[Book Review] Al Dente: waktu yang tepat untuk cinta

22552823

Judul: Al Dente
Penulis: Helvira Hasan
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2014
Tebal: 256
ISBN: 9797807312
Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.

Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.

Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan. Kau bukanlah orang yang kuharapkan.

Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan? Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.

Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku. Usah sisipkan kata cinta di dalamnya. Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?

REVIEW:

Al Dente sendiri artinya adalah: tidak lengket di gigi. Rasanya pas, tidak lembek, tapi di masak dengan kematangan yang pas.
Al Dente biasanya akan diungkapkan seseorang disaat ia telah melahap habis pastanya, spagethi maupun fettucini. Jika menurut mereka rasanya pas dan tidak lengket di gigi, maka rasanya AL DENTE.
Lalu, apa hubungan dari Al Dente dengan isi cerita pada buku ini?
Mirip seperti ALL YOU CAN EAT nya Chrismo yang menggambarkan bahwa tokoh utamanyasuka memasak, di buku ini, tokoh utama wanitanya, Cynara suka makan pasta. Tentu saja, pastanya harus Al Dente. Nggak semua orang bisa membuat pasta yang Al Dente. Bahkan, suami Cynara pun nggak bisa. Dan nggak bisa bukan berarti nggak mau belajar terus.
Benjamin, suami Cynara berjanji untuk memasak pasta untuk istrinya setiap hari jumat.

Ternyata, menjalani sebuah rumah tangga itu sesulit membuat pasta yang rasanya Al Dente. Baru menikah dan memasuki minggu ke-2, hubungan keduanya meregang. Masing-masing orang dari masa lalu mereka muncul ke permukaan. Belum lagi kehadiran Elbert, senior yang pernah ditaksir Cynara datang dan menemuinya lalu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Nara.

Di sisi lain, Milly, sahabat Ben sewaktu SMA yang selalu menelepon Ben membuat Nara cemburu dan memikirkan ulang tentang pernikahannya dengan Ben.
Pertengkaran suami-istri itu menyakitkan. Tapi, perceraian lebih menyakitkan.
So, pada akhirnya, bagaimana keadaan pernikahan mereka?
Dibandingkan dengan topik ‘perselingkuhan’ dan ‘perjodohan bisa menimbulkan cinta’ yang cukup mengambil peran penting dalam ‘kepelikan’ cerita, topik tentang ‘Pasta yang Al Dente’ nggak berdampak apa-apa. Artinya, topik tentang rasa Al Dente itu nggak mengambil peran penting untuk membantu ‘keseruan’ pada cerita ini.
Cover yang terlewat simple. Bahkan gambarnya juga nggak ada. Ada sih, hanya gambar berbagai pasta, itu pun hanya sedikit. Yang sangat mencolok ya cuma judulnya yang super besar itu.
Memang sih, tema tentang perjodohan nggak begitu berjamur di novel-novel indonesia. Tapi, coba lihat wattpad Indonesia. Pernikahan akibat perjodohan yang berakhir dengan cinta itu udah menjamur sampai berkarat banget! Mungkin, yang jadi patokan untuk mencegah ‘kemainstream-an’ cerita hanyalah: perasaan tokoh utama wanita yang plin-plan.
Yang benar saja! Aku paling benci dengan tokoh utama plin-plan! Tau nggak sih, ke-plin-plan-an bisa ngebuat kualitas cerita jadi menye-menye aLa sinetron Indonesia? Belum lagi, sikap tokoh utamanya yang sangat-sangat nggak percaya dengan suami sendiri. Selalu ngerasa kalau suaminya selingkuh dengan sahabat suaminya sendiri. Padahal, ‘kencan’ makan siang antara Nara dan El juga udah bisa tergolong sebagai selingkuh. Kata kasarnya adalah: nggak tahu diri. Isn’t it?
Overall, penulis membuat buku yang ‘cukup baik’, tidak buruk untuk mengawali debut novelnya yang pertama. Hanya saja, mungkin penulis mesti ‘mendalami’ kemampuannya dalam membuat flashback di dalam cerita. Kenapa? yang aku harapkan adalah flashback yang tidak dipisahkan menggunakan keterangan waktu. Tapi, flashback yang diungkapkan dari sebuah paragraf. Masa lalu dan masa sekarang dapat juga dipisahkan dengan bab.
Btw, nama Benjamin di sini meningatkanku pada Benjamin Miller di People Like Us^^

 

Ratings: 3 of 5 stars.

Advertisements

2 thoughts on “[Book Review] Al Dente: waktu yang tepat untuk cinta

  1. Pingback: [WRAP-UP] Indonesian Romance Reading Challenge | StarKing's Library

  2. Pingback: [Wrap-Up] New Author Reading Challenge 2014 | StarKing's Library

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s