Book Review: Montase

16300774

Judul: Montase
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2012
Tebal: 360 hlm.
ISBN: 979-780-605-7
Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi…,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai…
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.

 

REVIEW&PLOT:

Cerita dalam buku ini diawali dengan scene Rayyi yang mendapat surat dari Haru dan menyusul Haru ke Jepang (dipercepat sebelum bab 1). Lalu pada bab 1 diceritakan dari awal pertemuan Rayyi dengan Haru.
Bagi Rayyi, Haru Enomoto adalah seorang wanita jepang yang berperawakan pendek serta memiliki sikap yang aneh dan ceroboh. Tidak menarik sama sekali. Rayyi semakin kesal dengan Haru saat mengetahui Haru-lah yang menang dalam kompetisi membuat Film Dokumenter.
      “Apakah kau menyukai film saya barusan?” tanya Haru Enomoto lagi. Kepalanya dimiringkan ke kanan dan wajahnya dihiasi senyum lebar, mirip boneka kokeshi yang lehernya patah.
      Ck. Yang benar saja. Masa aku kalah bersaing dengan gadis liliput yang gerak-geriknya menggelikan ini?
Haru dan Rayyi sama-sama memiliki kesamaan. Mereka sama-sama dipaksa untuk masuk ke jurusan (kuliah) yang di tentukan oleh orangtua mereka. Rayyi yang menyukai Film Dokumenter dipaksa untuk masuk ke jurusan produser. Sedangkan Haru (mahasiswa studi banding dari Jepang) dipaksa untuk masuk ke jurusan Film Dokumenter padahal ia lebih menyukai untuk melukis.
Rayyi dipaksakan ayahnya yang –memang ayahnya merupakan seorang produser ternama yang selalu menelurkan film-film romantis yang laris dipasaran meskipun cerita yang dibuat cenderung klise.
“Kalau begitu, kau tidak boleh menyerah. Jangan berhenti mengejar impianmu atau kau akan menyesal, Rayyi….. Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan.”
Karena dukungan Haru, Rayyi memutuskan untuk memberontak pada ayahnya, dengan cara keluar dari kampus dan magang di kantor Samuel Hardi, pembuat film dokumenter muda yang jenius.
Tidak lama kemudian, Haru memutuskan untuk kembali ke Jepang,
Dari sinilah masalah pelan-pelan terkuak. Haru ternyata menginap kelainan darah.
Leukimia.

Poin plus untuk karya Windry Ramadhina kali ini adalah untuk penulisan sudut pandangnya. Penulis menuliskan dari sudut pandang tokoh utama pria, Rayyi. Kenapa menjadi poin plus?
Karena aku nyadar, kalo nulis sebuah cerita dari sudut pandang tokoh utama itu sulit. Harus butuh perhatian serta penghayatan ekstra akan tokoh tersebut.
Kesempurnaan penulis akan penggambaran suasana dan tempat juga menjadi poin plus dari cerita ini.
      Kamar Haru adalah apartemen tipe studio. Apartemen gadis itu dilengkapi tempat tidur berukuran sedang yang menempel pada salah satu dinding serta meja belajar, rak buku, dan lemari di sisi berseberangan. Di dekat pintu masuk, terdapat dapur kecil dan sebuah pintu lain yang menuju ke kamar mandi. ….
Bicara tentang tokoh favorit, maka Rayyi-lah yang menajdi tokoh favoritku.
Kenapa?
Karena Rayyi adalah tipe yang setia pada pasangannya dan juga nggak hobi tebar pesona sana sini. Sisi lainnya adalah: Meskipun ia kaya dan anak seorang produser ternama, Rayyi nggak sok apalagi sombong. Buktinya, ia memiliki banyak teman baik.
Buku ini masih belum bisa menggeser ke-favorit-anku akan buku yang juga di tulis oleh penulis yang sama yaitu: METROPOLIS dan INTERLUDE
Covernya aku beri poin minus, soalnya cenderung “Kalem&polos”. Aku membeli buku ini pun karena embel-embel ‘DITULIS OLEH” Windry Ramadhina, salah satu author favoritku:)

Overall, tidak ada ‘rasa’ menyesal untuk membeli buku ini^^. Tapi, aku nggak bisa ngasih poin full, ada beberapa bagian yang nggak cukup merebut hatiku. Actually, saat membaca buku ini, aku kurang menyerap dan terbawa suasana (mungkin lagi nggak mood baca). 

Ratings: 3.5/5 stars.

Advertisements

3 thoughts on “Book Review: Montase

  1. Pingback: [WRAP-UP] Indonesian Romance Reading Challenge | StarKing's Library

  2. Pingback: [Book Review] Walking After You | StarKing's Library

  3. Pingback: [Book Review] London: Angel | StarKing's Library

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s