Book Review: Girls in the Dark

22432940

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Haru
Terbit:  Mei 2014
Tebal: 279 hlm.
ISBN: 978-602-7742-31-4
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu…?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi….

Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

REVIEW&PLOT:

 

 

WHEN: Tanggal x Juli, setelah sekolah usai.
WHERE: SMA Putri Santa Maria. Pot bunga.
WHO: Kelas 3-B. Shiraishi Itsumi.
WHAT: Meninggal berlumuran darah.
WHY: Tidak jelas.
HOW: Jatuh dari teras.

 

Ketua klub sastra SMA Putri Santa Maria tewas mengenaskan! Gadis yang malang. Lalu, beredar rumor bahwa salah satu anggota klub sastra yang membunuh Itsumi!
Kalian juga melihat jasad Itsumi di tempat kejadian, kan? Kenapa Itsumi meninggal di kompleks sekolah? Kenapa dia telungkup di dekat pot bunga di bawah teras? Kenapa dia memegang benda itu saat dia meninggal? Apa yang ingin disampakan oleh gadis itu…
Shiraishi Itsumi namanya.
Ia memiliki segalanya. Kecantikan, kepopuleran, harta.
Sang wakil ketua klub yang juga merupakan sahabat Itsumi kini menggantikan Itsumi sebagai ketua klub yang baru.
Sumikawa Sayuri sudah bersahabat dengan Itsumi sejak SD. Itsumi dan Sayuri sangat bertolak belakang. Itsumi yang memiliki semuanya, dan Sayuri yang hidup dilindungi oleh bayangan Itsumi.
Dua orang yang mirip kalau tidak saling mendukung, pasti saling berlawanan. Lalu, dua orang yang bertolak belakang kalau tidak saling mendukung, pasti akan saling berlawanan. Tidak ada yang terletak diantaranya. Mungkin, kalau kita sudah dewasa, kita bisa mengendalikannya dengan terampil. Mirip atau tidak mirip, cocok atau tidak cocok, kita pasti bisa menemukan rahasianya dan berenang-renang dalam masyarakat.
Klub sastra selalu melakukan pertemuan rutin. Pertemuan rutin setiap akhir semester ke-16 selalu memakai acara Yami-nabe. “Pertemuan Pembacaan Naskah dan Yami-nabe.” Tema acara hari ini adalah “Kematian ketua klub sebelumnya, Shiraishi Itsumi.”
“Sebuah naskah dengan tema kematian Itsumi. Naskah yang kita persembahkan bagi Itsumi. Saya ingin kita mencoba mengingat sekuat tenaga, menceritakan sesuai dengan ingatan itu, dan saling berbagi tentang kejadian tidak menyenangkan ini. Pasti ada yang bisa terlihat dengan meleburkan kematian Itsumi dalam sebuah naskah.
Kenapa Itsumi harus mati? Kemudian… apakah benar ada di antara kita yang membunuhnya?
Yami-nabe: Arti harafiahnya “panci dalam kegelapan”. Peserta akan membawa bahan makanan yang dirahasiakan dari orang lain. Semua orang harus memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih dan kemudian memakannya. Karena saling tidak tahu bahan masing-masing (tidak diperkenankan untuk memberi tahu), biasanya rasanya menjadi tidak keruan, kalau beruntung, jadi enak.
Ada 7 anggota di klub Sastra, termasuk Itsumi dan Sayuri.
Anggota pertama yang membaca naskah adalah Nitani Mirei (Kelas 1-A). Nitani Mirei adalah siswa dengan keterbatasan ekonomi namun memiliki otak yang pintar, maka dialah si penerima beasiswa.
Pembaca kedua, Kominami Akane (kelas 2-B)
Kominami Akane sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan klub sastra, ia lebih tertarik dengan restoran ala barat. Tapi, setelah mendegar rumor bahwa di dalam klub itu ada sebuah kitchen shet yang canggih, Akane pun berpikir lagi saat diajak Itsumi untuk bergabung
Shiraishi Itsumi terlalu sempurna. Secara umum, baik itu dalam menghias roti, atau kudapan tradisional, untuk meningkatkan cita rasa, seorang artis sengaja menghancurkan kesimetrisannya. Bentuk itulah yang justru menarik. Tetapi, sosok Itsumi terlalu mendetail seolah sudah dihitung dengan cermat dan diatur terlalu teratur dan tidak ada yang tidak sempurna. Benda yang sempurna itu tidak cantik. Vulgar.
Pembaca Ketiga, Diana Detecheva (Murid Internasional)
Diana Detecheva merupakan murid internasional yang berasal dari Bulgaria dan bersekolah di SMA Santa Maria. Diana memiliki penyimpangan seksual, Diana menyukai Itsumi! Berawal dari rasa kagum, berkembang menjadi Cinta, ingin memiliki, posesif.
Pembaca keempat, Koga Sonoko (kelas 3-B)
Merupakan saingan terberat Itsumi karena sama-sama bercita-cita menjadi seorang dokter.
Manusia hidup bukan karena adanya jiwa. Manusia hidup karena dia menarik napas, mengalirkan oksigen di sekujur tubuh, mengeluarkan hormon, mengalirkan darah, melakukan reaksi kimia didalam tubuh. Lewat pembedahan, aku sadah bahwa hidup hanyalah sebuah proses fisika.
Pembaca terakhir, Takaoko Shiyo (Kelas 2-C)
Penulis Bestseller terkenal yang muda!
Mereka membaca naskah mereka masing-masing, dan anehnya, isi naskah mereka saling menuduh satu sama lain! Alibi-alibi bermunculan.
~~~
Menulis sebuah novel dengan menceritakan dari sudut pandang orang pertama adalah hal yang tersulit bagi penulis, itulah yang aku baca pada sebuah artikel. Kenapa sulit? Si penulis harus benar-benar memahami karakter tersebut, sehingga saat ditulis, pembaca dapan merasakan ‘feel’-nya. Dan ini terjadi pada Okiyoshi Rikako.
Rikako benar-benar memahami setiap karakter dalam buku ini. Hebatnya, karakter dibuku ini bukan sedikit, tapi ada 7 orang pemeran yang harus diceritakan dari sudut pandangnya masing-masing. Di setiap babnya, POV bergantian dari karakter satu dengan karakter yang lain.
Rikako juga menuliskan sebuah penggambaran dengan sangat lengkap. Mengingatkan saya dengan J.K. Rowling. Singkatnya, gaya penulisan Rikako sangat spesifik. Penggambaran yang sangat jelas.
Saya menemukan sebuah typo pada halaman awal. Lavendel, pada halaman 7, seharusnya ‘Lavender’.
Alur ceritanya maju, plotnya keren, seperti kumpulan cerita pendek yang saling berhubungan. Tema ceritanya juga tergolong langka.
Tapi, entah kenapa, saya merasa cerita ini ‘agak’ mirip dengan Omen karya Lexie Xu. Saya tidak akan menceritakan dimana letak persamaanya, karena jika saya ceritakan, saya akan memberi spoiler lengkap dari buku ini. Yang jelas, ada kesamaan.
Saat kita membaca naskah pertama yang dibacakan oleh Mirei, awalnya saya kira si pelaku adalah Sanoko, tapi saat pembacaan naskah kedua, orang yang tertuduh berbeda lagi. Singkatnya, endingnya nggak ketebak.
Novel ini sukses tidak membuat saya bingung, soalnya biasanya, saya selalu sering bingung dengan pemeran utama yang terlalu banyak.
Pada pergantian babnya pun, novel ini memberi latar yang terkesan kelam, sesuai dengan temanya. Juga covernya yang berwarna hitam memberi kecendurungan pada novel misteri. Tidak ada kesalahan warna. Pas. Cocok. Gambar seorang cewek yang aku duga Itsumi menghiasi covernya, menghadiakan kesan gotic. Keren.
Overall, saya sangat menikmati novel ini. Saya membaca novel ini hanya dalam waktu beberapa jam dengan ditemani segelas chatime yang langsung habis di menit-menit pertama. Gaya penulisan Rikako sangat rinci, lengkap, jelas. Memudahkan para pembaca untuk berimajinasi sepuas-puasnya. Sebenarnya, beberapa kekurangan yang sangat spesifik dalam novel ini adalah pada pencarian si pelaku. Latar waktu di novel ini tidak disebutkan dengan jelas, tapi, yang pasti, saya pikir latar waktu nya adalah masa kini. Pada masa kini, penemuan seorang pelaku pembunuhan kan gampang-gampang saja? Tinggal otopsi, atau pengecekan CCTV disekitar sekolah. Nah, dinovel ini tidak ada tuh yang begituan, hanya berdasarkan naskah-naskah tiap anggota saja.

RATINGS: 4.5 of 5 Stars.

Advertisements

2 thoughts on “Book Review: Girls in the Dark

  1. Pingback: JULY Wrap-Up | StarKing's Library

  2. Pingback: [Wrap-Up] New Author Reading Challenge 2014 | StarKing's Library

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s