Book Review: Menunggu

Judul: Menunggu
Penulis: Dahlian & Robin Wijaya
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2012
Tebal: 312 hlm.
ISBN: 9797805905
Aku sedang merindukanmu, apakah kau tahu itu? Saat bulan penuh di atas kepala, aku menggantungkan doa untukmu di antara bintang-bintang. Semoga suatu saat hatimu akan menoleh kepadaku, menyadari bahwa akulah akhir dari penantianmu.
Aku ingin memelukmu, meraihmu, dan menyembunyikanmu dalam dekapanku. Aku tak akan melepasmu pergi, aku janjikan itu padamu. Dan kesabaranku kian menipis seperti batu yang terus-terusan digerus air. Aku sudah menunggu terlalu lama, nyerinya semakin lama kian terasa nyata.
Aku mencintaimu… karenanya aku selalu merindukanmu. Namun, seperti pertanyaan yang kubisikkan pada rembulan malam itu: apakah kau juga sedang merindukanku?

REVIEW:

Buku ini sudah diterbitkan 2 tahun yang lalu, dan baru siap baca kemarin.
Buku ini juga merupakan GAGASDUET pertama yang aku baca sebelumnya.
GagasDuet di pikiranku adalah: satu cerita, sudut pandang masing-masing tokoh utama ditulis oleh penulis yang berbeda. Dan ternyata hasilnya: 2 novella (oleh 2 penulis berbeda tentunya!) yang digabung menjadi sebuah buku dengan judul yang berbeda tapi topik yang sama: MENUNGGU
Cerita pertama ditulis oleh Dahlian, judulnya LAST CHANCE. Dan tentunya cerita ini ‘menceritakan’ tentang menunggu.
Aby merupakan sahabat dari Dhani yang terus menghindar dari adik sahabatnya, Risa. Aby terus-terusan menyangkal perasaannya karena sebuah hal bodoh yang memang disebabkan oleh Dhani. Aby yang orangnya cenderung serius mendengarkan perkataan Dhani dan menyimpannya dalam hati. Ya, Dhani melarang Aby untuk berpacaran dengan adiknya, Risa. Tapi Dhani tidak menganggap serius perkataannya sendiri. Karena, jikalau Aby dengan Risa berpacaran, Dhani toh akan sah-sah saja.
Disisi lain, Risa yang baru pulang dari Sydney berusaha lagi untuk mendapat perhatian dari Aby, Risa yang selama ini sabar menunggu Aby kemudian memutuskan untuk menyerah. Lalu, disaat Risa telah menyerah, apakah Aby yang akan memperjuangkan rasa ini?
>>
Gimana ya, entah kenapa aku kurang ‘srek‘ dengan cerita ini. Alasan Aby menjauhi Risa dan bersikap dingin padanya itu nggak masuk akal. Harusnya, kalo seorang cowok punya hati sama cewek, mereka pasti akan berusaha bertahan dan nggak cepat menyerah. Sesulit apapun tantangannya.
Aku juga sempet ‘ngeh‘ dengan Risa yang dengan beraninya memakai baju yang menampakkan punggungnya. Kalau dia make baju begituan di mall-mall kayak Grand Indonesia, itu sah-sah aja. Masalahnya, Risa make baju begituan saat jalan-jalan di Tanah Abang.
Seperti biasanya, aku selalu suka dengan ide ceritanya Dahlian. Tapi, aku kurang suka dengan penulis yang selalu me-drama-kan cerita. Dan, yah, cerita ini sangat men-dorama.
Disertai dengan Ending yang SWEET tetapi SANGAT MAINSTREAM.
Jika semua kekurangan itu ditutup, mungkin buku ini bakal melekat dihatiku. Berhubung karena Dahlian merupakan salah satu author favorit aku. Bicara soal buku Dahlian yang aku suka. Promises-Promises berada di tingkat pertama disusul dengan Andai Kau Tahu 🙂

Cerita kedua ditulis oleh Robin Wijaya dengan judul: REASON
Jika dilihat dari sisi ‘kemainstreman’ cerita, cerita ini juga bisa dibilang mainstream ya. Kenapa? Karena topik utama cerita ini adalah: CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Tapi tidak se-akut adegan penutup di cerita pertama, Last Chance.
Lenka yang pindah ke Jakarta membuat hubungannya dengan Gantar makin meregang. Dan lama-kelamaan, mereka hilang kontak begitu saja. Tidak jelas apakah hubungan mereka sudah berakhir atau belum.
“Kalau kamu percaya takdir, aminkan dalam hati, kita bertemu lagi suatu hari nanti”
Disinilah takdir memainkan mereka. Setelah sekian lama, mereka bertemu kembali di Jakarta. Gantar menjadi kameramen dan Lenka menjadi anchor berita sebuah stasiun televisi.
Tapi, kali ini keadaannya sedikit berubah. Lenka ternyata sudah memiliki pacar. Barata. Seorang CEO stasiun televisi tempat Lenka bekerja.
Sebenarnya, Lenka-pun masih memiliki perasaan pada Gantar. Tapi, disisi lain Lenka merasa nyaman dengan semua sifat Barata, kecuali satu: sifat Barata yang selalu mengatur dan menganggap apa yang dikatakannya bisa diterima Lenka.
Suatu hari, Barata melamar Lenka. Lenka tidak menjawabnya. Tapi Barata menyematkan cincin di jari manis Lenka.
Perasaan kebimbangan Lenka akan hubungannya dengan Barata mulai timbul.
>>
Aku benci dengan tokoh utama wanita di cerita ini. Ya, aku benci Lenka!
Lenka orangnya terlalu naif. Nggak bisa membuat pilihan. Plin-plan. Mempermainkan dua hati.
Lalu aku suka dengan ‘kesetiaan’ Gantar. Lalu adapula ‘kebaikan’ Barata.
Di cerita kedua ini, banyak terdapat kata-kata mutiara. Mungkin karena penulis merupakan orang yang romantis atau puitis?
Jujur aja, ini merupakan buku Robin Wijaya pertama yang aku baca. Sejauh ini, komentarku tentang tulisan Robin Wijaya adalah: Bagus. Penulis menggabungkan beberapa flashback dari masa lalu ke masa sekarang. Flashback-flashback itu untungnya nggak membinggungkan aku. Poin plus untuk gaya penulisan Robin Wijaya.
Dari segi cerita yang dipaparkan, tentu saja cerita kedua ini lebih menarik… dan … lebih bosan…
Alurnya sedikit lambat.
Overall, ‘cukup’ dengan ‘sedikit’ kekecewaanku dengan GagasDuet pertama ini, aku harap next time (saat aku membaca gagasduet lainnya) nggak bakal sekecewa ini :). Umm… Aku berencana untuk membaca karya Orizuka dan Christian Simamora: With You. Desain covernya sangat kreatif^^

 

Ratings: 2.5 of 5 stars.

Advertisements

3 thoughts on “Book Review: Menunggu

  1. Pingback: [Wrap-Up] New Author Reading Challenge 2014 | StarKing's Library

  2. Pingback: [WRAP-UP] Indonesian Romance Reading Challenge | StarKing's Library

  3. Pingback: [Wrap-Up] Winna Efendi’s Book Reading Challenge | StarKing's Library

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s