Book Review: Simple Thinking About Blood Type

19374775

Judul: Simple Thinking About Blood Type
Penulis: Park Dong Sun
Penerbit: Penerbit Haru
Terbit: 2013
Tebal: 262 hlm.
ISBN: 6027742259
 Tahu nggak sih kalau orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?
Apa jadinya kalau mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!
Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, agama, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.
Meski sifat seseorang tidak bisa hanya dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Bloodtype ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu untuk memahami orang lain, ya!

REVIEW:

Buku ini merupakan buku non-fiksi yang berisi ramalan sifat-sifat orang berdasarkan golongan darahnya. Ditambah dengan anekdot-anekdot di beberapa halaman menjelang akhir dari buku ini. Anekdot lucu tentunya.
Actually, sempet ‘ngeh’ waktu lihat harga buku ini. Terlalu mahal dengan ukuran yang ‘nggak‘ seberapa tebal. Tapi, kurasa harganya standart, why? BUKU INI FULL-COLOR!
Singkat kata, Editornya kreatif banget!
By the way, buku ini ada sekuelnya, dan mungkin ada buku ke-3 juga! Simple Thinking About Blood Type 2 gagal masuk wishlist-ku :(.
Kenapa?
Sebenarnya aku nggak tertarik amet sama buku non-fiksi beginian, beli buku yang pertama cuma sekedar untuk mengisi waktu luang :). Meskipun begitu, buku ini sangat menghibur!^^

20140902_012805 20140902_012828 20140902_012838 20140902_012857

 

Ratings: 4 of 5 Stars

 

[Book Review] The Chronicles of Audy: 21

22590893

Judul: The Chronicles of Audy: 21
Penulis: Orizuka
Penerbit: Haru
Terbit: Juli 2014
Tebal: 308 hlm.
ISBN: 602-774-237-2

 

Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R.

Aku sempat berhenti, tapi mereka berhasil membujukku untuk kembali setelah memberiku titel baru: “bagian dari keluarga”.

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang,
salah seorang dari mereka mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Aku tidak tahu harus bagaimana!

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy.

 

REVIEW:

Jika dilihat dari tampilan cover depan, tidak ada yang menarik, malahan terkesan suram. Entah kenapa, aku kurang ‘srek’ sama cover pada buku kedua ini. Yang menarik dari tampilan cover buku ini hanya: Nama Pengarang= Orizuka. Meskipun memang dari jauh-jauh hari saya sudah merencanakan untuk membeli buku ini. Kenapa? Karena buku ini merupakan lanjutan dari buku pertamanya yang berjudul: The Chronicles of Audy: 4R.
Dan untungnya, isinya tidak sesuram tampilan covernya. Malahan aku lebih suka buku ini dari pada buku pertamanya.
Seperti yan dituliskan pada sinopsis di atas.
Audy sempat berhenti menjadi baby sitter Rafael untuk sementara waktu dannn…. 4R membujuk orang tua Audy agar mereka mengizinkan Audy untuk tinggal lagi bersama mereka dengan memberi Audy titel baru: ‘bagian dari keluarga’.
Yang nyatanya, titel baru itu nggak berdampak apa-apa. Hanya sebatas iming-iming untuk mengembalikan Audy sebagai baby sitter yang menjelma menjadi pembantu sekaligus. Semua kehidupan masih tetap sama: Regan masih tetap sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengacara, Romeo masih sibuk dengan komputernya (dan masih malas untuk keramas, yang belakangan aku ketahui karena Romeo punya phobia terhadap shampo), Rex yang masih dengan tampang dinginnya dan selalu belajar tak kenal waktu, dan tidak lupa juga, ada Rafael si bungsu dengan segala sikap kekurangajarannya yang sering kali membuat Audy malu saat berada di ‘kumpulan jangkrik’ : sebutan Rafael untuk ibu-ibu tukang gosip di depan sekolahnya.
Masalahnya bukan hanya pada ‘hidup Audy yang tidak berubah+mereka masih memperlakukannya dengan semena-mena’. Tapi…. salah satu dari 4 bersaudara itu menyatakan perasaannya pada Audy! Situasi ini membuat semuanya terasa canggung, padahal Audy sudah mulai terbiasa dengan sikap-sikap aneh yang menonjol pada keluarga ini.
Ditambah lagi, Maura, tunangan Regan yang baru siuman dari koma 2 tahun! Otomatis situasi ini membuat Audy mau-tidak mau harus keluar dari rumah 4R!
Bicara tentang karakter favorit, aku menyukai semua karakter yang ada pada buku ini. Tapi, karakter yang pantas untuk menjadi ‘panutan’ adalah karakter Regan. Regan digambarkan sebagai sosok yang sangat setia dan peduli pada tunangannya. Bayangkan saja! Regan masih tetap setia dan menjaga hatinya demi menunggu tunangannya, Maura sadar!
Tapi, sayangnya karakter Regan, menurutku yang paling sedikit muncul di buku ini.
Ada buku ke-3 nggak ya dari serial ini? I’ll wait!

 

Ratings: 4 of 5 stars

Scene on Three #1

sceneonthree

      Mata Andra yang sebelumnya penuh amarah, kini berubah sedih. “Karena aku berengsek. Karena aku pikir aku begitu…” Kata-katanya menggantung.
“Lalu, kenapa datang lagi? Aku sudah hampir menjalani hidup yang normal. Kenapa kau harus kembali? Tidak bisakah membiarkanku melupakan yang sudah terjadi? Bukan hal yang mudah melupakan apa yang terjadi tujuh tahun yang lalu, kau tahu?”
Andra berlutut di hadapannya agar wajah mereka sejajar. Lelaki itu menggengam tangannya erat-erat dan menempelkan bibirnya dalam-dalam ke tangan gadis itu. “Maafkan aku…, ” desisnya. “Maafkan aku, karena cara mencintaimu menyakitimu… maafkan aku…”
Air mata Ariel semakin deras dan ia tak lagi menahan tangisnya. Tangisnya pecah. Andra

 

Itulah kutipan scene dari buku X: Kenangan yang Berpulang.
Kutipan di atas mengawali kutipan pertama (scene pertama) yang aku babarkan di meme Scene On Three ini. Aku orang baru yang ikut berpartisipasi dalam meme ini dan berharap kedepannya selalu aktif di meme ini:)
Kenapa aku memilih scene itu ?
Karena menurutku scene di atas sangat menyentuh! Tentang sebuah penyesalan yang selalu datang terlambat.
Once a man leaves you, he will never come back!

Wishful Wednesday #12

wishful-wednesday

I’ve just realized that my last post about this meme is posted on July. It was 2 months ago!  I were much too busy these days. Because of tons of homework.
Yesterday morning, i’ve found out that one of my favorite poetry author, Lang Leav is coming back with her new poetry book titled LULLABIES. The cover is just so simple! But full of mystery! Check this out:
I always feel so excited when my favorite author launch their new book.
Why i want to read this book?
BECAUSE I MUST! I WANT TO! There is special reason besides it. (I mean because this book is Lang Leav’s ) And of course the mystery cover.  Maybe this book is still coming soon (pre-order) in Periplus.com (Online Bookstore)
Yuk ikutan Wishful Wednesday^^
  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

Book Review: Kedai 1001 Mimpi

kedai 1001 mimpi

Judul: Kedai 1001 Mimpi
Penulis: Valiant Budi
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2011
Tebal: 444 hlm.
ISBN: 9797804976
"Kita ini konon pahlawan devisa. Tapi kalau mati, ya sudah, dianggap binatang saja."
"Saya datang buat mempertebal iman, bukan jadi mainan."
"Datang ke sini itu harus siap 'dijajah'. Baik jiwa maupun raga!"
"KAMU tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAHU?!"

REVIEW&PLOT:

Kedai 1001 Mimpi ini ditulis penulis berdasarkan kisah nyata. Kisah yang dialami penulis tersebut sendiri. Kesempatan kerja di Arab Saudi yang di dapat penulis ternyata dapat membuat hidupnya penuh dengan drama.
Maka, penulis pun menuliskan perjalanan hidupnya saat bekerja manjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Arab Saudi.
Ekspetasi penulis berbeda jauh dengan realiti yang terjadi di lingkungan sekitar tempatnya bekerja. Arab terkenal dengan tanah kelahiran Nabi Muhammad, semua islam menunaikan ibadah haji di sana. Arab adalah tempat yang suci. Tapi, dengan buku ini aku menyadari suatu hal: Tempat yang suci tidak dapat menjamin orangnya juga suci.
Seperti di Indonesia, di Arab juga memiliki kebijakan ini:
Peraturan di buat untuk dilanggar
Bedanya, kalau di Arab, yang boleh melanggar aturan hanya warga negara Arab, kalau sebatas TKW, DILARANG!
      “Maaf, kami belum buka dan Anda merokok di wilayah antirokok!” Aku menyodorkan asbak darurat sambil menunjuk tanda larangan merokok yang jelas-jelas nongkrong di meja.
      Bapak beruban itu menatapku dengan senyuman santai dikebun petai. “Tak perlu khawatir. Ini negara saya,”
Di kota tempat vibi bekerja (aku lupa namanya), yang pasti, sebuah kota di Arab menanamkan kebijakan bahwa pria dan wanita yang bukan muhrim dilarang berjalan bersama apalagi bergandeng tangan. Maka, banyak sepasang kekasih yang bersembunyi pacaran dan melakukan hal mesum di Kafe tempat penulis bekerja. Berkedok sebagai saudara (kebanyakan). Mereka juga selalu mencari kenalan melalui bluetooth (Tahun itu masih belum se canggih tahun ini). Juga, nama-nama di kontak ponsel orang Saudi tidak bisa dipercaya, karena mereka selalu mengubah nama wanita dengan nama pria.
Ada banyak hal yang masih belum bisa aku percaya. Seperti banyaknya TKW yang dipaksa untuk melayani majikannya, seorang pria yang dengan tidak malunya memamerkan ‘anu’nya.
Sebelum di buat menjadi buku, penulis juga selalu menuliskan cerita nya di blognya. Sialnya, seperti aku, banyak orang yang nggak percaya dengan apa yang dipaparkan penulis, bedanya, mereka mencaci maki penulis dan aku tidak.
Overall, buku ini sangat membantu aku dalam memberantas rasa bosanku di waktu renggang. Meskipun ada beberapa hal yang tergolong ‘impossible’, aku selalu mencoba untuk memercayai apa yang dipaparkan penulis pada buku ini. Karena penulis menyertakan beberapa gambar makanan dan view yang ia temui di Saudi. Itu semua menambah point ‘kepercayaan’ku.
Tidak lupa untuk mengkritik tentang Typo. Sangat banyak Typo yang saya temui di dalam buku ini. Catat: Banyak.

Ratings: 4 of 5 Stars

Book Review: Heart Quay

18160716

Judul: Heart Quay
Penulis: Putu Felisia
Penerbit: Gramedia
Terbit: Juli 2013
Tebal: 248hlm.
ISBN: 978-979-22-9762-1
“Apakah pernah berpacaran, sehingga berhak meminta putus? Apakah pernah memiliki sehingga berhak merasa kehilangan?”
Kalimat yang terucap dengan mantap dan jelas dari mulut Zoya itu menggoreskan kepedihan bagi Elang Angkasa. Menghancurkan dua hati yang pernah menyimpan rasa.
Zoya berharap semua kenangan pahitnya bersama Elang bisa pudar seiring waktu. Namun kenyataan berkata lain. Bahkan ketika jarak semakin jauh dan tahun-tahun berlalu… bahkan ketika Elang memutuskan untuk menikah dengan Tiara, sahabatnya sendiri.
Dalam perjalanan ke Singapura menuju pernikahan Elang dan Tiara, Zoya bertemu Kenneth Yang, laki-laki menyebalkan yang skeptis dan lebih akrab dengan gadget daripada manusia. Dari lelaki yang menyebalkan, Kenneth berubah menjadi lelaki yang penuh perhatian pada saat terapuh Zoya dan menumbuhkan kepercayaan gadis itu kembali akan cinta.
Di Marina Bay Sands, patahan hati, lipatan kenangan, kebencian dan rindu, semua terungkap. Ketika setiap hati akhirnya harus mengambil pilihan sulit, apakah bisa mereka mengosongkan hati dan membuka kesempatan untuk cinta yang baru?

REVIEW:

Zoya Rafika. Gadis yang  membentengi dirinya dari cinta.
Elang Angkasa. Laki-laki yang ditinggalkan oleh cinta.
Awalnya, mereka terlibat di dalam hubungan percintaan masa SMA yang tidak jelas statusnya, entah pacaran atau tidak. Yang jelas, pihak Elang memaksa pihak Zoya untuk terlibat dalam sebuah hubungan yang tidak dapat dikatakan sebagai hubungan pacaran. Bahkan Zoya mengajukan dua syarat untuk dipatuhi saat mereka berhubungan satu sama lain.
      “Aku tidak ingin kau menggunakan nama keluargamu. Kekuasaan keluargamu. Harta keluargamu. Untuk menguasai aku. Atau sengaja meraju. Itu syarat pertamaku,” Zoya berkata tegas, matanya seolah tak pernah lepas dari Elang, menunjukkan bahwa dia tidak takut pada intimidasi pemuda itu.
      “Apakah kau setuju?”
     Elang tertawa, tapi dia menganguk.
      “Kedua, jika nanti aku atau kau menemukan alasan untuk pergi, tidak ada yang menghalangi,” nada suara Zoya semakin dingin. Sekilas rasa takut sempat terlintas dalam benak Elang. Gadis ini terlalu berani. Bagai sebilah pisau yang tajam. Suatu saat nanti pasti akan melukai.
Tiara juga sudah memperingati Zoya agar Zoya jangan dekat-dekat dengan Elang karena Elang membawa pengaruh negatif pada Zoya. Padahal, pada akhirnya Tiara sendiri yang membohongi perasaannya, sebenarnya ia juga suka dengan Elang.
Seperti cerita-cerita mainstrem lainnya, Elang digambarkan sebagai tipikal badboy yang suka tawuran tapi memiliki wajah yang tampan, dan juga kaya. Berbanding terbalik dengan Zoya yang tipikal cewek baik-baik, tidak populer, dan miskin.
Dan tentu saja, hubungan Elang dan Zoya dirahasiakan, bahasa gaulnya tuh: BackStreet. Karena Elang tahu,  bahwa keluarganya tidak akan menyetujui hubungan mereka. Melihat bahwa latar belakang Zoya yang lumayan kelam. Ayahnya lebih memilih perempuan lain dan meninggalkan ibunya, abangnya adalah seorang pecandu narkoba.
Juga ada tokoh-tokoh sampingan yang tidak lain tidak bukan adalah para sahabat Zoya, Tiara sitipikal cewek populer, dan Santi.
Cerita ini diawali dengan surat undangan pernikahan Elang dan Tiara yang diadakan di Singapore.
     “Kami akan menikah di Singapura,” Tiara berkata gembira, “Supaya seluruh keluarga besar bisa menghadiri pernikahaan itu. Dan aku ingin sekali kalian berdua hadir memberikan selamat.”
      Tiara sengaja datang ke Bali hanya untuk mengatakan hal ini. Laki-laki itu laki-laki yang sangat istimewa. Tiara sering menceritakannya dengan antusias.  Bahwa dia berbeda dari semua laki-laki yang sebelumnnya dikenal Tiara.
      Santi langsung bertepuk tangan dengan gembira. Tiara menarik kedua tangan sahabat-sahabatnya, lalu mengajak mereka membentuk lingkaran dan melompat berputar-putar. Sungguh riang dan senang.
      “Friends are forever, kan?” Kata Tiara saat itu, “Karena itu aku mohon kalian mau hadir untuk mendoakan aku dan Elang.”
Tentu saja, baik Tiara maupun Santi tidak ada yang mengetahui kenangan yang pernah dibentuk Zoya dan Elang saat itu. Awalnya, tidak ada yang mengetahui hubungan mereka, sampai hubungan mereka tercium oleh kedua orangtua Elang. Dan… selanjutnya… bisa ditebak. Ayah Elang memaksa Zoya untuk meninggalkan Elang.
Penulis yang tidka tega untuk menelantarkan hati Zoya menghadirkan sebuah tokoh yang mampu menggantikan Elang, dia adalah Kenneth Yang.
Ken nama panggilannya.
Kasus yang menimpa Ken sama dengan kasus yang menimpa Zoya, perbedaannya terletak di keberadaan mantan pacar mereka.
Mantan pacar Ken meninggal dunia. Dan Ken sangat terpuruk. Ken yakin, ia tidak bisa menemukan wanita yang seperti mantan pacarnya itu, sampai suatu saat di pesawat, Ken bertemu dengan Zoya dengan segala ketertarikannya pada gadis itu.
~
Aku beli buku ini karena ‘harus’, kenapa?
Karena kemaren, aku jalan-jalan ke toko buku PAPER CLIP dan nggak menemukan buku karya author Indonesia yang menarik perhatianku, sampai tibalah mataku pada buku ini karena covernya yang cantik dan juga embel-embel JUARA 3 lomba penulisan AMORE. Aku mengatakan ‘harus’ karena: kalo masuk ke toko buku harus membeli minimal 2 buku, kalo enggak rugi banget, ditambah ditraktir orang tua saat itu. (Bukan sombong atau apalah yah hehe~)
Setting waktu pada cerita ini sangat dominan pada negara Singapura, meski sedikit kecewa karena penulis tidak begitu ahli dalam penggambaran tempat maupun suasana, aku merasa seperti ada yang kurang, penulis lebih menfokuskan pada konflik utama para tokoh tanpa embel-embel setting yang sempurna, settingnya sangat sederhana. Hanya beberapa kali penulis mengatakan “Marina Bay” itu pun tidak di gambarkan betapa mewahnya Marina Bay singapura itu.
Penulis menuliskan buku ini berdasarkan sudut pandang penulis sendiri.
Plotnya maju-mundur. Membuat para pembaca selalu menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang terjadi sebelumnya. Hanya saja, penulis menempatkan plot yang maju dan mundur pada satu bab yang sama atau tanpa pembatas pengenal sama sekali. Itu semua membuat saya sedikit bingung dan untungnya paham dengan semua plot yang dijabarkan.
Bicara soal tokoh favorit, Ken sukses mengambil hati aku dengan segala kepeduliannya terhadap Zoya.
Bicara soal tokoh yang aku benci, sudah pasti ELANG! Padahal pada awalnya, aku lebih setuju Elang sama Zoya, Elang juga tipikal badboy yang baik pada kekasihnya. Rasa ‘suka’ku pada Elang memudar saat aku tiba di pertengahan halaman novel. Disaat perasaan-perasaan Elang yang mulai terdefinisi, entah cinta atau karena harga diri.
 Sekedar curhat ya, aku nggak pernah kepikiran untuk membeli buku ini atau sekedar menempatkan buku ini ke Wishlist-ku. Dan… Aku juga nggak nyangka kalau rating buku ini di GoodReads sangat rendah! Bayangkan! Hanya 2,98! Tapi, entah kenapa, terlepas dari segala keburukan dan rating yang rendah pada buku ini, aku tetap menikmati buku ini. Memang sih, buku ini banyak DERAMA-nya.
Overall, aku sangat menikmati buku ini. Penulis sukses membuat aku tersedot ke dalam cerita ini dan merasakan pedihnya hidup menjadi seorang Zoya. Bayangkan, aku membaca buku ini dalam waktu yang sangat singkat, hanya kurang lebih 3 jam, dalam sekali duduk. Buku ini juga merupakan buku pertama karya Putu Felisia yang aku baca 🙂

 

Ratings: 4 of 5 Stars