Book Review: Remember When

10810798

Judul: Remember When

Penulis: Winna Efendi

Penerbit: Gagas Media

Terbit: 2011

Tebal: 252 hlm.

 Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya. 

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas? 

Lalu, saat kau berkata, “Aku mencintaimu”, aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru? 

“Aku mencintaimu,” katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna? 

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu

Satu lagi karya Winna Efendi yang menceritakan tentang persahabatan. Seperti Ai: Cinta Tak Lelah Menanti dan Refrain. Jika di Ai ada tiga orang sahabat, lalu di Refrain ada tiga orang sahabat, maka di Remember When menceritakan tentang empat sahabat. Dua cewek Dua cowok, empat orang, dua pasangan. Itulah Adrian, Moses, Freya, Gia.

Adrian, si kapten basket yang cool.

Moses, si Ketua Osis.

Gia, si cantik dan popular.

Freya, si pintar.

Dibuku ini lebih banyak diambil dari sudut pandang Freya,

Kalau Alurnya adalah Alur Mundur. Dimulai dari Prolog dari sudut pandang Freya.

PROLOG

Aku duduk termangu-mangu di tepi jendela, memandangi selembar foto yang sudah butek. Foto itu kutemukan saat sedang membersihkan kamar; terletak di tumpukan paling atas dalam kotak sepatu tua tempatku menyimpan segala bentuk kenangan masa lalu.

      Kutelusuri permukaan foto tersebut dengan ujung jemari, mengingat-ingat kembali segala sesuatu yang dulu pernah terbagi diantara empat orang yang sedang berpose di depan kamera.

      Gia; yang tidak pernah difoto dengan senyum dikulum; selalu bergaya dengan senyum lebarnya. Seragam putih abu-abunya terlihat pas di badan, dengan lengan kemeja yang digulung sekali. Disebelahnya–Adrian, dengan sebelah  tangan tersampir santai di pundak Gia. Seragamnya lecek dan kotor, hasil pertandingan basket tiga lawan tiga yang dimenanginya sebelumnya. Di samping Adrian, moses, dengan setengah senyum yang dipaksakan. Dan, aku-Freya-berdiri tanpa senyum di sisi Moses, berwajah kaget karena difoto mendadak tanpa persiapan.

      Foto kami berempat, sahabat sejati, saat SMU. Saat-saat seragam putih abu-abu mendominasi, hari-hari yang dimulai dengan kejamnya orientasi, lalu perkenalan, lalu persahabatan, lalu kenangan.

      Kuletakkan kembali foto itu di dalam kotak. Pikiranku kembali pada hari-hari pahit manis itu, beberapa tahun silam.

Lalu di lanjutkaan ke bagian pertama yang menceritakan dari awal perjalanan cinta dan persahabatan mereka. Bagaimana pada akhirnya mereka berpacaran dan selalu bersama.

Dan yah, konfliknya udah cukup mainstream.

Suatu ketika nyokap Adrian meninggal, dan saat Adrian sedih, Cuma Freya yang bisa ngehibur Adrian, dia merasa kalau Freya itu mengerti gimana perasaan ditinggal nyokap. Lain dengan Gia yang terlihat Kasihan. Dan Adrian benci dikasihani.

“Gue rindu sama nyokap gue, omelan nyokap gue, yang nyuruh gue berhenti main PS.” 
Disitulah Adrian mulai dekat dengan Freya, entah kenapa Adrian merasa nyaman dengan Freya, karena menurut Adrian, Freya tidak menunjukkan sikap kasihannya pada Adrian, tidak seperti Gia.

Adrian suka sama Freya, Tapi disisi lain Adrian nggak bisa tinggalin Gia, secara mereka udah pernah tidur bareng.

 

Pada akhirnya, pada siapa hati Freya berlabuh?

Lalu bagaimana dengan Moses dan Gia?

Apa Gia rela melepaskan Adrian demi sahabatnya?

Dan yeah, sekali lagi aku jatuh cinta pada gaya penulisan Kak Winna, mencertiakan dengan detail kisah mereka. Dapet banget chemistry mereka.

Oya, buku ini merupakan Cetak ulang, Revisi title dan cover. Dulunya judulnya itu Kenangan Abu Abu lalu di ganti mjenjadi REMEMBER WHEN.

Menurutku covernya itu cukup simple, tapi manis. Suka sama covernya, meskipun nggak terlalu cantik juga sih. But, it’s oke lah.

Winna Efendi membabarkan bagaimana indahnya kita jatuh cinta dan persahabatan pada jaman SMA. Dan itu indah.

Untuk typo, aku nggak terlalu memerhatikan, tapi mungkin ada.

 

Ratings: 4 of 5 Stars.

Advertisements

4 thoughts on “Book Review: Remember When

  1. Pingback: Review: Unbelievable | StarKing's Library

  2. Pingback: [Wrap Up] Winna Efendi’s Book Reading Challenge 2014 | StarKing's Library

  3. Pingback: [Wrap-Up] Winna Efendi’s Book Reading Challenge | StarKing's Library

  4. Pingback: Pemenang Winna Efendi’s Book Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s