[Book Review] Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti

19544155

Judul: Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti

Penulis: Winna Efendi

Penerbit: Gagas Media

Terbit: 2009, Repacked 2013

Tebal: 282 hlm.

Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan.

SEI
Aku mencintai Ai. Tidak tahu sejak kapan–mungkin sejak pertama kali dia menggenggam tanganku–aku tidak tahu mengapa, dan aku tidak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri.

AI
Aku bersahabat dengan Sei sejak kami masih sangat kecil. Saat mulai tumbuh remaja, gadis-gadis mulai mengejarnya. Entah bagaimana, aku pun jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menyimpannya. Lalu, datang Shin ke dalam lingkaran persahabatan kami. Dia membuatku jatuh cinta dan merasa dicintai.

REVIEW:

Jujur, hal yang paling saya suka dari Winna Efendi adalah gaya penulisannya. Pokoknya suka, kata-katanya terangkai bagus. Gak tahu gimana jelasinnya. Suka.

Saya ‘cukup’ kecewa dengan editor buku ini, typo masih bertebaran dimana-mana dan tergolong banyak. Padahal buku ini telah di Re-packed. Juga banyak kata yang tidak menggunakan spasi.

Meskipun begitu, aku suka dengan jalan cerita ini. Dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama bercerita dari sudut pandai Sei, disini kita mengetahui bahwa Sei menyukai Ai. Bagian kedua bercerita dari sudut pandang Ai, disini kita juga mengetahui bahwa Ai ‘pernah’ menyukai Sei.

Jatuh cinta dengan karakter Sei. Agak sebel dengan karakter Ai, ia sedikit egois, tingkahnya kekanak-kanakkan.

Cover. Lumayan. Tapi aku lebih suka cover yang pertama. Sayangnya aku beli Ai yang covernya versi Re-packed :(.

PLOT:

Bercerita tentang Ai dan Sei yang telah bersahabat sejak kecil. Ai adalah campuran orang Indonesia dengan Jepang. Lalu datanglah Shin, seketika itu juga Shin masuk ke lingkaran persahabatan mereka. Mereka tak terpisahkan. Kemana-mana selalu ber-tiga. Melakukan apapun. Seperti membuka website berpenghuni yang dapat menjawab segala pertanyaan dan berbau mistis yang membuat mereka ketakutan, Menerbangkan banyak layang-layang dipinggir laut.

Berlatar di perdesaan di pinggir laut di jepang. Suasana damai, lalu digabungkan dengan hiruk piruk kota Tokyo. Beserta konflik di dalamnya.

Mereka bertiga sama-sama berkuliah di Tokyo, tinggal di apartemen yang sama. Bertiga.

Apartemen itu tidak begitu luas, juga tidak begitu indah. Setidaknya terdapat dua kamar disitu. Awalnya Sei dan Shin berada pada satu kamar yang sama, dan Ai sendiri. Sei merasa terganggu dengan musik Jazz yang diputar Shin sampai pagi. Jadi, Shin pun berada pada satu kamar dengan Ai. Meninggalkan Sei sendirian.

      Aku ikut berbaring disampingnya, merasakan hangat pasir dikulitku. “Bagaimana jika aku yang mengungkapkan cinta padamu?” Aku mencoba bercanda, tapi hatiku berdebar-debar tidak karuan.

      Sei masih memejamkan mata, tangannya perlahan menemukan dan menggengam tanganku. “Hmmm,” gumannya, dan hatiku serasa berhenti berdetak saat menunggu responnya. “Aku bisa dibunuh oleh penggemarmu. Tidak sadarkah kau bahwa setidaknya separuh murid laki- laki sekolah ini jatuh cinta padamu?” Gurauannya untuk membalasku terdengar pedas di telinga, padahal aku tahu dia hanya bercanda. Aku kecewa dengan jawaban itu. 

      “Aku tidak jatuh cinta pada mereka,” jawabku, berharap dia mengerti maksudku.

Natsu, gadis itu terlihat tegas, tapi ada kelembutan. Berbeda dengan Ai yang terus mengoceh, Natsu hanya berbicaran seadanya saja. 

Sei berpacaran dengan Natsu, lalu Ai bertunangan dengan Shin.

Shin melamar Ai di Tokyo Tower.

Shin masih bertumpu pada lutunya, tangannya memasukkan sebentuk cincin di jari manis Ai, baru bangkit untuk memeluknya. kelompok turis yang tadi mulai bersorak ramai, dan aku menyusup pergi dari keramaian, seperti sebuah bayangan di kegelapan. Mereka tidak melihatku sama sekali.

Sei bermaksud untuk pindah apartemen dan menyewa apartemen dan tinggal bersama Natsu. Tapi tidak jadi. Shin kecelakaan. Ia ditabrak, tubuhnya memental. Shin meninggal tepat saat Sei datang ke rumah sakit.

Ai tidak menangis. Tapi wajahnya pucat, keceriaannya telah tersedot, kini ia terlihat seperti mayat berjalan. Sei pun putus dengan Natsu, dengan alasan untuk menjaga Ai.

“Apakah kau sadar yang selama ini kau lakukan adalah memanfaatkan Sei? kau mengangapnya tidak lebih dari sebuah perisai untuk melindungimu.” – Natsu. 

Overall, saya sangat menikmati buku ini. Berlatar di pedesaan di Jepang. Meskipun kecewa dengan banyaknya Typo, saya suka buku ini 🙂

Ratings: 4 Star of 5 Stars

Advertisements

10 thoughts on “[Book Review] Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti

  1. Pingback: Review: Unbelievable | StarKing's Library

  2. Pingback: DAFTAR BACAAN FEBUARY- MARET | StarKing's Library

  3. Pingback: Book Review: Remember When | StarKing's Library

  4. Pingback: Book Review: Tomodachi (School #2) | StarKing's Library

  5. Pingback: [WRAP-UP] Indonesian Romance Reading Challenge | StarKing's Library

  6. Pingback: [Wrap-Up] Winna Efendi’s Book Reading Challenge | StarKing's Library

  7. Pingback: Pemenang Winna Efendi’s Book Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  8. Pingback: [Playing Around with Romance] Top Romantic Cities from Books | StarKing's Library

Don't Be Quiet Reader, Leave Comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s