Book Review: Cinta. (Baca dengan titik)

18376379

 

Judul: Cinta.
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Bukune
Terbit: September 2014
Tebal: 324 hlm.
ISBN:  6022201098
 Mengapa cinta membuatku mencintaimu,
ketika pada saat yang sama
kau mencintai orang yang bukan aku?

Ketika telah membuka hati,

aku pun harus bersiap kehilangan lagi.
Apakah setelah cinta memang harus selalu ada
air mata dan luka hati?

Kalau begitu,

bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja.
Cinta.
Tanpa ada yang lain setelahnya.
Kita lihat ke mana arahnya bermuara.

 

REVIEW&PLOT:

Read from April, 27 to June, 7 2014. Begitu reading status yang aku temukan di akun GoodReadsku. Dan cukup terkejut, gimana aku bisa baca sebuah buku sampai lebih dari 1 bulan?
READING PROGRESS
04/27
marked as:
currently-reading
04/27
page 40
12.0%
“Zaman siti nurbaya, heh?”
05/06
page 92
28.0%
“lagi gak mood baca+ D-3 UN :)”
06/05
page 204
62.0%
“Just like another woman, this one is also an easy prey – Endru”
06/07
marked as:
read
To be honest, this book kinda boring. For me.
Sebuah peristiwa besar yang mengguncang hidup seseorang bisa sekaligus mengoyahkan prinsip atau cara pandang terhadap sesuatu yang sebelumnya ia pegang dengan kuat. -P.131
Perpisahan kedua orang tua, hidup dengan Ayahnya, Single Parent.
Itulah yang terjadi pada Nessa. Ibu Nessa pergi meningalkan Nessa dan Ayahnya hanya untuk hidup bersama dengan laki-laki lain. Dan itulah yang membuat Nessa membenci Ibunya. Dan anti pada laki-laki.
Sampai ia bertemu Demas.
Perlahan, ia mulai membuka hatinya untuk pria lagi.
Hanya saja, ia membuka hatinya pada seseorang yang salah, hatinya membuat sebuah kesalahan. Ia membuka hatinya pada pria yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain. Nessa sadar bahwa ini salah, tapi hatinya sudah terlanjur jatuh cinta pada Demas, pria yang sudah memiliki tunangan bernama Ivon.
Ini membuat aku kurang menyukai kedua pemeran utama [Nessa dan Demas]. Mereka jelas-jelas menjalani sebuah ‘Affair’. Tapi penulis menuliskan segala sesuatunya dari sisi Nessa dan Demas, juga Endru. Tidak ada dari sisi Ivon. Oya, penulis menuliskan alur dari sudut pandang penulis sendiri. Saya yakin, jika penulis menuliskan dari sisi Ivon, para pembaca akan membenci Nessa dan Demas. Tapi, sayangnya penulis tidak melakukan itu.
Hal yang tersulit untuk dilakukan, bahkan mungkin mustahil, adalah mencoba membohongi perasaan sendiri. – P.189
Jelas-jelas Bian, sahabat Nessa telah memperingatkannya untuk menjauhi Demas, karena hubungan itu adalah sebuah kesalahan. Tapi Nessa tidak bisa. Ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
Agak heran dengan ‘karakter’ Bian di sini. Penulis menggambarkan Bian sebagai wanita yang tidak ‘innocent’, sedikit liar. Tapi kenapa Bian masih bisa mengultimatum Nessa tentang hubungan gelap? Sedangkan Bian saja, dulu (sekarang udah nikah) memiliki banyak stok pria. Aneh kan? Sebenernya karakter Bian ini baik atau pura-pura baik a.k.a ALIBI?
Lalu, Endru, pria yang dijodohkan dengan Nessa mulai menyadari bahwa ia mencintai Nessa. Endru adalah tipe pria yang tidak mau berkomitmen. Endru tidak pernah melibatkan perasaan saat ia menjalin hubungan dengan wanita lain. Tanpa perasaan, hanya persoalan tubuh.
Endru memiliki masalah yang sama dengan Nessa, hanya saja sedikit berbeda. Ayah Endru yang pergi meninggalkan Ibunya.

 

Setelah aku membaca buku ini, aku bisa menarik dua kesimpulan:
1. Penulis orang yang sangat puitis [Karena Nessa suka membaca buku berisi kumpulan puisi dan juga gemar menulis puisi ataupun haiku.
2. Penulis orang yang suka menggambarkan sesuatu dengan sedetail-detailnya.
Contoh:
Nessa mengangguk-angguk, lalu melempar pandangan ke sekeliling Ngarasopuro. Taman kota yang sebenarnya  hanya berupa area pedestrian yang luas di kiri kanan jalan raya yang cukup panjang. Namun, area pedestrian itu diberi bangku dan dipasangi lampu jalan yang sangat cantik. Lampu jalan yang dipasang setiap lima meter itu berupa tiang tinggi dengan kap yang berbentuk seperti blaa…blaa…bla…
3. Penulis ‘boros’ tinta dan juga kertas.
Karena saya menemukan kalimat yang sangat tidak Efisien dan Efektif.
Seperti:
Bagaimana jika luka adalah sebuah lingkaran.
Luka yang tidak bermula dan tidak berakhir. Mengelilingi hati dengan jeratan berhiaskan duri. Seperti cincin yang terbuat dari batang bunga mawar. Menusuk dari seluruh sisi. Luka yang tidak mengenal waktu. Luka yang tidak tahu dan tidak pernah mendengar kata berhenti. Luka yang hanya tahu ia ada untuk melukai. Luka yang tidak bisa disembuhkan. Luka yang tidak mau—disembuhkan. Luka yang menolak segala usaha perbaikan. Luka yang menganggap dirinya abadi. Dan memang—ia adalah abadi. Luka yang tidak mengenal kata berpisah. Luka yang selalu bertemu dengan luka lain. Luka yang berkoloni. Luka yang berkumpul dan berumah. Luka yang beranak-pinak, melahirkan luka-luka kecil yang lain. Luka-luka yang baru. Luka-luka yang gembira. Luka-luka yang bahagia karena menjadi jamak, menjadi banyak. Menjadi lebih berkuasa dan lebih merajalela. Luka –luka yang menunggu inangnya menyerah. Menyerah, bertekuk lutut, dan mengakui kedigdayaan mereka. Luka-luka yang berambisi menjadi raja. Raja di dalam hati yang rusak. Hati yang rusak karena si pemilik hati terlalu naif dan berharap. Hati yang berharap karena ia tidak belajar dari kekecewaan.

 

Lalu, bicara tentang Judul

Judulnya terlalu lebay yah (menurut saya, jngn tersinggung)
Bukankah hampir 90% di setiap novel pasti ada kata cinta? Atau kisah cinta?
Judulnya itu terlalu ‘nonsense’ ya,

Menurutku, judulnya lebih cocok ‘Affair’ atau sejenis gituleh, karena kan topik ceritanya tentang ‘perselingkuhan’.

Euw….

Cover? So Far, It’s good!
Simple but elegant

Overall, Membaca buku ini membuat aku teringat pada buku-buku di tahun 90-an. Ciri khas buku tahun 90-an itu adalah, dari 100 halaman, hanya 35 halaman yang mencakup inti-inti dari sebuah cerita. Lalu, pada 65 halaman hanya berisi hal-hal yang tidak penting, seperti penggambaran suasana, tempat, dll.
Dan itu juga terjadi di buku ini.
Menurutku, Bernad Batubara adalah orang yang sangat puitis, pintar menggambarkan sebuah benda/ tempat dengan sedetail-detailnya, tapi entah kenapa saya malah merasa banyak sekali hal-hal yang tidak begitu penting dipaparkan oleh si penulis. Entah sebuah penggambaran yang terlalu panjang, ataupun sebuah penggambaran yang tidak penting.

Ratings: 2 of  5 Stars.

Advertisements

4 thoughts on “Book Review: Cinta. (Baca dengan titik)

  1. Pingback: [Wrap-Up] New Author Reading Challenge 2014 | StarKing's Library

  2. Pingback: JUNE Wrap-Up | StarKing's Library

  3. Pingback: [Master+Wrap Up Post] Indonesian Romance Reading Challenge 2014 | StarKing's Library

  4. Pingback: [WRAP-UP] Indonesian Romance Reading Challenge | StarKing's Library

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s