[Book Review] I Hate Rich Men

13262010

Judul: I Hate Rich Men
Penulis: Virginia Novita
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2011
Tebal: 288 hlm.
ISBN: 9789792278453
Adrian Aditomo benar-benar tipikal pria kaya yang dibenci Miranda, tidak peduli betapa tampan dan seksinya pria itu. Sifatnya angkuh dan begitu superior.

Ada lagi, pria itu sinting! Adrian berani menculik Miranda hanya untuk mengatakan kalimat yang tidak masuk akal—“Adik Anda merebut tunangan saya,” kata pria itu dingin.

“Hah?” Hanya itu yang bisa dikatakan Miranda. Apakah orang yang dimaksud pria itu adalah Nino? Nino-nya yang masih berumur tujuh belas tahun dan masih polos? Tidak mungkin Nino-nya yang masih remaja itu menyukai wanita yang lebih tua, apalagi milik orang lain!

Demi untuk membersihkan nama baik Nino, Miranda terpaksa bekerja sama dengan Adrian. Hal yang sangat sulit dilakukan karena mereka berdua tidak pernah sependapat dan selalu bertengkar.

Seharusnya sejak awal Miranda menolak berurusan dengan Adrian. Ia benar-benar mengabaikan firasatnya. Firasat yang mengatakan Adrian mampu menjungkir-balikkan hidupnya dan terutama… hatinya

REVIEW:

Bahkan reader bakal bisa menebak ending dari cerita ini hanya dengan membaca sinopsis di atas. Benar-benar tipikal FTV. Isn’t?
Cewek yang benci pria kaya. Pada akhirnya bakal jatuh cinta.
It’s too mainstream!
Maka, mari kita bahas hal lainnya.
Seperti… tokoh favorit?
Adrian akan menjadi tokoh favoritku! Aku selalu jatuh cinta dengan tokoh yang mendekati ‘perfect’ (menambah kesan ‘kenovelan’ karena memunculkan tokoh yang ‘IMPOSSIBLE’ a.k.a perfect). Kenapa? Adrian adalah pria kaya, tampan, baik, dannn… dapat menerima kekurangan dan kelebihan seorang perempuan! Memang sih, ada sisi negatifnya dikit, seperti SOK COOL? Tapi, sikap sok coolnya itu cuma pada bagian-bagian awal kok^^
Covernya?
Oke banget. Setelah membaca buku ini, aku langsung bisa menebak bahwa wanita di cover sudah pasti Miranda! Hanya dengan melihat baju yang di pakai! Fyi, Miranda itu buka usaha sablon kaos dan restoran.
Buku ini termasuk ke Metropop gak ya? To be honest, udah lama banget aku nggak pernah baca Metropop. Akhir-akhir ini lebih banyak baca Amore (kalo dari Gramedia). Mungkin, Metropop terakhirku Dirty Little Secretnya AliaZalea.
Btw, tokoh Miranda buat aku frustasi banget, untungnya nggak sampe benci. Kenapa? Miranda itu (pada awalnya) tipikal cewek yang gampang jatuh cinta mati sama cowok dan menyerahkan apapun pada cowok yang ia cintai! TOO MUCH!
Actually, buku ini nggak buat aku ‘kepingin tahu’ atau ‘menebak’ karena pada dasarnya aku sudah menebak endingnya. Yang membuat aku sampai pada bagian akhir (ending) adalah karena alurnya yang mengalir dengan jelas, serta typo yang sedikit. Feel-nya jadi terasa banget. Meskipun mirip FTV, novel ini belum termasuk ke novel picisan ya. Konflik yang di tawarkan dalam cerita ini cukup sensitif.
Tokoh-tokoh pembantu seperti adik Miranda dan keponakan Adrian juga menambah bumbu ‘keromantisan’ dalam buku ini
Overall, tentu saja buku ini saya rekomendasikan pada reader yang menyukai novel-novel bertipe METROPOP.

Ratings: 3.5 of 5 stars.

[Book Review] Omen #6: Sang Penghianat

23261061

Judul: Sang Pengkhianat
Penulis: Lexie Xu
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2014
Tebal: 472 pages
ISBN: 9786020309002
File 6 : Kasus Penjahit Manusia dengan Korban Atlet-Atlet Unggulan Pekan Olahraga

Tertuduh : Kami. Yep, kalian tidak salah baca. Kami-kami yang seharusnya menyelidiki kasus ini malah menjadi tertuduh lantaran ada beberapa saksi yang mengatakan mereka melihat kami di tempat kejadian. Tentu saja kami tidak sudi pasrah dengan situasi ini dan bertekad untuk menyelidikinya. Kecurigaan kami jatuh pada dua cewek paling jahat di sekolah kami: Nikki dan Eliza. Tambahan lagi, kini mereka mendapat bantuan dari Damian Erlangga sang pangeran iblis, serta mantan sobat kami yang kini menjadi musuh bebuyutan kami: Erika Guruh.

Fakta-fakta : Pada hari-hari menjelang Pekan Olahraga, atlet badminton unggulan sekolah kami ditemukan di lapangan badminton dalam kondisi tidak sadar dengan mata, mulut, dan anggota badan terjahit rapat. Saksi mata berupa sahabat korban mengatakan dia melihat Rima berkeliaran di dekat lapangan pada saat kejadian. Di siang hari, pada hari yang sama, kapten tim futsal ditemukan mengalami kejadian tragis yang sama, dan kali ini orang-orang melihat Putri Badai melarikan diri dari tempat kejadian. Keesokan harinya ada “tips tepercaya” yang mengatakan Aya akan melakukan kejahatan berikutnya, dan sebelum kami sempat melakukan sesuatu Aya sudah ditahan polisi.

Misi kami : Menemukan pelaku sebenarnya sebelum kami dihukum untuk perbuatan yang tidak kami lakukan.

Penyidik kasus,
Valeria Guntur, Rima Hujan, Putri Badai, dan Aria Topan

REVIEW:

Membaca buku karya Lexie Xu selalu menyenangkan. Mengingatkanku pada Tuan Holmes dan detektif Strike. Tentu saja, kasus-kasus mereka lebih berat dan membutuhkan banyak halaman.
Kembali lagi pada buku ini. Buku ke 6 dari Omen Series membahas tentang penyiksaan dengan cara menjahit beberapa bagian tubuh korban. Korban yang dituju tidak sembarang. Pada dasarnya, orang-orang yang menjadi korban merupakan atlit unggulan dari masing-masing klub olahraga yang mengikuti Pekan Olahraga SMA Harapan Nusantara.
Perlu di ingatkan. Bagi para calon readers yang ingin membaca buku ini, aku sarankan untuk membaca dari buku pertama. Kenapa? Karena ada tokoh yang dijelaskan pada buku pertama. Lalu hiatus dan ‘kembali’ berperan pada buku ini. Namanya Eliza, adik kembarnya Erika.
Seperti yang di jelaskan pada sinopsis di atas. Yang tertuduh adalah Valeria, Rima, Putri, dan Aya. Padahal (jika di baca dari buku awal-berurut), mereka adalah orang-orang bersih. Mereka jugalah yang selalu membantu penyidikan kasus-kasus mengerikan di SMA Harapan Nusantara.
Salah satu hal yang paling sulit dibendung di dunia ini adalah Gosip
Jika aku menjadi murid SMA Harapan Nusantara, aku langsung keluar pada hari pertama!
Kenapa?
Karena SEDERETAN KEJADIAN BURUK selalu menimpa SMA Harapan Nusantara. Seperti di kutuk. Meskipun, sebenarnya karena siswa-siswi mereka banyak yang sakit.
Cerita tentang penyelidikan kasus selalu menarik. Apalagi saat proses intrograsi. Banyak alibi.
Tapi, meskipun kasus-kasus yang dibuat penulis dari buku pertama sampai terakhir selalu menarik, tapi nggak ‘cukup’ berat. Di lain sisi, aku ngerasa kalau penulis nggak cukup pengalaman untuk melakukan penggambaran suasana. Singkatnya, seringkali suasananya nggak ‘mencengkam’
Overall, meskipun buku ini cuma pinjeman dari teman. Aku selalu ngerasa bahwa penerbit membandrol harga terlalu tinggi untuk buku yang satu ini. Memang sih, buku ini tebel banget. Halamannya samapi 400-an. Tapi, kok harganya sampai 80ribuan ya? T_T

 

Ratings: 4 of 5 Stars

[Book Review] Mahogany Hills

17886352

Judul: Mahogany Hills
Penulis: Tia Widiana
Penerbit: GRAMEDIA
Terbit; 2013
Tebal: 344 hlm.
ISBN: 9789792295849
Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.
Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasia yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan—semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.
Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab: Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?

REVIEW:

Aku sudah membaca beberapa buku yang diikutsertakan ke lomba penulisan Amore 2012. Buku-buku tersebut antara lain: Mahogany Hills, Heart Quay, A Miracle of touch. Menurutku, dari ke tiga buku itu, yang paling seru tentunya sang juara pertama, Mahogany Hills.
Actually, cerita-cerita yang bertema pernikahan karena perjodohan sudah menjamur banget di Wattpad. Dengan konflik yang hampir sama semua pula.
Banyak penduduk Goodreads yang mengatakan bahwa cerita ini terlalu drama. So do I. Apa yang akan kalian pikirkan jika menemukan plot yang begini amat: Baru ketemu – Langsung tunangan – Nikah – diambang perceraian – Anmesia. What the… &%.?!
Tema&plot yang udah menjamur ditambah dengan adegan paling klise sepanjang sejarah?!
Tapi…
Bukan berarti aku ‘nggak suka’ pake banget dengan buku ini. Malahan aku sukaa bangett!!!
Nggak tahu kenapa. Membaca buku ini membuatku melupakan semua hal yang perlu di kritik. (Jadi ingat waktu beberapa tahun yang silam, jatuh cinta pake banget dengan karya 4 musimnya Ilana tan + Sunshine becomes you. Dan baru menyadari bahwa 4 Musimnya Ilana Tan, terutama yang Summer In Seoul itu lebay banget dan IMPOSSIBLE…)
Yang aku butuhkan di sebuah cerita itu, kemampuan setiap suasana dan tokoh-tokoh yang bisa memberikan IMAGINE yang kuat. Saat aku membaca buku ini, FEEL nya kedapet banget. (Lupakan soal anmesia gara-gara nabrak pohon, HELL-NO! Emang nggak ada AIRBAG?)
Oh ya, aku juga mengeluhkan tentang ‘sedikit’nya tokoh yang bermunculan. Apalagi kemunculan orangtuanya Jagad. Mereka juga nggak pernah mengunjungi Mahogany Hills, sekalipun.
Overall, meskipun buku ini banyak kekurangan. Entah kenapa, aku tetep suka banget! Bahkan aku mau ngasih 5 bintang! (Lalu, tiba-tiba tersadar akan kekurangan fatal dari buku ini: KEMAINSTREAMAN)

 

RATINGS: 4 of 5 stars

[Book Review] Bonus Track

23453992

Judul: Bonus Track
Penulis: Koshigaya Osamu
Penerbit: Haru
Terbit: Oktober 2014
Tebal: 380 hlm
ISBN: 978-602-7742-36-9
Aku sendiri pun terkejut. Aku tidak pernah berpikir akan menjadi hantu dan bergentayangan.

Kusano Tetsuya bekerja di sebuah restoran hamburger besar di kotanya. Suatu malam, saat ia pulang kerja sambil mengendarai mobilnya, ia menjadi saksi tabrak lari. Sebuah mobil sport hitam melaju dengan kencang, meninggalkan seorang pemuda bertubuh kecil tergeletak di jalanan di tengah hujan.

Kusano mencoba untuk menolong pemuda itu, bahkan sampai memberikan napas buatan. Namun semua sudah terlambat. Semalam suntuk ia harus memberikan pernyataan di kantor polisi.

Gara-gara itu, Kusano demam tinggi dan bahkan berhalusinasi. Pemuda korban tabrak lari itu muncul di kamarnya, tidur-tiduran di atas sofanya, dan bahkan berbuat usil!

Tapi, apa itu benar-benar hanya halusinasi? Halusinasi itu sendiri sih mengaku kalau ia adalah hantu….

Kadang bonus track itu sendiri malah lebih baik dibandingkan dengan keseluruhan album.

REVIEW:

It was OK.
Agak membosankan. Jalan ceritanya (proses menemukan si pembunuh) lambat banget. Dipenuhi dengan ‘material’ yang nggak penting. Bukti bahwa pelaku pernah menabrak Ryota dan tertangkap sama-sama dituliskan pada bab 12, (bab ke-2 menuju TAMAT)
Lalu, pada bab terakhir, alias BAB 13, diceritakan tentang hidup kusano setelah arwah Ryota sudah pergi ke langit.
Bisa bayangkan nggak, bagaimana perjalanan dari BAB 2 sampai BAB 11 yang nggak mengandung apa-apa?
Nggak ada bukti tentang kasus tabrakan (kecuali mobil sport berwarna gelap, itupun ungkapan Kusano karena ia lah saksi tabrak lari itu). Berhubung karena kejadian terjadi pada tengah malam, di jalan yang sepi, dan sialnya… Hujan pula! Bekas ban pun nggak ada!
Lalu, ada bagian yang nggak di ceritakan jelas. Kenapa arwah-arwah yang lain begitu meninggal (keluar dari tubuh) langsung pergi ke langit, dan ada juga arwah yang nggak begitu, contohnya pada kasus korban tabrak lari: Ryota. Memang sih, pada akhirnya Ryota juga pergi ke langit (setelah ditemukannya si botak, also known as: PELAKU).
Serta tentang kenapa Kusano hanya bisa melihat hantu Ryota seorang?
Kadang, hal yang kecil seperti itu malahan dituntut adanya kejelasan oleh pembaca.
Kekecewaanku pada Her Sunny Side nggak begitu mendalam. Masih bisa ditoleransi. Tapi… buku ini…
Gawd…
Belum lagi masalah soal ‘JUDUL’. Judulnya (my opinion) agak melenceng dari ceritanya. Cerita yang dimuat adalah tentang seorang pegawai restoran hamburger, Kusano yang menjadi satu-satunya saksi mata sebuah kejadian tabrak lari! Belum lagi korban tabrak lari tersebut, Ryota yang selalu menempel pada Kusano. Anehnya, Kusano hanya bisa melihat hantu Ryota!
Dua bintang karena covernya dan kualitas terjemahannya. Terjemahan HARU memang sangat mendetail. Untuk hal sekecil apapun. Ini patut diberi apresiasi.

Truth to be told, aku bahkan sempat hiatus di pertengahan buku ini dan membaca MAHOGANY HILLS (sudah selesai baca juga^^)

Overall, Bonus Track membuatku kecewa. Benar-benar nggak aku nyangka! (Karena, semua buku terjemahan HARU selalu seru-seru!)

Ratings: 2 of 5 Stars

[Book Review] Al Dente: waktu yang tepat untuk cinta

22552823

Judul: Al Dente
Penulis: Helvira Hasan
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2014
Tebal: 256
ISBN: 9797807312
Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.

Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.

Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan. Kau bukanlah orang yang kuharapkan.

Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan? Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.

Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku. Usah sisipkan kata cinta di dalamnya. Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?

REVIEW:

Al Dente sendiri artinya adalah: tidak lengket di gigi. Rasanya pas, tidak lembek, tapi di masak dengan kematangan yang pas.
Al Dente biasanya akan diungkapkan seseorang disaat ia telah melahap habis pastanya, spagethi maupun fettucini. Jika menurut mereka rasanya pas dan tidak lengket di gigi, maka rasanya AL DENTE.
Lalu, apa hubungan dari Al Dente dengan isi cerita pada buku ini?
Mirip seperti ALL YOU CAN EAT nya Chrismo yang menggambarkan bahwa tokoh utamanyasuka memasak, di buku ini, tokoh utama wanitanya, Cynara suka makan pasta. Tentu saja, pastanya harus Al Dente. Nggak semua orang bisa membuat pasta yang Al Dente. Bahkan, suami Cynara pun nggak bisa. Dan nggak bisa bukan berarti nggak mau belajar terus.
Benjamin, suami Cynara berjanji untuk memasak pasta untuk istrinya setiap hari jumat.

Ternyata, menjalani sebuah rumah tangga itu sesulit membuat pasta yang rasanya Al Dente. Baru menikah dan memasuki minggu ke-2, hubungan keduanya meregang. Masing-masing orang dari masa lalu mereka muncul ke permukaan. Belum lagi kehadiran Elbert, senior yang pernah ditaksir Cynara datang dan menemuinya lalu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Nara.

Di sisi lain, Milly, sahabat Ben sewaktu SMA yang selalu menelepon Ben membuat Nara cemburu dan memikirkan ulang tentang pernikahannya dengan Ben.
Pertengkaran suami-istri itu menyakitkan. Tapi, perceraian lebih menyakitkan.
So, pada akhirnya, bagaimana keadaan pernikahan mereka?
Dibandingkan dengan topik ‘perselingkuhan’ dan ‘perjodohan bisa menimbulkan cinta’ yang cukup mengambil peran penting dalam ‘kepelikan’ cerita, topik tentang ‘Pasta yang Al Dente’ nggak berdampak apa-apa. Artinya, topik tentang rasa Al Dente itu nggak mengambil peran penting untuk membantu ‘keseruan’ pada cerita ini.
Cover yang terlewat simple. Bahkan gambarnya juga nggak ada. Ada sih, hanya gambar berbagai pasta, itu pun hanya sedikit. Yang sangat mencolok ya cuma judulnya yang super besar itu.
Memang sih, tema tentang perjodohan nggak begitu berjamur di novel-novel indonesia. Tapi, coba lihat wattpad Indonesia. Pernikahan akibat perjodohan yang berakhir dengan cinta itu udah menjamur sampai berkarat banget! Mungkin, yang jadi patokan untuk mencegah ‘kemainstream-an’ cerita hanyalah: perasaan tokoh utama wanita yang plin-plan.
Yang benar saja! Aku paling benci dengan tokoh utama plin-plan! Tau nggak sih, ke-plin-plan-an bisa ngebuat kualitas cerita jadi menye-menye aLa sinetron Indonesia? Belum lagi, sikap tokoh utamanya yang sangat-sangat nggak percaya dengan suami sendiri. Selalu ngerasa kalau suaminya selingkuh dengan sahabat suaminya sendiri. Padahal, ‘kencan’ makan siang antara Nara dan El juga udah bisa tergolong sebagai selingkuh. Kata kasarnya adalah: nggak tahu diri. Isn’t it?
Overall, penulis membuat buku yang ‘cukup baik’, tidak buruk untuk mengawali debut novelnya yang pertama. Hanya saja, mungkin penulis mesti ‘mendalami’ kemampuannya dalam membuat flashback di dalam cerita. Kenapa? yang aku harapkan adalah flashback yang tidak dipisahkan menggunakan keterangan waktu. Tapi, flashback yang diungkapkan dari sebuah paragraf. Masa lalu dan masa sekarang dapat juga dipisahkan dengan bab.
Btw, nama Benjamin di sini meningatkanku pada Benjamin Miller di People Like Us^^

 

Ratings: 3 of 5 stars.

Book Review: Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Judul: Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman
Penulis: Afifah Afira
Penerbit: Indiva
Terbit: Desember, 2013
Tebal:368 hlm. 
ISBN: 9786021614112
“Dia korban perkosaan,” bisikan lelaki berjas putih itu menyakitiku.
Korban perkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam itu menghempaskan aku kepada jurang kenistaan.
“Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala.
“Kenapa?” tanya seorang wanita, juga berpakaian serbaputih.
“Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stress, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”
……………
Huru-hara 1998 tak sekadar telah menimbulkan perubahan besar di negeri ini. Sebongkah luka yang dalam pun menyeruak di hati para pelakunya. Mei Hwa, gadis keturunan Tiong Hoa adalah salah satunya. Dalam ketertatihan, Mei Hwa berusaha menemukan kembali kehidupannya. Beruntung, pada keterpurukannya, dia bertemu dengan Sekar Ayu, perempuan pelintas zaman yang juga telah terbanting-banting sekian lamanya akibat silih bergantinya penguasa, mulai dari Hindia Belanda, Jepang, hingga peristiwa G30S PKI. Sekar Ayu yang telah makan asam garam kehidupan, mencoba menyemaikan semangat pada hati Mei Hwa nan rapuh.
Dalam rencah badai kehidupan, berbagai kisah indah terlantun: persahabatan, ketulusan, pengorbanan dan juga cinta. Lewat novelnya ini, Afifah Afra kembali mengobrak-abrik emosi pembaca lewat novel bergenre fiksi sejarah yang sarat konflik, diksi menawan dan pesan yang sangat kuat.

REVIEW&PLOT:

Cerita di awali oleh sepasang suami-istri yang hidup serba kekurangan, suami bekerja sebagai petugas kebersihan (nama yang lebih layak daripada tukang sampah), dan istrinya sebagai pemulung yang menemukan mayat di tempat sampah dan menguburnya. Lalu, entah keajaiban darimana, seorang wanita keturunan Tionghua memberikan uang yang banyak pada pasangan tersebut dengan syarat: Menggali kuburan mayat itu!
Seandainya ikan, kita ini belut. Belut harganya murah, tapi dia bisa tinggal di dalam lumpur, berbeda dengan ikan gurami yang mahal tapi sekarat kalau dilempar ke air yang tak jernih. Jangankan lumpur, di air yang hanya sedikit keruh saja sudah sekarat
Bercerita tentang dua orang perempuan yang memiliki perjalanan hidup yang kelam, lalu takdir mempertemukan mereka. Meskipun mereka berdua hidup dalam rentang waktu yang berbeda.
Sekar Ayu Kusumastuti, perempuan yang dilahirkan pada akhir masa penjajahan belanda, wajahnya sangat cantik. Memiliki orang tua yang berlatar belakang berbeda. Ibunya, keturunan bangsawan Jawa. Ayahnya, Arab-keturunan pedagang. Tentu saja, hubungan kedua orangtua Ayu ditentang habis-habisan oleh neneknya yang gila ‘darah biru’ itu.
Meskipun Ayu hidup berkecukupan, jalan hidupnya nggak sesederhana itu. Ia melewati banyak masa-masa sulit. Semua itu berawal saat zaman penjajahan Jepang. Mulai dari dicabuli saat umur 7 tahun, menjadi pelacur, lalu menikah muda dan tinggal di tokyo dengan seorang pria yang ternyata sudah memiliki istri. Masa-masa sulitnya nggak berhenti hanya di situ.
Ayu pun lontang-lantung di Tokyo. Lalu, sepasang suami-istri Harada keturunan Jepang menyelamatkannya. Kehidupan Ayu berangsur-angsur baik saat ada keluarga dari Jepang yang mengadopsi Ayu dan menganggap Ayu sebagai anak sendiri. Ayu-pun di sekolahkan sampai tamat SMA. Setelah tamat, Ayu memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya, Indonesia untuk menemui kakeknya, Kyai Abdurahman.
Ayu-pun melanjutkan perguruan tingginya di Indonesia. Karena Ayu yang sangat terlena oleh kebebasan. Ayu dihamili oleh Purnomo yang tidak bertanggung jawab. Tanggung jawab itu berimbas pada Ahmad, seorang ustadz muda di pesantren kakek Ayu.
Suryani Cempaka Ongkusuma a.k.a Ong Mei Hwa, perempuan etnis tionghwa yang menjadi korban pemerkosaan kejadian Mei 1998 yang mengalami sedikit gangguan mental lari dari RSJ dan bertemu ‘Kayu’ (Sekar Ayu). Awalnya, Mei Hwa menyukai seorang pria dari pribumi, Firdhaus. Tapi, setelah kejadian memilukan Mei 1998 itu, Mei Hwa menjadi membenci Firdhaus.
“Ingat, Mei,” ujar Papa. “Kita ini China, minoritas. Kalau kita tidak pintar, tidak kaya, maka kita tidak punya arti apa-apa. Kita akan tertindas. Kebijakan pemerintah membuat kita tak punya pilihan lain kecuali menjadi yang terbaik. Ingat itu.”
Jujur saja, aku sangat sangat terpesona dengan jalan cerita yang dipaparkan penulis. Penulis menuliskan cerita mulai dari rentang waktu yang cukup lama. Yakni, dari tahun 1936 sampai 2002. Dari akhir masa penjajahan belanda berlanjut ke masa penjajahan Jepang hingga merdekanya Indonesia. Tidak lupa menyelipkan kasus-kasus yang pernah memecahkan Indonesia: Gerakan 30S/PKI hingga kejadian Mei 1998.
Hebatnya, penulis bisa menyertakan tokoh fiksi ke dalam peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Dengan pengetahuan akan sejarah yang sangat baik, penulis menuliskan sejarah beruntun menurut kebenarannya.
Aku juga terkagum-kagum dengan tokoh yang lumayan banyak. Pada tahap ini, aku cukup kebingungan mengenali tokohnya, berhubung karena nama tokoh-tokoh yang cenderung sulit di ingat dengan segala ke-jawa-an namanya.
Meskipun judulnya mengarah pada nama “MEI HWA”, penulis tidak begitu menceritakan tentang peristiwa Mei 1998. Diceritakan sih, tapi hanya singkat. Lebih banyak menceritakan tentang kehidupan Sekar Ayu yang kelam.
Aku cukup kagum tentang ‘pengetahuan’ penulis akan etnis China, padahal, penulis sendiri merupakan orang pribumi.
Tokoh favorit aku di buku ini adalah ustad Ahmad. Siapa itu?
Ustad Ahmad bukanlah pemeran utama di buku ini. Karakter Ustad Ahmed juga jarang dikeluarkan sepanjang cerita di buku ini. Hanya beberapa kali, saat-saat tertentu. Kenapa menjadi karakter favoritku? He’s too good to be true, dude!
Karena Ustad Ahmed dengan rela menerima Sekar Ayu yang saat itu mengandung anak Purnomo sebagai istrinya. Seorang Ustad tidak seharusnya mendapatkan istri yang sudah tidak perawan lagi, ditambah sedang mengandung anak dari orang lain! Tapi, karena ke-cinta-annya pada Ayu, Ustad Ahmed menerima Ayu apa adanya. Dann… sialnya, Ayu nggak tahu di untung! Dengan kecantikan wajahnya, meskipun ia sudah mempunyai anak, Ayu pergi menemui lelaki yang dulu sempat ia cintai, Prakoso. Dengan Prakoso, Ayu masuk sebagai anggota Gerawani dan PKI. Bersama anggota PKI, Ayu menghancurkan pesantren tempat suami, kakek, dan anaknya berada. How cruel she is!
Bicara tentang cover. Gawd! Covernya sangat -nggakbanget- Simple. Oke, simple bukan alasan yang kuat. Berhubung karena aku cenderung menyukai sesuatu yang pembawaannya simple. Tapi, simple yang aku suka itu: simple but elegant. Dan, aku nggak menemukan ‘simple but elegant‘ itu di cover buku ini. Warnanya yang keungu-biruan juga bikin ‘ngeh’. Kalau orang bilang tuh: Warnanya janda. What??
Tapi, tentu saja, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Meski covernya yang nggakbanget , poin-ku pada buku ini nggak akan berkurang sedikitpun!
Actually, buku ini sudah lama berada di rak bukuku. Aku bahkan lupa tentang alasan kenapa membeli buku ini. Yang pastinya, buku ini nggak pernah sekalipun menempati WISHLIST-ku. Dann… unbelievable! Nggak nyangka aku bisa sangat menikmati buku ini! Menyelesaikan membaca buku ini hanya dalam satu hari! Membuat Review panjang untuk buku ini! Padahal, buku ini merupakan buku pertama dari Afifah Afra yang aku baca. Bersemangat untuk membaca buku karya penulis lainnya! I’ll wait for her next book!
Overall, membaca buku ini seperti membaca kembali sejarah ditambah dengan kesedihan yang menguras hati. Menghadirkan seseorang yang berasal dari sejarah, membuat kita seolah-olah mengenal dan ikut merasakan apa yang orang yang lahir di zaman dahulu rasakan. Tentang susahnya perjalanan hidup mereka. Buku ini direkomendasikan untuk orang yang suka sejarah, tapi benci membaca buku tentang sejarah yang membosankan! Aku yakin, dengan membaca buku ini, rasa bosan nggak akan muncul! Pesan-pesan moral juga bertebaran, meskipun tidak dikatakan secara langsung. 

 Ratings: 5 of 5 stars

 

BOOK REVIEW: COVET #1

13481759

Title: COVET #1
Writer: Tracey Garvis Graves
Publisher: Dutton Adult
Number of Pages: 320 pages.
ISBN: 0525954074
What if the life you wanted, and the woman you fell in love with, belonged to someone else?

Chris and Claire Canton’s marriage is on life support. Downsized during the recession and out of work for a year, Chris copes by retreating to a dark place where no one can reach him, not even Claire. When he’s offered a position that will keep him away from home four nights a week, he dismisses Claire’s concern that time apart could be the one thing their fragile union can’t weather. Their suburban life may look idyllic on the outside, but Claire has never felt so disconnected from Chris, or so lonely.

Local police officer Daniel Rush used to have it all, but now he goes home to an empty house every night. He pulls Claire over during a routine traffic stop, and they run into each other again at the 4th of July parade. When Claire is hired to do some graphic design work for the police department, her friendship with Daniel grows, and soon they’re spending hours together.

Claire loves the way Daniel makes her feel, and the way his face lights up when she walks into the room. Daniel knows that Claire’s marital status means their relationship will never be anything other than platonic. But it doesn’t take long before Claire and Daniel are in way over their heads, and skating close to the line that Claire has sworn she’ll never cross.

REVIEW:

(Trying to review with English Language) Note: I’m from Indonesia. So, sorry for my worst Grammar! 🙂
It was my first time to reads Tracey’s book. This book’s genre was Women’s fiction. In my opinion, this book was suitable for Young-Adult, especially women, of course.
Actually, i did not really understand the whole story of this book. And what i know was: This book told about Claire’s household.
Her husband, Chris was being unemployment. And now, Chris found a new job and now he’s never home. Because his new job, Chris just doesn’t have a lot of time for Claire.
And then, one day, Claire’s meet a cop. Daniel Rush.
He doesn’t like any cop I’ve ever seen. He looks like a model pretending to be a police officer for a photo shoot. Or maybe one of those cops who shows up at a bachelorette party and then strips down to his underwear.
Because of that, a new frienship between these two begins. And then, Daniel realized something: That Claire was another man’s wife
Maybe I want her because I know I can’t really have her.
I always do love a writer who writes their story with the first person perspective. This book told from three person POV: Claire (the most), Daniel, and Chris.
I read this book from my phone. So, it took long time to finish this book. (I’ve never really into an E-book, it makes my eyes hurt.) But, i was quite enjoyed this book. This book help me to passed my boredom while i’m in interlude. So usefull!
But, i think the plot is quite slow. Sometimes, it makes me bored.

 

Ratings: 2.5 of 5 stars