Book Review: Outsider #1

Judul: Outsider #1

Penulis: Guiyeoni

Penerbit: Bentang Belia

ISBN: 9786027975071

Harga: Rp. 47.000

Pamanku kabur! Membawa lari semua uang peninggalan orangtuaku. Aku dalam masalah gawat. Karena sudah nggak ada jalan lain, terpaksa kutemui keluarga itu -_-“. Aku masih heran banget tentang ini, mereka bilang mau mengadopsiku.

Lalu, aku terjebak dalam urusan cinta segitiga yang bikin pusing. Eun Chan dan Ha Ru, saudara-tiri-baruku yang aneh itu. Belum lagi, sikap dingin ibu mereka kepadaku. Sepertinya, ada yang nggak beres pada masa lalu. Mungkin, ini ada hubungannya dengan alasan mereka mengadopsiku?

Lama-lama bisa gila aku di rumah ini! Aku, Han Seol, berjanji akan memecahkan misteri ini! Keanehan-keanehan yang makin menjadi di keluarga ini.

REVIEW:

Ada beberapa poin plus dan minus pada buku ini.

  1. Covernya! Menarik banget! Kreatif!

  2. Aku suka sama gaya penulisan Guiyeoni yang selalu menuliskannya dari sudut pandang tokoh utama. Poin minusnya, penulis selalu menyertakan emoticon yang SUPER BANYAK.

  3. Alurnya? nggak cepat-nggak lambat. Sedang. Btw, Outsider ada berapa buku sih? 3? atau 4 ? [Actually, buku ini aku pinjam dari kawanku^^, dan aku ‘bermaksud’ minjam buku selanjutnya dan selanjutnya]

  4. Guiyeoni is my Korean Favorite Author!! Buku karya Guiyeoni yang sudah pernah aku baca: He Was Cool, Romance of their Own, Five Stars (hanya buku pertama), Outsider.

  5. Agak nggak ngerti tentang ‘jenis kelamin’ tokoh utamanya. Berhubung karena nama korea (aku sulit membedakan mana cewek mana nama cowok). Jadi, setelah beberapa lama (mungkin akhir bab 1, memasuki bab 2) aku baru tahu kalau tokoh utamanya berjenis kelamin wanita.

  6. Penulis ini kenapa sih? Sepertinya, selalu ‘mengusahakan’ agar semua bukunya ber-seri.

 

Han Seol memiliki garis kehidupan yang buruk. Pamannya kabur dan membawa semua uang keluarganya. Itu semua menyebabkan Han Seol menjadi ‘gelandangan’ di umur yang sangat muda.

Setelah sekian tahun berlalu, sekarang Han Seol sudah berumur 18 tahun. Hari itu, pamannya muncul lagi di depan hidungnya dengan membawa berita bahwa seorang kakek kaya raya ingin mengadopsi Han Seol.

Kakek itu memiliki 2 orang putra: Eun Chan dan Ha Ru

Han Seol selalu berpikir (Aku juga): Kenapa kakek ini? mengadopsi seorang yang telah berumur 18 tahun? Benar-benar mencurgiakan!

Sesuai dengan informasi yang aku dapat, masalah-masalah dan kejanggalan akan mulai terkuak pada buku ke 2 dan selanjutnya

 

Ratings: 3 of 5 Stars

Book Review: Menunggu

Judul: Menunggu
Penulis: Dahlian & Robin Wijaya
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2012
Tebal: 312 hlm.
ISBN: 9797805905
Aku sedang merindukanmu, apakah kau tahu itu? Saat bulan penuh di atas kepala, aku menggantungkan doa untukmu di antara bintang-bintang. Semoga suatu saat hatimu akan menoleh kepadaku, menyadari bahwa akulah akhir dari penantianmu.
Aku ingin memelukmu, meraihmu, dan menyembunyikanmu dalam dekapanku. Aku tak akan melepasmu pergi, aku janjikan itu padamu. Dan kesabaranku kian menipis seperti batu yang terus-terusan digerus air. Aku sudah menunggu terlalu lama, nyerinya semakin lama kian terasa nyata.
Aku mencintaimu… karenanya aku selalu merindukanmu. Namun, seperti pertanyaan yang kubisikkan pada rembulan malam itu: apakah kau juga sedang merindukanku?

REVIEW:

Buku ini sudah diterbitkan 2 tahun yang lalu, dan baru siap baca kemarin.
Buku ini juga merupakan GAGASDUET pertama yang aku baca sebelumnya.
GagasDuet di pikiranku adalah: satu cerita, sudut pandang masing-masing tokoh utama ditulis oleh penulis yang berbeda. Dan ternyata hasilnya: 2 novella (oleh 2 penulis berbeda tentunya!) yang digabung menjadi sebuah buku dengan judul yang berbeda tapi topik yang sama: MENUNGGU
Cerita pertama ditulis oleh Dahlian, judulnya LAST CHANCE. Dan tentunya cerita ini ‘menceritakan’ tentang menunggu.
Aby merupakan sahabat dari Dhani yang terus menghindar dari adik sahabatnya, Risa. Aby terus-terusan menyangkal perasaannya karena sebuah hal bodoh yang memang disebabkan oleh Dhani. Aby yang orangnya cenderung serius mendengarkan perkataan Dhani dan menyimpannya dalam hati. Ya, Dhani melarang Aby untuk berpacaran dengan adiknya, Risa. Tapi Dhani tidak menganggap serius perkataannya sendiri. Karena, jikalau Aby dengan Risa berpacaran, Dhani toh akan sah-sah saja.
Disisi lain, Risa yang baru pulang dari Sydney berusaha lagi untuk mendapat perhatian dari Aby, Risa yang selama ini sabar menunggu Aby kemudian memutuskan untuk menyerah. Lalu, disaat Risa telah menyerah, apakah Aby yang akan memperjuangkan rasa ini?
>>
Gimana ya, entah kenapa aku kurang ‘srek‘ dengan cerita ini. Alasan Aby menjauhi Risa dan bersikap dingin padanya itu nggak masuk akal. Harusnya, kalo seorang cowok punya hati sama cewek, mereka pasti akan berusaha bertahan dan nggak cepat menyerah. Sesulit apapun tantangannya.
Aku juga sempet ‘ngeh‘ dengan Risa yang dengan beraninya memakai baju yang menampakkan punggungnya. Kalau dia make baju begituan di mall-mall kayak Grand Indonesia, itu sah-sah aja. Masalahnya, Risa make baju begituan saat jalan-jalan di Tanah Abang.
Seperti biasanya, aku selalu suka dengan ide ceritanya Dahlian. Tapi, aku kurang suka dengan penulis yang selalu me-drama-kan cerita. Dan, yah, cerita ini sangat men-dorama.
Disertai dengan Ending yang SWEET tetapi SANGAT MAINSTREAM.
Jika semua kekurangan itu ditutup, mungkin buku ini bakal melekat dihatiku. Berhubung karena Dahlian merupakan salah satu author favorit aku. Bicara soal buku Dahlian yang aku suka. Promises-Promises berada di tingkat pertama disusul dengan Andai Kau Tahu 🙂

Cerita kedua ditulis oleh Robin Wijaya dengan judul: REASON
Jika dilihat dari sisi ‘kemainstreman’ cerita, cerita ini juga bisa dibilang mainstream ya. Kenapa? Karena topik utama cerita ini adalah: CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Tapi tidak se-akut adegan penutup di cerita pertama, Last Chance.
Lenka yang pindah ke Jakarta membuat hubungannya dengan Gantar makin meregang. Dan lama-kelamaan, mereka hilang kontak begitu saja. Tidak jelas apakah hubungan mereka sudah berakhir atau belum.
“Kalau kamu percaya takdir, aminkan dalam hati, kita bertemu lagi suatu hari nanti”
Disinilah takdir memainkan mereka. Setelah sekian lama, mereka bertemu kembali di Jakarta. Gantar menjadi kameramen dan Lenka menjadi anchor berita sebuah stasiun televisi.
Tapi, kali ini keadaannya sedikit berubah. Lenka ternyata sudah memiliki pacar. Barata. Seorang CEO stasiun televisi tempat Lenka bekerja.
Sebenarnya, Lenka-pun masih memiliki perasaan pada Gantar. Tapi, disisi lain Lenka merasa nyaman dengan semua sifat Barata, kecuali satu: sifat Barata yang selalu mengatur dan menganggap apa yang dikatakannya bisa diterima Lenka.
Suatu hari, Barata melamar Lenka. Lenka tidak menjawabnya. Tapi Barata menyematkan cincin di jari manis Lenka.
Perasaan kebimbangan Lenka akan hubungannya dengan Barata mulai timbul.
>>
Aku benci dengan tokoh utama wanita di cerita ini. Ya, aku benci Lenka!
Lenka orangnya terlalu naif. Nggak bisa membuat pilihan. Plin-plan. Mempermainkan dua hati.
Lalu aku suka dengan ‘kesetiaan’ Gantar. Lalu adapula ‘kebaikan’ Barata.
Di cerita kedua ini, banyak terdapat kata-kata mutiara. Mungkin karena penulis merupakan orang yang romantis atau puitis?
Jujur aja, ini merupakan buku Robin Wijaya pertama yang aku baca. Sejauh ini, komentarku tentang tulisan Robin Wijaya adalah: Bagus. Penulis menggabungkan beberapa flashback dari masa lalu ke masa sekarang. Flashback-flashback itu untungnya nggak membinggungkan aku. Poin plus untuk gaya penulisan Robin Wijaya.
Dari segi cerita yang dipaparkan, tentu saja cerita kedua ini lebih menarik… dan … lebih bosan…
Alurnya sedikit lambat.
Overall, ‘cukup’ dengan ‘sedikit’ kekecewaanku dengan GagasDuet pertama ini, aku harap next time (saat aku membaca gagasduet lainnya) nggak bakal sekecewa ini :). Umm… Aku berencana untuk membaca karya Orizuka dan Christian Simamora: With You. Desain covernya sangat kreatif^^

 

Ratings: 2.5 of 5 stars.

Book Review: Montase

16300774

Judul: Montase
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2012
Tebal: 360 hlm.
ISBN: 979-780-605-7
Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi…,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai…
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.

 

REVIEW&PLOT:

Cerita dalam buku ini diawali dengan scene Rayyi yang mendapat surat dari Haru dan menyusul Haru ke Jepang (dipercepat sebelum bab 1). Lalu pada bab 1 diceritakan dari awal pertemuan Rayyi dengan Haru.
Bagi Rayyi, Haru Enomoto adalah seorang wanita jepang yang berperawakan pendek serta memiliki sikap yang aneh dan ceroboh. Tidak menarik sama sekali. Rayyi semakin kesal dengan Haru saat mengetahui Haru-lah yang menang dalam kompetisi membuat Film Dokumenter.
      “Apakah kau menyukai film saya barusan?” tanya Haru Enomoto lagi. Kepalanya dimiringkan ke kanan dan wajahnya dihiasi senyum lebar, mirip boneka kokeshi yang lehernya patah.
      Ck. Yang benar saja. Masa aku kalah bersaing dengan gadis liliput yang gerak-geriknya menggelikan ini?
Haru dan Rayyi sama-sama memiliki kesamaan. Mereka sama-sama dipaksa untuk masuk ke jurusan (kuliah) yang di tentukan oleh orangtua mereka. Rayyi yang menyukai Film Dokumenter dipaksa untuk masuk ke jurusan produser. Sedangkan Haru (mahasiswa studi banding dari Jepang) dipaksa untuk masuk ke jurusan Film Dokumenter padahal ia lebih menyukai untuk melukis.
Rayyi dipaksakan ayahnya yang –memang ayahnya merupakan seorang produser ternama yang selalu menelurkan film-film romantis yang laris dipasaran meskipun cerita yang dibuat cenderung klise.
“Kalau begitu, kau tidak boleh menyerah. Jangan berhenti mengejar impianmu atau kau akan menyesal, Rayyi….. Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan.”
Karena dukungan Haru, Rayyi memutuskan untuk memberontak pada ayahnya, dengan cara keluar dari kampus dan magang di kantor Samuel Hardi, pembuat film dokumenter muda yang jenius.
Tidak lama kemudian, Haru memutuskan untuk kembali ke Jepang,
Dari sinilah masalah pelan-pelan terkuak. Haru ternyata menginap kelainan darah.
Leukimia.

Poin plus untuk karya Windry Ramadhina kali ini adalah untuk penulisan sudut pandangnya. Penulis menuliskan dari sudut pandang tokoh utama pria, Rayyi. Kenapa menjadi poin plus?
Karena aku nyadar, kalo nulis sebuah cerita dari sudut pandang tokoh utama itu sulit. Harus butuh perhatian serta penghayatan ekstra akan tokoh tersebut.
Kesempurnaan penulis akan penggambaran suasana dan tempat juga menjadi poin plus dari cerita ini.
      Kamar Haru adalah apartemen tipe studio. Apartemen gadis itu dilengkapi tempat tidur berukuran sedang yang menempel pada salah satu dinding serta meja belajar, rak buku, dan lemari di sisi berseberangan. Di dekat pintu masuk, terdapat dapur kecil dan sebuah pintu lain yang menuju ke kamar mandi. ….
Bicara tentang tokoh favorit, maka Rayyi-lah yang menajdi tokoh favoritku.
Kenapa?
Karena Rayyi adalah tipe yang setia pada pasangannya dan juga nggak hobi tebar pesona sana sini. Sisi lainnya adalah: Meskipun ia kaya dan anak seorang produser ternama, Rayyi nggak sok apalagi sombong. Buktinya, ia memiliki banyak teman baik.
Buku ini masih belum bisa menggeser ke-favorit-anku akan buku yang juga di tulis oleh penulis yang sama yaitu: METROPOLIS dan INTERLUDE
Covernya aku beri poin minus, soalnya cenderung “Kalem&polos”. Aku membeli buku ini pun karena embel-embel ‘DITULIS OLEH” Windry Ramadhina, salah satu author favoritku:)

Overall, tidak ada ‘rasa’ menyesal untuk membeli buku ini^^. Tapi, aku nggak bisa ngasih poin full, ada beberapa bagian yang nggak cukup merebut hatiku. Actually, saat membaca buku ini, aku kurang menyerap dan terbawa suasana (mungkin lagi nggak mood baca). 

Ratings: 3.5/5 stars.

Book Review: People Like Us

22392062

Judul: People Like Us
Penulis: Yosephine Monica
Penerbit: Penerbit Haru
Terbit: June 2014
Tebal: 330 hlm.

 

Akan kuceritakan sebuah kisah untukmu.
Tentang Amy, gadis yang tak punya banyak pilihan dalam hidupnya.
Serta Ben, pemuda yang selalu dihantui masa lalu.
Sepanjang cerita ini, kau akan dibawa mengunjungi potongan-potongan kehidupan mereka.
Tentang impian mereka,
tentang cinta pertama,
tentang persahabatan,
tentang keluarga,
juga tentang… kehilangan.
Mereka akan melalui petualangan-petualangan kecil, sebelum salah satu dari mereka harus mengucapkan selamat tinggal.
Mungkin, kau sudah tahu bagaimana cerita ini akan tamat.
Aku tidak peduli.
Aku hanya berharap kau membacanya sampai halaman terakhir.
Kalau begitu, kita mulai dari mana?

 

REVIEW & PLOT:

Buku ini memang pantas banget buat jadi juaranya 100 Days Romance (Lomba nulis novel bertemakan Romance yang diadakan Penerbit Haru).
Alasannya:
1. Plotnya tersusun rapi.
2. Prolog dan Epilognya secara keseluruhan sangat ‘menyambung’ ke Bab-bab berikutnya. Prolog dan Epilog dibuku ini seolah-olah menjadikan cerita ini memang benar-benar terjadi dan  diungkapkan oleh seseorang. Kenapa? Karena pada Prolog, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, begitu juga dengan Epilog. Tapi, saat kita memasuki bab berikutnya, sudut pandang yang digunakan mengacu pada orang ketiga serba tahu.
3. Meskipun pokok dari cerita ini sangat mainstream: Pemeran utama wanita jatuh cinta pada pemeran utama pria. Pemeran utama pria benci pada pemeran utama wanita. Pemeran utama wanita sakit.  Pemeran utama pria kasihan dan khawatir. Lalu mencoba menerima apa adanya. Menemukan kecocokan. dan blahhh…. Yang menolong sisi negatif kemainstream-an cerita ini adalah: Cara penulis mempaparkan setiap kejadian serta keahlian penulis (yang belakangan aku ketahui ternyata penulis masih SMA , menurut perhitungan ku ya) dalam menuliskan alur/plot yang mengalir slow. Bukan berarti alurnya lambat, slow disini dapat diartikan sebagai slow yang soft. Alur yang menghanyutkan!
4.  Ending yang… Umm.. Mungkin penulis sengaja membuat Ending yang… sebagai penolong kemainstrem-an isi dari cerita ini. Well, i liked the ending of this book!
5. Yosephine Monica telah masuk ke daftar Author Indonesia yang aku suka^^. Planning to read her next book, OF COURSE!
6. Tidak lupa latar tempat yang bersetting di United States yang menambah keromantisan cerita ini^^
Amelia Collins, biasa di panggil Amy bukanlah seorang yang populer di sekolahnya, orang-orang mengenali Amy karena dua hal:
1. Amy adalah seorang penulis yang tidak pernah membuat ending. (Alasan Amy untuk hal ini adalah: Biarlah pembaca dapat berimajinasi sendiri.) How cruel is she!
2. Amy menyukai Ben!
Awalnya, Amy hanya jujur pada seorang teman sebagaimana rasa sukanya pada Ben. Tapi entah kenapa, seorang yang mengetahui hal itu berubah menjadi satu sekolah mengetahui hal itu.
Di sisi lain, Benjamin Miller membenci Amy. Dengan alasan yang cukup jelas tentunya: Gadis itu mengerikan! Ia adalah seorang penguntit. Dan Ben membenci itu! Ia mengangap bahwa Amy telah merusak ‘momen kesendiriannya’.
Suatu hari, Amy menyadari ada hal yang salah pada lehernya. Sesuatu yang menonjol dari lehernya bertambah besar setiap harinya. Tapi Amy tidak begitu peduli dengan hal itu. Sampai hari itu terjadi. Amy merasakan cairan berwarna merah jatuh dari hidungnya, dan beberapa saat kemudian… Amy pingsan.
Kanker menyerang Amy. Dan Amy berusaha untuk mengalahkan kanker itu.
“Kanker dan cinta punya kesamaan, tidakkah kau sadar?” Amy berkata antusias, ketika Ben menghentikan tarian jari-jarinya di atas keyboardlaptop. Kadang gadis itu bisa berbicara yang aneh-aneh tanpa mengenal situasi.
Ben mengernyit. “Apa itu?”
“Jika mereka terlalu kuat, kau tak bisa menghancur

 

September Wrap Up & Books Haul

20140921_225829

Last month i’ve bought 6 books at Gramedia Bookstore Medan and Paper Clip Bookstore Medan. I buyed 5 books at Gramedia (included 1 non-fiction book; English Grammar). And The Maze Runner (English Version) at Paper Clip Bookstore. 
Besides that Wrap Up, i will also writes about -thebookthati’vealreadyreadbefore-
There are:
1. Heart Quay by Putu Felisia
2. Selamanya Cinta by Rudy Efendy (unreviewed)
3. People Like Us (unreviewed)
4. The Chronicles of Audy 21 by Orizuka
5. Simple Thinking about Blood Type by Park Dong Sun
6. Kedai 1001 Mimpi by Valiant Budi