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia.

“Ich liebe dich,”—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—
Yasmine, semoga akhir kisahmu indah.

REVIEW:

Temui Jasmine dengan kamera yang tergantung di lehernya di dermaga yang berbaring kukuh di tepi danau Zurich. Lalu, temui seorang laki-laki di ujung dermaga tersebut. Kedua orang yang sering saling bertemu di dermaga tersebut tapi tidak saling menyapa, Yasmine selalu malu untuk menyapa laki-laki tersebut duluan. Sampai suatu saat, laki-laki itu menyapa Yasmine dan memperkenalkan namanya sebagai Rekel. Rekel Steiner.
Di bawah salju yang berjatuhan, kisah mereka dimulai. Dimulai pada musim dingin, dan diakhiri oleh musim dingin.

https://i1.wp.com/images.gadmin.st.s3.amazonaws.com/n12377/images/buehne/Zuerichsee-1.jpg

“Melangkahlah, temukan kebahagiaanmu, dan jangan lupa berdoa untukku.”
Prolog dan Epilog pada buku ini sangat unik. Point of View pada prolog dan epilognya adalah Snow. Salju. Dibuat seolah-olah Salju adalah hidup, salju yang ikut menyaksikan kisah Rekel dan Yasmine.
Tokoh pada buku ini tidak terlalu banyak, tokoh yang ditampilkan hanya seputar orang-orang yang berhubungan dengan kedua tokoh utama. Seperti sahabat Yasmine, Dylan dan Elena. Atau pacar Rekel, Reene.
Buku ini merupakan buku pinjaman dari teman. Paris: Aline juga sudah menanti untuk dibaca olehku. Sejak kecewa pada seri STPC seperti Casablanca. Aku sudah memutuskan untuk tidak membeli serial tersebut. Tapi, buku ini membuat aku ingin membaca beberapa kisah seri STPC lagi.
Buku ini menyajikan cerita yang cukup bagus, meski mainstream. Hal tersebut–untungnya tertolong oleh gaya penulisan penulis yang rapi, menggunakan kata-kata yang bagus, mengingatkanku pada cara penulisan Windry Ramadhina dan Winna Efendi. Hanya saja, kurasa lingkaran cerita dalam buku ini terlalu sempit. Serta penulis kurang menyajikan tentang kuliner di Swiss. (Di Casablanca, Dahlian menyajikan banyak tempat wisata dan kuliner.), penulis di sini hanya banyak menyabarkan tentang tempat wisata, itu pun kebanyakan dermaga di danau Zurich dan pegungungan. Lalu, pada cover halaman terakhir, aku menemukan sebuah fakta. Fakta bahwa penulis adalah seorang pria. Dan ini membuat aku memberikan poin plus untuk penulis.
Cover dari buku ini sangat manis. Sketsa kota Zurich, mungkin? Beberapa skesta tentang tempat-tempat wisata di Zurich juga dijabarkan dalam buku ini.
Herannya, aku tidak memiliki tokoh favorit (mengingat bahwa aku selalu memiliki tokoh favorit di setiap buku yang aku baca. Atau mungkin aku kurang ‘terbawa’ ke dalam cerita pada buku ini?)
Alasan kenapa aku tidak menyukai tokoh Yasmine:
1. Yasmine terlalu naif, masik mengejar-ngejar orang yang sudah jelas-jelas menyakitinya.
2. Yasmine terlalu bodoh untuk memilih. Dylan adalah laki-laki yang baik, santun, dan yang pasti, ia menyukai Yasmine.
Alasan kenapa aku tidak menyukai Rekel:
1. Rekel tidak berpikiran secara Rasional. Bagaimana ia bisa menuduh orang lain yang membuat adiknya meninggal padahal adiknya meninggal karena kanker getah bening?
2. Rekel adalah laki-laki yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu.
3. Rekel Munafik.

 

Overall, aku cukup menikmati buku ini. Meskipun sempat bosan pada pertengahan buku, aku tetap melanjutkan membaca buku ini sampai habis. Buku ini cocok untuk orang-orang yang menyukai traveling. Membaca buku ini membuat aku ingin mengunjungi kota Zurich. Menikmati Danau Zurich dari dermaga.

Ratings: 3 of 5 Stars

Advertisements

9 thoughts on “[Book Review] Swiss: Little Snow in Zurich

  1. Pingback: January: Book Haul | StarKing's Library

  2. Pingback: Giveaway HOP [Romance] | StarKing's Library

  3. Woh tidak ada tokoh yang tidak disukai? Aku belum baca sih, jadi belum bisa nilai apakah nantinya aku suka atau engga. Tapi dari karakter yang kamu jelaskan memang ngga ada yang menarik hehe. Kalo bisa aku baca dari reviewnya, romance dalam novel ini ‘datar-datar’ aja ya 🙂

  4. Aku udah kepengen buku ini sejak tahun lalu T_T Tapi belum juga kesampean baca XD Tiap kali beli novel malah, suka beli yang gak ada di wishlist XD

    Tapi yang bikin aku kepincut pengen baca buku ini bukan karena review, tapi karena settingnya di Zurich. Buku pertama yang aku punya itu judulnya Einstein’s Dreams dan settingnya di Zurich. Jadi Zurich punya kenangan sendiri buat aku #tsaah

    Tapi kadang suka ragu juga buat baca buku penulis Indo tapi settingnya di luar negri. Soalnya… Kadang penulis bilang tokoh itu ada di suatu tempat, tapi penjelasan settingnya sama sekali gak menggambarkan kalau tokoh itu ada di sana. Kadang serasa nama tempatnya itu tempelan doang…

    ._.

  5. Pingback: [Playing Around with Romance] Top Romantic Cities from Books | StarKing's Library

  6. Jujur aku ga bosan pas baca buku ini. Meski aku kurang suka sama konfliknya (kurang greget menurutku._.) Tapi, Alvi Syahrin berhasil bikin aku terpesona sama gaya bahasa dia. Dan sukses bikin aku pingin pergi ke Swiss buat nikmatin musim dingin sambil makan cokelat :9

    Dan aku setuju sama kakak, Rekel munafik! (ngeja nama Rekel gimana ya?)

  7. Aku setuju sama kak viona kalau di pertengahan buku ini emang ngebosenin, aku hampir males ngelanjutin meskipun akhirnya tetep ngelanjutin baca sampe habis. Secara keseluruhan sebenernya buku ini cukup bagus (terutama di cara penulisan dan pemilihan sudut pandang si salju di prolog dan epilog), tapi seperti kata kak viona lagi, konfliknya terlalu mainstream dan penokohannya kurang kuat. Dan buku ini bikin aku makin pengen ke Zurich.

    My fav quote from Swiss:
    “Semua orang mengalami kehilangan dan suatu saat kita akan menjadi pihak yang harus pergi.”

  8. Pingback: [Update] NARC 2015 | StarKing's Library

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s